Tugas Mandiri Seminar Bab I & II. Chandra. Bp3ip STMT11

Nama : Chandra

NIM : 244308065

Tugas Seminar : Bab I & II

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.     Latar Belakang Masalah

Sektor transportasi dalam fungsinya sebagai unsur penunjang dan perangsang memiliki peranan yang sangat besar dalam pembangunan, baik dibidang ekonomi, politik, sosial budaya maupun pertahanan dan keamanan. Selain itu peranan transportasi sangat penting dalam pembangunan wilayah, khususnya Indonesia yang menuntut penyediaan jasa transportasi kian meningkat baik darat, laut dan udara dalam jumlah maupun mutunya, kalau tidak transportasi laut misalnya akan kehilangan pangsa dan beralih ke jenis transportasi lain seperti transportasi udara dan transportasi darat, demikian juga sebaliknya.

Kapal merupakan sarana angkutan yang penting di negara kepulauan seperti negara Indonesia untuk hubungan antar pulau atau antar negara, karena kapal dianggap sebagai sarana transportasi yang sangat memegang peranan penting. Oleh karena itu, pengoperasian alat angkutan laut memerlukan biaya yang tinggi, sehingga kecepatan dan ketepatan waktu berlabuh di pelabuhan untuk keperluan bongkar-muat mutlak diperlukan, karena apabila terjadi keterlambatan maka akan membawa dampak kepada biaya pelabuhan yang dikenal sebagai demorage yakni biaya yang dikenakan kepada kapal apabila terlambat dari waktu yang ditentukan untuk berlabuh disuatu pelabuhan. Kecepatan dan ketepatan bongkar di suatu pelabuhan tergantung dari kelancaran pengangkutan darat (delivery) ke pemilik, di mana apakah setelah dibongkar dari kapal langsung di muat di truk (trucking) dikirim kepada pemilik barang ataukah ketempat gudang pelabuhan. Apabila pengangkutan darat langsung ke pemilik barang, maka sudah tentu pembongkaran muatan menjadi lamban, sehingga dapat menyebabkan keterlambatan kapal untuk memenuhi waktu yang telah ditentukan di pelabuhan. Keterlambatan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain adalah umur kapal sudah tua, mesin kapal sering mengalami kerusakan dan sebagainya yang akan membawa konsekuensi biaya tinggi, maka perawatan dan perbaikan atas fasilitas-fasilitas transportasi dan fasilitas penunjangnya terus ditingkatkan agar kelancaran kegiatan operasi kapal tetap terjamin.

Untuk perusahaan pelayaran, kapal merupakan ujung tombak untuk mendapatkan penghasilan, karena salah satu tujuan perusahaan pelayaran adalah memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya sebagai hasil dari jasa angkutan, untuk kemajuan suatu perusahaan, maka perusahaan pelayaran harus untung artinya pemasukan harus lebih besar dari pengeluarannya, dengan demikian biaya operasi harus ditekan sekecil mungkin. Pendapatan maupun biaya operasi sangat dipengaruhi oleh perawatan kapal yang dilaksanakan dengan baik dan secara tidak langsung akan meningkatkan jumlah hari berlayar kapal.

Lancarnya operasi kapal, tentunya tidak lepas dari personil yang menangani motor induk, motor bantu, pesawat-pesawat bantu maupun alat-alat kelengkapan lainnya, karena merupakan satu sistem yang berfungsi menunjang kelancaran operasi kapal. Motor induk sebagai penggerak utama kapal harus mendapat perhatian atau perawatan secara terencana dan berkelanjutan, agar kapal selalu berada di lautan dan dapat mengangkut serta memindahkan orang dan barang dari satu pelabuhan ke pelabuhan yang lain dan mesin-mesin selalu berjalan lancar dan tahan lama meskipun dalam kondisi cuaca yang buruk.

Namun dalam skripsi ini penulis hanya menganalisa perawatan yang diperlukan ketelitian dan kemahiran para crew kapal dalam menganalisa berbagai faktor yang akan menjadi penyebab terjadinya kerusakan motor induk, dan upaya bagaimana pencegahannya agar motor induk selalu dalam keadaan prima.

Salah satu faktor penyebab terjadinya kerusakan motor induk antara lain masih terdapat kekurangan dalam penguasaan prinsip kerja mesin, serta kurang memahami buku petunjuk perawatan mesin yang kebanyakan masih berbahasa asing. Bila ditinjau dari pengoperasian motor induk agar mampu mencapai tenaga yang diinginkan, ada tiga faktor yang penting yaitu :

  1. Pembakaran yang sempurna.
  2. Pelumasan yang cukup dan baik.
  3. Pendinginan yang baik.

Agar ketiga faktor diatas tersebut dapat tercapai perlu adanya perawatan yang terencana dan berkala yang pelaksanaannya diatur waktunya oleh masinis. Dengan jadwal pemeliharaan yang teratur disertai laporan perbaikan yang lengkap, hal ini akan merupakan suatu hambatan dalam melaksanakan perawatan mesin, itulah salah satu sebab mengapa penulis mengambil judul:

PENGARUH PERAWATAN KAPAL TERHADAP KELANCARAN OPERASIONAL KM. SURYA SENTOSA PADA PT BARUNA SHIPPING LINE PADA TAHUN 2009“.

  1. B.     Perumusan Masalah
    1. 1.      Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang masalah, bahwa perawatan kapal sangat penting terhadap kelancaran operasional dari perusahaan perkapalan.

Maka dapatlah diindentifikasi beberapa persoalan penelitian sebagai berikut:

  1. Terlambatnya perawatan kapal.
  2. Suku cadang yang sulit di dapati.
  3. Sumber Daya Manusia (SDM) yang tidak terlatih.
  4. Ketrampilan dan pengalaman SDM kurang.
  5. 2.      Pembatasan Masalah

Karena keterbatasan waktu dan tenaga maka penulis hanya membatasi masalah yang akan dibahas yaitu pengaruh dari perawatan kapal terhadap kelancarna operasional KM. Surya Sentosa pada PT Baruna Shipping Line Jakarta pada periode Januari 2009 hingga Juni 2009.

  1. 3.      Pokok Masalah

Berdasarkan identifikasi permasalahan dan pembatasan masalah, maka pokok permasalahan dalam penyusunan skripsi ini latar belakang yang penulis uraikan, maka penulis merumuskan pokok permasalahannya sebagai berikut : 

  1. Bagaimana kegiatan perawatan kapal terhadap kelancaran operasional KM. Surya Sentosa pada PT Baruna Shipping Line?
  2. Bagaimana sistem perawatan dilaksanakan dan pengaruh perawatan kapal terhadap kelancaran operasional KM. Surya Sentosa pada PT. Baruna Shipping Line?
  3. Apakah terdapat hubungan antara perawatan kapal terhadap kelancaran operasional KM. Surya Sentosa pada PT Baruna Shipping Line?

 

  1. C.     Tujuan dan Manfaat Penelitian
    1. 1.      Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui gambaran tentang kegiatan perawatan pemeliharaan dan perbaikan kapal KM. Surya Sentosa.
  2. Untuk mengetahui gambaran tentang kinerja operasional dari PT Baruna Shipping Line.
  3. Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan dan pengaruh perawatan kapal terhadap operasional KM.Surya Sentosa pada PT Baruna Shipping Line.
  4. 2.      Manfaat Penelitian

Adapun kegunaan atau manfaat yang hendak diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Bagi Penulis

Kiranya penelitian ini merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga dan memperluas wawasan karena dapat membandingkan antara teori-teori yang telah dipelajari di lapangan.

  1. Bagi Perusahaan

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan yang bersifat ilmiah guna mengevaluasi tentang perawatan KM. Surya Sentosa dan hubungannya dengan kinerja perusahaan. Apabila kondisi ini telah baik, maka perusahaan perlu mempertahankan dan mengembangkan lebih lanjut, sedangkan apabila belum mencapai hasil yang maksimal maka perlu dilakukan perbaikan-perbaikan, sehingga dapat meningkatkan kinerja operasional perusahaan.

  1. Bagi STMT Trisakti

Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam rangka penelitian sejenis khususnya di bidang perawatan kapal dan operasional kapal pada masa yang akan datang.

  1. Bagi Masyarakat Umum

Kiranya penelitian ini dapat menjadi salah satu bacaan yang tidak saja bersifat ilmiah, akan tetapi dapat memberikan suatu khasanah berpikir khususnya tentang topic ini.

 

  1. D.    Metodologi Penelitian

Dalam melakukan penelitian ini akan ditemukan tentang satuan analisis dengan pengamatan, jenis data tehnik penentuan data serta tehnik analisa sebagai berikut: 

 

 

 

  1. Jenis dan Sumber Data

 

 

Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode penelitian yang bersifat deskriptif. Data adalah informasi yang digunakan dalam penelitian agar dapat memberikan gambaran dari objek yang diteliti, sehingga masalah yang diteliti dapat dibahas atau ditelaah.

Dalam penelitian ini data yang diperoleh dan dianalisis biasanya ada dua jenis, yaitu :

  1. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumbernya, diamati dan dicatat yang biasanya dilakukan melalui wawancara, pengamatan (observasi) dan questioner atau angket dan lain-lain.
  2. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi, sudah dikumpulkan orang lain, baik secara perorangan maupun secara organisasi yang kemudian dikutip oleh penulis.

Disini penulis menggunakan data primer yang diperoleh langsung melelui wawancara dan observasi secara langsung, sedangkan data sekunder penulis peroleh dari laporan tahunan perusahaan dan studi literature lainnya.

  1. 2.      Populasi dan Sampel
    1. Populasi

Populasi adalah jumlah keseluruhan objek yang diteliti. Pada skripsi ini penulis akan mengambil data dari sumber sekunder laporan tentang perawatan kapal dan kinerja KM. Surya Sentosa.

 

  1. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang betul-betul representative untuk diteliti sehinggah kesimpulannya akan dapat diberlakukan untuk populasi dengan jumlah perawatan mingguan pada kapal KM. Surya Sentosa periode bulan Januari sampai dengan bulan Februari tahun 2009.

  1. 3.      Teknik Pengumpulan Data

Dalam usaha mengumpulkan data-data dan keterangan yang diperlukan dalam skripsi ini, penulis melakukan kegiatan penelitian. Untuk melakukan penelitian ini penulis melakukan metode pengumpulan data sebagai berikut :

  1. Penelitian Kepustakaan (library research)

Riset kepustakaan dilakukan dengan mengumpulkan bahan-bahan dari literatur yang ada dengan hubungan masalah yang diteliti. Bahan-bahan tersebut merupakan sumber sekunder laporan jumlah jam perawatan kapal dan operasional kapal.

  1. Penelitian lapangan (field research)

Penelitian ini diperlukan untuk memperoleh data primer yang diperlukan melalui cara-cara sebagai berikut:

1)      Interview (wawancara)

Teknik pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab guna meretifikasi secara langsung kepada pihak – pihak yang berhubungan dengan materi yang akan dibahas.

 

2)      Observasi (pengamatan)

Teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan terhadap perusahaan yang menjadi objek penelitian..

  1. 4.      Teknik Analisis Data

Teknik analisis Asosiatif yang akan digunakan penulis dalam rangka penelitian ini akan dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Analisis Regresi Linier Sederhana

Analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan proporsional antara variabel X (perawatan kapal) terhadap variabel Y (operasional kapal) menurut (M. Iqbal Hasan, 2002 : 250) adalah sebagai berikut :

Y = a + bX

Dimana :

X = Nilai tertentu dari variable bebas (Variable Independent), dalam hal ini adalah Perawatan Kapal

Y = Nilai yang diukur atau dihitung pada variable tidak bebas (Variable Dependent), dalam hal ini adalah Operasional Kapal

n = Banyaknya data

a = Konstanta

b = Koefisien regresi

Untuk menghitung nilai a dan b digunakan rumus sebagai berikut:

 

  1. Analisis Koefisien Korelasi

Koefisien korelasi merupakan alat untuk mengetahui kuat tidaknya hubungan antara variable X dan variable Y. Adapun nilai koefisien korelasi (r) dapat dicari dengan rumus Anton Dajan (1986 : 376) sebagai berikut :

            

 

Dimana :

r = Koefisien korelasi

n = jumlah responden

X = independent variable (Perawatan kapal)

Y = dependen variable (Operasional kapal)

Dalam hal ini :

1)      Jika r = 0 atau mendekati 0, maka hubungan antara kedua variabel sangat lemah atau tidak terdapat hubungan sama sekali.

2)      Jika r = +1 atau mendekati 1, maka hubungan antara kedua variabel dikatakan positif dan sangat kuat.

3)      Jika r = -1 atau mendekati –1, maka hubungan kedua variabel tersebut dikatakan sangat kuat namun negatif.

Besaran nilai r berada diantara -1 s/d +1 atau dapat ditulis :

r = -1< r < +1. Agar lebih jelas menginterprestasikan tingkat hubungan tersebut, maka dapat berpedoman pada ketentuan sebagaimana tertuang pada table I.1

Tabel I.1

Pedoman untuk memberikan interpretasi

koefisien korelasi

Interval Korelasi

Tingkat Hubungan

0,00 – 0,199

Sangat Rendah

0,20 – 0,399

Rendah

0,40 – 0,599

Sedang

0,60 – 0,799

Kuat

0,80 – 1,000

Sangat Kuat

                         Sumber Sugiono (2003 : 214)

  1. Analisis Koefisien Penentu (KP)

Analisis ini digunakan untuk mengetahui berapa besar konstribusi atau pengaruh dari variabel X terhadap naik turunnya variabel Y dengan rumus:

Kp = r2 x 100%

Keterangan :

Kp = Koefisien Penentu; dan r2 = Koefisien korelasi yang dikwadratkan.

  1. Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis dilakukan dengan cara membandingkan nilai  dengan , melalui langkah-langkah sebagai berikut:

1)      Hipotesis awal

a)      Ho : r = 0, berarti tidak ada hubungan antar X dan Y

b)      Hi : r > 0, berarti ada hubungan antara X dan Y

2)      Untuk mengetahui nilai  digunakan rumus:

 

3)      Untuk mengetahui nilai digunakan tabel distribusi t pada

                                        0                  ttabel      thitung

a = 0,050 ; df = n-2

 

 

 

 

 

4)      Kesimpulan uji hipotesis

a)      Jika < , maka Ho diterima dan Hi ditolak, berarti tidak ada hubungan antara X dan Y.

b)      Jika > , maka Ho ditolak dan Hi diterima, berarti terdapat hubungan antar X dan Y .

  1. E.     Hipotesis

Dalam penelitian ini penulis menggunakan hipotesis yang menduga adanya hubungan positif antara perawatan kapal terhadap kelancaran operasional KM. Surya Sentosa pada PT Baruna Shipping Line. Artinya semakin rutin perawatan dilakukan, maka operasional kapal akan semakin lancar.

 

  1. F.      Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan pembaca memahami isi skripsi ini maka sistematika penulisan skripsi ini dibagi menjadi 5 bab, masing- masing sebagai berikut :

BAB I       PENDAHULUAN

Dalam bab ini memberikan penjelasan tentang latar belakang menapa penulis terjuan dan manfaat penelitian, hipotesis penelitian, dalam bab ini juga diuraikan mengenai metode penelitian dan sistematika penulisan skripsi.

BAB II      LANDASAN TEORI

                  Bab ini memuat pengertian tentang teori yang berkaitan dengan judul secara deduktif dari teori yang berlingkup luas hinggah ke teori yang akan digunakan untuk menganalisa permasalahan. Judul skripsi ini menggambarkan variable penelitian yang memiliki teori, sehinggah memudahkan untuk menganalisis. Setiap rujukan, terutama kutipan-kutipan akan disebutkan sumbernya.


BAB III    GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

Pada bab ini diuraikan tentang sejarah singkat perusahaan, visi dan misi perusahaan, bidang usaha perusahaan, serta struktur organisasi perusahaan.

BAB IV     ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini diuraikan tentang gambaran kegiatan Perawatan dan faktor yang mempengaruhi kelancaran operasional kapal KM. Surya Sentosa, sistem perawatan kapal terhadap kinerja operasional perusahaan, serta hasil perhitungan tentang hubungan dan pengaruh antara perawatan dan faktor yang mempengaruhi kegiatan kelancaran kinerja operasional kapal KM. Surya Sentosa serta pengujian hipotesis.

 BAB V     PENUTUP

Dalam bab ini di uraikan tentang kesimpulan dan saran yang diangkat berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan.

 

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

  1. A.     Manajemen Operasional Transportasi Laut
    1. 1.      Pengertian Manajemen

Pengertian Manajemen menurut Husaini Usman (2006:214) adalah :

“Manajemen adalah suatu proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, menggerakkan, dan pengendalian yang dilakukan untuk mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya”.

 

Pengertian Manajemen menurut Manulang (1996:14) adalah :

“Manajemen adalah kumpulan pengetahuan tentang bagaimana seharusnya memanage atau mengelola sumber daya manusia untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan”.

 

Pengertian Manajemen menurut A.F Stoner (1993:120) adalah :

“Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan semua sumber daya yang ada pada organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya”.

 

Pengertian Manajemen Operasional menurut Richard L. Draft (2006:216) adalah :

“Manajemen operasional adalah bidang manajemen yang mengkhususkan pada produksi barang dan jasa, serta menggunakan alat-alat dan tekhnik-tekhnik khusus untuk memecahkan untuk memecahkan masalah-masalah produksi”.

 

15

Pengertian Manajemen Operasional menurut Drs. Pangestu Subagyo (2000:2) adalah :

            “Manajemen Operasional adalah penerapan ilmu manajemen untuk mengatur kegiatan produksi atau operasi agar dapat dilakukan secara efisien”.

Pengertian Manajemen Operasional menurut T. Tani Handoko (1997:8) adalah :

            “Manajemen Operasional adalah pelaksanaan kegiatan-kegiatan manejerial yang dibawakan dalam pemilihan, perancangan, pembaharuan, pengoperasian dan pengawasan sistem-sistem produksi”.

Dari definisi di atas terlihat bahwa Stoner telah menggunakan kata “proses”, bukan “seni”. Mengartikan manajemen sebagai “seni” mengandung arti bahwa hal itu adalah kemampuan atau ketrampilan pribadi. Sedangkan “proses” adalah cara sistematis untuk melakukan pekerjaan. Manajemen didefinisikan sebagai proses karena semua manejer tanpa harus memperhatikan kecakapan atau ketrampilan khusus, harus melaksanakan kegiatan-kegiatan yang saling berkaitan dalam pencapaian tujuan yang diinginkan.

Manajement operasional merupakan kegiatan operasional PT Baruna Shipping Line, dimana dalam hal ini kesiapan serta penunjang sarana dan prasarana dari perusahaan diharapkan dapat meningkatkan kinerja KM. Surya Sentosa.

Sampai sekarang belum ada suatu teori manajemen dapat diterapkan pada semua situasi. Seorang manejer akan menjumpai banyak pandangan tentang manajemen. Setiap pandangan mungkin berguna untuk berbagai masalah yang berbeda-beda.

  1. 2.      Pengertian Transportasi

Transportasi sebagai dasar untuk terselenggaranya pembangunan ekonomi dan perkembangan masyarakat serta pertumbuhan industrialisasi. Secara keseluruhan melalui jasa transportasi dapat menjadi jembatan antara berbagai kepentingan yang timbul dari berbagai kegiatan yang menjadi alat utama negara dan masyarakat.

            Pengertian Transportasi secara umum menurut Abbas Salim (1997 : 25) :

”Transportasi adalah rangkaian kegiatan memindahkan/ mengangkut barang dari produsen sampai ke konsumen dengan menggunakan salah satu moda transportasi, yang dapat meliputi moda transportasi darat, laut/sungai maupun udara”.

 

  1. 3.      Pengertian Kapal

Pengertian Kapal berdasarkan UU No. 21 tahun 1992 tentang pelayaran adalah :

”Kapal adalah kendaraan air dengan bentuk dan jenis apapun, yang digerakkan dengan tenaga mekanik, tenaga angin, atau ditunda, termasuk kendaraan yang berdaya dukung dinamis, kendaraan di bawah air serta alat apung dan bangunan yang tidak berpindah-pindah”.

 

Pengertian Kapal menurut Direktorat Jendral Perhubungan Laut mengatakan:

”Kapal adalah kendaraan air termasuk kapal keruk atau alat apun lain. Demikian dengan yang menggunakan alat-alat penggerak sendiri atau tunda, kecuali pesawat terbang air, rakit dan kendaraan air yang hanya digerakkan dengan dayung-dayung atau galah-galah dorong”.

 

Pengertian Kapal menurut Suyono (2005:115) adalah :

”Kapal adalah pengangkut penumpang dan barang di laut, sungai dan sebagainya”.

Secara garis besar penulis menyimpulkan bahwa kapal laut adalah kendaraan air yang beroperasi di laut.

Dari sekian banyak kapal laut yang digunakan, kita dapat mengelompokkan kapal-kapal tersebut dalam dua kelompok besar, yaitu kapal laut niaga dan kapal laut non niaga.

  1. Kapal Laut Niaga.

Pengertian Kapal Laut Niaga menurut Hananto (1996:2)

“Setiap kapal yang digunakan penumpang dan muatan dalam rangka komersil dimasukkan kedalam kelompok kapal niaga (merchant ship)”.

Bagan II.1

Skema Kapal Niaga

KAPAL NIAGA

Kapal

Muatan Umum

(General CargoVessel)

Kapal

Muatan Khusus

(Special CargoVessel)

Kapal

Muatan Sejenis

   (Bulk Carrier)

Kapal Konvensional

Kapal

Unit Load

Kapal

Muatan Sejenis

Kapal

Muatan Sejenis

 Padat

-          Passenger Vessel-          Refrigerated Vessel-          Cattle Ship

-          Mobile Carrier

-    Side Port-    Roro Vessel-    Container Vessel

-    Lash

-    Tanker-    LPG Container-    LNG Carrier
-          Ore carrier-          Grain carrier

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: Alderton, 2

  1. Kapal Non Niaga

Yaitu kapal laut yang tidak digunakan untuk kepentingan pelayanan niaga. Yang termasuk dalam jenis kapal ini antara lain:

1)      Kapal Perang

2)      Kapal Survey

3)      Kapal Keruk

4)      Kapal Rumah Sakit

Dalam mengoperasikan kapal laut, terutama kapal laut niaga, diperlukan banyak persyaratan yang harus dipenuhi oleh operator kapal, dalam hal ini perusahaan pelayaran. Adanya persyaratan tersebut dikarenakan ada banyak pihak terlibat dan berkepentingan dalam kegiatan pelayaran niaga tersebut seperti pemilik barang, pemilik kapal, awak kapal. Persyaratan-persyaratan tersebut mencakup lingkup nasional berupa peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh melalui Departemen Perhubungan maupun peraturan internasional yang dikeluarkan oleh badan internasional melalui International Maritime Organization (IMO).

  1. Kapal Pengangkut Muatan Curah (Bulk Carier)

Kapal Bulk Carier adalah kapal besar dengan hanya satu dek yang mengangkut muatan yang tidak dibungkus atau curah (bulk). Muatan dicurah, dipompa ke dalam kapal dengan bantuan mesin curah dan bilamana tidak dengan mesin, maka karung-karung berisi muatan yang diangkut ke kapal dengan bantuan derek kapal diletakkan datas palka dahulu. Karung-karung tersebut kemudian dibuka dan dicurahkan isinya ke dalam palka. Ditempat pembongkaran, isi dari palka dihisap atau dibongkar dengan pertolongan conveyor. Palka dari kapal bulk carier berbentuk corong agar muatannya dapat berkumpul ditengah-tengah palka.

Perlu diketahui juga bahwa muatan curah (bulk cargo) biasanya dalam jumlah satu kapal penuh sekali jalan (sesuai pengapalan). Selain kapal bulk carier tersebut, juga digunakan kapal kombinasi (combination carier) untuk mengangkut muatan curah. Mengenai kapal ini Suyono menjelaskan bahwa Combination carrier adalah kapal yang dapat mengangkut minyak dan muatan kering (kombinasi).

  1. 4.      Pengertian Muatan

Muatan kapal (cargo) merupakan objek dari pengangkutan dalam sistem transportasi laut, dengan mengangkut muatan sebuah perusahaan pelayaran niaga dapat memperoleh pendapatan dalam bentuk uang tambang (freight) yang sangat menentukan dalam kelangsungan hidup perusahaan dan membiayai kegiatan dipelabuhan.

Pengertian Muatan Kapal menurut Sudjatmiko (1995:64) adalah :

” Muatan kapal adalah; segala macam barang dan barang dagangan (goods and merchandise) yang diserahkan kepada pengangkut untuk diangkut dengan kapal, guna diserahkan kepada orang/barang dipelabuhan atau pelabuhan tujuan”.

 

Pengertian Muatan Kapal menurut PT Pelindo II (1998:9) adalah :

”Muatan kapal dapat disebut, sebagai seluruh jenis barang yang dapat dimuat ke kapal dan diangkut ke tempat lain baik berupa bahan baku atau hasil produksi dari suatu proses pengolahan”.

Menurut Arwinas (2001:9) muatan kapal laut dikelompokkan atau dibedakan menurut beberapa pengelompokan sesuai dengan jenis pengapalan, jenis kemasan, dan sifat muatan

  1. Pengelompokan muatan berdasarkan jenis pengapalan adalah :

1)      Muatan Sejenis (Homogenous Cargo)

Adalah semua muatan yang dikapalkan secara bersamaan dalam suatu kompartemen atau palka dan tidak dicampur dengan muatan lain tanpa adanya penyekat muatan dan dimuat secara curah maupun dengan kemasan tertentu.

2)      Muatan campuran (Heterogenous Cargo)

Muatan ini terdiri dari berbagai jenis dan sebagian besar menggunakan kemasan atau dalam bentuk satuan unit (bag, pallet, drum) disebut juga dengan muatan general cargo.

  1. Pengelompokan muatan berdasarkan jenis kemasannya

1)      Muatan unitized

Yaitu muatan dalam unit-unit dan terdiri dari beberapa jenis muatan dan digabung dengan menggunakan pallet, bag, karton, karung atau pembungkus lainnya sehingga dapat disusun dengan menggunakan pengikat.

2)      Muatan curah (bulk cargo)

Muatan curah (bulk cargo) adalah muatan yang diangkut melalui laut dalam jumlah besar.

 

Pengertian Muatan Curah menurut Sudjatmiko (67) adalah :

“Muatan Curah (bulk cargo) adalah muatan yang terdiri dari suatu muatan yang tidak dikemas yang dikapalkan sekaligus dalam jumlah besar”.

 

Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa muatan Bulk cargo ini tidak menggunakan pembungkus dan dimuat kedalam ruangan palka kapal tanpa menggunakan kemasan dan pada umumnya dimuat dalam jumlah banyak dan homogen. Muatan curah dibagi menjadi:

a)      Muatan Curah Kering

      Merupakan muatan curah padat dalam bentuk biji-bijian, serbuk, bubuk, butiran dan sebagainya yang dalam pembuatan/pembongkaran dilakukan dengan mencurahkan muatan ke dalam palka dengan menggunakan alat-alat khusus. Contoh muatan curah kering antara lain biji gandum, kedelai, jagung, pasir, semen, klinker, soda dan sebagainya.

b)      Muatan Curah Cair (liquid bulk cargo)

      Yaitu muatan curah yang berbentuk cairan yang diangkut dengan menggunakan kapal-kapal khusus yang disebut kapal tanker. Contoh muatan curah cair ini adalah bahan bakar, crude palm oil (CPO), produk kimia cair dan sebagainya.

c)      Muatan curah gas

      Yaitu muatan curah dalam bentuk gas yang dimampatkan, contohnya gas alam (LPG).

3)      Muatan Peti Kemas

Yaitu muatan berupa wadah yang dari baja, besi, aluminium yang digunakan untuk menyimpan atau menghimpun barang.

  1. Pengelompokan muatan berdasarkan sifat muatan :

1)      Muatan Sensitif.

2)      Muatan Menggangu.

3)      Muatan Berbahaya.

4)      Muatan Berharga.

5)      Muatan Rahasia.

6)      Muatan Dingin.

7)      Muatan Hewan/ Ternak.

                        Suatu pelayanan angkutan muatan dapat dikatakan baik, jika :

1)      Barang yang diangkut tiba tepat pada waktunya,

2)      Muatan yang diangkut tidak rusak atau hilang,

3)      Tarif uang tambang (freight) sesuai dengan pasar sehingga harga jual barang masih menghasilkan keuntungan.

4)      Terjalin hubungan yang baik dengan para pengangkut,

5)      Klaim kerusakan atau kehilangan cepat dibayar.

Agar kapal-kapal dapat beroperasi seefisien mungkin, dalam merencanakan pengangkutan muatan, perusahaan pelayaran harus terlebih dahulu melihat :

  1. Jenis muatan yang akan diangkut,
  2. Jumlah pelabuhan yang akan disinggahi dan fasiitas untuk menerima atau membongkar muatan.
  3. Jenis kapal, bentuk ruang muatan, serta rintangan yang mungkin akan ditemui.
  4. Opsi muatan yang mungkin didapat.
  5. Jadwal pelayaran kapal-kapalnya agar tidak berlayar bersamaan.

Untuk mencapai hasil tersebut, perusahaan pelayaran harus memperhatikan kendala dalam hal :

  1. kerusakan kapal
  2. keselamatan ABK dan orang lain
  3. kerusakan muatan.
  4. Penggunaan ruang muat kapal secara maksimum
  5. Sistematika dan kecepatan bongkar muat
  6. Efisiensi dan keuntungan yang akan didapat.
  7. a.      Pengertian Pelabuhan
  1. Pengertian Pelabuhan dan Terminal Angkutan Laut

Menurut Peraturan pemerintah RI No. 69 th 2001 pasal 1 tentang Kepelabuhanan:

Yang dimaksud dengan pelabuhan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, berlabuh, naik turun penumpang dan / atau bongkar muat barang yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi”.

 

Dalam sistem transportasi laut pelabuhan mempunyai peranan yang sangat penting, bahkan sangat menentukan dalam kelancaran transportasi secara keseluruhan.

Menurut Salim dalam buku Manajemen Pelayaran Niaga dan Pelabuhan ditulis bahwa:

Pelabuhan adalah tempat (daerah perairan dan daratan) kapal berlabuh dengan aman dan dapat melakukan bongkar muat barang serta turun naik penumpang. Pengertian pelabuhan mencakup pengertian sarana dan sistem transportasi, yaitu pelabuhan adalah suatu lingkungan kerja terdiri dari area daratan dan perairan yang dilengkapi dengan fasilitas untuk berlabuh dan bertambat kapal guna terselenggaranya bongkar muat barang serta naik turunnya penumpang dari suatu moda transportasi laut (kapal) ke moda transportasi lainnya atau sebaliknya”.

 

Sedangkan pengertian pelabuhan menurut Bosse (1999:46) adalah:

      Suatu lingkungan kerja terdiri dari areal daratan dan areal perairan dilengkapi dengan fasilitas yang memungkinkan kapal dapat berlabuh dan bertambat serta dapat terselenggaranya kegiatan bongkar muat barang serta turun/naik penumpang dari suatu moda transportasi laut ke moda tranportasi lainnya atau sebaliknya”.

 

Dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 26 (1998:1) tentang penyelenggaraan pelabuhan laut, menyatakan :

      ”Pelabuhan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintah dan ekonomi yang digunakan sebagai tempat kapal bersandar, berlabuh, naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang yang dilengkapi dengan fasilitas keselematan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi”.

 

Dari empat definisi tersebut penulis menyimpulkan bahwa pelabuhan mengandung pengertian sebagai:

1)      Tempat yang terdiri dari daratan dan perairan disekitarnya dengan batas-batas tertentu.

2)      Lingkungan kerja yang aman, yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi.

3)      Tempat terjadinya perpindahan intra dan antar moda transportasi.

Secara umum pelabuhan dapat diklasifikasikan menurut kegiatannya, jenisnya, fungsinya dan peranannya. Hal ini sebagaimana yang disimpulkan dari Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2001 tentang Kepelabuhanan.

1)      Menurut kegiatannya pelabuhan terdiri dari:

a)      Pelabuhan laut, yaitu pelabuhan yang melayani kegiatan transportasi laut.

b)      Pelabuhan sungai dan danau, yaitu pelabuhan yang melayani kegiatan transportasi sungai dan danau.

2)      Menurut jenisnya pelabuhan terdiri dari:

a)      Pelabuhan umum, yaitu pelabuhan yang digunakan untuk melayani kepentingan umum.

b)      Pelabuhan khusus, yaitu pelabuhan yang digunakan untuk kepentingan sendiri guna menunjang kegiatan tertentu.

3)      Menurut fungsinya pelabuhan diarahkan untuk pelayanan:

a)      Kegiatan pemerintah.

b)      Kegiatan jasa kepelabuhanan.

c)      Kegiatan jasa kawasan.

d)      Kegiatan penunjang kepelabuhanan.

4)      Menurut peranannya pelabuhan merupakan:

a)      Simpul dalam jaringan transportasi sesuai dengan hirarkinya.

b)      Pintu gerbang dalam kegiatan perekonomian.

c)      Tempat alih kegiatan, alih moda transportasi.

d)      Penunjang kegiatan industri dan perdagangan.

e)      Tempat produksi dan distribusi.

  1. b.      Indikator Kinerja Pelabuhan

1)      Pengertian Kinerja

Indikator kinerja pelabuhan adalah prestasi dari output atau tingkat keberhasilan pelayanan, baik penggunaan fasilitas maupun peralatan pelabuhan pada satu periode tertentu, yang ditentukan dalam satuan waktu, satuan berat, rasio perbandingan atau prosentase.

2)      Indikator Kinerja Pelabuhan

Indikator kinerja pelayanan pelabuhan yang pada umumnya digunakan saat ini dalam pelayanan pelabuhan, pada dasarnya dapat dikelompokkan sedikitnya atas 3 kelompok indicator, yaitu :

a)      Indikator output merupakan indicator yang erat kaitannya dengan informasi mengenai throughput lalu-lintas barang (daya lalu) yang melalui suatu peralatan atau fasilitas pelabuhan dalam periode waktu tertentu, antara lain :

(1)   Fasilitas Dermaga

      Daya lalu lalang dermaga atau yang biasa disebut dengan berth throughput adalah volume tonase barang/ boxes petikemas yang melalui tiap meter panjang dermaga yang tersedia.

(2)   Fasilitas Gudang

      Daya lalu gudang penumpukkan (sheed throughput) adalah jumlah ton/m3 barang dalam waktu tertentu yang melewati tiap meter persegi luas efektif gudang.

(3)   Fasilitas Lapangan Penumpukan

      Daya lalu lapangan penumpukan adalah jumlah ton atau m3 barang dalam waktu tertentu yang melewati tiap meter persegi luas lapangan efektif.

(4)   Kapal

      Yaitu jumlah tonase barang yang dibongkar muat per kapal per jam, dimana seluruh gang buruh atau alat yang dioperasikan dihitung sebagai output kapal yang bersangkutan. Kecepatan bongkar muat per kapal tiap jam selama kapal berada di tambatan (Tons Per Ship Hour Berth)

(5)   Gang

      Gang output (Ton Gang Hour /TGH) merupakan indicator yang menggambarkan tonase yang dihasilkan dalam satu jam oleh setiap gang buruh.

b)      Indikator Pelayanan

Indikator pelayanan pada dasarnya merupakan indicator yang erat

kaitannya dengan informasi mengenai lamanya waktu pelayanan kapal selama di dalam daerah lingkungan kerja pelabuhan. Waktu pelayanan kapal selama berada di dalam daerah lingkungan kerja pelabuhan, terbagi atas 2 bagian yaitu waktu kapal berada di perairan dan waktu kapal sandar di tambatan.

c)      Indikator Utilisasi

Indikator uitilisasi dipakai untuk mengukur sejauh mana fasilitas dermaga dan sarana penunjang dimanfaatkan secara intensif. Ada beberapa indicator utilisasi yang penting yang sering digunakan, antara lain :

(1). Fasilitas Dermaga/ Tambatan

Tingkat pemakaian dermaga adalah perbandingan antara jumlah waktu pemakaian tiap dermaga yang tersedia dengan jumlah waktu yang tersedia selama periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam prosentase.

(2). Fasilitas gudang dan Lapangan Penumpukan

((a))   Tingkat pemakaian gudang

Tingkat pemakaian gudang adalah perbandingan antara jumlah pemakaian ruangan gudang yang dihitung dalam satuan ton atau m3 per hari dengan kapasitas penumpukan yang tersedia.

((b))  Tingkat Pemakaian Lapanan Penumpukan

Tingkat pemakaian lapangan penumpukan adalah perbandingan antara jumlah pemakaian ruang lapangan penumpukan yang dihitung dalam satuan ton atau m3 per hari dengan kapasitas penumpukan yang tersedia.

  1. c.       Pengertian Terminal

Menurut Kamus Besar Ilmu pengetahuan adalah bahwa terminal berarti tempat perhentian utama dan sebagai tempat penghubung kendaraan. Fungsi terminal menurut Drs.H.M.N Nasution MSTr, terminal berfungsi sebagai tempat memberikan pelayanan kepada penumpang dalam perjalanan, barang dalam pengiriman dan kendaraan sebelum dan sesudah melakukan operasinya.

Sedangkan fungsi terminal menurut Capt. R.P Suyono (2001:220) yaitu,

“Terminal berfungsi untuk melayani penanganan barang dari dalam maupun luar negeri. Pengelolaan pelayanan ini dilakukan oleh Badan Usaha Pelabuhan”.

 

Dengan demikian terminal adalah unsur utama dan merupakan bagian dari pelabuhan yang disediakan untuk melayani kapal-kapal yang akan melaksanankan kegiatan bongkar muat barang. Ada berbagai jenis dan fungsi terminal, antara lain :

1)      Terminal Konvensional

Terminal konvensional adalah terminal yang digunakan untuk melakukan aktivitas bongkar muat kapal kargo. Terminal konvensional terdiri dari pelataran dermaga, gudang-gudang, lapangan terbuka dan peralatan penunjang bongkar muat untuk membantu pembongkaran dan pemuatan dari dan ke kapal.

Dermaga konvensional dipakai untuk kapal-kapal kargo biasa, yaitu kapal-kapal yang dilengkapi dengan peralatan bongkar muat dan membawa berbagai jenis muatan yang memerlukan pemadatan khusus bila disimpan dalam palkanya(karung, peti). Peti kemas juga ada yang dibongkar di dermaga konvensional namun karena pelataran antara dermaga dan gudang sempit akan menimbulkan kesukaran dalam angkutan maupun pergerakannya.

Di dermaga konvensional terdapat lebih banyak tenaga manusia atau di pelabuhan disebut Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM). TKBM di dermaga ini diperuntukkan mengangkat barang dari gudang ke dermaga di sisi lambung kapal atau sebaliknya, baik itu masih dilakukan dengan dipanggul, dengan kereta dorong maupun forklift. TKBM juga diperuntukkan membantu menumpuk atau membongkar muatan di kapal, untuk menyusun muatan di gudang maupun membongkarnya dan juga diperuntukkan meletakkan atau membongkar dari alat angkut atau truk.

2)      Terminal Peti Kemas

Terminal petikemas adalah terminal yang digunakan untuk melakukan bongkar muat kapal-kapal petikemas. Terminal petikemas terdiri dari lapangan yang terbuka dan dilengkapi dengan beberapa container crane untuk kegiatan bongkar muat petikemas. Terminal ini juga dilengkapi dengan alat-alat angkat khusus petikemas dan juga alat untuk memindahkan dan menumpukkan secara mekanis. TKBM disini dimanfaatkan untuk mengisi (stuffing) atau mengeluarkan (stripping) barang ke dan dari petikemas. Terminal petikemas juga dilengkapi dengan beberapa gudang untuk menampung muatan dari petikemas. Karena bongkar muat di terminal petikemas menggunakan peralatan besar, maka di dermaga petikemas tidak banyak membutuhkan tenaga manusia.

 

  1. B.     Perawatan Kapal
    1. 1.      Pengertian Perawatan Kapal

Pemeliharaan (maintenance) merupakan kegiatan pencegahan atau mengantisipasi daya pakai mesin-mesin dan perbaikan kerusakan, bila terjadi secepat mungkin sehingga biaya sistem mesin tidak produktif dan tenaga kerja menganggur dapat diminimumkan.

      Tujuan Pemeliharaan menurut T. Hani Handoko (2000:165) adalah :

”Untuk memelihara reliabilitas sistem pengoperasian pada tingkat yang dapat diterima dan tetap memaksimumkan laba atau meminimumkan biaya”.

 

      Tujuan Pemeliharaan menurut Goenawan Danuasmoro (2003:4) adalah :

”Faktor penting dalam mempertahankan kehandalan fasilitas-fasilitas yang diperlukan masyarakat modern, tetapi hanya sedikit bidang-bidang yang mampu berperan begitu dominan seperti dalam dunia pelayaran”.

 

Dari kedua pengertian di atas dapat diartikan bahwa perawatan adalah untuk mempertahankan kondisi dan menjaga agar tingkat kemerosotan serendah mungkin, yang menjadi tujuan utama setiap tindak perawatan yang dilakukan.

Seperti yang digambarkan oleh Goenawan Danuasmoro (2003:4), berikut ini :

Gambar II.1.

Hubungan antara Kondisi, Umur dan Perawatan Kapal

 

 

100 %

90 %

 

 

 

50 %

              Kondisi Skrap                              Rehabilitasi

30 %       Kondisi minimum 

                        5          10         15                  20                    25   Umur Kapal                  

 

Sumber : Goenawan Danuasmoro (2003:4)

Dari gambar tersebut di atas bahwa hubungan antara kondisi, umur kapal dan perawatan kapal yang mengakibatkan betapa cepatnya kemerosotan kondisi kapal tanpa adanya sistem perawatan yang baik, hal tersebut dapat ditentukan strategi perawatan yang baik namun tidak mudah untuk memutuskan mana yang tepat, karena antara satu kapal dengan kapal yang lain begitu berbeda. Kapal modern membutuhkan strategi perawatan yang berbeda dengan kapal tua, dan bagi kapal-kapal yang operasinya sudah menurun, istilah perbaikan lebih cocok dari perawatan. Pekerjaan perawatan akan dibutuhkan jika sifat-sifat konstruksi dan kondisi peralatan merosot akibat umur dan pemakaian pada saat mana kinerjanya akan sangat terpengaruh.

Untuk menjamin keselamatan dan kehandalan pengoperasian kapal diperlukan langkah-langkah dasar dalam pelaksanaan perawatan yang merupakan siklus yang berkesinambungan, yang cenderung lebih menekankan analisa dan perencanaan, dengan memperhitungkan berbagai hambatan operational kapal.

Penekanan ini dilakukan akibat biaya pekerjaan perawatan yang sangat tinggi dan konsekuensinya dalam menghadapi kerusakan serius. Biaya pemeliharaan terbesar biasanya bukan biaya reparasi, bahkan bila hal itu dilakukan dengan kerja lembur. Lebih sering unsur biaya pokok adalah biaya berhenti untuk reparasi. Hal ini disebabkan, kerusakan-kerusakan, walaupun reparasi dilakukan secara cepat, akan menghentikan operasi kapal. Pekerjaan-pekerjaan reparasi kerusakan hampir selalu lebih mahal dibanding pekerjaan-pekerjaan reparasi preventif. Reparasi mesin setelah rusak sering bukan merupakan kebijaksanaan pemeliharaan yang paling baik karena pemeliharaan yang baik adalah mencegah kerusakan.

Perawatan dapat diklasifikasikan dan ditujukan ke berbagai kriteria pengontrolan atau dibagi menjadi perawatan berencana dan insidentil yaitu :

  1. Perawatan pencegahan ditujukan untuk mencegah kegagalan atau berkembangnya kerusakan, atau menemukan kegagalan sedini mungkin. Dapat dilakukan melalui penyetelan secara berkala, rekondisi atau penggantian alat-alat, atau berasarkan pemantauan. Perawatan ini biasanya melibatkan pembongkaran berkala terhadap mesin dan alat-alat untuk menentukan apakah perlu pembetulan/penyetelan atau penggantian. Jangka waktu pemeriksaan biasanya berdasarkan atas waktu pengoperasian (jam kerja) atau waktu kalender. Perlunya jangka waktu pemeriksaan ini untuk menghindarkan pemeriksaan yang terlalu sering karena akan mengurangi ketersediaan kapal (untuk dapat dioperasikan) dan meningkatnya bahaya kesalahan waktu pemasangan kembali. Pemeriksaan yang kurang/jarang akan mengakibatkan kerusakan yang tidak terduga. Dalam praktek, pemeriksaan yang kompromis diperoleh dari hasil penilaian dan pengalaman. Rentang waktu pemeriksaan akan semakin pendek jika distribusi kerusakan semakin bertambah.
  2. Perawatan korektif, yang ditujukan untuk memperbaiki kerusakan yang sudah diperkirakan, tetapi yang bukan untuk mencegah karena ditujukan bukan untuk alat-alat yang kritis atau yang penting bagi keselamatan atau penghematan.
  3. 2.       Sistem Perencanaan Perawatan Kapal

Adapun persyaratan atau kebutuhan dalam sistem perencanaan adalah :

  1. Kebutuhan Minimum

1)      Informasi tehnik.

2)      Riwayat perawatan.

3)      Pandangan menyeluruh.

  1. Kebutuhan tambahan

1)      Rencana yang fleksibel.

2)      Penggabungan semua jenis pekerjaan perawatan.

3)      Kesesuaian dengan sistem lain.

  1. Kebutuhan praktis                                   

1)      Sistem pencatatan sederhana.

2)      Sistem arsip yang tepat.

Sistem tersebut dapat dioperasikan secara manual atau berdasarkan data yaitu jika terjadi kerumitan informasi dan komunikasi antara para pemegang keputusan.

  1. Penjadwalan

Penjadwalan akan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, tergantung jenis sistem perawatannya. Beberapa sistem terdiri dari buku perawatan, kartu tugas dan papan perencanaan.

Dari setiap tugas yang ada di buku perawatan dibuatkan kartu tugas dan ditempatkan di sistem rak yang dipasang pada dinding. Kartu tugas dibuat untuk semua jenis pekerjaan, seperti pemantauan kondisi, pemeriksaan visual. Penggantian suku cadang, kalibrasi dan megger-test. Kartu tugas dibuat dengan warna-warna berbeda untuk memudahkan mengenali jenis pekerjaan, penanggung jawab, prioritas, pekerjaan di pelabuhan, klasifikasi, sertifikasi, dan lain-lain.

  1. Siklus Operasi

Sistem operasi tentunya tergantung strategi perusahaan. Filosofi perawatan di perusahaan yang memiliki kapal pantai kecil akan berbeda dengan pemilik tanker yang berlayar ke luar negeri. Sistem manajemen keseluruhan haruslah diatur sesuai organisasi dikantor dan di kapal.

Berikut dipaparkan arus sistem perencanaan yang berkaitan dengan siklus operasi yaitu :

1)      Pasangkan semua kategori perawatan, seperti jadwal, kondisi, perawatan korektif dan yang tidak terjadwal pada seksi jangka menengah dan panjang di planning board.

2)      Pada rapat bulanan team perencaaan, evaluasi pekerjaan-pekerjaan yang ada di rak untuk bulan depan yang sudah lewat waktunya untuk dikerjakan.

3)      Keluarkan tugas-tugas dari seksi jadwal jangka pendek, sambil memperhitungkan kondisi operasi kapal (pelabuhan 1, pelabuhan 2, pelayaran 1, pelayaran 2, galangan, tanpa rencana), sampai yang ada di rak kosong.

4)      Ambil rak yang kosong dan selipkan di seksi jangka menengah dan panjang ke kiri. Masukkan rak kosong di tempat yang sudah disediakan. Atur kembali kartu bulanan jika dianggap perlu.

5)      Awak yang bertugas memutuskan pekerjaan mana yang harus dilakukan. Papan rencana mingguan juga dapat digunakan. Periksa apakah suku cadang, bahan instruksi sudah ada. Buat instruksi kerja tertulis (kartu kerja) atau perintah lisan. Taruh kartu kerja tugas di kotak ”Sedang Dikerjakan”.

6)      Berikan kartu kerja kepada petugas yang akan mengerjakan pekerjaan sebelum pekerjaan dimulai ,kumpulkan alat-alat dan bahan serta ambil suku cadang dari store nya.

7)      Laksanakan pekerjaan , masukan rincian kerja dalam kartu kerja.

8)      Sesudah menyelesaikan pekerjaan masukan datanya ,berikan kartu kerja kepada perwira perencanaan . Kartu kerja akan dipindahkan dari kotak selesai dikerjakan termasuk kartu kerja yang terkait.

9)      Pada waktu yang tepat , misalnya sekali seminggu perwira perencanaan (KKM) mengambil kartu kerja/tugas dari kotak ”selesai dikerjakan” dan mencatat rincian tugas diformulir-formulir unit terkait didalam map plastik . Pemakaian suku cadang dicatat disistim suku cadang.

10)  Sesudah dicatat, taruh kartu tugas ke papan perencanaan induk dikolom bulanan terkait untuk pekerjaan-pekerjaan berikutnya.

11)  Buat laporan perawatan dan dikirimkan ke kantor pusat setiap bulan pada formulir laporan perawatan khusus atau salin judul kartu kerja, didaftar, sisi formulir unit atau yang sejenis.

Berdasarkan keterangan di atas maka dalam sistem perencanaan perawatan kapal adalah sangat penting dengan adanya indikator yang baik maka semua sistem tersebut dapat terlaksana dengan baik dan teratur.

Dalam penelitian ini indikator perawatan kapal yang di gunakan adalah lamanya perawatan di lihat dari lamaya mesin bekerja dan perhitungannya perjam dalam satu minggu.

 

  1. B.     Operasional Kapal
  1. Perlu Memiliki Izin Operasi

Menurut Keputusan Menteri Perhubungan Republik Indonesia No. KM 33 tahun 2001 tanggal 4 Oktober 2001 tentang penyelenggaraan dan pengusahaan angkutan laut. Pasal 26 tata cara pengajuan permohonan izin usaha dan izin operasi.

  1. Permohonan Izin Usaha Angkatan Laut sebagaimana dimaksud pasal 18 (1) huruf a, diajukan kepada:

1)      Bupati atau Walikota Kepala Daerah bersangkutan bagi perusahaan.

2)      Yang berdomisili dan beroperasi pada lintas pelabuhan dalam wilayah Kabupaten/Kota setempat.

3)      Gubernur Kepala Daerah Propinsi yang bersangkutan bagi perusahaan yang berdomisili dan beroperasi pada lintas pelabuhan antar Kabupaten/Kota dalam wilayah propinsi setempat.

4)      Direktur Jendral bagi perusahaan yang melakukan kegiatan pada lintas pelabuhan antar propinsi dan internasional.

 

  1. Permohonan Izin Usaha Pelayaran Rakyat

Sebagaimana dimaksud pada Pasal 18 ayat (1) huruf b, diajukan kepada:

1)      Bupati atau Walikota Kepala Daerah bersangkutan bagi perusahaan yang berdomisili dan beroperasi pada lintas pelabuhan dalam wilayah Kabupaten/Kota setempat.

2)      Gubernur Kepala Daerah Propinsi yang bersangkutan bagi perusahaan yang berdomisili dan beroperasi pada lintas pelabuhan antar kabupaten/kota dalam wilayah propinsi setempat, pelabuhan antar propinsi dan internasional.

Menurut contoh pada lampiran XII keputusan ini.

  1. Permohonan Izin Operasi bagi penyelenggara angkutan laut khusus sebagaimana dimaksud pada pasal 24 ayat (1), diajukan kepada Direktur Jendral, menurut contoh pada lampiran XIII keputusan ini.
  2. Izin Usaha Angkutan Laut, izin usaha pelayaran rakyat dan izin operasi angkutan laut khusus diterbitkan oleh pejabat yang berwenang memberikan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), menurut contoh 1 sampai dengan 6 pada lampiran XIV keputusan ini.
  3. Izin Usaha Angkutan Laut, izin usaha pelayaran rakyat dan izin operasi angkutan laut khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (4) berlaku selama perusahaan yang bersangkutan masih menjalankan kegiatan usahanya.
  4. Persetujuan atau penolakan atas permohonan izin usaha dan izin operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (4), diberikan dalam jangka waktu selambat-lambatnya dalam 14 (empat belas) hari kerja setelah permohonan diterima secara lengkap.
  5. Dalam permohonan izin usaha operasi ditolak pejabat yang berwenang mengeluarkan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan (3), wajib mengeluarkan jawaban tertulis dengan alasan-alasan penolakan, menurut contoh 1 sama dengan 3 pada lampiran XV keputusan ini.
  6. Permohonan yang ditolak sebagaimana dimaksud pada ayat (7), dapat diajukan kembali setelah pemohon memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada pasal 19 m pasal 22 dan pasal 24.
  1. Dokumen Kapal Dan Dokumen Muatan

Pengurusan dokumen kapal dan dokumen muatan harus sudah dipenuhi sebelum pengoperasian kapal.

  1. Dokumen Kapal :

1)      Surat Tanda Kebangsaan (Certificate Of Registry), yaitu sertifikat yang menyatakan kebangsaan suatu kapal yang diberikan oleh pemerintah suatu negara dimana kapal itu didaftarkan.

2)      Surat Ukur (Meetbrief), yaitu sertifikat atau surat keterangan yang menyebutkan ukuran-ukuran panjang terpenting dari kapal seperti ukuran panjang (Length of All, Length Perpendiculars) ukuran dalam, draft, ukuran dari tiap-tiap palka kapal.

3)      Sertifikat Laik Laut (Seaworthy Certificate) yaitu sertifikat yang menyatakan kesentosaan kapal dalam berbagai fungsi, alat perlengkapan kapal.

4)      Sertifikat Lambung Timbul (Load Line Certificate) yaitu sertifikat yang menetapkan lambung timbul kapal maksimum dan minimum.

5)      Daftar Anak Buah Kapal (Surat Sijil, Crew List) yaitu suatu daftar resmi yang memuat nama-nama anak buah kapal beserta pangkat dan jabatan masing-masing di dalam kapal.

6)      Petikan dari Daftar Kapal, yaitu suatu petikan dokumen dimana disebut pemilik kapal yang bersangkutan, tentang surat jual beli dll.

7)      Sertifikat Kesehatan (Bill of Health), yaitu surat keterangan yang dikeluarkan oleh dinas kesehatan pelabuhan (Port Health Center) yang menyatakan bahwa kapal bebas dari suatu wadah penyakit dan bahwa orang-orang yang berada di atas kapal dalam kesehatan yang baik.

8)      Surat Tikus (Deratting Certificate), yaitu surat keterangan bahwa kapal bebas dari tikus.

9)      Sertifikat Keselamatan Konstruksi (Cargo Ships Safety Construction Certificate), yaitu sertifikat yang menerangkan bahwa kapal yang dibangun sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk konstruksi kapal barang.

10)  Sertifikat keselamatan perlengkapan kapal telah dilengkapi dengan keselamatan sesuai dengan ketentuan konvensi yang berlaku.

11)  Pasport, yaitu surat ijin memasuki suatu negara.

  1. Dokumen Muatan

1)      Resi Gudang

2)      Shipping Order (Perintah Mengapalkan)

3)      Cargo List (Untuk dilampirkan pada Shipping Order)

4)      Mate Receipt (Bukti muatan sudah dikapalkan)

5)      Bill Of Lading (Tanda terima muatan, Perjanjian pengakutan, bukti pemilikan)

6)      Cargo Manifest (Dartar kumpulan B/L yang mencantumkan nomor B/L, mereka dan jenis barang/jumlahnya, nama shipper/consignee)

7)      Tally Sheet (Catatan jumlah barang)

8)      Stowage/Bay Plan (Gambar susunan tata letak muatan)

9)      Landing Order (Pemberitahuan agen pelayaran kepada kapal tenteng perubahan pelabuhan pembongkaran)

10)  Outturn Report (Daftar muatan dan kondisinya waktu dibongkar yang kurang atau rusak)

11)  Short/Overlanded Cargo List (Muatan yang kurang/kelebihan dibongkar)

12)  Damage Cargo List (Muatan yang rusak)

  1. Pengaturan Crew atau Awak Kapal

Kapal harus diawaki oleh ABK yang cakap, memiliki sertifikat dan secara medis sehat untuk berlayar sesuai dengan persyaratan Nasional maupun Internasional. Personil yang baru atau personil yang dialih tugaskan harus diberikan pengenalan yang mencukupi sesuai dengan tugasnya.

Perusahaan harus menyusun prosedur untuk menjamin bahwa kapal dirawat sesuai dengan persyaratan dari peraturan klasifikasi yang terkait dan peraturan tambahan yang ditetapkan oleh perusahaan. Pemeliharaan kapal meliputi: Lambung, Pelat kulit, Sambungan las, mesin induk, mesin bantu, instalasi listrik, peralatan sekoci dan lain-lain. Pemeliharaan dilaksanakan pada kurun waktu yang tepat, dan apabila terdapat kerusakan agar dilaporkan dengan disertai penyebabnya supaya bisa dilakukan perbaikan dan dipenuhi penggantian spare partnya.

  1. Pengaturan Crew atau Awak Kapal

Dalam pelaksanaan pengoperasian kapal dari pelabuhan asal sampai kepelabuhan tujuan, dimana agar proses pengakutan dapat berlangsung secara efektif, efisien, aman dan lancar itu ditunjang oleh beberapa hal, antara lain:

  1. Sudah memiliki SIB (Surat Izin Berlayar) dari Syahbandar, kelaikan laut kapal, dan dokumen-dokumen kapal lainnya seperti yang sudah ditetapkan oleh IMO (International Maritime Organization) serta UU Pelayaran Indonesia.
  2. Jalur pelayaran sudah ditetapkan.
  3. Kesiapan muatan kapal serta dokumen-dokumennya.
  4. Kesiapan crew kapal dan sertifikat yang sudah ditentukan oleh IMO.
  5. Peralatan bongkar muat yang dipakai untuk suatu pekerjaan di atas kapal, serta semua alat penunjang yang lain.

 

  1. C.     Hubungan Perawatan dan Operasional

Setiap organisasi mempunyai tujuan yang sama, baik itu organisasi dalam bidang sosial maupun teknik, yaitu mencapai tujuan organisasi memperoleh profit dalam memproduksi barang dan jasa. Hal tersebut tidak mungkin dicapai tanpa suatu bentuk kerja sama yang sinergik. Manajemen adalah kunci bagi suksesnya suatu organisasi karena hanya melalui manajemen yang berhasil terhadap faktor-faktor manusia, modal materi maka suatu organisasi dapat mencapai arti sebagai pengaruh dan kontrol secara sistematis terhadap proses-proses yang mengubah input menjadi output berupa barang jadi dan jasa.

Manajemen juga merupakan salah satu fungsi dalam organisasi. Manajemen dapat berlangsung dalam bidang kerja Operasional, Armada, Administrasi Keuangan, Perbekalan, Tata Usaha dan Hubungan Masyarakat.

Negara Indonesia adalah negara yang kaya dengan hasil-hasil alam baik migas maupun non migas. Misalnya daerah lepas pantai, selain menjadi objek pariwisata daerah lepas pantai juga bisa dijadikan objek dalam melakukan eksplorasi dan juga eksploitasi yang merupakan proses kelanjutan dari telah dilakukannya eksplorasi dimana didaerah tersebut terkandung sumber devisa negara yang cukup besar yaitu minyak dan gas bumi.

Tentu dalam proses kerja pada beberapa jenis usaha yang berlokasi di daerah lepas pantai sangat dibutuhkan sumber daya manusia yang potensial dan teknologi modern, serta didukung oleh sarana dan prasarana lainnya. Mengingat lokasi pekerjaan berada di lepas pantai (laut). Sangatlah penting peranan dari kapal untuk mengangkut orang/karyawan serta bahan-bahan atau barang-barang yang dibutuhkan di lokasi kerja lepas pantai atau dengan kata lain agar proses kerja bisa berlangsung secara efektif, efisien, aman, lancar dan seoptimal mungkin sehingga dapat memenuhi target yang telah ditetapkan oleh pihak perusahaan yang bersangkutan dengan menggunakan jasa dari kapal-kapal Off shore Services, hal ini akan berjalan dengan lancar apabila ditunjang dengan manajemen operasional yang baik.

Dalam pengoperasian kapal-kapal tentu tidaklah dikerjakan begitu saja, tetapi harus didahului dengan perencanaan serta koordinasi yang matang dan terpadu agar bisa dilaksanakan dengan cara yang lebih efektif dengan hasil yang optimal. Jika bagian perawatan berfungsi sebagaimana mestinya maka peningkatan kegiatan operasional kapal akan terus meningkat sebagaimana yang telah ditetapkan sebelumnya sebab kegiatan pengoperasian kapal merupakan sumber pendapatan. 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: