Tugas Kelompok VI serta hasil Natulen

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang Masalah

Pelabuhan merupakan terminal bagi angkutan laut yang mempunyai fungsi utama untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, bongkar muat barang dan hewan serta merupakan daerah lingkungan kerja kegiatan ekonomi. Lebih luas lagi fungsi pelabuhan adalah sebagai interface, link, gateway dan industrial entity.

Era milenium III arus perdagangan mengalami globalisasi. Disepakatinya perjanjian-perjanjian semacam GATT ( General Agreement on Tariff ),AFTA ( Asean Free Trade Area ), APEC ( Asean Pasific Economy Community ) dan WTO ( World Trade Orrganisation ) yang merupakan jaringan-jaringan global perdagangan dunia adalah upaya untuk merespon tuntutan-tuntutan dan kecenderungan globalisasi. Tentu saja hal ini menuntut upaya/kebijakan Pemerintah Indonesia untuk segera mempersiapkan segala sesuatunya sehingga pada waktunya nanti sudah benar-benar siap berkompetisi di area global menghadapi negara-negara lain. Pelabuhan di sini adalah perangkat vital yang harus siap benar-benar untuk menunjang kegiatan perdagangan dalam dan luar negeri (export-import).

Pelabuhan Tanjung Perak – Surabaya, sebagai salah satu pelabuhan terbesar di Indonesia mempunyai potensi sumber daya alam dan daerah belakang/hinterland (suatu daerah yang dibatasi oleh suatu pantai atau sungai) yang cukup besar dan terus berkembang, maka peranannya cukup penting bagi kegiatan perdagangan Intemasional (export-import), perdagangan antar pulau maupun pengembangan wilayah dan ekonomi di kawasan Jawa Timur pada khususnya dan Kawasan Timur Indonesia pada umumnya.

Dari data tiga tahun terakhir (Badan Litbang, 2007,terlampir) ini menunjukkan bahwa arus kunjungan kapal di pelabuhan Tanjung Perak sedikit meningkat rata-ratanya, sedangkan arus bongkar muat barang juga sedikit meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Walaupun sedang terjadi krisis ekonomi Nasional dan Regional, maupun Global, arus kunjungan kapal dan bongkar muat barang diperkirakan masih tetap mengalami peningkatan walaupun tidak sebesar yang diharapkan. Dengan keyakinan krisis ekonomi akan segera berakhir tiga atau empat tahun mendatang, diperkirakan arus kunjungan kapal dan arus bongkar muat barang akan mengalami peningkatan yang lebih besar lagi. Untuk itulah diperlukan suatu sarana dan prasarana pelabuhan yang memadai.

Pada umumnya pelayanan kapal-kapal yang akan masuk dan keluar di perairan pelabuhan dilayani oleh kapal pandu dan kapal tunda. Kapal pandu digunakan untuk memandu kapal dan kapal tunda untuk menuntun kapal-kapal yang akan masuk dan keluar maupun berpindah tempat. Pelayanan penundaan dengan kapal tunda ini hanya diwajibkan bagi kapal yang berukuran 70 Meter s/d 150 Meter keatas. Berbagai type dan ukuran kapal yang akan keluar masuk memerlukan pemanduan dengan kapal tunda dengan jumlah dan type/ukuran yang berbeda-beda.

Pelayanan pemanduan dan penundaan terhadap kapal-kapal yang akan keluar masuk maupun pindah tempat di perairan pelabuhan merupakan bagian dari usaha jasa kepelabuhan PT. (Persero) Pelindo III Tanjung Perak. Sebagai pelaksananya adalah Armada Kepanduan pada Dinas Armada yang berada di bawah Divisi Pelayanan Kapal. Saat ini Pelabuhan Tanjung Perak memiliki armada kapal tunda dengan kapasitas 1300 – 2600 HP / Bollard Pull 25 – 45 Tons  sebanyak 8 unit dan 7 unit kapal pandu dengan kapasitas 310 – 1100 HP.

Peranan kapal tunda dalam melayani kegiatan penundaan menempati posisi yang cukup penting, karena fungsinya yang berhubungan langsung dengan kedatangan atau pemberangkatan kapal dari dan ke pelabuhan.

Untuk peningkatan kinerja pelabuhan termasuk kehandalan operasional kepelabuhan, kelancaran. keamanan dan keselamatan pelayanan, penundaan kapal selalu mendapat perhatian yang seoptimal mungkin, karena turut mempengaruhi mutu pelayanan dan performansi pelabuhan secara keseluruhan. Dengan tersedianya fasilitas penundaan yang cukup maka pelayanan penundaan kapal akan menjadi lebih lancar dalam membantu arus gerakan kapal yang mengunjungi pelabuhan.

Padatnya kegiatan keluar masuknya kapal di pelabuhan Tanjung Perak dapat dilihat dari data arus kunjungan kapal yang cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Karenanya kesiapan sarana dan prasarana yaitu kapal tunda yang merupakan alat bantu operasional Divisi Kepanduan harus memadai baik dalam jumlah maupun kapasitas daya yang disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.

Semakin cepatnya perkembangan kegiatan pada PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia III Tanjung Perak, maka perlu mengoptimalkan mutu pelayanan kapal tunda terutama dalam rangka mengantisipasi jumlah kunjungan kapal yang setiap tahun semakin meningkat jumlahnya.

Operasional kapal tunda merupakan unsur vital dari PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia III Tanjung Perak, yang merupakan kegiatan awal serta akhir dari keseluruhan rangkaian kegiatan pelayanan. Dalam meningkatkan operasional kapal tunda di pelabuhan maka pendukung faktor sumber daya manusia perlu mendapat perhatian dalam pembinaannya, sehingga peranannya dalam kegiatan pelayanan pemanduan dipelabuhan akan memberi hasil yang maksimal terhadap jumlah kunjungan kapal.

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka penulis membuat skripsi yang berjudul: “ANALISIS OPERASIONAL ANTARA KAPAL TUNDA DENGAN KUNJUNGAN KAPAL DI PELABUHAN TANJUNG PERAK MILIK PELINDO III SURABAYA TAHUN 2005 – 2007”.

  1. B. Rumusan Masalah

Pada tahun mendatang diperkirakan arus kunjungan kapal yang melalui Pelabuhan Tanjung Perak akan meningkat. Hal ini tentu saja menuntut kesiapan dari pihak manajemen pelabuhan untuk mengantisipasinya dengan perencanaan-perencanaan mengenai sarana-sarana yang ada yaitu personil maupun operasional kapal tunda.

Semua pihak tentu akan menghindar dari biaya sejauh maksud dan tujuannya masih bisa dicapai. Demikian juga halnya dimana pelabuhan menginginkan jumlah fasilitas yang sedikit sehingga terhindar dari biaya investasi yang besar dan percuma, sejauh masih dapat mengantisipasi kenaikan permintaan arus kunjungan kapal dalam arti tidak kehilangan konsumennya yang merupakan sumber pendapatannya. Sebaliknya pihak konsemen (pemilik kapal) menginginkan jumlah fasilitas yang banyak, sehingga biaya tunggu kapal yang diderita oleh konsumen dapat dihindari atau dikurangi.

  1. Identifikasi Masalah

Seperti yang telah diuraikan diatas mengenai salah satu sarana pendukung dalam transportasi laut beserta fasilitas penunjang dalam kegiatan operasional kapal tunda, maka penulis dapat mengidentifikasi masalah sebagai berikut:

  1. Terbatasnya jumlah personil operasional kapal tunda yang dimiliki oleh PT. Pelindo III Tanjung Perak.
  2. Lamanya operasional kapal tunda dalam menuntun kapal-kapal yang masuk dan keluar maupun berpindah tempat didermaga.
  3. Kegiatan operasional kapal tunda sering terlambat.
  4. Pemanfaatan fasilitas dan peralatan pendukung operasional kapal tunda kurang optimal.
  5. Batasan Masalah

Dalam penyusunan skripsi ini penulis membatasi pembahasan mengenai operasional antara kapal tunda dan jumlah kunjungan kapal yang masuk ataupun keluar dipelabuhan pada PT. Pelindo III Tanjung Perak Surabaya pada tahun 2005 – 2007”.

  1. Pokok Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan batasan masalah, maka pokok permasalahan yang terdapat dalam penyusunan skripsi ini, antara lain:

  1. Bagaimanakah jumlah operasional kapal tunda dipelabuhan pada PT. Pelindo III Tanjung Perak – Surabaya pada tahun 2005 – 2007?
  2. Bagaimanakah perkembangan jumlah kunjungan kapal dipelabuhan pada PT. Pelindo III Tanjung Perak – Surabaya pada tahun 2005 – 2007?
  3. Adakah pengaruh operasional kapal tunda terhadap jumlah kunjungan kapal di Pelabuhan pada PT. Pelindo III Tanjung Perak – Surabaya pada tahun 2005 – 2007?
  1. C. Tujuan Penelitian

Dibidang penyusunan skripsi ini ada beberapa tujuan yangn hendak penulis capai, yaitu:

  1. Untuk mengetahui jumlah operasional kapal tunda di Pelabuhan pada PT. Pelindo III Tanjung Perak – Surabaya pada tahun 2005 – 2007.
  2. Untuk mengetahui perkembangan jumlah kunjungan kapal di Pelabuhan pada PT. Pelindo III Tanjung Perak – Surabaya pada tahun 2005 – 2007.
  3. Untuk mengetahui adakah pengaruh operasional kapal tunda terhadap jumlah kunjungan kapal di Pelabuhan pada PT. Pelindo III Tanjung Perak – Surabaya pada tahun 2005 – 2007.
  1. D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian yang tersusun dalam skripsi ini diharapkan dapat bermanfaat baik bagi penulis sendiri, bagi perusahaan, civitas akademika STMT Trisakti, serta para pembaca dan pihak-pihak lain yang memerlukannya:

  1. Bagi Penulis

Adalah untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan mengenai pelabuhan secara keseluruhan dan untuk menambah wawasan pengetahuan tentang aplikasi ilmu yang diperoleh dibangku kuliah dengan penerapan yang sebenarnya pada PT. Pelindo III Tanjung Perak dan penelitian ini merupakan salah satu persyaratan dalam menyelesaikan program studi manajemen, konsentrasi manajemen transportasi laut jenjang pendidikan S1 di STMT TRISAKTI.

  1. Bagi PT. Pelindo III

Manfaat penelitian ini bagi perusahaan adalah penelitian ini dapat dijadikan sebagai input atau bahan masukan didalam menganalisa dan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan terhadap masalah yang berkaitan dengan operasional kapal tunda dengan jumlah kunjungan kapal di pelabuhan pada PT. Pelindo III Tanjung Perak, sehingga perusahaan dapat meningkatkan jumlah kunjungan kapal di pelabuhan.

  1. Bagi Civitas Akademika STMT Trisakti dan Pembaca

Adalah dapat dijadikan referensi bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dibidang manajemen dan sumbangan umum untuk dijadikan tambahan perbendaharaan kepustakaan bagi STMT Trisakti.

  1. E. Hipotesis

Diduga ada pengaruh antara operasional kapal tunda terhadap jumlah kunjungan kapal di Pelabuhan pada PT. Pelindo III Tanjung Perak.

  1. F. Metodologi Penelitian
    1. Jenis dan Sumber Data

Didalam penyusunan skripsi ini penulis menggunakan metode deskriptif analisis yaitu pembahasan dalam skripsi dengan memberikan uraian-uraian. Ada 2 (dua) jenis data yaitu jenis data kualitatif (yang tertulis) dan data kuantitatif (angka).

Jenis data yang digunakan adalah jenis data kuantitatif (angka) berupa data laporan mengenai jumlah operasional kapal tunda dan jumlah kunjungan kapal dipelabuhan Tanjung Perak. Sumber data merupakan data sekunder mengenai laporan jumlah operasional kapal tunda dan jumlah kunjungan kapal dipelabuhan tersebut.

  1. Populasi dan sampel
    1. Populasi data merupakan sebagian data secara keseluruhan dari data laporan jumlah operasional kapal tunda dan jumlah kunjungan kapal di pelabuhan.
    2. Sampel data merupakan data sebagian dari populasi yang dapat mewakili laporan jumlah operasional kapal tunda dan jumlah kunjungan kapal di pelabuhan.
    3. Metode Pengumpulan Data
      1. Riset Lapangan (Field Research)

Yaitu suatu penelitian yang dilakukan dengan mengadakan observasi dan pengamatan langsung terhadap objek studi yang menjadi pokok permasalahan untuk memperoleh data-data yang diperlukan, antara lain diperoleh melalui:

1)      Interview, yaitu mengadakan wawancara langsung dan mengajukan pertanyaan kepada karyawan PT. Pelindo III Tanjung Perak.

2)      Pengamatan (observasi), yaitu melakukan peninjauan langsung ke objek penelitian sehingga data yang penulis kumpulkan benar-benar sesuai dengan keadaan yang sebenarnya pada saat penelitian berlangsung.

  1. Riset Kepustakaan (Library Research)

Yaitu suatu penelitian yang dilakukan untuk memperoleh data-data yang bersumber dari buku-buku diktat dan lain-lain, serta materi perkuliahan di STMT Trisakti dengan didalamnya penulis mendapatkan teori-teori untuk memudahkan penulisan dalam penyusunan skripsi.

  1. Metode analisa Data
    1. Analisis Regresi Linier

Menggunakan rumus (M. Iqbal Hasan, 2002 : 250)

Dimana:

X =   Variabel Bebas = Operasional Kapal Tunda

Y =   Variabel Terikat = Jumlah kunjungan kapal di pelabuhan

a =    Bilangan tetap

b =    Koefisien regresi

n =    Jumlah pasang observasi/pengukuran, dalam hal ini responden penilaian dan tahun penelitian.

  1. Koefisien Korelasi Pearson

Menggunakan rumus (M. Iqbal Hasan, 2002 : 2235)

Batasan:

Artinya:

  • Jika r = 0 atau mendekati 0, maka hubungan antara kedua variabel sangat lemah atau tidak terdapat hubungan sama sekali.
  • Jika r = +1 atau mendekati 1, maka hubungan antara kedua variabel dikatakan positif dan sangat kuat sekali.
  • Jika r = -1 atau kendekati -1, maka hubungan kedua variabel tersebut dikatakan negative dan sangat kuat sekali.
  1. Koefisien Penentu

Digunakan untuk mengetahui berapa besarnya kontribusi/pengaruh dari variabel X terhadap naik turunnya variabel Y. Menggunakan rumus (M. Iqbal Hasan, 2002:248).

Kp = r2 x 100%

Dimana:

Kp = Koefisien Penentu

r = Koefisien korelasi Y dan X

  1. Uji Hipotesis

Hipotesis adalah hasil sementara suatu penelitian yang perlu diuji kebenarannya.

Taraf nyata µ = 0,05 dan df = n – 2,

Dalam skripsi ini uji hipotesa yang penulis lakukan dengan uji satu arah (one tail), dan rumus untuk mencari thitung:

Keterangan:

thitung = Hasil perhitungan;

rhitung = Koefisien korelasi X dan Y;

nhitung = jumlah sampel

Perumusan hipotesis menggunakan r (rho) yaitu nilai koefisien koerlasi sebenarnya, dimana:

H0 : r =  0, artinya tidak ada hubungan antara Operasional Kapal Tunda (Variabel X) dengan Jumlah Kunjungan Kapal (variabel Y) ® (hubungan tidak signifikan).

Ha : r >   0, artinya ada hubungan antara Operasional Kapal Tunda (Variabel X) dengan Jumlah Kunjungan Kapal (Variabel Y) ® (hubungan signifikan).

Pembuktian signifikansi:

Jika thitung < ttabel, maka Ho diterima, dan Ha = ditolak artinya hubungan X dan Y tidak signifikan, dan

Jika thitung > ttabel, maka Ho ditolak, dan Ha = diterima artinya hubungan X dan Y signifikan.

Agar lebih jelas menginterprestasikan tingkat hubungan tersebut, maka dapat berpedoman pada ketentuan sebagai tertuang pada table 1.1.

Tabel 1.1.

Tingkat Hubungan

Interval Korelasi

Tingkat Hubungan

0.000 – 0.199 Sangat Rendah
0.200 – 0.399 Rendah
0.400 – 0.599 Sedang
0.600 – 0.799 Kuat
0.800 – 1.000 Sangat Kuat
  1. G. Sistimatika Penulisan

Untuk mempermudah penulis dalam penyampaian materi maka sistematika penulisan skripsi ini dibagi menjadi lima bab yang masing-masing bab yang secara garis besar terdiri dari bab-bab sebagai berikut:

BAB I       :  Pendahuluan

Dalam bab pendahuluan ini menguraikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metodologi penelitian dan sistimatika penulisan skripsi.

BAB II      :  Landasan Teori

Dalam bab ini membahas tentang pengertian manajemen dan manajemen operasional, pengertian kapal, pengertian pelabuhan dan kepelabuhan, pengertian kapal tunda, sistem dan kinerja kapal tunda.

BAB III    :  Tinjauan Umum PT. Pelindo III

Dalam bab ini akan membahas gambaran mengenai PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia III Tanjung Perak, mulai dari sejarah singkat perusahaan, struktur organisasi dan manajemen, serta kegiatan usaha PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia III Tanjung Perak.

BAB IV    :  Analisis Dan Pembahasan

Dalam bab ini akan dibahas mengenai permasalahan yang ada diperusahaan seperti masalah yang berkaitan dengan operasional kapal tunda dengan kunjungan kapal di pelabuhan.

BAB V      :  Penutup

Pada bab ini merupakan bab terakhir, dalam bab ini dikemukakan kesimpulan dari penelitan serta sumbangan pemikiran yang didapat dari hasil penelitian.

BAB II

LANDASAN TEORI

A.   Pengertian Manajemen dan Manajemen Operasional

Dalam mengartikan dan mendefinisikan manajemen ada berbagai ragam, ada yang mengartikan dengan ketatalaksanaan, manajemen, manajemen pengurusan dan lain sebagainya. Bila dilihat dari literatur-literatur yang ada, pengertian manajemen dapat dilihat dari tiga pengertian:

  1. manajemen sebagai suatu proses.
  2. manajemen sebagai suatu kolektivitas manusia.
  3. manajemen sebagai ilmu (science) dan sebagai seni (art).

Manajemen sebagai suatu proses, melihat bagaimana cara orang untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Pengertian manajemen sebagai suatu proses dapat dilihat dari pengertian menurut Manullang (1987: 15):

  1. Encylopedia of The Social Science, yaitu suatu proses dimana pelaksanaan suatu tujuan tertentu dilaksanakan dan diawasi.
  2. Haiman, manajemen yaitu fungsi untuk mencapai suatu tujuan melalui kegiatan orang lain, mengawasi usaha-usaha yang dilakukan individu untuk mencapai tujuan.
  3. Georgy R. Terry, yaitu cara pencapaian tujuan yang telah ditentukan terlebih dahulu dengan melalui kegiatan orang lain.

Manajemen suatu kolektivitas yaitu merupakan suatu kumpulan dari orang-orang yang bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan bersama. Kolektivitas atau kumpulan orang-orang inilah yang disebut dengan manajemen, sedang orang yang bertanggung jawab terhadap terlaksananya suatu tujuan atau berjalannya aktivitas manajemen disebut manajer.

Manajemen sebagai suatu ilmu dan seni, melihat bagaimana aktivitas manajemen dihubungkan dengan prinsip-prinsip dari manajemen. Pengertian manajemen sebagai suatu ilmu dan seni dari:

  1. Chaster I Bernard dalam bukunya yang berjudul The function of the Executive, bahwa manajemen yaitu seni dan ilmu, juga Henry Fayol, Alfin Brown Harold, Koontz Cyril O’donnel dan Geroge R Terry.
  2. Marry Parker Follett menyatakan bahwa manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain.

Dari definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa manajemen yaitu koordinasi semua sumber daya melalui proses perencanaan, pengorganisasian, penetapan tenaga kerja, pengarahan dan pengawasan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu.

Pengertian manajemen menurut James AF Stoner, yang dialihbahasakan oleh T. Hani Handoko (2003 ; 8), sebagai berikut:

“Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan pengunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan”.

Menurut Glover yang diartikan oleh Alma dalam bukunya Manajemen  Pemasaran dan Pemasaran Jasa (2001:130):

“Manajemen sebagai suatu kepandaian manusia menganalisa, merencanakan, memotivasi, menilai, dan mengawasi penggunaan secara efektif sumber-sumber manusia dan bahan yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu”.

Pengertian manajemen menurut Hasibuan dalam bukunya Manajemen (2003:1):

“Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu”.

Sedangkan menurut Manullang dalam bukunya Dasar-dasar Manajemen (2004:5) manajemen didefinisikan sebagai berikut:

“Manajemen adalah seni ilmu perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan, dan pengawasan untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan”.

Sedangkan pengertian manajemen operasional menurut Richard L. Daft (2006 : 216) adalah:

“Bidang manajemen yang mengkhususkan pada produksi barang, serta menggunakan alat-alat dan teknik-teknik khusus untuk memecahkan masalah-masalah produksi”.

Dari pengertian tersebut Manajemen Operasional merupakan kegiatan operasional kapal tunda dalam hubungannya dengan jumlah kunjungan kapal di pelabuhan, yang dalam hal ini kesiapan sarana operasional kapal tunda  diharapkan dapat beroperasi secara secara maksimal sehingga dapat meningkatkan jumlah kunjungan kapal di pelabuhan.

B.   Pengertian Kapal

PT. Pelabuhan Indonesia III (Persero) adalah Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dalam sektor perhubungan yang diberikan tugas, wewenang dan tanggung jawab untuk mengelola Pelabuhan. Pelabuhan Indonesia III yang menjalankan bisnis inti sebagai penyedia fasilitas jasa kepelabuhanan, memiliki peran kunci untuk menjamin kelangsungan dan kelancaran angkutan laut, sehingga dengan tersedianya prasarana transportasi laut yang memadai dalam hal ini adalah kapal laut.

Kapal dengan arti umum adalah kendaraan pengangkut penumpang dan barang di laut (sungai dsb) seperti halnya sampan atau perahu yang lebih kecil. Kapal biasanya cukup besar untuk membawa perahu kecil seperti sekoci. Sedangkan dalam istilah inggris, dipisahkan antara ship yang lebih besar dan boat yang lebih kecil. Secara kebiasaannya kapal dapat membawa perahu tetapi perahu tidak dapat membawa kapal. Ukuran sebenarnya dimana sebuah perahu disebut kapal selalu ditetapkan oleh undang-undang dan peraturan atau kebiasaan setempat.

Berikut beberapa definisi dari kapal adalah :

a. Pengertian kapal menurut  pasal 1 ayat (2) UU No. 21 tahun 1992 tentang pelayaran adalah:

“ Kendaraan air dengan bentuk dan jenis apapun yang digerakkan dengan tenaga mekanik, tenaga angin, atau ditunda termasuk kendaraan yang berdaya dukung dinamis, kendaraan dibawah permukaan air, serta alat apung dan bangunan terapung yang tidak berpindah-pindah.”

b. Sedangkan pengertian kapal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu:

“ Kendaraan pengangkut penumpang dan barang di laut (sungai dan sebagainya)”.

c. Definisi kapal menurut, Colision Regulation ( COLREG ) 1972 aturan 3,kata ” Kapal ” mencakup setiap jenis kendaraan air,termasuk kapal tanpa benaman ( Displacement ) dan pesawat terbang laut,yang digunakan atau dapat digunakan sebagai sarana angkutan laut.

d. Definisi kapal niaga menurut Sugianto, (1981:4) berdasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 1995 kapal niaga adalah :

” Setiap kapal yang digerakan secara mekanis dan yang digunakan untuk mengangkut barang dan atau penumpang,untuk umum dengan pemungutan biaya ”.

e.  Menurut Peraturan Pemerintah No. 47 tahun 1957 :

” Kapal laut adalah setiap alat pengangkutan yang digunakan atau disediakan untuk pengangkutan dilaut ”.

Berabad-abad kapal digunakan oleh manusia untuk mengarungi sungai atau lautan yang diawali oleh penemuan perahu. Biasanya manusia pada masa lampau mengunakan kano, rakit ataupun perahu, semakin besar kebutuhan akan daya muat maka dibuatlah perahu atau rakit yang berukuran lebih besar yang dinamakan kapal. Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan kapal pada masa lampau menggunakan kayu, bambu ataupun batang-batang papirus seperti yang digunakan bangsa mesir kuno kemudian digunakan bahan bahan logam seperti besi/baja karena kebutuhan manusia akan kapal yang kuat. Untuk penggeraknya manusia pada awalnya menggunakan dayung kemudian angin dengan bantuan layar, mesin uap setelah muncul revolusi Industri dan mesin diesel serta Nuklir. Beberapa penelitian memunculkan kapal bermesin yang berjalan mengambang diatas air seperti Hovercraft dan Eakroplane. Serta kapal yang digunakan di dasar lautan yakni kapal selam.
Kapal juga  digunakan untuk mengangkut penumpang dan barang sampai akhirnya pada awal abad ke-20 ditemukan pesawat terbang yang mampu mengangkut barang dan penumpang dalam waktu singkat maka kapal pun mendapat saingan berat. Namun untuk kapal masih memiliki keunggulan yakni mampu mengangkut barang dengan tonase yang lebih besar sehingga lebih banyak didominasi kapal niaga dan tanker sedangkan kapal penumpang banyak dialihkan menjadi kapal pesiar seperti Queen Elizabeth dan Awani Dream.

C.   Pengertian Pelabuhan dan Kepelabuhanan

1.  Pengertian Pelabuhan

Pelabuhan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan disekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintah dan kegiatan ekonomi yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, berlabuh, naik turun penumpang dan atau bongkar muat barang yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi (UU No. 21/1992 tentang Pelayaran).

Sedangkan pengertian kepelabuhanan berdasarkan UU No. 21 Tahun 1992 tentang kepelabuhan berdasarkan UU No. 21 Tahun 1992 tentang pelayaran, adalah:

“Meliputi segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan penyelenggaraan pelabuhan dan kegiatan lainnya dalam melaksanakan fungsi pelabuhan untuk menunjang kelancaran, keamanan dan ketertiban arus lalu lintas kapal, menumpang dan/atau barang, keselamatan berlayar, serta tempat perpindahan intra dan/atau antar moda”.

2.  Fungsi Pelabuhan

Menurut R.P. Suyono (2007 : 11) fungsi dan peranan pelabuhan adalah sebagai berikut:

Fungsi Umum Pelabuhan

1)   Interface (tempat pertemuan)

Pelabuhan merupakan tempat pertemuan dua moda transportasi utama, yaitu darat dan laut serta berbagai kepentingan yang saling terkait. Barang-barang yang diangkut dengan kapal laut akan dibongkar dan dipindahkan ke angkutan darat seperti truk atau kereta api. Dan, sebaliknya, barang-barang yang diangkut dengan truk atau kereta api dipelabuhan dibongkar dan dimuat ke kapal.

2)   Gapura

Pelabuhan berfungsi sebagai gapura atau pintu gerbang suatu negara. Warga negara dan barang-barang dari negara asing yang memiliki pertalian ekonomi masuk ke suatu negara akan melewati pelabuhan tersebut. Sebagai pintu gerbang negara, citra negara sangat ditentukan oleh baiknya pelayanan, kelancaran serta kebersihan di pelabuhan tersebut. Pelayanan dan kebersihan dipelabuhan merupakan cermin negara yang bersangkutan.

3)   Entitas Industri

Dengan berkembangnya industri yang berorientasi ekspor maka fungsi pelabuhan menjadi sangat penting. Dengan adanya pelabuhan, hal itu akan memudahkan industri mengirim produknya dan mendatangkan bahan baku. Dengan demikian, pelabuhan berkembang menjadi suatu jenis industri sendiri yang menjadi ajang bisnis berbagai jenis usaha, mulai dari transportasi, perbankan, perusahaan leasing peralatan dan sebagainya.

4)      Mata Rantai Transportasi

Pelabuhan merupakan bagian dari mata rantai transportasi. Di pelabuhan berbagai moda transportasi bertemu dan bekerja. Pelabuhan laut merupakan salah satu titik dari mata rantai angkutan darat dengan angkutan laut. Orang dan barang yang diangkut dengan kereta api bisa diangkut mengikuti rantai trnsportasi dengan menggunakan kapal laut. Oleh karena itu, akses jalan mobil, rel kereta api, jalur dari dan ke bandar udara sangatlah penting bagi suatu pelabuhan. Selain itu, sarana pendukung, seperti perahu kecil dan tongkang akan sangat membantu kelancaran aktivitas pelabuhan sebagai salah satu mata rantai transportasi.

b.  Jenis Pelabuhan

Menurut R.P. Suyono (2007 : 2), jenis pelabuhan dapat dibagi menurut:

1)   Alamnya

Menurut alamnya, pelabuhan laut dibagi menjadi pelabuhan terbuka dan pelabuhan tertutup. Pelabuhan terbuka adalah pelabuhan dimana kapal-kapal bisa masuk dan merapat secara langsung tanpa bantuan pintu-pintu air. Pelabuhan di Indonesia pada umumnya adalah perlabuhan terbuka. Pelabuhan tertutup adalah pelabuhan dimana kapal-kapal yang masuk harus melalui beberapa pintu air. Pelabuhan tertutup ini dibuat pada pantai dimana terdapat perbedaan pasang surut yang besar dan waktu pasang surutnya berdekatan.

2)   Pelayanannya

Menurut sasaran pelayanannya, jenis pelabuhan dapat dibagi menjadi pelabuhan umum dan pelabuhan khusus. Sesuai PP 69/2001, Pelabuhan umum adalah pelabuhan yang diselenggarakan untuk kepentingan pelayanan masyarakat umum. Sedangkan pelabuhan khusus adalah pelabuhan yang penggunaannya khusus untuk kegiatan sektor perindustrian, pertambangan, atau pertanian yang pembangunannya dilakukan oleh instansi yang bersangkutan untuk bongkar/muat dari bahan baku serta hasil produksinya. Contoh dari pelabuhan khususnya adalah pelabuhan khusus angkatan laut, pelabuhan khusus untuk minyak sawit, pelabuhan khusus minyak dan sebagainya (Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 55 Tahun 2002).

3)   Lingkup Pelayaran Yang Dilayani

Menurut lingkup pelayaran yang dilayani, sesuai PP No. 69 Tahun 2001 tentang Kepelabuhanan pasal 5 dan 6, peran dan fungsi pelabuhan dibagi menjadi pelabuhan internasional hub, pelabuhan internasional, pelabuhan nasional, pelabuhan regional dan pelabuhan lokal.

-     Pelabuhan internasional hub adalah pelabuhan utama primer yang berfungsi melayani kegiatan dan alih muatan angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah besar dan jangkauan pelayaran yang sangat luas serta merupakan simpul dalam jaringan transportasi laut internasional.

-     Pelabuhan internasional adalah pelabuhan utama sekunder y ang berfungsi melayani kegiatan dan alih muatan angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah besar dan jangkauan pelayaran yang sangat luas serta merupakan simpul dalam jaringan transportasi laut internasional.

-     Pelabuhan nasional adalah pelabuhan utama tersier yang berfungsi melayani kegiatan dan ali muat angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah menengah serta merupakan simpul dalam jaringan transportasi tingkat provinsi.

-     Pelabuhan regional adalah pelabuhan pengumpan primer yang berfungsi melayani kegiatan dan alih muatan angkutan laut nasional dalam jumlah yang relatif kecil serta merupakan pengumpan dari pelabuhan utama.

-     Pelabuhan lokal adalah pelabuhan pengumpan sekunder yang berfungsi melayani kegiatan angkutan laut regional dalam jumlah kecil serta merupakan pengumpan pada pelabuhan utama dan/atau pelabuhan regional.

4)   Kegiatan Perdagangan Luar Negeri

Kegiatan perdagangan luar negeri yang dilayani, jenis pelabuhan dapat dibagi menjadi pelabuhan impor dan pelabuhan ekspor. Pelabuhan impor adalah pelabuhan yang melayani masuknya barang-barang dari luar negeri. Pelabuhan ekspor adalah pelabuhan yang melayani penjualan barang-barang ke luar negeri.

5)   Kapal Yang Diperbolehkan Singgah

Menurut kapal yang diperbolehkan singgah, berdasarkan Indische Scheepvaart – Wet (Staatablad 1936 No. 700) jenis pelabuhan dibagi menjadi pelabuhan laut dan pelabuhan pantai. Pelabuhan laut adalah pelabuhan yang terbuka bagi perdagangan luar negeri dan dapat disinggahi oleh kapal-kapal dari negara sahabat. Sedangkan Pelabuhan pantai adalah pelabuhan yang tidak terbuka untuk perdagangan dengan luar negeri dan hanya dapat dipergunakan oleh kapal-kapal dari Indonesia.

6)   Wilayah Pengawasan Bea Cukai

Dari segi pembagian wilayah bea cukai, jenis pelabuhan dibagi menjadi custom port dan free port. Custom port adalah pelabuhan yang berada dibawah pengawasan bea cukai. Sdangkan free port (pelabuhan bebas) adalah pelabuhan yang berada diluar pengawasan bea cukai.

7)   Kegiatan Pelayarannya

Dilihat dari segi kegiatan pelayarannya, pelabuhan dibagi menjadi tiga jenis, yaitu pelabuhan samudera, pelabuhan nusantara (pelabuhan interinsuler), dan pelabuhan pelayaran rakyat. Contoh pelabuhan samudera adalah pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta. Contoh pelabuhan nusantara adalah pelabuhan Banjarmasin di Kalimantan Selatan. Sedangkan pelabuhan pelayaran rakyat adalah pelabuhan Sunda Kelapa di Pasar Ikan, Jakarta.

8)   Perannya Dalam Pelayaran

Menurut perannya dalam pelayaran, pelabuhan dibagi menjadi dua jenis, yaitu pelabuhan transito dan pelabuhan ferry. Pelabuhan transito adalah pelabuhan yang mengerjakan transhipment cargo. Contohnya adalah pelabuhan Singapura. Pelabuhan ferry adalah pelabuhan penyeberangan. Pelayanan dilakukan oleh kapal ferry yang menghubungkan dua tempat dengan sistem roll on dan roll off dengan membawa penumpang dan kendaraan. Contoh pelabuhan ferry adalah pelabuhan Banyuwangi-Gilimanuk atau Merak-Bakahueni.

  1. Fasilitas Pelabuhan

Untuk menunjang kelancaran aktifitas dipelabuhan, dalam pelabuhan tersedia berbagai fasilitas. Kelengkapan fasilitas ini juga bisa menjadi ukuran baik buruknya suatu pelabuhan. Berikut ini adalah beberapa fasilitas utama yang ada dalam pelabuhan.

1)   Penahan gelombang

Penahan gelombang adalah konstruksi dari batu-batuan yang kuat dan dibuat melingkar memanjang ke arah laut dari pelabuhan utamanya ang dimaksudkan sebagai pelindung pelabuhan itu. Gunanya adalah untuk menahan ombak dan gelombang, karena didalam pelabuhan terdapat dermaga-dermaga tempat kapal bersandar. Dengan demikian, dalam pelabuhan cuacanya lebih tenang dari luar karena terlindung.

2)   Jembatan (jetty)

Jembatan atau jetty adalah bangunan berbentuk jembatan yang dibuat menjorok keluar ke arah laut dari pantai atau daratan. Biasanya dibuat dari beton, baja, atau kayu dan dibuat untuk menampung sementara barang yang akan dimuat/bongkar dari/ke kapal yang andar dijembatan itu.

3)   Dolphin

Dolphin adalah kumpulan dari tonggak-tonggak dari besi, kayu atau beton agar kapal dapat sandar disitu untuk melakukan kegiatan bongkat/muat ke tongkang (lighter). Biasanya terdiri dari konsturksi dua tonggak yang menahan kapal dibagian muka dan belakangnya.

4)   Mooring Bouys (Pelampung Pengikat)

Pelampung dimana kapal ditambatkan untuk melakukan suatu kegiatan. Seperti di Hongkong, kapal diikat dengan ujung rantai jangkarnya, dimana jangkarnya dicopot dahulu untuk melakukan kegiatan bongkar muat.

5)   Tempat labuh

Tempat labuh adalah tempat perairan dimana kapal melego jangkarnya untuk melakukan kegiatan. Tempat labuh juga berfungsi sebagai tempat menunggu untuk masuk ke suatu pelabuhan.

6)   Single Bouy Mooring (SBM)

SBM adalah pelampung pengikat dimana kapal tanker dapat bongkar muat muatannya melalui pipa dipelampung itu yang menghubungkan daratan atau sumberpasokan.

7)   Tongkang (Lighter)

Tongkang adalah perahu-perahu kecil yang dipergunakan untuk mengangkut muatan atau barang dari atau ke kapal yang dimuat/dibongkar, yang biasanya ditarik oleh kapal tunda (Tug Boat).

8)   Alur Pelayaran dan Kolam Pelabuhan

Alur kapal adalah bagian dari perairan dipelabuhan tempat masuk/keluarnya kapal. Alur pelayaran kapal memiliki kedalaman tertentu agar kapal bisa masuk/keluar kolam pelabuhan atau sandar didermaga. Kolam pelabuhan juga selalu harus disiapkan oleh pelabuhan, agar tersedia tempat cukup sesuai dengan jenis kapal dan muatannya.

9)   Rambu Kapal

Rambu kapal adalah tanda-tanda yang dipasang diperairan menuju pelabuhan untuk memandu kapal berlabuh.

10) Gudang

Gudang adalah tempat penampungan barang yang tertutup agar terlindung dari cuaca. Namun ada juga gudang terbuka untuk barang tertentu atau petikemas.

11)  Dermaga

Untuk melayani kapal-kapal yang masuk, pelabuhan menyediakan dermaga, yaitu tempat dimana kapal dapat berlabuh atau sandar guna melakukan kegiatannya, baik bongkar/muat atau kegiatan lainnya.

D.   Pengertian Kapal Tunda

Sangat sedikit kapal yang bisa berlayar di semua jenis perairan. Sebagian besar kapal dirancang untuk memiliki kemampuan berlayar terbatas. Kapal tunda contohnya, kapal ini sangat kuat dengan kekuatan ribuan daya kuda yang memang diperlukan untuk menjalankan fungsinya. Namun kebanyakan kapal tunda tidak dirancang untuk belayar di laut lepas, kebanyakan kapal tunda diberi notasi berlayar di daerah pantai.

Kapal Tunda adalah kapal yang digunakan oleh pandu sebagai sarana bantu pemanduan, kapal tunda memiliki spesifikasi dan persyaratan khusus sehingga dapat mendorong dan menarik kapal sesuai kebutuhan. Kapal Pandu adalah kapal khusus yang digunakan sebagai sarana bagi pandu untuk naik/turun dari dan ke kapal yang dipandu. Peralatan keselamatan pandu lainnya meliputi antara lain alat-alat pelindung diri (APD), peralatan komunikasi dan sebagainya. Apabila dibutuhkan dapat digunakan kapal kepil dan personelnya untuk membantu menambatkan dan atau melepas tali/sling kapal dalam proses tambat dan atau lepas sandar kapal.

Kapal tunda adalah kapal kecil yang beroperasi di pelabuhan guna membantu maneuver kapal-kapal besar yang akan bersandar maupun berlabuh di pelabuhan, meskipun kecil kapal tunda memiliki daya dorong yang besar agar mampu mengarahkan kapal-kapal yang akan bersandar. Kapal tunda dibuat agar dapat menarik atau mendorong kapal atau segala sesuatu yang mengapung. Tugas lain yang dilakukan adalah menolong kapal dalam bahaya, memadamkan kebakaran di laut, memerangi polusi/pencemaran, dan lain sebagainya.

Kapal tunda adalah kapal yang dapat digunakan untuk melakukan manuver / pergerakan, utamanya menarik atau mendorong kapal lainnya di pelabuhan, laut lepas atau melalui sungai atau terusan. Kapal tunda digunakan pula untuk menarik tongkang, kapal rusak, dan peralatan lainnya.

Kapal tunda memiliki tenaga yang besar bila dibandingkan dengan ukurannya. Kapal tunda zaman dulu menggunakan mesin uap, saat ini menggunakan mesin diesel. Mesin Induk kapal juga digunakan untuk menunda kapal berkuatan Horse Power / Tenaga Kuda  tunda  antara 750 sampai 4000 tenaga kuda (500 s.d. 2000 kW), tetapi kapal yang lebih besar (digunakan di laut lepas) dapat berkekuatan sampai  12 000 tenaga kuda (10 000 kW). Kebanyakan mesin yang digunakan adalah mesin diesel. Dan untuk keselamatan biasanya digunakan minimum dua buah mesin induk ( apabila salah satu mesin bermasalah/rusak secara tiba-tiba maka masih bisa melanjutkan tugasnya dengan menggunakan mesin lainnya ) dan memudahkan untuk manuver / mengolah gerak sesuai dengan kemampuanya sebagai type kapal yang “Highable Manouvering” ( mudah diolah gerak ).

Kapal tunda memiliki kemampuan manuver yang tinggi, tergantung dari unit penggerak. Kapal Tunda dengan penggerak konvensional memiliki baling-baling di belakang, efisien untuk menarik kapal dari pelabuhan ke pelabuhan lainnya. Jenis penggerak lainnya sering disebut Schottel propulsion system (azimuth thruster/Z-peller) di mana baling-baling di bawah kapal dapat bergerak 360° atau sistem propulsi Voith-Schneider yang menggunakan semacam pisau di bawah kapal yang dapat membuat kapal berputar 360°.

Adapun jenis-jenis kapal tunda adalah sebagai berikut:

1. Kapal tunda konvensional / Towing or Pusher Tug.

2. Kapal tunda serbaguna / Utility Tug.

3. Kapal tunda pelabuhan / Harbour Tug

Secara umum Kapal Tunda banyak digunakan di wilayah perairan pantai, seperti perairan sungai, dan pelabuhan. Kapal Tunda sering diklasifikasikan bukan dari volume/dimensinya tapi dari kekuatannya (horse power). Kapal Tunda dengan Gross Tonnage 100 bisa saja memiliki tenaga ribuan HP. Penggunaan di sekitar pantai tidak terlepas dari fungsinya tapi juga disebabkan karena ukurannya yang kecil. Volume yang kecil berarti tidak cukup ruangan untuk membawa bahan bakar yang banyak dan kebutuhan hidup untuk sebuah perjalanan panjang. Terlepas dari penjelasan di atas, beberapa Kapal Tunda memang sengaja dirancang untuk mampu melakukan perjalanan samudera. Contohnya adalah Kapal Tunda yang digunakan untuk Salvage Operation seperti menarik kapal niaga yang sedang mengalami rusak mesin dan tidak dapat melanjutkan pelayarannya sehingga membutuhkan bantuan kapal tunda untuk menarik kapal niaga tersebut.

Kapal Tunda adalah kapal yang memiliki sumber tenaga penggerak sendiri (self propelled). Dari sisi resiko, kapal-kapal yang bergerak dengan kekuatan sistem penggerak sendiri tentunya akan lebih aman dan mudah diarahkan dalam menghadapi cuaca buruk dibandingkan dengan kapal layar, atau kapal-kapal lain yang tidak memiliki mesin penggerak. Kapal tunda digunakan untuk memberikan pelayanan kepada kapal yang mempunyai panjang lebih dari 70 m yang melakukan gerakan (olah-gerak) di perairan wajib pandu, baik yang akan sandar ataupun meninggalkan pelabuhan, dengan cara menggandeng, mendorong dan menarik. Pemanduan kapal tersebut dimaksudkan untuk kepentingan pertimbangan keselamatan pelayaran.

E.   Sistem dan Kinerja Kapal Tunda

Fungsi utama Kapal Tunda adalah sebagai kapal penarik (towing) atau sebagai kapal pendorong (pusher). Karenanya, maka Kapal Tunda kebanyakan dijumpai berpasang-pasangan dengan tongkang (barge). Dalam proses penarikan sangat penting untuk memperhitungkan tonnase kapal yang akan ditarik. Hal lain yang perlu juga diperhatikan adalah kekuatan atau metoda pengikatan tali yang dipakai menarik karena banyak terjadi karena terbelit atau terputusnya tali penarik (tow line). Jalur pelayaran yang akan ditempuh dan tentu saja kondisi cuaca selama perjalanan harus juga menjadi pertimbangan.

Tingkat risiko penarikan ini akan sangat bergantung pada kekuatan kapal penarik dan kemampuan manuver tongkang yang ditariknya. Sehingga kombinasi antara GRT Tongkang dengan Horse Power atau dengan perhitungan Maksimum Bollard Pull (maksimum kekuatan tarik) Kapal Tunda yang  dimilikinya akan sangat menentukan kualitas risiko penarikan ini. Tidak ada ukuran yang pasti karena juga akan sangat dipengaruhi oleh kondisi pelayaran yang akan ditempuh. Muara sungai biasanya merupakan daerah yang padat lalu lintas lautnya. Di Kalimantan, dengan jumlah tambang batu bara yang besar maka hampir pasti seluruh muara sungai di Kaimantan penuh dengan Tongkang yang ditarik Kapal Tunda. Kemampuan manuver yang rendah telah terbukti mengakibatkan sejumlah kasus tabrakan antara tongkang dengan kapal lain.

Hal lain yang perlu juga diperhatikan adalah kekuatan atau metoda pengikatan tali yang dipakai menarik tongkang. Banyak terjadi akibat terbelit atau terputusnya tali penarik (tow line). Hal ini sering kita jumpai pada penarikan double towing. Risiko penarikan dengan double tow akan lebih tinggi jika dibandingkan sistem single tow. Persoalan pada double tow adalah koordinasi antar penarik. Pada saat di laut lepas maka hal ini tentu tidak menjadi persoalan. Hal yang berbeda terjadi pada saat kapal harus bermanuver di sekitar pelabuhan atau bermanuver pada saat cuaca buruk. Sehingga untuk meminimalkan risiko maka harus memperhatikan metoda penarikannya atau jika perlu disarankan agar melakukan survey terlebih.Survey bisa dilakukan sendiri ataupun dengan jasa independent surveyor. Penunjukan independent surveyor untuk survey risiko sebelum berlayar adalah hal yang bijaksana.

Jumlah awak kapal tunda tergantung dari besar kecilnya daya kapal tunda. Kapal tunda type ocean tug ( kapal tug boat yang beroperasi antar samudera) dengan daya 2000 s/d 5000 HP  diawaki 13 orang yang terdiri dari nakhoda, mualim I, mualim II, kepala kamar mesin (KKM), masinis I, masinis II dan tiga orang juru mudi,dua orang juru minyak,kelasi,dan juru masak. Para awak kapal tersebut harus mempunyai ijazah keahlian sesuai bidangnya. Untuk mengenai manning (pengawakan) awak kapal mengacu pada standart dari STCW (Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers )1978 amendments 1995 Chapter II dan III dimana untuk bagian deck dibatasi oleh GRT (gross tonnase) kapal dan batas area kapal akan beroperasi sedangkan untuk bagian mesin dibatasi oleh Horse Power mesin kapal dan batas area kapal akan beroperasi,penjelasan tersebut dicantumkan pada certifikat pengukuhan untuk wewenang setiap pemegang certifikat.

Kapal Tunda yang beroperasi di Pelabuhan sebagai salah satu sarana penunjang Pemanduan untuk keselamatan pelayaran/olah gerak dalam suatu gerakan Kapal diperairan/kolam/alur, suatu perairan wajib Pandu. Dalam pelaksanaan penundaan disuatu Pelabuhan/Perairan wajib Pandu harus diperhatikan jumlah Kapal Tunda ataupun kapal pendukung lainnya (motor pandu, kapal kepil) yang cukup agar tercapai utilisasinya. Kapal Tunda yang modern saat ini juga disiapkan untuk mengatasi suatu kecelakaan lainnya, seperti: kebakaran, tumpahan minyak, atau saat/kondisi-kondisi kritis lainnya sebagaimana tercantum di dalam International Maritime Organization (IMO) tentang Maritim Disaster Contingency Plan.

1.  Syarat-syarat Kapal Tunda

  1. Sistim pendorong harus dipilih dari tipe mesin disel kapal, dengan putaran searah, dengan mesin ganda.
  2. Sistim transmisi pendorong harus dengan kopling, sehingga olah gerak kapal jadi mudah, dan lebih aman dari sistem putaran bolak balik yang membutuhkan jumlah angin start yang banyak, dengan tingkat keamanan rendah.
  3. Alat-alat Kapal Tunda; terdiri dari: tali tunda, kait tunda towing drum, capstand bolder, panaman chock, ditambah fender secukupnya.
  4. Baling-baling dan kemudi; dua faktor ini menentukan sekali terhadap kelincahan dan keberhasilan Kapal Tunda dalam melaksanakan tugasnya. Dilihat dari dua faktor ini Kapal Tunda dapat dibagi menjadi dua; yaitu Kapal Tunda Konvensional dan Kapal Tunda generasi baru.
  5. Kontrol di Anjungan (Bridge Control). “Semua tenaga di Anjungan/all power in the wheel house”, berarti bahwa olah gerak Kapal Tunda dan pengendaliannya, harus dapat dilakukan dari anjungan.

2.  Penundaan

Seperti kita ketahui, kolam pelabuhan/perairan wajib Pandu biasanya relatif sempit dan terbatas. Karenanya semua kapal yang masuk atau keluar pelabuhan biasanya bergerak dengan kecepatan sekitar 3 – 4 knot. Akibatnya kemudi konvensional kemampuannya menjadi kurang efektif. Sementara, apabila kapal yang olah gerak tersebut dilengkapi dengan Bow Truster, pengelola pelabuhan biasanya melarang digunakan, karena akan menggangu konstruksi dermaga, atau bahkan sebaliknya, pemilik kapal melarang penggunaan Bow Truster, apabila keel clearance kapal terhadap kedalamam kolam pelabuhan kurang dari 10%.

Dengan keadaan seperti ini, maka keberadaan Kapal Tunda sangat-sangat diperlukan untuk keselamatan olah gerak kapal, oleh para Pandu.         Dalam Keputusan Menteri Perhubungan, No. KM 24 Tahun 2000, Pasal 10 ayat (1) berbunyi sbb:

“Dalam rangka pelaksanaan Pemanduan terhadap ukuran kapal tertentu, Pandu dapat menggunakan kapal tunda untuk membantu olah gerak kapal yang di pandu”.

Penggunaan Kapal Tunda untuk membantu olah gerak kapal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur sebagai berikut:

  1. Panjang kapal 70 sampai dengan 100 m, menggunakan 1 (satu) unit kapan tunda yang mempunyai daya minimal 800 DK.
  2. Panjang kapal diatas 100 m sampai dengan 150 m menggunakan 2 (dua) unit Kapal tunda dengan jumlah daya minimal 1600 DK.
  3. Panjang Kapal diatas 150 m sampai dengan 200 m, menggunakan 2 (dua) kapal tunda dengan jumlah daya minimal 3400 DK.
  4. Panjang Kapal diatas 200 m sampai dengan 300 m, menggunakan minimal 2 (dua) kapal tunda dengan daya minimal 5000 DK.
  5. Panjang kapal 3000 m keatas, ditunda minimal 3 (tiga) kapal tunda dengan jumlah daya minimal 10.000 DK.

Dalam praktek pemanduan, akan ditemukan bahwa makin banyak unit kapal Tunda yang dipakai, belum tentu jumlah DK yang disyaratkan sehingga hasilnya kurang efektif. Kongkritnya adalah, bahwa dengan Kapal Tunda yang banyak, maka sulit untuk menempatkan masing-masing Tunda pada posisi yang benar. Jadi seharusnya adalah Jumlah Kapal Tunda harus efisien dengan memakai type Kapal Tunda yang sesuai persyaratan yang termaktub dalam Keputusan Menteri Perhubungan No. 24 tahun 2000 diatas.

Natulen :

  1. Kelompok I
  • Pertanyaan :

Mengapa penulis mengangkat judul sikripsi tersebut ?

  • Jawab :

Karena penulis mempunyai pengalaman bekerja di kapal tunda dan atas dasar teori yang didapat di bangku kuliah penulis menganalisa terdapat hubungan antara operasional kapal tunda dan jumlah kunjungan kapal di pelabuhan tanjung perak.

  1. Kelompok II
  • Pertanyaan :

Mengapa penulis menganalisa pelabuhan tanjung Perak,tidak pelabuhan tanjung Priok yang mudah untuk mengumpulkan data dan mudah untuk diobservasi selama penulisan sikripsi?

  • Jawab :

Karena penulis mempunyai pengalaman bekerja di atas kapal tunda yang beroperasi di pelabuhan tanjung Perak – Surabaya tahun 2002 – 2003 dimana penulis mempunyai gambaran dasar mengenai manajemen pelabuhan tanjung Perak dan memmpunyai relasi seperti Pandu,Kaptain kapal tunda sehingga memudahkan untuk mengumpulkan data tentang operasional pelabuhan tanjung Perak-Surabaya.

  1. Kelompok III
  • Pertanyaan :

Darimana penulis mengetahui ada hubungan antara operasional kapal tunda terhadap kunjungan kapal di pelabuhan tanjung Perak-Surabaya?

  • Jawab :

Atas dasar bahwa setiap kapal yang memiliki panjang lebih dari 70 meter wajib menganalisa jasa kapal Tunda untuk sandar atau akan berlayar.

  1. Kelompok IV
  • Pertanyaan :

Darimana metode pengumpulan data dan berikan Riset lapangan yang dilakukan oleh penulis?

  • Jawab :

Penulis mengadakan interview kepada Devisi armada dengan menanyakan jumlah kunjungan kapal tahun 2005 – 2007 dan jumlah armada kapal tunda tahun 2005 – 2007, selain itu juga penulis mengadakan beberapa pertanyaan kepada Kaptain kapal tunda berapa pergerakan rata-rata setiap bulanya pada tahun 2005-2007 dalam membantu menyandarkan atau menarik kapal yang akan berlayar di pelabuhan tanjung Perak – Surabaya.

  1. Kelompok V
  • Pertanyaan :

Apakah perbedaan pelabuhan Umum dengan pelabuhan Khusus?

  • Jawab :

Penulis telah menjelaskan pada Bab II tentang jenis pelabuhan,dimana pengerian pelabuhan umum dilihat dari jenis pelayanannya adalah pelabuhan yang diselenggarakan untuk kepentingan pelayaran masyarakat umum,sedangkan pelabuhan Khusus dilihat dari jenis pelayanannya adalah pelabuhan yang dikelola untuk kepentingan sendiri guna menunjang kegiatan tertentu.

Kelompok IV dengan anggota :

  1. Jefri Wachyudi
  2. Darwin bin Basso
  3. Novrizal
  4. M. Firman Irianto
  5. Ronald James
  6. Rustan
About these ads

One Response to “Tugas Kelompok VI serta hasil Natulen”

  1. Peduli Pendidikan Says:

    hebat…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: