TUGAS MANDIRI Skripsi I & Masalah Transportasi Laut dari Ekprina Suruh, NIM 244 308 047

NAMA: EKPRINA SURUH

NIM : 244 308 047

TUGAS MANDIRI: SEMINAR(SKRIPSI BAB I)

BAB  I

PENDAHULUAN  

A.      Latar Belakang Masalah

Perkembangan perekonomian di dunia secara global mendorong setiap negara untuk berusaha menghasilkan berbagai produk baik berupa barang dan jasa dengan kualitas yang tinggi. Sejalan dengan perkembangan tersebut setiap negara mulai memacu perkembangan dunia usahanya dengan lebih agresif dan penuh perhitungan agar dapat mengantisipasi dan mengamankan baik arus barang yang masuk ke negaranya maupun barang yang dieksport keluar dari negaranya mempunyai kualitas dan harga yang terjangkau. Globalisasi pada dasarnya merupakan terobosan dunia dalam hal perdagangan dimana batas wilayah masing – masing negara secara hukum tidak lagi mempunyai kendala – kendala, sehingga pengusaha dari suatu negara bebas memasuki suatu negara lain untuk melakukan transaksi dan perdagangan.

Untuk menerapkan keadaan globalisasi ini maka setiap kawasan bermunculan pakta – pakta ekonomi antara lain AFTA (Asean Free Trade Area), NAFTA (North American Free Trade Area). Dikawasan Amerika, Asia dan negara–negara Pasifik, ialah APEC (Asean Pasific Economic cooperation) yang melingkupi puluhan negara dikawasan tersebut. Dengan demikian semakin mengglobal dunia dalam bidang ekonomi dan perdagangan maka mendorong timbulnya kawasan – kawasan yang telah berpacu untuk mempersiapkan diri,terutama barang dan jasa. Negara kita indonesia yang berada dikawasan AFTA yang mempunyai kedudukan geografis yang strategis dipintu gerbang perdagangan APEC sangat dituntut untuk mempersiapkan diri baik melalui infrastruktur perdagangan seperti meratifikasi berbagai peraturan perdagangan internasional, penciptaan iklim usaha yang kondusif serta pengkondisian sistim persaingan yang terbuka dan adil,maupun pembangunan suprastruktur industri seperti pembangunan berbagai macam pabrik, ransangan infestasi baik yang bersifat PMA maupun PMDN.

Dengan adanya daerah potensial di Indonesia yang dapat menghasilkan berbagai komoditi alam maka Indonesia mempunyai potensi untuk dapat berperan sebagai pemasok komoditi – komoditi tersebut ke berbagai negara dan kawasan. Untuk itu diperlukan sarana dan prasarana transportasi yang mampu memindahkan komodati – komoditi ini dalam jumlah yang besar sekaligus dapat menjangkau konsumen – konsumen yang membutuhkan komoditi – komoditi ini dengan aman, utuh dan segar, sarana dan prasarana transportasi yang mampu memindahkan barang dalam jumlah yang besar adalah sarana transportasi laut, baik yang bersifat konvensional, maupun yang bersifat modern. Kapal – kapal yang bersifat konvensional lebih banyak mengangkut muatan dengan kemasan biasa sedangkan kapal – kapal moderen lebih banyak mengangkut muatan di dalam suatu kemasan yang cukup aman yaitu peti kemas. Peti kemas yang diangkut oleh kapal modern ini, disamping peti kemas yang memuat dry cargo, dapat juga memuat peti kemas reeefer. Peti kemas dry cargo dapat mengangkut barang – barang hasil produksi seperi Elektronik, Otomotif, Garmen, Sepatu dan lain sebagainya sedangkan yang reefer cargo diarahkan untuk mengangkut hasil – hasil alam yang memiliki tingkat keawetan yang rendah sehingga mudah hancur, dan mudah membusuk, seperti ikan, udang, daging, sayur – sayuran, buah – buahan dan lain sebagainya. Semua ini akan membawa dampak kepada cara penanganan dan pengolahan khususnya untuk reefer kontainer.Penanganannya membutuhkan alat pendukung berupa generator atau genset (Pembangkit Tenaga Listrik),sehingga barang – barang yang dimasukkan ke dalam reefer container tersebut berada pada suhu minimum agar terjamin kesegaran dan keawetannya. PT.PELNI adalah salah satu perusahaan pelayaran yang menangani masalah ini untuk antar pulau (Interinsuler) maupun yang bersifat Eksport (Ocean Going) dengan demikian akan menjadi menarik untuk dikaji dan diteliti lebih jauh tentang pengelolaan petikemas dengan alat pendingin (Reefer Container) agar mutu produk eksport dapat terjamin sampai ke tangan pelanggan yang membutuhkan. Bertitik tolak dari uraian di atas maka judul yang penulis pilih adalah :” PERANAN PENGGUNAAN REEFER CONTAINER DALAM ANGKUTAN BARANG UNTUK MENJAMIN KEUTUHAN PRODUK PADA PT.PELNI JAKARTA  TAHUN 2009 “

 B.       Rumusan Masalah

  1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang masalah maka dapat dirumuskan masalah yang akan diangkat dalam penulisan ini adalah sebagai berikut :

  1. Dampak yang terjadi jika reefer container mengalami kerusakan.
  2. Jumlah  penggunaan reefer container pada PT. PELNI
  3. Biaya penggunaan reefer container pada PT. PELNI
  4. Jenis produk yang diangkut dengan menggunakan reefer container
  5. Jumlah produk yang diangkut dengan menggunakan reefer container.
  6. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, maka penulis membatasi masalah hanya pada  Reefer Containerized pada 10 kapal penumpang selama tahun 2009.

  1. Pokok Permasalahan

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang masalah maka dapat dirumuskan masalah yang akan diangkat dalam penulisan ini adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana persiapan sebelum reefer container digunakan ?
  2. Bagaimana cara penggunaan reefer container pada PT.PELNI ?
  3.   Hambatan – hambatan apa sajakah yang dihadapi sehubungan dengan penggunaan reefer container ?
  4. Bagaimana analisa peranan reefer container dalam menjamin keutuhan produk ?

C.      TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

1.        Tujuan Penelitian

a. Untuk dapat mengetahui dan sekaligus memperoleh gambaran tentang persiapan reefer container sebelum digunakan oleh PT.PELN.

b.   Untuk mengetahui cara penggunaan reefer container oleh PT.PELNI untuk menjamin keutuhan produk

c.    Untuk dapat mengetahui sejauh mana peranan antara penggunaan dan pengelolaan reefer container dengan keawetan produk

d. Untuk dapat mengetahui hambatan – hambatan yang dihadapi oleh PT.PELNI

2.    Manfaat Penelitian

a.        Bagi Penulis

Diharapkan untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta memahami tentang peranan penggunaan reefer container dalam angkutan barang untuk menjamin keutuhan produk pada PT.PELNI . Dan juga merupakan salah satu syarat kelulusan program S1 di Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti.

b.        Bagi Perusahaan

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk menganalisa masalah yang dihadapi PT.PELNI serta untuk mencari pemecahannya dan sebagai bahan pertimbangan dan evaluasi didalam melaksanakan kegiatan terutama reefer container agar kepuasan pelanggan dapat terpenuhi.

c.         Bagi Lembaga STMT TRISAKTI

Sebagai bahan informasi tambahan yang berkaitan dengan penggunaan reefer container untuk menjamin keutuhan produk pada PT.PELNI, dan sebagai data dokumentasi pada perpustakaan.

D.      Metodologi Penelitian

Skripsi dapat diartikan sebagai hasil akhir dari suatu penyelidikan, peninjauan interpretasi yang berakhir dengan suatu penilaian ( analisis ). Dalam menulis skripsi penulis melakukan pengumpulan data serta keterangan – keterangan yang dibutuhkan untuk pembahasan maka penulis mencari data – data yang nyata dalam melakukan riset.

Perlu diketahui riset disini adalah penyelidikan dari suatu disiplin ilmu untuk memperoleh fakta – fakta atau prinsip dengan sabar, hati – hati serta sistematis. Definisi ini yaitu riset merupakan suatu kegiatan pengumpulan,pengolahan,penyajian dan analisis data yang dilakukan secara sistematis dan efisien untuk memecahkan suatu persoalan. Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan dua macam metode pengumpulan data yaitu :

1.   Metode pengumpulan data 

Metode pengumpulan data yang dilakukan penulis dalam penelitian ini antara lain adalah :

  1. Riset perpustakaan ( Library Research ) yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara membaca atau mempelajari tulisan – tulisan yang berasal dari buku – buku karangan ilmiah, diktat, majalah – majalah, catatan perkuliahan serta sumber – sumber data lainnya yang berhubungan dengan container  dan reefer container.
  2. Penelitian lapangan (field research)

Penelitian ini diperlukan untuk memperoleh data primer yang diperlukan melalui cara-cara sebagai berikut:

1)   Interview (wawancara)

Teknik pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab guna meratifikasi secara langsung kepada pihak – pihak yang berhubungan dengan materi yang akan dibahas.

2)   Observasi (pengamatan)

Teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan terhadap perusahaan yang menjadi objek penelitian.

  1. Teknik Analisis Data

Teknik analisis Asosiatif yang akan digunakan penulis dalam rangka penelitian ini akan dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Analisis Regresi Linier Sederhana

Analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan proporsional antara variabel X (Reefer container) terhadap variabel Y (Keutuhan produk) menurut (Prof. Dr. Sugiyono, 2003:237) adalah sebagai berikut :

Y = a + bX

Dimana :

X = Nilai tertentu dari variable bebas (Variable Independent), dalam hal ini adalah Reefer Container

Y = Nilai yang diukur atau dihitung pada variable tidak bebas (Variable Dependent), dalam hal ini adalah Keutuhan Produk

n = Banyaknya data

a = Konstanta

b = Koefisien regresi

Untuk menghitung nilai a dan b digunakan rumus sebagai berikut:

 

  1. Analisis Koefisien Korelasi

Koefisien korelasi merupakan alat untuk mengetahui kuat tidaknya hubungan antara variable X dan variable Y. Adapun nilai koefisien korelasi (r) dapat dicari dengan rumus Prof. Dr. Sugiyono (2003 : 214) sebagai berikut              

Dimana :

r = Koefisien korelasi

n = jumlah responden

X = independent variable (Reefer Container)

Y = dependen variable (Keutuhan Produk)

Dalam hal ini :

1)    Jika r = 0 atau mendekati 0, maka hubungan antara kedua variabel sangat lemah atau tidak terdapat hubungan sama sekali.

2)    Jika r = +1 atau mendekati 1, maka hubungan antara kedua variabel dikatakan positif dan sangat kuat.

3)    Jika r = -1 atau mendekati –1, maka hubungan kedua variabel tersebut dikatakan sangat kuat namun negatif.

Besaran nilai r berada diantara -1 s/d +1 atau dapat ditulis :

r = -1< r < +1. Agar lebih jelas menginterprestasikan tingkat hubungan tersebut, maka dapat berpedoman pada ketentuan sebagaimana tertuang pada table :

Tabel

Pedoman untuk memberikan interpretasi

koefisien korelasi

Interval Korelasi

Tingkat Hubungan

0,00 – 0,199

Sangat Rendah

0,20 – 0,399

Rendah

0,40 – 0,599

Sedang

0,60 – 0,799

Kuat

0,80 – 1,000

Sangat Kuat

                         Sumber Sugiono (2003 : 214)

E.       Hipotesis

Penggun reefer container dalam angkutan  barang sangat diperlukan penanganan yang ekstra hati – hati agar produk utuh sampai tujuan. Karena produk yang diangkut mempunyai tingkat keawetan yang rendah apabila terjadi perubahan suhu, seperti ikan beku, buah – buahan, sayur – sayuran, daging dan lain – lain. Diduga mempunyai hubungan yang sangat kuat antara penggunaan reefer Container dengan keutuhan produk yang diangkut.

F.       SISTEMATIKA PENULISAN

Dalam sistematika penulisan skripsi ini, penulis membaginya dalam 5 bab. Pembagian ini dimaksudkan agar dapat mempermudah dalam memahami materi skripsi. Adapun bagian dari kelima bab tersebut yaitu sebagai berikut :

BAB I :           PENDAHULUAN

Dalam hal ini diuraikan beberapa hal mengenai Latar Belakang Masalah atau Alasan Pemilihan Judul. Perumusan masalah yang meliputi Identifikasi Masalah, Pembatasan Masalah dan Pokok Masalah. Tujuan dan Manfaat Penelitian, Metodologi Penelitian, serta Sistematika Penulisan skripsi ini.

BAB II            :           LANDASAN TEORI

Dalam ban ini diuraikan mengenai teori-teori yang berhubungan dengan pokok bahasan skripsi yang berhubungan dengan pokok bahasan skripsi yaitu dengan Pengertian peti kemas, pengertian angkutan, pengertian muatan dan diakhiri dengan pengertian produk.

BAB III          :           GAMBARAN UMUM  PT. PELNI

Dalam bab ini menguraikan tentang gambaran umum PT. PELNI, yang meliputi Sejarah Singkat Perusahaan, Struktur Organisasi Perusahaan, Sistim Manajemen Perusahaan serta kegiatan usaha perusahaan dengan segala Fasilitas yang dimiliki oleh perusahaan.

BAB IV          :           ANALISIS DAN PEMBAHASAAN

Dalam bab ini menguraikan tentang bagaimana persiapan penggunaan reefer container di PT. PELNI, hambatan – hambatan yang dihadapi dan diakhiri dengan analisa peranan reefer container dalam rangka menjamin keutuhan produk.

BAB V            :           PENUTUP

Merupakan bab terakhir dari keseluruhan inti skripsi berupa Kesimpulan dan saran dari hasil analisa dan pembahasan Bab IV yang dianggap perlu bagi perusahaan dimasa yang akan datang.

  =======================================================

NAMA                       : EKPRINA SURUH

N I M                          : 244 308 047

TUGAS MANDIRI  : SEMINAR  tentang TRANSPORTASI LAUT 

JUDUL                      : “ ANALISIS KECELAKAAN KAPAL MOTOR TERATAI

                                      PRIMA  DI TANJUNG BATURORO JANUARI 2009 “

 

Musibah Kapal Motor Teratai Prima 0

 (Dialihkan dari Kapal Motor Teratai Prima 0)

Langsung ke: navigasi, cari

Teratai Prima

Kapal Motor Teratai Prima 0 adalah kapal motor penumpang yang mengalami musibah di perairan Tanjung Baturoro, Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, pada hari Minggu, 11 Januari 2009 dini hari.

Berdasarkan manifes kapal ini mengangkut 267 orang penumpang dan diperkirakan ada 103 penumpang gelap[1], ditambah dengan sejumlah awak kapal dan nakhoda. Batas kapasitas kapal ini 300 orang. Sampai pk. 22.00 Senin malam, 36 orang korban berhasil diselamatkan nelayan, sementara sisa lainnya belum diketahui nasibnya.

Penyebab

KM Teratai Prima 0 yang secara teratur seminggu sekali melayani rute SamarindaParepare berangkat dari Pelabuhan Parepare hari Sabtu sekitar pukul 17.00 WITA.

Menurut awak kapal yang selamat, musibah kapal ini disebabkan oleh angin puting beliung yang menimbulkan gelombang setinggi 2 meter.

Selain cuaca yang buruk, kecelakaan ini juga diduga karena spesifikasi mesin yang tidak memadai untuk kapal tersebut. Kapal ini hanya menggunakan mesin 2×520 pk, ukuran mesin ini biasa digunakan sebuah mobil dan kapasitas daya tampung bahan bakarnya hanya 6 ton. [2]

Penyebab lainnya adalah, nakhoda KM Teratai Prima bersikeras tetap menjalankan operasi meski sudah diperingatkan akan adanya cuaca buruk yang akan terjadi di perairan Majene, Sulawesi Barat.[3]

Usaha penyelamatan

Usaha pencarian dan penyelamatan korban dilakukan sejak Minggu sore. Pihak kepolisian setempat menjelaskan bahwa berita kecelakaan baru diterima sekitar pk. 15.00 WITA. Upaya untuk melakukan pencarian korban menemui hambatan karena cuaca buruk sehingga menyulitkan tim evakuasi yang terdiri dari Badan SAR Nasional bersama tim SAR dari Polri, TNI AL, KPLP, TNI AD setempat serta dukungan pesawat TNI AU terus melakukan pencarian korban.[4]

Perairan rawan

Perairan Majene dikenal sebagai daerah rawan kecelakan laut untuk rute Sulawesi-Kalimantan. Pada 19 Juli 2007, KM Mutiara Indah tenggelam di perairan yang sama, sekitar 2,4 km dari Pantai Tanjung Rangas. Pada 20 Juli 2007, KM Fajar Mas tenggelam 96 km dari Pantai Tanjung Rangas. Beberapa kapal lainnya juga tenggelam di lokasi sekitarnya. Perairan Majene juga tercatat sebagai lokasi jatuhnya pesawat Adam Air KI 574 yang hilang pada 1 Januari 2007 yang menewaskan seluruh penumpang dan awak yang berjumlah 102 orang.

Terkait Kecelakaan KM Teratai Prima, Dephub Nonaktifkan Adpel Pare-Pare dan Samarinda

JAKARTA | SURYA Online – Terkait tenggelamnya Kapal Motor (KM) Teratai Prima di perairan Majene, Sulawesi Barat (Sulbar), pada 11 Januari lalu, Departemen Perhubungan (Dephub) akhirnya mengganti dua pejabat Administratur Pelabuhan (Adpel) Parepare, Nurwahidah dan Adpel Samarinda, Sudiono.

Dalam surat Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Dephub No UK .11/2/1/DJPL-09 tanggal 22 Januari yang ditandatangani Dirjen Perhubungan Laut Sunaryo, kedua orang tersebut untuk sementara diganti oleh Johnny Silalahi (Adpel Parepare) dan Capt. Thamrin (Adpel Samarinda).

“Mereka diganti untuk melakukan investigasi internal di Dephub. Jadi mereka sementara ditugaskan di Jakarta,” kata Sunaryo dalam konferensi persnya di Jakarta, Jumat (23/1).

Menurut Sunaryo, meskipun belum terbukti kesalahan dua orang tersebut, Nurwahidah dan Sudiono terindikasi kurang berkompeten dan profesional menjabat sebagai Adpel.

Seperti diketahui, KM Teratai Prima dengan rute Parepare – Samarinda, tenggelam di Perairan Majene setelah delapan jam berlayar. Kapal diduga tenggelam akibat diserang angin puting beliung dan gelombang laut.

Saat itu kapal dengan kekuatan 2×550 PK mengangkut 250 orang penumpang dan 250 ton barang. Penumpang yang selamat sebanyak 35 orang, sembilan ditemukan meninggal dan lainnya hilang. Sementara diduga masih banyak lagi korban yang hilang karena diperkirakan ada penumpang yang tidak masuk dalam manifest. Hendra Gunawan/Persda Network 

Kecelakaan KM Teratai Prima; Dephub Akan Beri Sanksi Tegas kepada Pihak yang Lalai

 

Jakarta, (Analisa)

Departemen Perhubungan (Dephub) akan memberi sanksi tegas kepada pihak-pihak yang bertanggung atas kecelakaan tenggelamnya kapal motor (KM) Teratai Prima di perairan Majene Sulawesi Barat Minggu lalu.

“Kami akan mengambil tindakan tegas kepada pihak yang bertanggung jawab seperti operator dan pejabat pelabuhan,” tegas Dirjen Perhubungan Laut Dephub Sunaryo di Jakarta, Jum at.

Dikatakan sunaryo, bagi operator yang melanggar aturan, pihaknya akan mencabut ijin berlayar dan kepada pejabat pelabuhan akan dikenakan sanksi administratif. “Jika dalam investigasi nanti ditemukan adanya tindak pidana, maka pejabat pelabuhan tersebut akan diajukan ke penagadilan dan jika sudah ada keputusan tetap, kami usulkan pejabat tersebut untuk dipecat,” tegas Sunaryo.

Sunaryo mengungkapkan, untuk mengetahui sebab kecelakaan tenggelamnya KM Teratai Prima, saat ini Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sedang melakukan investigasi. “Kita tunggu hasil investigasi KNKT,” katanya.

Mengenai KM Teratai Prima, Sunaryo mengungkapkan, kapal tersebut diproduksi tahun 1999, sehingga sampai saat ini sudah 10 tahun beroperasi. Rata-rata operasi apal milik perusahaan pelayaran PT Nur Budi tersebut berlayar 4 kali setiap bulan dengan rute Pare Pare-Samarinda. Kapal dengan kapasitas mesin 1040 PK itu, saat mengalami kecelakaan mengangkut 250 penumpang dari kapasitas 500 orang (GT 747).

Mengenai manifest jumlah penumpang, Sunaryo mengatakan, jika operator kapal memalsukan jumlah yang diangkut, maka hal itu merupakan tindak pidana pemalsuan dan jika hal itu benar maka akan ditindak lanjuti dengan penyidikan pihak berwajib. “ Selain itu, Administrator Pelabuhan harus mengecek kebenaran manifest tersebut, tidak hanya menerima begitu saja laporan dari Nahkoda,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Sunaryo menginstruksikan kepada Administrator Pelabuhan dan Kepala Kantor Pelabuhan (Kakanpel) agar dalam memberikan Surat Ijin Pelayaran (SIP) memperhatikan hal-hal yang menyangkut tentang keselamatan yaitu, kelaiklautan kapal, jumlah alat penyelamat di kapal, radio komunikasi berfungsi dengan baik, jumlah penumpang tidak melebihi kapasitas, dan memperhatikan cuaca.

“Adpel memiliki kewenangan mutlak dan harus memiliki ketegasan. Jangan mengeluarkan SIP jika tidak memenuhi syarat-syarat tersebut,” tegasnya. (try)

RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang permasalahan di atas maka dapat di identifikasi masalah sebagai berikut :  

 

  1. Identifikasi Masalah
    1. Jarak yang ditempuh oleh KM. Teratai Prima yang Jauh
    2. Keadaan cuaca yang buruk
    3. Daya penggerak / mesin yang tidak sebanding dengan besarnya kapal
    4. Kapasitas daya tampung bahan bakar yang minim
    5. Sumber Daya Manusia yang kurang professional
    6. Adanya pemberian ijin berlayar dari ADPEL Pare – pare
  2. Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut diatas, maka masalah dibatasi hanya pada “ Penyebab terjadinya kecelakaan KM. Teratai Prima”.

  1. Pokok Masalah
    1. Apakah cuaca mempengaruhi terjadinya kecelakaan KM. Teratai Prima ?
    2. Apakah Horse Power mesin yang kecil mempengaruhi olah gerak kapal terhadap badan kapal ?
    3. Apakah Sumber Daya Manusia yang kurang profesional mempengaruhi kecelakaan KM. Teratai Prima ?
    4. Sejauh mana kewenangan petugas Administrator Pelabuhan Pare – pare dalam memberikan ijin bagi kapa KM. Teratai Prima

 

 

   

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: