Heri Purwanto bp3ip STMT 11

July 15, 2009

Nama : Heri Purwanto

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang memiliki puluhan ribu pulau, di mana wilayah Indonesia dua pertiganya merupakan daerah perairan dan laut yang menjadikan negara Indonesia sebagai negara Maritim. Karenanya transportasi laut mempunyai peran yang sangat penting di Indonesia. Tidak hanya sebagai alat penghubung dari satu wilayah ke wilayah yang lain di Indonesia, namun juga sebagai alat angkut perdagangan nasional maupun internasional.
Pertumbuhan dan perkembangan industri transportasi laut membawa tantangan dalam menangani armada laut sebagai transportasi laut itu sendiri maupun dalam menangani infrastruktur kepelabuhanan Indonesia. Dengan kondisi tersebut transportasi laut sebagai bagian dari sistem transportasi nasional perlu dikembangkan untuk mewujudkan kuatnya armada laut dengan didukung oleh pelayanan jasa di pelabuhan yang handal.
Industri jasa angkutan laut dengan menggunakan kapal laut merupakan jasa angkutan yang berperan dalam jasa pengangkutan barang dan penumpang. Sektor transportasi selain sebagai sektor penunjang sektor lain, juga sebagai urat nadi dalam pembangunan nasional. Transportasi terdiri dari tiga moda antara lain darat, laut dan udara. Di dalam perdagangan internasional maupun nasional transportasi laut, yakni kapal laut banyak digunakan karena jumlah barang yang dapat di angkut lebih banyak dan uang tambangnya (Freight) relatif lebih murah dibanding moda angkutan lainnya.
Di dalam sistem transportasi nasional terdapat sektor kepelabuhan yang merupakan bagian strategis dari sistem transportasi nasional dan merupakan faktor penting dalam menunjang aktivitas perdagangan. Sektor pelabuhan memerlukan suatu kesatuan yang terintegrasi dalam melayani kebutuhan dari sarana transportasi. Ujung tombak dari kepelabuhan tersebut adalah sektor jasa dalam melayani jasa kepelabuhan.
Kegiatan pelayanan jasa kepelabuhan yang diselenggarakan oleh pelabuhan, salah satunya adalah kegiatan membongkar/memuat barang atau penumpang dari kapal ke dermaga atau sebaliknya yang merupakan bagian dari kegiatan pelayanan jasa bongkar muat barang.
Salah satu pelabuhan yang dikelola PT. (Persero) ASDP adalah pelabuhan Merak, Banten, Jawa Barat. Di dalam areal pelabuhan cabang merak terjadi kegiatan bongkar-muat barang dan penumpang untuk tujuan Jawa-Sumatera. Adakalanya pengelola jasa kepelabuhan tidak mampu mengelola kegiatan operasional akibat ketidakseimbangan sarana fasilitas dan prasarana, mempengaruhi proses kelancaran barang yang masuk maupun keluar. Keadaan di atas merupakan gambaran pelabuhan itu sendiri, bagaimana pelabuhan dituntut untuk mampu menjadi prasarana angkutan dalam intermoda transportasi yang handal.
Tiap-tiap pelabuhan memberikan pelayanan terhadap kapal untuk berlabuh dan bertambat guna melakukan bongkar muat barang dan turun penumpang serta memberikan pelayanan terhadap barang yang akan dimuat dan barang yang telah dibongkar dari kapal.
Pelayanan pokok pelabuhan yang diberikan pada pemakai jasa pelabuhan adalah pelayanan terhadap kapal berupa pemanduan dan penambatan, serta pelayanan air bersih. Di Indonesia, pelayanan terhadap kapal hampir seluruhnya diselenggarakan oleh pengelola pelabuhan, sedangkan pelayanan terhadap barang, berupa pemberian jasa bongkar muat dan jasa penyimpanan atau penumpukan barang di gudang transit, biasanya diselenggarakan oleh pihak swasta. Industri swasta yang menyelenggarakan penanganan barang tersebut dapat berstatus operator terminal dan berstatus perusahaan bongkar muat.
Umumnya kapal yang sandar di pelabuhan merak adalah kapal Ferry (Ro-Ro), karena pelabuhan Merak merupakan pelabuhan penyeberangan atar pulau, yakni pulau Jawa dan pulau Sumatera. Banyak kapal Ro-Ro digunakan di pelabuhan ini karena kapal Ro-Ro tersebut dapat mengangkut muatan barang berupa mobil, bis, truk ataupun muatan umum (General cargo) lainnya dan juga kapal jenis ini dapat mengangkut jumlah penumpang yang cukup banyak dalam satu kali rutenya.
Salah satu kegiatan yang dilakukan pada saat kapal berada ditambatan adalah kegiatan bongkar dan muat. Demi kelancaran arus barang dan penumpang, kegiatan bongkar muat memerlukan produktivitas yang tinggi dan dalam waktu yang singkat. Dari uraian di atas maka penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam tentang bongkar muat khususnya kapal Ro-Ro dengan judul “Kajian Produktivitas Bongkar Muat Terhadap Kapal RoRo di Pelabuhan Merak Tahun 2007”.
B. Perumusan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Kelancaran arus barang berkaitan dengan prosedur dan produktivitas bongkar muat di pelabuhan. Hal tersebut dapat dijadikan ukuran sistem kepelabuhan yang efektif dan efisien.
a. Banyaknya muatan diangkut dan jumlah kapal yang beroperasi mempengaruhi produktivitas bongkar muat kapal RoRo.
b. Kapal RoRo memiliki keungulan dari segi efisiensi waktu dalam pelaksanaan bongkar muat, tingkat Effective Time di pelabuhan tinggi dibandingkan dengan ringkat Idle Timenya.
c. Faktor alam, SDM, sarana dan prasarana di pelabuhan harus turut mendukung proses bongkar muat.
2. Pembatasan Masalah
Batasan masalah dalam kajian ini adalah mengukur produktivitas bongkar muat terhadap 5 (lima) kapal RoRo yang ada di pelabuhan Merak-Banten, pada tanggal 17 Mei 2007 yang dilaksanakan penulis dengan menggunakan instrumen tally sheet.
3. Pokok permasalahan
Dengan demikian masalah dan pokok pemasalahan yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
a. Bagaimana sistem dan prosedur operasi bongkar muat di pelabuhan Merak?
b. Berapa produktivitas bongkar muat kapal RoRo di pelabuhan Merak?
c. Apa hambatan-hambatan yang ada dalam proses bongkar muat kapal Ro-Ro?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui cara kerja bongkar muat kapal Ro-Ro
b. Untuk mengetahui produktivitas bongkar muat kapal Ro-Ro
c. Untuk mengetahui masalah-masalah yang ada dalam penanganan bongkar muat kapal Ro-Ro di pelabuhan Merak.
2. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis, bagi perusahaan, dan bagi civitas akademika Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti (STMT TRISAKTI).
a. Bagi penulis, sebagai media untuk belajar dan memperluas wawasan dalam menjembatani antara ilmu pengetahuan yang diterima selama kuliah daan dunia praktek sebenarnya.
b. Bagi perusahaan, adalah sebagai bahan informasi atau masukan kepada perusahaan yang telah diteliti untuk meningkatkan kualitas kinerja dan pelayanan dalam memenuhi kebutuhan pengguna jasa.
c. Bagi Lembaga dan Civitas Akademika
Dapat dijadikan bahan/ referensi bagi mahasiswa yang ingin mempelajari lebih jauh tentang bongkar muat muatan pada kapal Ro-Ro.

D. Metodologi Penelitian
1. Jenis dan Sumber Data
Dalam penelitian ini ada 2 (dua) jenis data yang digunakan, yaitu:
a. Data primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung dari objek penelitian yang dicatat oleh penulis.
b. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dengan cara mempelajari buku-buku teks, diktat yang ada hubungannya dengan permasalahan yang ada dalam skripsi.
2. Populasi dan Sampel
Menurut Sugiyono (2003:73) adalah:
a. Populasi (Population) adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Adapun populasi data dalam penelitian ini adalah 26 kapal RoRo dengan 72 trip setiap harinya.
b. Sampel adalah bagian dari populasi/bagian dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sampel dalam penelitian ini adalah 5 (lima) kapal RoRo.
3. Teknik analisis Data
a. Penelitian Lapangan (Field Research)
Yaitu, teknik pengumpulan data yang diperoleh dengan melaksanakan riset pada PT.ASDP (Persero) cabang Merak. Adapun penelitian dilakukan dengan cara:

1) Pengamatan langsung
Penulis mengambil secara langsung segala aktifitas kegiatan kerja perusahaan di lapangan dan instrumen yang digunakan adalah tally sheet untuk mencatat data-data yang diperoleh di lapangan.
Tally sheet adalah catatan yang mengambarkan berapa banyak muatan yang dimuat atau dibongkar.
2) Wawancara
Yaitu teknik pengumpulan data dengan mengadakan wawancara langsung dengan para karyawan yang terkait secara langsung dalam kegiatan bongkar muat untuk memperoleh informasi secara lisan yang dibutuhkan dalam penyusunan skripsi ini.
b. Penelitian kepustakaan (Library Research)
Yaitu, pengumpulan data dari berbagai buku-buku dan bahan yang berkaitan dengan objek penelitian.
4. Teknik Analisis Data
Metode yang digunakan adalah gabungan antara deskriptif kualitatif dan kuantitatif yang bertujuan melukiskan keadaan yang ada dalam kinerja bongkar muat kapal RoRo. Dan kemudian dianalisis hasil observasi yang telah dilakukan oleh penulis mengenai produktivitas kapal RoRo.
Untuk menganalisis data yang telah diperoleh dalam penyusunan skripsi ini, penulis menggunakan metode statistik :
a. Koefisien Korelasi
Analisis ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara 2 (dua) variable (X) dan variebel (Y).
Rumusnya adalah :

Dari rumus di atas diperoleh harga koefisien yang hasilnya bila :
a. r = 1 atau mendekati 1 positif, berarti hubungan antara variable X dengan Variable Y sempurna dan searah.
b. r = -1 atau mendekati negatif, berarti hubungan antara variabel X dengan variabel Y sedehana dan berlawanan arah.
c. r = 0 atau mendekati 0, berarti antara variabel Y tidak ada hubungan atau sangat lemah
Tabel I.1
Pedoman Interprestasi terhadap koefisien korelasi
Interval Koefisien Tingkat Hubungan
0,00 – 0,199 Sangat Lemah
0,20 – 0,399 Lemah
0,40 – 0,599 Sedang
0,60 – 0,799 Kuat
0,80 – 1,000 Sangat Kuat
Sumber : Sugiono, 2005 : 216
b. Koefisien Penentu
Merupakan besarnya kontribusi variabel X terhadap variabel Y (dalam %) dengan rumus :
KP = (r)2 x 100%
c. Uji Hipotesis
Analisis satu arah ini digunakan untuk lebih meyakinkan kebenaran dari uji tersebut apakah signifikan atau tidak, maka dapat dilihat dengan melakukan uji hipotesis (t hitung). Adapun kriteria tahap-¬tahapnya adalah sebagai berikut :
1. Menentukan Formulasi Hipotesis
a. Dengan rumus

b. Ho : ρ = o , tidak mempunyai hubungan dengan X dan Y
Hi : ρ > 0, ada hubungannya antara X dan Y positif
ρ 0;
Ho diterima jika thit ttab
3. Bandingkan hasil observasi dengan tabel
t t = t tabel = t (a : df = n-) a = 5 %
4. Kesimpulan
1. Apabila t hitung > t tabel, maka Ho ditolak
2. Apabila t hitung < t tabel, maka Ho diterima

E. Sistematika penulisan
Untuk memudahkan penulis mempelajari dan mengkaji materi skripsi ini, maka penulis menyajikan suatu sistematika penulisan yang dibagi menjadi 5 (lima) bab dan diuraikankan lagi menjadi sub bab.
BAB I PENDAHULUAN
Menguraikan latar belakang masalah, perumusan masalah yang meliputi pembatasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian serta sistemetika penulisaan skripsi.
BAB II LANDASAN TEORI
Menjelaskan pengertian produktivitas, pelabuhan, kapal serta bongkar muat.
BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
Pada bab ini mencakup tentang sejarah singkat dan perkembangan perusahaan, struktur organisasi dan manajemen, kegiatan usaha serta fasilitas dan peralatan yang dimliki.
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini menguraikan analisis dan pembahasan serta perumusan masalah dan berdasarkan atas judul yang dikemukakan.
BAB V PENUTUP
Merupakan bagian akhir dari keseluruhan pembahasan yaitu merupakan kesimpulan dari bagian-bagian yang diperoleh penulis serta memberikan saran-saran perbaikan yang mungkin ada manfaatnya bagi perusahaan.

BUDI SATRIA STMT/BP3IP

July 15, 2009

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pengaruh perdagangan bebas akan sulit dibendung, semua negara didunia akan meraskan kebebasan berdagang. Untuk itu diperlukan kesiapan dan siasat agar dunia bisnis dan perdagangan dalam negeri tidak tertinggal oleh perkembangan arus globalisasi. Tanpa kesiapan yang cukup perdagangan bebas hanya akan memberikan keuntungan bagi yang telah terlebih dulu mengantisipasinya.
Salah satu usaha yang perlu dilakukan dalam menghadapi perdagangan bebas yaitu kesiapan Perusahaan Pelayaran khususnya dalam kegiatan penjualan space petikemas, karena melalui kegiatan tersebut perusahaan-perusahaan baik dari dalam maupun luar negeri, akan semakin memerlukan jasa penjualan space petikemas untuk mengangkut hasil produksinya baik keluar negeri maupun kedalam negeri. Untuk itu, perlu adanya kejelian dalam melihat perkembangan pasar, agar perusahaan mampu bersaing dan mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan.
Dengan adanya harga jual yang kompetitif dengan para pesaing. Berpengaruh terhadap penjualan space petikemas. Oleh karena itu, semakin besarnya arus penerimaan dan pengiriman petikemas diharapkan Perusahaan Pelayaran

akan mendapatkan peningkatan pendapatan perusahaan yang juga harus diimbangi dengan usaha-usaha yang kreatif dan efektif guna mengungguli para pesaing pada sektor tersebut.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam dan mengungkapkan dalam bentuk skripsi dengan judul: “ANALISIS HUBUNGAN HARGA TERHADAP VOLUME PENJUALAN SPACE PETIKEMAS PADA SAMUDERA SHIPPING LINE Ltd.JAKARTA”
B. Perumusan Masalah
1. Identifikasi Masalah
a. Perkembangan harga jual space petikemas
b. Perkembangan volume penjualan space petikemas
c. Hubungan antara harga jual dengan volume penjualan space petikemas
2. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut di atas maka penulis mencoba menganalisa permasalahan yang timbul yaitu hubungan harga jual terhadap volume penjualan space petikemas untuk rute Jakarta – Singapura. Dalam pembahasan ini penulis menitikberatkan pada petikemas 20’ (feet) dan harga jual yang digunakan adalah harga jual rata-rata per triwulan pada tahun 2007-2008.
3. Pokok Masalah
Dari latar belakang permasalahan tersebut diatas diperoleh pokok masalah sebagai berikut :
a. Bagaimana perkembangan harga jual space petikemas ?
b. Bagaimana perkembangan volume penjualan space petikemas ?
c. Bagaimana hubungan antara harga jual dengan volume penjualan space petikemas ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Adapun Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah:
1. Untuk mengetahui perkembangan harga jual space petikemas.
2. Untuk mengetahui perkembangan volume penjualan space petikemas.
3. Untuk mengetahui adanya hubungan antara harga jual dengan volume penjualan space petikemas.
2. Manfaat Penelitian
Dengan mengetahui tujuan tersebut diharapkan dapat bermanfaat :
a. Bagi Penulis
Penulisan ini bermanfaat untuk menambah wawasan penulis dalam menganalisis dan membandingkan antara teori dan praktek.
b. Bagi Perusahaan
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai input atau bahan masukan untuk menentukan kebijakan-kebijakan yang akan diambil dimasa yang akan datang.
c. Bagi STMT
Sebagai bahan untuk menambah kepustakaan dan perbandingan dalam bidang manajemen materi perkuliahan yang diterapkan dalam pengajaran sehari-hari.
D. Metodologi Penelitian
Metodologi Penelitian ini dibagi menjadi 2 ( dua ) bagian:
1. Metode Pengumpulan Data
Dalam penyusunan skripsi ini penulis menggunakan metode sebagai berikut:
a. Penelitian Lapangan
Melalui penelitian lapangan akan diperoleh data primer. Penelitian tersebut dilakukan dengan cara:
1) Interview (wawancara) yaitu suatu cara mengumpulkan data melalui hubungan langsung atau tanya jawab dengan responden.
2) Metode observasi yaitu teknik mengumpulkan data dimana penulis langsung mengamati subjek yang diteliti.
b. Penelitian kepustakaan.
Melalui penelitian kepustakaan akan diperoleh data sekunder. Penelitian kepustakaan termasuk hasil penelitian melalui segala bahan tertulis dalam bentuk teks books, jurnal, brosur, dan sumber tertulis lainnya yang relevan dengan judul skripsi serta dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
2. Metode Analisis Data
Metode Analisis Data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah perhitungan korelasi dengan menganalisis suatu data menggunakan model matematika, model statistik atau model lainnya. Walaupun hasil analisis berupa angka-angka,hasil tersebut dapat dijelaskan atau diinterpretasikan dalam suatu uraian sihingga maknanya dapat diketahui dengan jelas, dengan perkataan lain angka-angka itu harus berbicara. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas ( variabel x ) adalah harga jual. Untuk memperoleh variabel terikat ( variabel y ) adalah volume penjualan space petikemas yang menunjukkan persamaan hubungan antara dua variabel, pada skripsi ini penulis dapat menggunakan :
a. Analisis Regresi Linear Sederhana
Digunakan untuk mengetahui sejauh mana ketergantungan ataupun hubungan antara variabel harga jual terhadap variabel volume penjualan space petikemas, persamaan Garis Regresi Sederhana (J. Supranto.1998 : 218 ) dengan rumus sebagai berikut :
Y = a + bx
a = ( ∑y ) – b ( ∑x )
n

b = n ( ∑xy ) – ( ∑x ) ( ∑y )
n ( ∑x2 ) – ( ∑x2 )
Dimana :
X = Variabel bebas = Harga jual
Y = Variabel terikat = Volume penjualan space petikemas
a, b = Bilangan tetap
b = Koefisien Regresi
n = Jumlah pasang observasi / pengukuran
b. Analisis koefisien Korelasi
Merupakan alat yang dapat dipakai untuk mengetahui seberapa besar ( mengukur keeratan ) hubungan antara variabel x dan variabel y.
Koefisien Korelasi Product Moment = r
Bila hubungan kedua variabel berpola linear maka dapat dilihat kekuatan hubungannya. Kekuatan hubungan dapat diidentifikasikan melalui koefisien korelasi ( r ). Rumus Koefisien Korelasi ( J. Supranto.1998 : 245 ) adalah :
r = n ∑xy – ∑x . ∑y
√ n∑ x2 – ( ∑x )2 . √ ∑y2 ( ∑y )2
Koefisien korelasi akan berkisar antara -1 sampai 1. Nilai r dapat dinyatakan sebagai berikut :
-1 ≤ r ≤ 1
1). Jika r = 0 atau mendekati 0, maka hubungan antara kedua variabel sangat lemah atau tidak terdapat hubungan linear.
2). Jika r = +1 atau mendekati 1, maka hubungan antara kedua linear sangat kuat dan positif.
3). Jika r = -1 atau mendekati -1, maka hubungan antara kedua variable linear sangat kuat dan negatif.
c. Koefisien Penentu
Dari koefisien korelasi dapat dilihat lebih lanjut kuadret r, disebut sebagai koefisien penentu, koefisien r2 dapat diartikan sebagai besarnya kontribusi variabel x terhadap variabel y ( dalam persen ).
KP = r2 => KP ( r )2 x 100%
Koefisien penentu mempunyai dua fungsi yaitu sebagai berikut:
1) Menentukan kelayakan penelitian menggunakan model Regresi Linear
2) Menentukan peranan variabel independen mempengaruhi variabel dependen ( % )
c. Uji Hipotesis
Yaitu merupakan alat untuk mengetahui signifikan antara variabel x dengan variabel y, uji hipotesis yang pennulis gunakan adalah uji satu arah.
Tahap-tahapnya adsalah:
1) Hipotesis Awal
Ho : ρ = 0 → Hubungan antara variabel x dengan y tidak signifikan
Hi : ρ > 0 →Hubungan antara variabel x dengan variabel y signifikan
Hi :ρ <0 → Tidak ada hubungan antara variabel x dan variabel y yang
signifikan.

2) Rumus uji Korelasi ( J. Supranto. 1998 : 246 )
thit = r √ n – 2
√ ( 1 – r2 )

a. Bandingkan hasil hitung dengan tabel
Tt = ttabel = t( α ; df = n – 2 )
b. Kesimpulan
Jika thit ttabel maka Ho ditolak dan Hi diterima, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara fariabel x (harga jual) terhadap variabel y ( volume penjualan space petikemas ).

E. Hipotesis
Merupakan hasil penelitian sementara yang perlu dibuktikan kebenaranya
dan hipotesis penelitian ini adalah “ diduga adanya hubungan antara harga jual terhadap volume penjualan space petikemas pada samudera shipping line”

F. Sistematika Penulis
Skripsi ini disiapkan dalam 5 (lima) bab dengan sistematika penulis sebagai berikut:
Bab I : Pendahuluan
Dalam bab ini diuraikan tentang latar belakang masalah, perumusan mesalah,tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian, hipotesis dan sistem penulisan.
Bab II : Landasan Teori
Landasan yang berhubungan dengan penulis skripsi ini adalah hal-hal yang mendukung pada pembahasan permasalahan. Teoti-teori digunakan sebagai acuan dalam pembahasan skripsi yaitu hubungan harga terhadap volume penjualan perusahaan.
Bab III :Gambaran Umum Samudera Shipping Line Ltd
Dalam bab ini diuraikan tentang sejarah perusahaan, organisasi dan manajemen, kegiatan usaha perusahaan.

Bab IV : Analisis dan Pembahasan
Dalam bab ini diuraikan tentang analisis harga jual space petikemas, analisis volume penjualan penjualan space petikemas, analisis hubungan hatrga jual terhadap volume penjualan space petikemas.

Bab V : Penutup
Bab ini merupakan bab terakir, dalam bab ini dikemukakan kesimpulan dan saran-saran

HERY WIBOWO (NIM = 244308037)

July 15, 2009

Tugas Mandiri per-Orangan
Nama : HERY WIBOWO
Nim : 244308037
Subject : Tugas Mandiri per-Orangan (Seminar)

MASALAH TRANSPORTASI LAUT

I. Rumusan Masalah

Dalam topik ini yang dibahas penulis disini mengangkat tentang beberapa permasalahan
1. Apakah penyebab terjadinya kecelakaan kapal LEVINA I dan KM SENOPATI NUSANTARA.?
2. Siapakah yang bertanggung jawab dalam kecelakaan kapal LEVINA I dan KM SENOPATI NUSANTARA tersebut.?
PEMBAHASAN
1. Penyebab terjadinya kecelakaan kapal LEVINA I dan KM SENOPATI NUSANTARA.
Peristiwa kecelakaan beruntun yang terjadi dalam waktu yang sangat singkat belakangan ini menjadi sebuah kejadian yang sangat menarik perhatian kita. Terlebih mengingat jumlah korban yang tidak sedikit. Seperti tenggelamnya kapal Levina I dan KM Senopati Nusantara yang menewaskan ratusan penumpangnya. Mereka yang menjadi korban jelas membawa tragedi tersendiri bagi keluarga yang ditinggalkan. Menyaksikan peristiwa tersebut, salah satu pelajaran penting yang harus sangat dibenahi adalah jaminan keselamatan transportasi. Jaminan dimaksud adalah sebuah sistem yang baku, tersistematisasi dan mudah dimengerti oleh para penumpang, sehingga ketika terjadi kecelakaan, prosedur tersebut langsung berlaku.
Pada kecelakaan KM Senopati Nusantara. Ternyata berdasarkan pengakuan para penumpang yang selamat, ketika kapal mulai menunjukkan tanda akan tenggelam, mereka sama sekali tidak tahu apa-apa. Awak kapal yang seharusnya memberitahukan kepada para penumpang mengenai apa yang harus dilakukan, tidak mengerjakan apa-apa. Bahkan para penumpang diperlakukan seolah tidak perlu mengetahui bahwa kapal naas tersebut akan tenggelam.
Alangkah menyedihkannya memang keadaan ini. Dari data yang ada pada Mahkamah Pelayaran, diketahui bahwa faktor manusia hanya menyumbang 20 persen saja dari angka kecelakaan. Sebanyak 30 persen disebabkan oleh human error, yang salah satunya adalah tiadanya jamiman keselamatan yang memadai tadi.
Faktor cuaca buruk terutama dijadikan kambing hitam dari semua musibah tersebut, walau secara teknis faktor desain dan kondisi kapal layak dipertanyakan – siapa tahu justru faktor ini penyebab utama yang tidak pernah terungkap karena
tidak pernah dilakukan penyelidikan untuk itu.
Menurut laporan, hantaman gelombang setinggi 3-4 meter diduga menjadi penyebab utama tenggelamnya kapal yang didesain untuk bertahan pada ketinggian ombak 1-2 meter. Kecelakaan laut terbuka dialami KM Senopati Nusantara yang melayani jalur Kumai (Kalimantan Tengah) menuju Tanjung Mas (Semarang). Kapal ini berjenis roro seperti KMP Tri Star 1 tetapi dengan ukuran dan kapasitas yang lebih besar, mengangkut ratusan manusia dan sejumlah kendaraan.
Kondisi cuaca yang buruk dan pukulan ombak setinggi 5-6 meter diduga menjadi penyebab utama musibah yang merenggut ratusan jiwa manusia dari kapal yang dirancang bertahan terhadap tekanan gelombang setinggi 3-4 meter. Yang terakhir kasus terbakarnya kapal Levina 1.
Seperti yang diulas di berbagai media cetak dan elektronik, faktor cuaca buruk adalah yang paling dipersalahkan sehingga kecelakaan kapal tersebut terjadi. Tinggi gelombang yang tidak lazim dari biasanya telah menghantam badan kapal dan selanjutnya menenggelamkan kapal-kapal tersebut.
Secara logika sederhana, alasan tersebut dapat diterima. Kapal dengan sarat atau ketinggian geladak 2 meter akan mampu menghadapi ombak atau gelombang dengan ketinggian rata-rata 1-2 meter. Demikian pula dengan kapal yang memiliki sarat 4 meter maka akan mampu menahan hempasan gelombang dengan ketinggian 3-4 meter. Ketika ketinggian gelombang melebihi ambang batas yang diizinkan maka air laut dalam jumlahbesar akan memasuki badan kapal yang memiliki banyak bukaan (open space) dan selanjutnya mengganggu stabilitas dan memorak-porandakan kapal.
Begitu sederhanakah penjelasan terjadinya kecelakaan hanya disebabkan oleh faktor cuaca buruk dan ketinggiangelombang laut yang tidak lazim seperti biasanya? Penjelasan ini ternyata tidak sepenuhnya benar kalau mengacu
kepada hasil penelitian BMT (British Maritime Technology) yang melakukan penelitian terhadap terbalik dantenggelamnya kapal feri the Herald of Free Enterprise (HFE) di lepas pantai Zeebrugge (Belgia) pada tahun 1987 dalam
pelayarannya menuju pelabuhan Dover di Inggris dan mengangkut 459 penumpang.
Tenggelamnya HFE yang dibangun di Jerman pada tahun 1980 justru terjadi pada kondisi laut tenang dan BMT memperoleh kesimpulan setelah melakukan penyelidikan menyeluruh termasuk mengadakan simulasi fisik pengujian model kapal tenggelam, ternyata penyebab tenggelamnya HFE akibat adanya gelombang samping yang cukup tinggi yang masuk melalui pintu samping yang tidak ditutup dengan sempurna. Masuknya massa air dalam jumlah besar selanjutnya menyebabkan kapal dengan bobot 7951 GRT tersebut oleng dan kemudian terbalik/tenggelam.
Beberapa rekomendasi tentang faktor keselamatan kapal kemudian disampaikan kepada organisasi maritim internasional (IMO) yang selanjutnya mewajibkan seluruh operator kapal-kapal feri di seluruh dunia untuk mematuhi rekomendasi tersebut. Sayang, rekomendasi tentang penambahan tinggi garis batas keamanan (margin line) ditolak oleh sidang IMO karena menyebabkan perubahan desain dan konstruksi kapal yang cukup besar.
Sedangkan tenggelamnya Kapal Motor Penumpang (KM) Levina I diduga kuat erat kaitannya dengan klaim asuransi. Karena jika seluruh kapal tenggelam, proses penggantian asuransinya lebih maksimal dibandingkan jika kapal dibiarkan terapung dalam kondisi rusak. Dugaan ini disampaikan oleh Presiden Kesatuan Pelaut Indonesia Hanafi Rustandi usai pembukaan acara 24th Asian Seafarers’ Summit Meeting di Jakarta Senin (26/2) pagi.
Menurut Hanafi Rustandi keputusan membawa bangkai kapal dari lokasi terbakarnya menuju perairan dangkal patut dipertanyakan apakah sudah mendapat persetujuan dari pihak asuransinya. “Dalam kasus ini yang paling diuntungkan adalah pemilik kapal, karena akan mendapatkan penggantian dari asuransi secara total,” kata Hanafi. Ia menambahkan bahwa terjadi hal yang carut-marut terkait dengan keputusan menarik kapal dari tengah laut ke perairan dangkal ini karena didalamnya terdapat para pihak seperti Departemen Perhubungan, kepolisian dan Komite Nasional Keselamatan Ttransportasi (KNKT). Menurut dia, siapakah yang disalahkan dalam hal ini menjadi sulit karena terlalu banyaknya pihak. Ketika disinggung soal siapa yang paling berhak atau paling penting dalam proses penyidikan, menurut Hanafi sebenarnya pihak kepolisian maupun KNKT bisa lebih menfokuskan pada saksi yang masih hidup. Mereka dapat menghimpun data dari para saksi itu selengkap-lengkapnya.
“Kalau memang saksi yang hidup masih banyak, kenapa harus mengutamakan bangkai kapalnya?,” kata Hanafi seraya menambahkan bahwa kalau dugaan atas terbakarnya kapal itu berasal dari muatan yang dibawa truk, sebaiknya pencarian difokuskan pada pemilik barang.
Masih menurut Hanafi, pengiriman barang berbahaya melalui kapal dan tanpa menyebutkan dokumen secara jelas tampaknya juga disengaja oleh para pemilik barang, karena keputusan itu akan meringankan beban mereka. Kalau berdasarkan aturan yang berlaku, bahan kimia, proses pengirimannya harus menggunakan paket. Biayanya mahal dan diasuransikan. Ketua KNKT, Setyo Rahardjo mengatakan, pihaknya tidak tetap fokus pada pemeriksaan saat KM Levina I menjalankan kegiatan transportasi. Investigasi akan jalan terus meski bangkai kapal sudah tenggelam. Namun diakui penyidikan tim KNKT menjadi tidak optimal dengan tenggelamnya bangkai kapal. Soal dugaan adanya upaya menenggelamkan bangkai kapal untuk mendapatkan asuransi, Setyo Rahardjo mengatakan, hal itu bukan wilayah dia untuk berkomentar. KNKT hanya soal teknis saat kapal menjalankan tugas transportasi. Dengan kebakaran saja memang pemiliknya sudah mendapat asuransi, tapi kalau sengaja ditenggelamkan untuk mendapatkan lebib besar, dia tidak tahu.
Pada kesemapatan yang sama, Dirjen Perhubungan Laut, Hastjarja Harijogi kepada SH menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan evaluasi secara lebih mendalam dan mendasar untuk meminimalkan terjadinya kecelakaan. Pemeriksaan barang menggunakan x-ray sangat diperlukan. Untuk itu pihaknya berencana memasang x-ray di pelabuhan-pelabuhan tertentu dengan harapan proses pendeteksian terhadap barang berbahaya bisa lebih diketahui. Selain itu pemilik barang juga diharapkan terbuka dan menyebutkan isi barang yang akan dikirim.
Mengenai jumlah penumpang KMP Levina I yang hingga saat ini masih simpang siur, menurut Harijogi pihaknya masih menyelidiki, karena datanya terus berubah. Awalnya data Dephub jumlah penumpang 316 dengan, 300 selamat dan 16 tewas. Namun Minggu (25/2) pagi, ditemukannya 22 jenazah tambahan. Namun masih ada penyebab kecelakaan beragam. Antara lain:
1. Sistem Peringatan Dini. Sistem ini sering tak menjadi perhatian. Acap terjadi ketika kecelakaan berlangsung, kru kapal tidak memberikan arahan yang jelas bagi para penumpang untuk menyelamatkan diri. Kru juga sering tidak memberikan informasi di mana alat-alat keselamatan berada dan bagaimana cara menggunakannya.
2. Kapasitas angkut. Setiap kapal harusnya memiliki surat izin berlayar (SIB) yang antara lain mengatur kapasitas kapal yang dikeluarkan syahbandar. Beberapa kecelakaan yang menimpa kapal sering terjadi karena penumpang dan barang yang diangkut melebihi kapasitas yang ditentukan. Dalam aturan pelayanrn yang baku sebelum keberangkatan, harusnya petugas pelabuhan memeriksa sesuai tidaknya barang dan orang yang diangkut dengan kapasitas dan daya angkut kapal.
3. Kondisi kapal. Kapal yang berlayar di Indonesia, terutama berjenis roll on-roll of (Ro-Ro) adalah kapal eks Jepang. Lazimnya kapal jenis ini tidak dipergunakan dalam pelayaran jarak kauh. Karena tidak sesuai dengan peruntukannya, maka risiko kecelakaan pada kapal ini sangat terbuka.
4. Standar Operasional Prosedur. Prosedur ini sering diabaikan. Kapal yang berlayar sering tanpa register, kru-nya tidak memiliki sertifikat internasional, dan tidak dilengkapi alat-alat penyelamatan. Sebagian kapal memiliki alat penyelamatan, tetapi kedaluwarsa sehingga tidak layak digunakan dalam keadaan darurat.
Beberapa hal di atas yang tidak dimiliki dan tidak dijalankan kapal-kapal di Indonesia menyebabkan risiko keselamatan penumpang sering terancam. Hal ini dibenarkan oleh Ketua Umum Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) Hanafi Rustandi. Menurut dia, sebagian besar armada kapal nasional tidak laik laut karena tidak memenuhi syarat teknis perkapalan. Selain itu, banyak kapal tidak memiliki peralatan keselamatan yang memadai dan tidak mengindahkan kesejahteraan pelaut. Hal ini sangat membahayakan keselamatan ABK, penumpang, dan barang yang diangkut. Anehnya, kapal-kapal tersebut tetap mendapatkan SIB dari syahbandar. Padahal, kapal-kapal itu jelas melanggar ketentuan yang tercantum dalam Konvensi International Maritime Organization (IMO) dan International Labour Organization (ILO).
Menurut The Study for The Maritime Traffic Safety System Development Plan tahun 2002, penyebab kecelakaan kapal antara lain kesalahan manusia (human error) 41%, bencana alam (force majeur) 38%, dan struktur kapal (hull structure) 21%.
Sedangkan Studi Dephub-JICA tahun 2002 menunjukkan tahun 1982 hingga 2000 terjadi 3.826 kecelakaan kapal (rata-rata 204 kecelakaan setiap tahun atau setiap dua hari sekali).
Ir Tri Achmadi PhD dari Tim Pengkaji Kecelakaan Kapal Laut yang dibentuk Institut Teknologi Surabaya (ITS) sebagai respons terhadap kecelakaan KMP Senopati mengatakan, penyebab kecelakaan kapal laut antara lain tidak diindahkannya keharusan tiap kendaraan yang berada di atas kapal untuk diikat (lashing) dan penempatan barang tidak memperhitungkan titik berat kapal. “Jika kita mau perpegang pada aturan dan itu dijalankan dengan baik, maka berbagai macam kecelakaan terhadap moda transportasi di mana pun, baik di laut, udara, maupun di darat sesungguhnya bisa ditekan.” Kesadaran terhadap prosedur pelayaran yang belum juga tumbuh dan menyebabkan banyak kecelakaan, bisa jadi membuat kredo “nenek moyangku seorang pelaut” yang selama ini dinyanyikan anak-anak berubah menjadi “nenek moyang kami bersemayam di laut”.
2. Yang Bertanggung Jawab Dalam Kecelakaan Kapal LEVINA I dan KM SENOPATI NUSANTARA.
Sementara itu, Pakar hukum laut Capt. Henk Lumentah, SH MH, menilai pihak Polri tidak berhak memeriksa penyebab kecelakaan yang menimpa KM Levina 1, apalagi langsung menyelidiki kemungkinan adanya tindak pidana dalam peristiwa naas itu. “Dalam UU Pelayaran No 21/1992 ditegaskan kalau ada kecelakaan kapal, maka yang harus memeriksa adalah pejabat yang berwenang, dan kasus ini kemudian dapat diteruskan ke pengadilan yang berwenang. Ini kan masalah kompetensi peradilan, jadi sudah diatur bahwa Mahkamah Pelayaran yang pertama kali harus membuktikan ada kecenderungan perbuatan pidana baru diserahkan ke polisi. Ini semua terkait masalah kompetensi,” tegas Henk, yang banyak menangani kasus-kasus hukum di laut. Dia mengutip Pasal 93 UU Pelayaran No 21/1991, bahwa terhadap setiap kecelakaan kapal diadakan pemeriksaan oleh pejabat Pemerintah yang berwenang untuk mengetahui sebab-sebab kecelakaan. Terhadap hasil pemeriksaan itu dapat diadakan pemeriksaan lanjutan untuk diambil tindakan oleh instansi yang ditunjuk. “Disinilah Polri bisa masuk bila telah diminta,” katanya. Menurut dia Mahkamah Pelayaran bisa cepat bekerja kalau diperintahkan, namun itu harus dimulai dari Syahbandar, yang kemudian mengajukan ke Dirjen Perhubungan Laut, lalu menugaskan MP. “Sayangnya syahbandar sudah keburu dicopot dan dijadikan tersangka karena dituding bersalah mengeluarkan SIB, padahal dalam standar pelayaran dunia yang dikeluarkan syhabanda adalah clearance,” kata Henk, yang banyak mengikuti berbagai konferensi pelayaran dan hukum laut internasional.
“Syahbandar memang pegang semua izin-izin kapal, tapi kalau ada kerusakan nakhoda harus lapor ke syahbandar. Kalau semua dokumen kapal hidup syahbandar mengeluarkan clearance (pasal 40). Tapi tanggungjawab di kapal ada pada nakhoda di (pasal 57). Nakhoda memberangkatkan kapal kalau dia sudah pasti kapal layak laut. Jadi tanggungjawab berangkatkan kapal atau tidak ada di nakhoda, bukan syahbandar,”. “Nakhoda wajib memastikan kapal dalam keadaan layak. Kalau celaka kan kapten yang celaka bersama ABK dan para penumpang serta pemilik kapal.”
Pemilik atau operator kapal wajib memberi keleluasaan kepada nakhoda atau pemimpin kapal untuk melaksanakan ketentuan yang berlaku. “Sekarang kan pemilik sering paksa kapten untuk berlayar,”. Pernyataan muatan berbahaya harus dinyatakan oleh EMKL atau pemilik kapal, tetapi dalam kasus ini harus dicek siapa yang mengurus muatan, dan dicek mengapa muatan bahan kimia tidak dilaporkan?
Dari kewajiban pengangkut diatas menimbulkan tanggung jawab, khususnya jika timbul kerugian atas barang yang diangkut dalam jangka pengangkutan. Pada asasnya, pertanggung jawaban pengangkut dimulai pada saat barang angkutan dibawah penguasaannya, yaitu di pelabuhan pemuatan, selama pengangkutan dan berakhir di pelabuhan pembongkaran.
Dalam pasal 86 Undang-undang pelayaran, diatur mengenai tanggung jawab pengangkut sebagai berikut :
(1) bahwa perusahaan angkutan diperairan bertanggung jawab atas akibat yang ditimbulkan oleh pengopersian kapalnya berupa :
a. kematian atau lukanya penumpang yang di angkut;
sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini adalah kematian atau lukanya penumpang yang diakibatkan oleh kecelakaan selama dalam pengangkutan dan terjadi di dalam kapal, dan/atau kecelakaan pada saat naik dan turun dari kapal sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
b. musnah, hilang atau rusaknya barang yang diangkut;
Tanggung jawab tersebut sesuai dengan perjanjian pengangkutan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
c. keterlambatan angkutan penumpan, dan atau barang yang diangkut;
tanggung jawab tersebut meliputi antara lain memberikan pelayanan dalam batas-batas kelayakan sesuai kemampuan perusahaan angkutan di perairan kepada penumpang selama menunggu keberangkatan dalam hal terjadi keterlambatan pemberangkatan karena kelalaian perusahaan angkutan tersebut.
d. kerugian pihak ketiga;
tang dimaksud dalam pihak ketiga adalah orang atau badan hukum yang tidak ada kaitannya dengan pengoperasian kapal.
(2) jika perusahaan angkutan dapat membuktikan bahwa kerugian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b,c, dan d bukan disebabkan karena kesalahannya, maka dapat dibebaskann sebagian atau seluruh dari tanggung jawabnya.
(3) Perusahaan angkutan wajib mengasuransikan tanggung jawabnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).
(4) Tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan pemerintah.
Meskipun pengangkut harus bertanggung jawab atas kerugian yang timbul, namun pengangkut tidak berkewajiban memberi ganti rugi apabila ada keadaan-keadaan sebagai beirkut :
a. Keadaan memaksa (overmacht/force majeure).
b. Cacat yang melekat pada barang angkutan itu sendiri.
c. Kesalahan/ kelalaian terletak pada pengirim maupun Ekspeditur.
Untuk mengajukan klaim kepada pihak pengangkut, pengirim/ penerima cukup menjelaskan bahwa kurang lengkapnya prestasi dari pengangkut disebabkan karena “kesalahan” pengangkut dan ganti rugi yang diminta. Sedangkan beban pembuktian diletakkan kepada pihak pengangkut.
Pengangkutan harus membukitkan bahwa kesalahan tersebut “bukan” kesalahan pengangkut. Oleh karena itu harus membutikan hal-hal yang dapat mendiskulpasi (melenyapkan culpa) dari kewajibannya.
Catatan : “Disculpatie ialah bukti mengenai adanya keasalahan.
Kesimpulan.
Peristiwa kecelakaan beruntun yang terjadi dalam waktu yang sangat singkat belakangan ini menjadi sebuah kejadian yang sangat menarik perhatian kita. Terlebih mengingat jumlah korban yang tidak sedikit. Seperti tenggelamnya kapal Levina I dan KM Senopati Nusantara yang menewaskan ratusan penumpangnya. Mereka yang menjadi korban jelas membawa tragedi tersendiri bagi keluarga yang ditinggalkan.
Menyaksikan peristiwa tersebut, salah satu pelajaran penting yang harus sangat dibenahi adalah jaminan keselamatan transportasi. Jaminan dimaksud adalah sebuah sistem yang baku, tersistematisasi dan mudah dimengerti oleh para penumpang, sehingga ketika terjadi kecelakaan, prosedur tersebut langsung berlaku.

Bab. I
Nama : HERY WIBOWO
Nim : 244308037
Subject : Tugas Mandiri per-Orangan (Seminar)
Tugas Kelompok Bab. II
Kelompok . I : HERY WIBOWO (NIM : 244308037)
KAMALUDDIN MAMBU
HERIANDI

PURNAWAN ADJI CAHYADI
MADISAMU SAM SAMIU
HASAN ALHABSYI
RISAL SYAM
ANSHAARI

ANALISIS HUBUNGAN MUTU PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN PADA PELABUHAN PENUMPANG INTERNASIONAL TANJUNG BALAI KARIMUN
TAHUN 2008
Oleh :
HERY WIBOWO (NIM : 244308037)
KAMALUDDIN MAMBU
HERIANDI
HASAN ALHABSYI
RISAL SYAM
ANSHAARI

SKRIPSI

DISAMPAIKAN KEPADA SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN TRANSPOR TRISAKTI, PROGRAM STUDI MANAJEMEN TRANSPOR LAUT SEBAGAI BAGIAN DARI PERSYARATAN UNTUK MEMPEROLEH GELAR SARJANA EKONOMI (S1)

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN TRANSPOR “TRISAKTI”
J A K A R T A
2 0 0 9

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam rangka pengembangan kegiatan ekonomi di Kepulauan Riau, khususnya di Tanjung Balai Karimun dan sekitarnya, Pemerintah bekerjasama dengan BUMN dalam hal ini PT. (Persero) Pelindo I Cabang Tanjung Balai Karimun membangun Pelabuhan Penumpang Internasional Tanjung Balai Karimun yang menghubungkan Kepulauan Karimun, Singapura dan Pulau Pulau di Kepulauan Riau. Pelabuhan Tanjung Balai Karimun melayani arus penumpang yang berkunjung ke Tanjung Balai Karimun.
Sejak dibangunnya Pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun laju pergerakan ekonomi daerah menjadi semakin tinggi, makin banyaknya kemudahan kemudahan yang dirasakan oleh seluruh warga Tanjung Balai Karimun dalam berbisnis yang ditunjang dengan adanya transportasi laut yang cukup memadai, hal ini juga berpengaruh positif terhadap Pendapatan Asli Daerah Provinsi Kabupaten Karimun. Hal tersebut juga berdampak pada perkembangan kebutuhan akan transportasi untuk memudahkan dan atau membantu pergerakan yang dilakukan oleh seluruh pengguna jasa.
Letak pulau Karimun yang berdekatan dengan Singapura menjadikan transportasi Laut menjadi primadona bagi penumpang yang akan berkunjung ke Pulau Karimun, sehingga membuat pihak terkait untuk membangun pelabuhan penyeberangan yang menghubungkan Pulau Karimun, Singapura dan Pulau Batam. Dengan dibangunnya pelabuhan tersebut minat penumpang yang akan berkunjung ke Pulau Karimun dengan menggunakan jasa penyeberangan sangat besar, selain harganya yang terjangkau, banyak juga fasilitas kemudahan yang disediakan oleh Pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun, sehingga menimbulkan daya tarik tersendiri bagi calon konsumennya dengan segmen pasar yang luas tidak hanya dibatasi oleh komunitas tertentu, tingkat penghasilan, tingkat pendidikan dan pekerjaan.
Proses keputusan penumpang dalam memakai jasa penyeberangan tidaklah terjadi dengan begitu saja. Dalam pengambilan keputusan, penumpang dipengaruhi oleh alternatif alternatif yang dihadapi serta daya tarik masing masing alternatif yang dihadapi. Dapat juga keyakinan seorang penumpang mengenai pelabuhan internasional Tanjung Balai Karimun tersebut yang didasarkan atas pengalaman dan informasi yang diperolehnya. Dari penilaian ini maka penumpang akan mempunyai pandangan kepuasan terhadap jasa pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun dalam arti positif diantara pelabuhan lainnya.
Mendirikan suatu perusahaan tujuan utamanya adalah untuk memperoleh laba sehingga perusahaan tersebut dapat lebih berkembang dan mempertahankan kelangsungan hidup operasional perusahaan.
Selain itu, PT. (Persero) Pelindo I Cabang Tanjung Balai Karimun harus dapat membuat kebijakan dan strategi pemasaran sehingga perusahaan dapat bersaing dengan perusahaan lain yang sejenis. Oleh sebab itu, keberhasilan suatu kegiatan pemasaran tergantung pada pemahaman perusahaan terhadap kepuasan penumpang.
Untuk dapat memenuhi kepuasan penumpang maka perusahaan yang bergerak dibidang jasa harus memberikan pelayanan atau service yang terbaik, dimana perusahaan harus mengetahui apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumennya yang akan atau selama menggunakan jasa yang dipasarkan.
Pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun merupakan merupakan pelabuhan yang memberikan fasilitas bagi para wisatawan yang akan berkunjung ke Pulau Karimun. Fungsi lainnya adalah memberikan kemudahan, keselamatan angkutan dalam operasi penyeberangan penumpang dan barang.
Berdasarkan uraian di atas maka, dalam penelitian ini penulis tertarik untuk memilih judul “ANALISIS HUBUNGAN MUTU PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN PADA PELABUHAN PENUMPANG INTERNASIONAL TANJUNG BALAI KARIMUN TAHUN 2008”

B. Perumusan Masalah
Pada latar belakang masalah telah disebutkan bahwa terdapat banyak faktor yang mempengaruhi kepuasan penumpang terhadap pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun. Di antara yang mempengaruhi kepuasan tersebut adalah pelayanan, ketersediaan tiket, pengoperasian, keamanan, kenyamanan, pengaruh lingkungan dan sebagainya.
Seorang calon penumpang akan mempunyai kepuasan yang positif ataupun negatif tergantung dari mutu pelayanan yang ditunjukkan oleh pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun kepada penumpang dan pengalaman pribadi maupun informasi yang didapat oleh penumpang.
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atasmaka, masalah masalah yang terkait dengan topik penelitian ini dapat penulis identifikasikan sebagai berikut :
a. Mutu pelayanan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun belum optimal.
b. Pengawasan terhadap mutu pelayanan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun belum sepenuhnya terprogram.
c. Minimnya sarana dan prasarana pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun yang dapat menunjang kepuasan pelanggan.
d. Fasilitas pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun yang masih kurang memenuhi standar internasional.
e. Rendahnya tingkat kepatuhan pengguna jasa transportasi laut dan penyedia jasa transportasi laut pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun.
f. Rendahnya tingkat kebersihan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun.

2. Pembatasan Masalah
Untuk membatasi permasalahan dengan maksud agar sasaran dalam pembatasan ini dapat tercapai, maka dalam penelitian penulis hanya membatasi ruang lingkup kajian pada hubungan antara mutu pelayanan terhadap kepuasan pelanggan pada pelabuhan penumpang Tanjung Balai Karimun.
3. Pokok Permasalahan
Berdasarkan uraian di atas, maka pokok permasalahan yang akan diteliti adalah sebagai berikut :
a. Bagaimana realisasi mutu pelayanan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun tahun 2009 ?
b. Bagaimana tingkat kepuasan pelanggan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun tahun 2009 ?
c. Bagaimana hubungan antara mutu pelayanan terhadap kepuasan pelanggan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun tahun 2009 ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan penelitian
a. Untuk mengetahui bagaimana realisasi mutu pelayanan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun tahun 2009.
b. Untuk mengetahui bagaimana tingkat kepuasan pelanggan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun tahun 2009.
c. Untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara mutu pelayanan terhadap kepuasan pelanggan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun tahun 2009.

2. Manfaat penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi penulis, objek yang diteliti dengan masyarakat akademik sebagai berikut:
a. Bagi Penulis
Penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan dan pengetahuan penulis akan masalah masalah yang terjadi dalam perusahaan khususnya mutu pelayanan dan kepuasan pelanggan. Disamping itu, penelitian ini merupakan kewajiban akademik yang harus dipenuhi penulis sebagai syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi pada Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti.
b. Bagi Perusahaan
Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan informasi yang bermanfaat sebagai bahan evaluasi terhadap efektifitas dan efisiensi dalam rangka perbaikan mutu pelayanan dan kepuasan pelanggan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun.
c. Bagi Lembaga STMT TRISAKTI dan masyarakat lainnya
Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan informasi yang bermanfaat bagi pembaca mengenai pandangan atau gambaran pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun. Dapat dijadikan sebagai bahan referensi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan tambahan perbendaharaan kepustakaan bagi STMT Trisakti.

D. Hipotesis
Merupakan jawaban sementara dari hasil penelitian yang perlu diuji
kebenarannya. Adapun hipotesis penelitian ini adalah : “Diduga terdapat hubungan
yang positif antara mutu pelayanan terhadap kepuasan pelanggan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun.

E. Metodologi Penelitian
1. Jenis dan Sumber Data
Jenis penelitian ini adalah diskriptif kualitatif yang digunakan untuk menguji hipotesis. Dalam memperoleh dan mengumpulkan data, peneliti melakukan penelitian pada beberapa lokasi diantaranya: a. PT. (Persero) Pelindo I Cabang Tanjung Balai Karimun; b. Pelabuhan Penumpang Internasional Tanjung Balai Karimun; c. Administrasi pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun.
2. Populasi dan Sampel
a. Populasi
Populasi merupakan kumpulan yang lengkap dari seluruh elemen yang sejenis dan dapat dibedakan menjadi objek penelitian. Dalam melaksanakan penelitian ini yang menjadi populasi adalah semua penumpang yang sudah menggunakan jasa pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun.
b. Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi untuk diselidiki. Menurut Marzuki (1989). Sampel adalah himpunan dari unsur unsur yang sejenis atau universal. Sesuai dengan buku panduan skripsi STMT Trisakti, jumlah sampel yang akan digunakan adalah 30 orang.
3. Metode Pengumpulan Data
a. Observasi
Adalah pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan secara langsung pada penumpang yang telah memakai jasa penyeberangan pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran atau tanggapan responden terhadap variabel pengoperasian, pelayanan dan kenyamanan pelabuhan.
b. Wawancara
Adalah pengumpulan data dengan Tanya jawab kepada pihak perusahaan dan penumpang yang dilaksanakan secara sistematis. Dalam wawancara, komunikasi dilakukan secara formal terhadap operator pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun dan penumpang.
c. Angket (Kuesioner)
Untuk mendapatkan data yang sesuai dengan tujuan penelitian, peneliti menyebarkan pertanyaan secara tertulis dan sistematik. Jumlah questioner yang disiapkan peneliti untuk 30 responden, ditujukan kepada penumpang yang telah menggunakan jasa pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun. Data yang diperoleh dari angket tersebut akan memberikan informasi mengenai kepuasan penumpang dalam mengambil keputusan dan menggunakan jasa pelabuhan.
Skala pengukuran kuesioner berdasarkan skala Likert, memberikan bobot setiap jawaban yang diberikan responden. (Istijanto 2005 : 81).

SS : Sangat Setuju Nilai Bobot = 5
S : Setuju Nilai Bobot = 4
RR : Ragu-ragu Nilai Bobot = 3
TS : Tidak Setuju Nilai Bobot = 2
STS : Sangat Tidak Setuju Nilai Bobot = 1

4. Teknik Analisis Data
Untuk menganalisis data hasil penelitian akan digunakan rumus-rumus statistik/matematik melalui langkah-langkah sebagai berikut :
a. Analisis Regresi Linear Sederhana
Analisa ini digunakan untuk mengetahui hubungan proporsional antara variabel mutu pelayanan terhadap kepuasan pelanggan menurut J. Supranto (2001 : 207),
persamaan garis regresi linear sederhana adalah sebagai berikut :

Y = a + bX

Dimana:
X = Variabel bebas (mutu pelayanan)
Y = Variabel terikat (kepuasan penumpang)
a = Konstanta
b = Koefisien Regresi
n = Jumlah Observasi / Pengukuran
untuk mengetahui nilai a dan b digunakan rumus:
a =
b =
b. Analisis Koefisien Korelasi
Suatu metode untuk mengetahui kuat atau lemahnya hubungan antara variabel X dan Y dengan rumus J. Supranto (2001 : 208) sebagai berikut :
Rumus :
r =
Dimana :
1) Jika r = +1 atau mendekati 1, berarti hubungan antara X dan Y adalah positif dan sangat kuat.
2) Jika r = -1 atau mendekati -1, berarti hubungan antara X dan Y sangat kuat, tetapi negatif.
3) Jika r = 0 atau mendekati 0, berarti tidak ada hubungan antara X dan Y, atau hubungan sangat lemah.
Tabel I.1
Koefisien Korelasi dan Taksiran
Interval Interprestasi
0,00 – 0,199
0,20 – 0,399
0,40 – 0,599
0,60 – 0,799
0,80 – 1,000 Sangat rendah
Rendah
Cukup sedang
Kuat
Sangat kuat
Sumber : Sugiyono, (2008 : 214)

c. Analisis Koefisien Penentu (Kp)
Langkah ini diambil guna melihat kontribusi atau pengaruh variabel X terhadap variabel Y. J. Supranto (2001 :212).
Rumus : Kp = r2 x 100%.
Dimana :
Kp = Koefisien penentu
r2 = Koefisien korelasi yang dikuadratkan

d. Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan dengan cara membandingkan nilai thitung dengan ttabel ; mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
1. Hipotesis Awal
H0 :  = 0 tidak ada hubungan antara variabel X dan variabel Y.
H1 :  > 0 ada hubungan yang siginifikan antara variabel X dan variabel Y.
2. Untuk mendapatkan nilai t-hitung digunakan rumus thitung menurut Sugiyono (2005 : 215)
thitung =
3. Untuk mendapatkan t-tabel digunakan tabel distribusi t pada (= 0.050 dan df = n-2)
4. Kesimpulan
Jika thit ttabel maka, H0 ditolak artinya ada hubungan yang signifikan antara variabel X dan variabel Y.

F. Sistematis Penulisan
Untuk mempermudah pembaca memahami materi yang akan dibahas maka skripsi ini disusun sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini merupakan bagian yang mengurai latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian, hipotesis penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini menyajikan Landasan Teori dari variabel-variabel yang terkait dengan penelitian, menguraikan tentang penilaian kepuasan pelanggan, mutu pelayanan dan hubungan antara kedua variabel dimaksud.
BAB III GAMBARAN UMUM PELABUHAN PENUMPANG INTERNASIONAL TANJUNG BALAI KARIMUN
Pada bab ini akan disampaikan gambaran mengenai profil pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun mencangkup visi dan misi perusahaan, tugas pokok perusahaan, lokasi perusahaan, serta organisasi dan ruang lingkup tugas manajemen pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun.
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dilaporkan hasil analisis mutu pelayanan, hasil analisis kepuasan pelanggan dan hasil analisis hubungan antara mutu pelayanan terhadap kepuasan pelanggan pada pelabuhan penumpang Tanjung Balai Karimun dengan menggunakan rumus-rumus statistik dan matematik yang telah di uraikan pada bab I.
BAB V PENUTUP
Bab ini merupakan bab terakhir dari penulisan yang menguraikan tentang kesimpulan dari hasil analisis dan saran saran.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian kepuasan Pelanggan
Peranan setiap individu dalam service encounter sangatlah penting dan sangat berpengaruh terhadap kepuasan yang dibentuk. Untuk mengetahui tingkat kepuasan konsumen secara lebih baik harus dapat dipahami sebab sebab kepuasan. Kepuasan atau ketidakpuasan konsumen adalah respon konsumen terhadap evaluasi ketidaksesuaian/diskonfirmasi yang dirasakan antara harapan sebelumnya dan kinerja actual produk yang dirasakan setelah pemakaianya. (Tse dan Wilton, 1988).
Umumnya harapan konsumen merupakan perkiraan atau keyakinan pelanggan tentang apa yang akan diterimanya bila ia membeli atau mengkonsumsi suatu produk (barang atau jasa). Sedangkan kinerja yang dirasakan adalah persepsi konsumen terhadap apa yang telah diterima konsumen setelah mengkonsumsi produk (barang atau jasa) yang telah dibelinya. Secara konseptual, kepuasan konsumen/pelanggan dapat digambarkan seperti gambar 2.1.

Gambar 2.1 Konsep Kepuasan Konsumen/Pelanggan

Sumber : Tjiptono, Fandy, 1995, Strategi Pemasaran
Metode yang dapat digunakan perusahaan untuk mengukur dan memantau kepuasan konsumen terdiri dari :
1. Sistem keluhan dan saran
Setiap perusahaan yang berorientasi pada konsumen/pelanggan perlu memberikan kesempatan yang seluas luasnya bagi para pelanggan untuk menyampaikan saran, pendapat dan keluhan.
2. Survey kepuasan pelanggan
Melalui survey perusahaan akan memperoleh tanggapan dan umpan balik secara langsung dari pelanggan dan sekaligus memberikan tanda positif perusahaan menaruh perhatian terhadap konsumen/pelanggan.

3. Pembeli Bayangan
Metode ini dilakukan dengan cara mempekerjakan seorang sebagai pembeli bayangan untuk berperan atau bersikap sebagai pelanggan potensial produk perusahaan dan pesaing. Ada baiknya seorang manajer berperan langsung sebagai pembeli bayangan untuk mengetahui langsung bagaimana karyawan berinteraksi dan memperlakukan konsumen.
4. Pelanggan yang hilang
Perusahaan menghubungi para pelanggan yang telah berhenti menggunakan produk, atau beralih pemasok. Yang diharapkan akan diperoleh informasi penyebab terjadinya hal tersebut.
B. Harapan dan Kepuasan Konsumen
Harapan pelanggan dibentuk dan didasarkan oleh beberapa faktor, diantaranya pengalaman berbelanja dimasa lampau, opini teman dan kerabat, serta informasi dan janji janji perusahaan dan para pesaing. (Kotler dan Amstrong, 1994). Ada beberapa penyebab utama tidak terpenuhinya harapan konsumen/pelanggan yaitu:
1. Konsumen/pelanggan keliru mengkomunikasikan jasa yang diinginkan.
2. Konsumen /pelanggan keliru menafsirkan signal (Harga, positioning, dan lain lain).
3. Kinerja karyawan perusahaan jasa buruk.
4. Miskomunikasi penyedia jasa oleh pesaing
Berdasarkan beberapa penyebab utama tidak terpenuhinya harapan konsumen tersebut, ada beberapa faktor penyebab yang dapat dikendalikan oleh penyedia jasa. Dengan demikian penyedia jasa bertanggung jawab untuk meminimumkan miskomunikasi dan misinterprestasi yang mungkin terjadi dan menghindarinya dengan cara merancang jasa yang mudah dipahami dengan jelas. Dalam hal ini penyedia jasa harus mengambil inisiatif agar perusahaan dapat memahami dengan jelas instruksi dari pelanggan dan konsumen/pelanggan mengerti benar apa yang akan diberikan.
Sebelim menggunakan suatu jasa, konsumen/pelanggan sering memliki empat skenario jasa yang berbeda mengenai apa yang bakal dialami pelanggan/konsumen yaitu:
1. Jasa Ideal
2. Jasa yang diantisipasi/diharapkan
3. Jasa yang selayaknya diterima
4. Jasa minimumyang dapat ditoleransi
Pelanggan dapat berharap dari keempat skenario tersebut, karena itu apabila “jasa minimum yang dapat ditoleransi” yang diharapkan, lalu yang terjadi sama dengan atau bahkan melampaui harapan tersebut, maka akan timbul kepuasan. Sebaliknya bila yang diharapkan “jasa ideal”, maka bila yang terjadi kurang dari harapan tersebut maka yang terjadi adalah ketidakpuasan.

C. Mutu Pelayanan
Salah satu yang dipertimbangkan oleh penumpang dalam menggunakan jasa pelabuhan yaitu pelayanannya yang memuaskan, disamping itu tingkat keselamatan juga terjamin. Karena dalam hal ini penumpang mendapatkan jaminan asuransi. Mengingat pentingnya keselamatan yang sangat menjadi perhitungan bagi penumpang, maka pihak pihak Pelabuhan Tanjung Balai Karimun harus benar benar memperhatikan hal keselamatan tersebut, agar penumpang benar-benar merasa puas dengan pelayanan yang diberikan.
Peningkatan mutu pelayanan pada Pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun dapat diartikan keseluruhan upaya dan kegiatan secara komprehensif dan integratif memantau dan menilai mutu pelayanan pada Pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun, memecahkan masalah-masalah yang ada dan mencari jalan keluarnya, sehingga mutu pelayanan pada Pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun diharapkan akan lebih baik. Tinggi rendahnya mutu sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor :
1. Sumber daya Pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun, termasuk antara lain tenaga kerja, pembiayaan, sarana prasarana dan teknologi yang digunakan.
2. Interaksi kegiatan yang digerakkan melalui proses dan prosedur tertentu dengan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menghasilkan jasa atau pelayanan.
Pelayanan penumpang dapat diartikan sebagai pemberian layanan (melayani) keperluan orang atau penumpang yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan.
Berhasil tidaknya peningkatan mutu pelayanan sangat tergantung dari monitoring faktor-faktor di atas dan juga umpan balik dari hasil-hasil pelayanan yang dihasilkan untuk perbaikan lebih lanjut terhadap faktor-faktor dalam butir 1 dan 2. Dengan demikian nampak bahwa peningkatan mutu merupakan proses yang kompleks yang pada akhirnya menyangkut managemen Pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun secara keseluruhan.
Dalam hal ini pelayanan dapat ditujukan kepada dua macam penumpang, yaitu internal Costumer (yang terlibat dalam proses jasa yang dihasilkan, seperti jajaran direksi, kepala divisi, kepala bagian atau karyawan lainnya) dan External Costumer (yang berada diluar organisasi perusahaan, seperti pelanggan atau penumpang).
Sedangkan dilihat dari sifatnya pelayanan dapat dibedakan atas pelayanan yang bersifat ekonomis (produk jasa tersebut sesuai dengan daya beli yang dimiliki pada konsumen) dan psikologis (produk jasa tersebut benar-benar dapat diterima oleh masyarakat)

D. Model Segi Tiga Jasa
Dalam merancang proses pelayanan jasa pelabuhan penyeberangan didasarkan kepada kerangka kerja yang merupakan segitiga jasa, dimana terdapat empat elemen yang harus dipertimbangkan dalam memproduksi jasa yaitu; pelanggan, manusia, strategi dan sistem. Seperti terdapat pada gambar 2.2.
Gambar 2.2 Model Segitiga Jasa

Sumber: Nasution, Manajemen Transportasi, Cetakan 1, 1996
Berdasarkan gambar diatas, pelanggan atau penumpang berada ditengah tengah segitiga karena pelayanan jasa harus selalu berpusat pada kebutuhan pelanggan. Manusia adalah tenaga kerja dari perusahaan jasa. Strategi adalah pandangan yang digunakan untuk menuntun segala aspek pelayanan jasa. Sedangkan system adalah adalah system fisik dan prosedur yang digunakan dalam memberikan pelayanan kepada penumpang. Garis dari pelanggan ke strategi harus menempatkan penumpang dengan memberikan pelayanan kebutuhan dan keinginan penumpang yang memuaskan. Perusahaan harus bisa menyelidiki apa yang terlintas dalam pikiran penumpang dan perusahaan juga harus mengkomunikasikan strategi jasa kepada penumpang. Apakah produk jasa yang disediakan sesuatu yang unik? Mengapa penumpang menggunakan jasa penyeberangan dari suatu pelabuhan penyeberangan?.
Garis dari pelanggan ke system menunjukan bahwa system (prosedur dan peralatan) harus dirancang sesuai dengan yang ada dalam pikiran penumpang terhadap pelayanan yang diingkan. Seperti kenyamanan tempat duduk diruang tunggu terminal pelabuhan dinilai kurang baik bagi penumpang akan menimbulkan kesan jeleknya system pelayanan. Sedangkan garis dari manusia ke system menunjukan bahwa karyawan dalam memberikan pelayanan berdasarkan pada system yang baik, yaitu system yang harus dirancang menjadi sederhana, cepat dan sangat mudah dioperasikan. Sebagian besar masalah pelayanan dihubungkan dengan menunjukan bahwa system harus mengikuti strategi logis, tetapi hal ini jarang sekali terjadi. Sering kali system yang telah berkembang berulang kali dan telah dirancang menurut cara yang tumbuh sedikit demi sedikit tidak mendukung sepenuhnya strategi yang dimaksud dan tidak terintegrasikan secara baik.
Garis dari strategi ke manusia menunjukan bahwa setiap orang dalam organisasi harus mengetahui startegi perusahaan. Penjelasan strategi perusahaan kepada petugas lapangan yang langsung berhadapan dengan penumpang dalam nemnberikan pelayanan sering dilupakan sehingga pelayanan yang diberikan jelek atau kurang memuaskan.
Upaya mewujudkan kepuasan penumpang total bukanlah hal yang mudah. Bahkan Mudie dan Cottam (1993) menyatakan bahwa kepuasan penumpang tidak mungkin tercapai, sekalipun hanya untuk sementara waktu. Namun upaya perbaikan atau penyempurnaan kepuasaan dapat dilakukan dengan berbagai strategi. Pada prinsipnya strategi kepuasan penumpang akan meyebabkan para pesaing harus bekerja keras dan memerlukan biaya tinggi dalam usahanya merebut penumpang suatu perusahaan. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah kepuasan penumpang merupakan strategi panjang yang membutuhkan komitmen, baik yang menyangkut dana maupun sumber daya manusia (Schnaars, 1991). Ada beberapa strategi yang dapat dipadukan untuk meraih dan meningkatkan kepuasan konsumen, diantaranya (Tjiptono,1995).
1. Relationship Marketing
Dalam strategi ini, hubungan transaksi antara penyedia jasa dan penumpang berkelanjutan, tidak berakhir setelah penjualan selesai. Dengan kata lain, dijalin suatu kemitraan jangka panjang dengan penumpang secara terus menerus sehingga diharapkan dapat terjadi bisnis ulangan (repeat kapaliness). Salah satu faktor yang dibutuhkan untuk mengembangkan relationship marketing adalah dibentuknya customer database, yaitu daftar nama penumpang yang perlu dibina hubungan jangka panjang. Database ini tidak sekedar berisi nama penumpang/pelanggan, tetapi juga mencakup hal hal yang penting lainnya misalnya frekwensidan jumlah pembelian, preferensi, an lain sebagainya.
2. Strategi Superior Customer Service
Perusahaan yang menerepkan strategi ini berusaha menawarkan pelayanan yang lebih unggul daripada pesaingnya. Untuk mewujudkannya dibutuhkan dana yang besar, kemampuan sumber daya manusia yang lebih unggul dan usaha yang gigih. Meskipun demikian, melalui pelayanan yang lebih unggul, perusahaan dapat membebankan harga yang lebih tinggi pada jasanya. Akan ada kelompok penumpang/pelanggan yang tidak berkeberatan dengan harga mahal tersebut. Selain itu perusahaan dengan pelayanan superior akan meraih laba dan tingkat pertumbuhan yang lebih besar daripada pesaingnya yang memberikan pelayanan inferior.
Untuk dapat menciptakan suatu pelayanan yang memuaskan bagi pelanggan dapat digunakan model jasa seperti gambar 2.3.
Gambar 2.3 Model Jasa

Sumber : Nasution, Manajemen Transportasi I, 1996
Dari gambar diatas dapat dijelaskan bahwa sebagai berikut:
1. Strategi jasa merupakan hal yang menentukan dibidang bisnis yang diterjuni. Strategi jasa memberikan pengarahan untuk mendesain produk, system pelayanan dan pengukuran. Dalam hal ini strategi jasa juga harus mempertimbangkan jasa yang ditawarkan dalam jangkauan internasional seperti transportasi laut yang memiliki standar internasional dan skala operasi yang bersifat global.
2. Desain jasa selalu terikat pada alat atau fasilitas yang akan digunakan seperti pelabuhan penumpang. Terdapat tiga unsur dalam mendesain produk jasa seperti; fasilitas yang digunakan, kenikmatan dan manfaat psikologis. Dalam merancang jasa harus secara seksama membaca harapan-harapan pelanggan selain jasa itu sendiri. Contoh; suasana dalam ruang tunggu pelabuhan. Ada beberapa factor yang harus dipertimbangkan dalam mendesain jasa yang dikaitkan dengan kualitas pelayanan adalah sebagai berikut:
a. Peralatan dalam ruangan terminal pelabuhan, tempat duduk ruang tunggu.
b. Ketepatan waktu dalam keberangkatan dan kedatangan (schedule kapal)
c. Hiburan selam menunggu keberangkatan dan kedatangan kapal.

3. Desain system pelayanan didasarkan pada jumlah kontak atau hubungan dengan pelanggan. Jika derajat atau jumlah kontak lebih rendah, proses pelayanan dapat diabakain dari pelanggan.
4. Pengukuran menentukan kepuasan penumpang terhadap jasa yang didapatkannya.
E. Hipotesis
“Hipotesis pada dasarnya merupakan suatu proposisi atau anggapan yang mungkin benar, dan sering digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan atau pemecahan persoalan atau untuk dasar penelitian lebih lanjut”. (J.Suprapto,1990, hal:167).
Maka untuk memberikan angka pada penelitian yang dilakukan dan memberikan jawaban sementara atas masalah yang dikemukakan diatas, maka peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut:
1. Diduga variabel pengoperasian pelabuhan berpengaruh positif & Signifikan terhadap kepuasan penumpang.
2. Diduga variabel pelayanan pelabuhan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan penumpang.
3. Diduga variabel kenyamanan pelabuhan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan penumpang.
4. Diduga pengoperasian, pelayanan dan kenyamanan secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan penumpang.

Kerangka Berpikir Teoritis

IBRAHIM BP3IP / STMT 11

July 15, 2009

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dengan semakin berkembang pesatnya dunia pelayaran saat ini maka persaingan jasa transportasi laut pun semakin ketat, demikian juga terhadap dunia pelayaran di tanah air. Salah satunya adalah persaingan dalam jasa angkutan barang menggunakan petikemas. Untuk mengantisipasinya tingginya permintaan akan jasa angkutan barang yang menggunakan petikemas, perusahaan-perusahaan pelayaran semakin meningkatkan kualitas layanan dan kemudahan kepada para pengguna jasa angkutan ini. Dalam meningkatkan kualitas layanan tersebut diatas, perusahaan pelayaran harus memperhatikan beberapa hal, diantaranya : kapal-kapal yang dimilikinya harus dalam keadaan laik laut sesuai peraturan internasional dan peraturan pemerintah Indonesia, khususnya mengenai alat-alat keselamatan dan pencegahan pencemaran lingkungan, memiliki kapasitas ruang muat yang memadai sesuai dengan kebutuhan, kecepatan kapal yang cocok untuk daerah operasinya, konsumsi bahan baker, serta dilengkpi dengan anak buah kapal yang terampil dan berpengalaman dan nahkoda yang berkualitas. Selain itu kecepatan operasi bongkar muat mempengaruhi waktu tinggal kapal di pelabuhan, ketepatan waktu dalam memenuhi jadwal pelayaran juga menjadi suatu kewajiban bagi perusahaan dalam memberikan layanan kepada para pengguna jasa angkutan kapal.
Dilihat dari beragamnya kebutuhan masyarakat akan barang dan jasa maka beragam pula jenis dan tipe kapal yang digunakan sesuai dengan fungsi dan kebutuhannya. Untuk mengangkut manusia dari satu tempat ketempat lainnya digunakan kapal penumpang, baik yang bertipe ferry maupun Roro, atau kapal penumpang cepat. Untuk mengangut barang muatan cair menggunakan kapal tanker, muatan curah kering menggunakan kapal general cargo, untuk mengangkut muatan yang telah dimuati ke dalam petikemas menggunakan kapal container.
Perusahaan pelayaran di dunia yang tumbuh dan berkembang khususnya yang bergerak dalam jasa pengangkutan petikemas semakin meningkat, dengan peningkatan jumlah perusahaan pelayaran tersebut, maka pengguna jasa transportasi ini memiliki pemilihan untuk menggunakan jasa perusahaan mana yang mereka percaya dan memberikan layanan terbaik bagi pengangkutan barang mereka. Perusahaan- perusahaan pelayaran mengoperasikan beberapa beberapa kapalnya untuk rute tetap yang sama (liner service) dan rute tidak tetap (tramping) demi memenuhi layanan angkutan petikemas sesuai jadwal yang telah dibuat. Dengan pengoperasian beberapa kapal pada perusahaan-perusahaan pelayaran untuk rute yang sama ini akan mempengaruhi kapasitas terpakai muatan petikemas pada kapal-kapal mereka dan juga pendapatan perusahaan. Oleh karena itu, promosi, pelayanan, tarif yang bersaing, serta pengaturan jadwal kedatangan, operasi di pelabuhan dan keberangkatan kapal saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
Selain itu terdapat juga sisi lemah yang harus mendapat perhatian dari perusahaan pelayaran, khususnya, pada HUB Shipping Sdn bhd.yang menjadi tempat penelitian bagi penulis yaitu :
1. Kondisi kapal dalam menerima muatan.
2. Pengawasan oleh perusahaan terhadap kinerja perusahaan bongkar muat mulai dari saat pengemasan muatan kedalam petikemas di gudang atau lapangan milik pengirim barang, hingga dimuati keatas kapal.
3. Karakteristik pelabuhan.
4. Sarana dan peralatan penunjang kegiatan bongkar muat.
5. Pengaturan jadwal dan jarak kedua kapal untuk menghindari seringnya kapal melakukan deviasi (skip).
6. Klasifikasi muatan menurut jenis dan beratnya.
7. Koordinasi antar pihak kantor pusat atau cabang dengan pihak kapal serta kemampuan pihak kapal dalam memperhitungkan kapasitas berat muatan petikemas terhadap stabilitas kapal.
Agar kapasitas petikemas yang dapat dimuati diharapkan akan memenuhi atau mendekati harapan.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam lagi dengan mengemukakan dalam bentuk skripsi dengan judul:
“ ANALISIS PERBANDINGAN KAPASITAS YANG TERPAKAI MUATAN PETIKEMAS ANTARA MV.HUB KUCHING DAN MV.HUB BINTULU PERVOYAGE PADA ARMADA HUB SHIPPING SDN BHD MALAYSIA, PERIODE NOVEMBER 2007 – NOVEMBER 2008”
B. Perumusan Masalah

1. Identifikasi Masalah
Merupakan masalah yang terjadi sehubungan dengan kegiatan operasional kapal petikemas dalam memperoleh kapasitas terpakai muatan petikemas adalah :
A. Kerusakan pada bagian ruang muat yang bersifat incidental memengaruhi kapasitas muat petikemas.
B. Seringnya kapal melakukan deviasi (skip) untuk menjaga jarak keduanya.
C. Karakterristik muatan mempengaruhi stabilitas kapal, sehingga kapasitas ruang muat tidak optimal.
D. Banyaknya kapal petikemas dari perusahaan lain yang beroprasi pada rute pelabuhan yang sama.
E. Koordinasi antara pihak perusahaan dengan pihak kapal dalam memperhitungakan kapasitas berat tersisa untuk muatan petikemas terhadap stabilitas kapal, serta kemampuan pihak kapal dalam memperhitungkan kapasitas berat tersisa untuk muatan petikemas terhadap stbilitas kapal.
F. Rendahnya kinerja perusahaan bongkar muat pada beberapa pelabuhan.

2. Batasan masalah
Sehubungan dengan luasnya masalah yang timbul dan penulis juga menyadari adanya factor keterbatasan waktu dan data yang diperoleh serta kemampuan yang dimiliki penulis maka dalam skripsi ini penulis membatasi permasalahan pada perbandingan kapasitas terpakai muatan petikemas antara MV. Hub Kuching dan MV.Hub Bintulu milik HUB Shipping Sdn Bhd.

3. Pokok permasalahan
Berdasarkan identifikasi masalah diatas maka penulis membuat pokok masalah sebagai berikut :
a. berapa besar kapsitas yang terpakai muatan petikemas pada MV. Hub Kuching ?
b. berapa besar kapsitas yang terpakai muatan petikemas pada MV. Hub Bintulu?
c. apakah ada perbedaan kapasitas yang terpakai muatan petikemas Antara MV Hub Kuching dan MV Hub Bintulu Pervoyage dalam periode November 2007 sampai dengan November 2008 ?

C. Tujuan dan manfaat penelitian
1. Tujuan penelitian
Didalam penyusunan skripsi ini ada beberapa tujuan yang hendak penulis capai yaitu :
a. untuk mengetahui kapasitas yang terpakai muatan petikemas pada MV. Hub Kuching
b. untuk mengetahui kapasitas yang terpakai muatan petikemas pada MV. Hub Bintulu
c. untuk mengetahui sejauh mana perbedaan kapasitas yang terpakai muatan petikemas Antara MV Hub Kuching dan MV Hub Bintulu

2. manfaat penelitian
a. bagi penulis
1) untuk memenuhi sebagian syarat guna mencapai gelar Sarjana Ekonomi.
2) untuk mengetahiu perbandingan kapasitas yang terpakai muatan petikemas Antara MV Hub Kuching dan MV Hub Bintulu Pervoyage dalam periode November 2007 sampai dengan November 2008.
b. bagi pembaca
diharapkan dapat menabah wawasan dan pengetahuan mengenai perbandingan kapasitas yang terpakai muatan petikemas pada kapal container .
c. Bagi perusahaan
sebagai bahan masukan dan rekomendasi perbaikan bagi perusahaan tentang kapasitas terpakai muatan petikemas pada MV Hub Kuching dan MV Hub Bintulu serta permasalahan-permasalahan yang dihadapai serta kendala-kendalanya sehingga dapat meningkatkan kapasitas yang terpakai muatannya.

D. Metodologi penelitian
Dalam menyusun skripsi ini penulis menggunakan metode sebagai berikut :
1. metode pengumpulan data
a. penelitian lapangan
Adalah metode pengumpulan data primer yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan langsung di lokasi kegiatan tempat penelitian ini meliputi :
1) Wawancara (Interview)
Penulis mengadakan wawancara baik terhadap staf perusahaan yang berwenang, Nahkoda, Mualim I, Mualim lainnya di kapal tentang kegiatan dan pelaksanaan pemuatan, mencari data jumlah petikemas yang diangkut pada kedua kapal tersebut dan sejauh mana pengaruhnya terhadap kapasitas yang terpakai muatan petikemas di atas kapal.

2) Pengamatan (Observasi)
Yaitu penelitian yang dilakukan oleh penulis secara langsung terhadap kegiatan bongkar muat petikemas pada MV. Hub Kuching dan MV. Hub Bintulu di pelabuhan Port Kelang (West Malaysia) guna mendapatkan data yang diperlukan.
b. Penelitian Kepustakaan
Yaitu penelitian yang dilakukan oleh penulis untuk memperoleh data sekunder yang bersumber dari buku atau diktat yang penulis peroleh dari kapal, buku pelajaran, perpustakaan, situs-situs internet yang mana data tersebut relevan dengan penelitian yang penulis ambil.
2)Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang penulis lakukan adalah dengan menggunakan analisis parametrik kuantitatif komparatif dua sampel, yaitu independent sample t-test. Menurut (M. Hariwijaya; Triton P.B,2007), untuk menjawab hipotesis kuantitatif komparatif dua sampel, digunakan rumus :
X1 – X2
t =
(n1 – 1)S12 + (n2 – 1)S22
n1 + n2 – 2

Untuk menghitung S1 dan S2 berdasarkan table tertentu :

signifikasi ditentukan 5 % atau α = 0,05. Uji Independent Sample t – test merupakan uji dua sisi, oleh karena itu nilai α = 0,05 masih harus dibagi dua, maka α/2 = 0,025. Derajat kebebasan atau df = n1 + n2 – 2. Berdasarkan nilai α/2 dan df maka diperoleh batas nilai kritis t pada tabel.

Formulasi statistiknya sebagai berikut :
1. H0 : µ1 = m2
Ha : µ1 > m2
2. H0 : µ1 = m2
Ha : µ1 = m2
3. H0 : µ1 ≠ m2
H0 = hipotesis nol
Ha = Hipotesis alternatif
H0 : µ1 = µ2 (tidak beda)
Ha : µ1 ≠ µ2 ( beda )

E. Hipotesis
H0 = Tidak ada perbedaan kapasitas yang terpakai muatan petikemas antara
MV Hub Kuching dan MV Hub Bintulu.
Ha = Terdapat perbedaan kapasitas yang terpakai muatan petikemas antara
MV Hub Kuching dan MV Hub Bintulu.

F. Sistematika Penulisan
Di dalam penulisan skripsi ini penulis akan membagi kedalam 5 (lima) bab dan sub bab dengan maksud agar lebih memperjelas lagi pembahasan ini serta agar tidak terjadi kesimpangsiuran antara bab yang satu dengan bab yang lainnya. Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN
Bab ini penulis menguraikan latar belakang masalah, perumusan
masalah,tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian, hipotesis, dan sistematika penulisan skripsi.

BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini mengemukakan teori-teori yang berkaitan dengan objek penelitian, pengertian organisasi, pengertian manajemen, manajemen operasi, pengertian kapal, pengertian kapal petikemas, pengertian petikemas, jenis-jenis petikemas, pengertian Nahkoda dan anak buah kapal, pengertian stabilitas kapal dan pengertian kapasitas.

BAB III GAMBARAN UMUM HUB SHIPPING SDN BHD.MALAYSIA
Pada bab ini akan memberikan informasi tentang gambaran umum perusahaan, sejarah perusahaan, organisasi perusahaan, dan manajemen perusahaan.

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Didalam bab ini penulis akan mencoba menguraikan dan membahas mengenai analisis permasalahan yang ada dengan analisis permasalahan yang ada berdasarkan landasan teori pada bab II dalam kaitannya dengan kapasitas terpakai muatan petikemas MV Hub Kuching dan MV.Hub Bintulu berdasarkan analisisparametrik kuantitatif komparatif, yaitu dengan uji hipotesis komparatif dua sampel ( t-test dua sampel ) sesuai dengan rumus pada bab I.

BAB V PENUTUP
Merupakan bab terakhir dari penulisan skripsi yang terdiri dari kesimpulan dan saran-saran. Kesimpulan didapat dan di ambil dari rangkuman bab analisis dan pembahasan sedangkan untuk saran-saran di dapat dari hasil pembahasan pada bab 4.

BAB II
LANDASAN TEORI

Dalam melakukan analisis terhadap permasalahan di dalam skripsi ini di butuhkan teori – teori yang berhubungan dengan permasalahan yang ada, yang selanjutnya dijadikan sebagai landasan untuk menganalisis permasalahan sehingga di dapat suatu hasil pada pertimbangan – pertimbangan secara obyektif. Berikut penulis uraikan beberapa landasan teori yang terkait dalam penelitian.

A. Pengertian Manajemen
Manajemen sangatlah penting bagi suatu perusahaan, karena merupakan alat untuk mencapai tujuan yang diinginkan oleh perusahaan tersebut. Manajemen yang baik di suatu perusahaan akan memudahkan perusahaan tersebut untuk mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya oleh perusahaan, para pegawai dan masyarakat.
Dalam literature – literature banyak sekali pengertian atau batasan umum manajemen yang diberikan oleh para ahli sehingga dapat diperoleh pengertian dan pandangan yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, tergantung dari sudut mana para ahli tersebut memandangnya, meskipun pada hakekatnya pengertian tersebut mempunyai tujuan yang sama. Dalam kenyataannya tidak ada definisi yang telah diterima secara umum.
Manajemen banyak diartikan sebagai ilmu untuk mencapai suatu tujuan melalui kegiatan orang lain. Oleh karena itu makin bayak kita melibatkan orang dalam mencapai tujuan maka semakin besar pula peranan dari manajemen.
Menurut H. Malayu S.P Hasibuan (1995 : 1) : Manajemen berasal dari kata to manage yang berarti mengatur. Timbul pertanyaan tentang apa yang diatur, apa tujuannya diatur, mengapa harus diatur, siapa yang mengatur dan bagaimana mengaturnya.
1. Yang mengatur adalah semua unsur manajemen, yakni 6 M terdiri Man (manusia), Money (uang), Method (metode), Machine (mesin), Materials (perlengkapan) dan Market (pasar).
2. Tujuan diatur adalah agar ke-6 M tersebut lebih berdaya guna dan berhasil guna dalam mewujudkan tujuan perusahaan.
3. Harus diatur supaya 6 M tersebut brmanfaat optimal, terkoordinasi dan terintegrasi dengan baik dalam menunjang terwujudnya tujuan organisasi.
4. Yang mengatur adalah pimpinan, dengan kepemimpinannya yaitu pimpinan puncak, manajer madya dan supervise.
5. Mengaturnya adalah dengan melakukan kegiatan urut – urutan fungsi manajemen tersebut.
Menurut Hananto Soewedo dan Engkos Kosasih (2007:6-7) : sarana manajemen agar mencapai sasarannya, diperlukan alat manajemen yang dikenal dengan 7 M, yaitu :
1. Man, yaitu orang yang mengelola manajemen.
2. Money, yaitu uang atau dana yang diperlukan untuk membiayai operasi dan investasi.
3. Method, yaitu cara untuk mencapai tujuan.
4. Material, yaitu bahan – bahan yang diperlukan.
5. Machines, yaitu mesin atau perlatan untuk proses produksi serta alat kantor, computer, dan sebagainya.
6. Market, yaitu pasar untuk menyalurkan hasil produksi.
7. MIS (Management Information System), yaitu system informasi yang sangat diperlukan untuk pengambilan keputusan.
Fungsi – fungsi manajemen mencakup fungsi – fungsi : Planning (perencanaan), Oganizing (pengorganisasian), Actuating (penggerakan), Controlling (pengawasan dan pengendalian).
Menurut H. Malayu S.P Hasibuan (1995 : 53) : Manajemen adalah ilmu dan seni yang mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapau suatu tujuan tertentu.
Dari pendapat para ahli tersebut di atas, dapat di ambil kesimpulan bahwa manajemen itu mengandung pengertian sebagai berikut :
1. Manajemen adalah suatu keterampilan dalam menjalankan usaha untuk mencapai suatu tujuan.
Dalam usaha untuk mencapai suatu tujuan tentunya diperlukan suatu kemampuan untuk mencapainya, yakni keterampilan untuk menjalankan kegiatan itu.
Seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan teknis tentang kegiatannya, agar dengan pengetahuannya itu ia dapat memberikan bimbingan secara langsung pada setiap pelaksanaan kegiatannya, sehingga tujuan yang ingin dicapai dapat terlaksana secara efisien dan efektif.
2. Manajemen adalah suatu proses aktivitas dalam usaha melaksanakan kegiatan untuk mencapai suatu tujuan.
Manajemen dikatakan sebagai suatu proses, sebab pada kenyataannya kegiatan tersebut merupakan rangkaian dan tahapan kegiatan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan tindakan perencanaan yang matang, perlu diambil terlebih dahulu agar semua langkah yang akan dilaksanakan nantinya akan benar – benar terarah dan tepat.
3. Manajemen adalah suatu pengarahan tenaga kerja dan pikiran orang lain dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuannya.
Pada dasarnya kegiatan manajemen tidak melakukan semua kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah direncanakannya. Tenaga dan pikiran orang lain dikerahkan dan digerakkan dalam suatu kerjasama yang terpadu untuk melaksanakan pekerjannya.
Disini manajemen sebagai suatu koordinasi anggota dalam kelompok yang telah dibentuk untuk melakukan kegiatan teringterasi. Dalam pengertian tersebut juga mengandung maksud memberikan motivasi, pengarahan, pembimbingan dan dorongan kepada setiap para anggota.

B. Pengertian Manajemen Operasi
Kegiatan manajemen operasi dan produksi tidak hanya menyangkut pemprosesan berbagai barang. Tetapi manajemen operasi dan produksi juga melaksanakan kegiatan produksi dalam organisasi – organisasi yang menyediakan berbagai bentuk jasa, seperti pada bisnis asuransi, perhotelan, perbankan, transportasi dan lain sebagainya.
Manajemen produksi merupakan usaha – usaha pengelolaan sumber daya manusia, mesin – mesin, peralatan, bahan mentah dan sebagainya. Para pimpinan atau manajer operasi mengarahkan berbagai masukan (input) agar dapat memproduksi berbagai keluaran (output) dalam jumlah, kualitas, harga, waktu dan tempat tertentu sesuai dengan permintaan konsumen. Dengan memperhatikan factor – factor kekuatan – kekuatan dari luar, seperti peraturan pemerintah, tuntutan pekerja, kondisi ekonomi local, nasional, dan internasional; kemajuan teknologi; dan lain sebagainya.
Menurut Chase, RB., dan Aquilan (2000 : 8) bahwa : manajemen operasi didefinisikan sebagai pelaksanaan kegiatan – kegiatan manajerial yang dibawakan dalam pemilihan, perancangan, pengoperasian dan pengawasan system – system produktif.
Dimana kegiatan – kegiatan manajerial tersebut diuraikan sebagai berikut :
1. Pengawasan : Prosedur – prosedur yang menyangkut pengambilan tindakan korektif dalam operasi – operasi produksi barang atau penyediaan jasa.
2. Pembaharuan : Impelementasi perbaikan – perbaikan yang diperlukan dalam system produktif berdasarkan perubahan – perubahan permintaan, tujuan – tujuan organisasi, teknologi dan manajemen.
3. Pemilihan : keputusan strategik yang menyangkut pemilihan proses melalui mana berbagai barang atau jasa akan diproduksi atau disediakan.
4. Perancangan : Keputusan – keputusan taktikal yang menyangkut kreasi – kreasi metode pelaksanaan suatu operasi produktif.
5. Pengoperasian : Keputusan – keputusan perencanaan tingkat keluaran jangka panjang atau dasar forecast permintaan dan keputusan – keputusan scheduling pekerjaan dan pengalokasian karyawan jangka pendek.
Menurut T. Hani Handoko (2000 : 6) : Manajemen produksi dan operasi sebagai system – system transformasi yang mengubah masukan – masukan menjadi barang – barang dan jasa – jasa.
Sofyan Assauri (1980 : 7) : Manajemen produksi adalah kegiatan untuk mengatur agar dapat menciptakan dan menambah kegunaan (utility) sesuatu barang atau jasa.
Menurut Heizer, Jay dan Render, Bary (2005 : 4) : Manajemen operasi adalah kegiatan yang berhubungan dengan penciptaan barang dan jasa melalui adanya pengubahan input menjadi output.
Dimana produksi merupakan proses penciptaan barang dan jasa, dan organisasi untuk menghasilkan barang dan jasa terdiri atas :
1. Produksi dan operasi
2. Pemasaran
3. Keuangan dan akutansi
Dari pendapat para ahli tersebut di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa manajemen produksi dan operasi mengandung pengertian sebagai berikut :
1. Manajemen produksi dan operasi sebagai manajemen – system – system transformasi yang mengubah masukan – masukan menjadi barang – barang dan jasa – jasa.
Masukan – masukan tadi dirubah melalui usaha – usaha pengelolaan atau proses untuk menghasilkan suatu produk barang atau jasa sesuai permintaan konsumen.
2. Manajemen produksi adalah suatu pelaksanaan kegiatan – kegiatan manajerial yang dibawakan dalam pemilihan, perancangan, pembaharuan, pengoperasia dan pengawasan system – system produktif.
3. Manajemen operasi adalah kegiatan yang berhubungan dengan penciptaan barang dan jasa melalui adanya pengubahan input menjadi output.
Dalam menciptakan barang dan jasa tersebut dilakukan proses sumber daya manusia, mesin – mesin, peralatan, bahan mentah dan sebagainya. Serta diarahkan oleh manajer operasi sehingga input tadi dapat diproduksi menjadi output sesuai keinginan dan harapan manajemen dan masyarakat.

C. Pengertian Kapasitas, Kapasitas Terpakai, Stabilitas dan Muatan
Menurut Wikipedia, Ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia : Kapasitas dari bahasa Belanda, Capaciteit adalah daya tampung, daya serap, ruang atau fasilitas yang tersedia,kemampuan (maksimal). (Wikimedia, Ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, http://id.wikipedia.org/wiki/kapasitas, 2007).
Menurut diktat Penanganan dan Pengaturan Muatan, BP3IP (2003 : 42) : Kapasitas terpakai atau kapasitas terangkut (loaded cargo capacity), adalah jumlah muatan dalam satuan berat, unit atau volume yang dimuat di atas kapal baik dalam bentuk muatan umum (general cargo), kemasan, maupun curah (kering atau cair).
Menurut Istopo (2001 : 47) : “Stabilitas ialah kecenderungan kapal untuk kembali ke kedudukan semula setelah sengat (miring)yang disebabkan oleh gaya luar”.
Menurut Sudjatmiko (1985 : 65) : Muatan adalah segala macam barang dan dagangan (goods and merchandise) yang diserahkan kepada pengangkut untuk diangkut dengan kapal, guna diserahkan kepada orang atau badan hukum dipelabuhan tujuannya.

D. Pengertian Petikemas (Container)
Petikemas sebagai salah satu sarana pengangkutan barang, saat ini dirasakan sangat penting khususnya bagi kalangan pelayaran nasional maupun internasional. Hal ini tak lepas dari kemampuan muat bongkar yang tinggi dan cepat serta pengeluaran biaya tenaga kerja yang rendah sehingga frekuensi pelayaran menjadi meningkat, produktifitas angkutan menjadi lebih tinggi dan biaya operasional pelayaran dapat dikurangi.
“Container adalah system pengangkutan menggunakan petikemas”. (Abbas Salim, 1993 : 134).
Menurut Amir M.S (1997 : 6) : Petikemas adalah peti yang terbuat dari logam yang memuat barang – barang yang lazim disebut muatan umum (general cargo) yang akan dikirimkan melalui laut.
Menurut Sudjatmiko (1985 : 14) : “Container adalah peti besar yang terbuat dari kerangka baja dengan dinding aluminium atau lembaran baja ekstrusi”.
Menurut R.P.Suyono (2005 : 263) : Petikemas (container) adalah satu kemasan yang dirancang secara khusus dengan ukuran tertentu, dapat dipakai berulang kali, dipergunakan untuk menyimpan dan sekaligus mengangkut muatan yang ada di dalamnya.
Ukuran petikemas sesuai dengan badan International Standart Organization (ISO) adalah sebagai berikut :

Table II.1
Ukuran – ukuran Container

Type
Kode Tinggi
Bagian Lebar
Bagian Dalam Panjang
Luar Berat Kotor
Maksimum Kapasitas
M Ft.in M Ft.in M Ft.in Kg Lb M3 Ft3
1-A
1-AA
1-B
1-BB
1-C
1-CC
1-D
1-E
1-F 2,438
2,591
2,438
2,591
2,438
2,591
2,438
2,438
2,438 8-00
8-00
8-00
8-00
8-00
8-00
8-00
8-00
8-00 2,438
2,438
2,438
2,438
2,438
2,438
2,438
2,438
2,438 8-00
8-00
8-00
8-00
8-00
8-00
8-00
8-00
8-00 12
12
9
9
6
6
3
2
1,5 40-00
40-00
30-00
30-00
20-00
20-00
10-00
6-08
5-00 30480
30480
25400
25400
20320
20320
10160
7110
5080 67200
67200
56000
56000
44800
44800
22400
15700
11200 61,4
65,7
45,7
48,9
30,0
30,0
14,3
9,1
6,5 2167,5
2317,5
1613,5
1725,4
1060,1
1060,1
506,2
321,6
320,0

Sumber : Amir M.S, Petikemas; Masalah dan Aplikasinya, 1997 dan diolah oleh penulis.

Jenis – jenis Petikemas :
1) General cargo container, yaitu yang dipakai untuk pengangkutan muatan umum, terdiri atas :
a. General purpose container
b. Open – side container
c. Open – top container
d. Ventilated container
2) Thermal, yaitu petikemas yang dilengkapi dengan suhu untuk muatan tertentu, terdiri atas :
a. Insulated container
b. Reefer container
c. Heatde container
3) Tank, adalah tangki yang ditempatkan dalam kerangka petikemas yang dipergunakan untuk muatan cair (bulk liquid) maupun gas (bulk gas).
4) Dry bulk, adalah general purpose container yang dipergunakan khusus untuk mengangkut muatan curah (bulk cargo).
5) Platform, adalah petikemas yang terdiri dari lantai dasar. Petikemas yang termasuk jenis ini adalah :
a. Flat rack container, adalah petikemas yang terdiri dari lantai dasar dengan dinding pada ujungnya. Flat rack terbagi atas :
1) Fixed end type; dinding pada ujungnya tidak dapat di buka atau lipat.
2) Collapsible type; dinding pada ujungnya dapat dilipat, agar menghemat ruangan saat diangkut dalam keadaan kosong.
b. Platform based container, adalah petikemas yang hanya terdiri dari lantai dasar saja dan apabila diperlukan, dapat dipasang dinding.
6) Specials container, adalah petikemas yang khusus dibuat untuk muatan tertentu, seperti petikemas untuk muatan ternak (Cattle container) atau muatan kendaraan (car container).
Container (petikemas) yang dimuat bisa ukuran 20 feet (Teu = twenty equivalent unit) dengan kapasitas + 18 ton, 40 feet (Feu = fourty equivalent unit)dengan kapasitas + 27 ton muatan, bahkan sekarang sudah berkembang sampai ukuran 35, 45 dan 55 feet.

E. Pengertian Kapal
Menurut kitab Undang – undang Hukum Dagang Republik Indonesia 1847 buku II Pasal 309 (2006 ; 2) : Kapal adalah semua alat yang berlayar, bagaimanapun namanya dan apa pun sifatnya. Kecuali bila ditentukan lain, atau diadakan perjanjian lain, dianggap bahwa kapal itu meliputi perlengkapan kapalnya.
Menurut pasal 310 Kitab Undang – undang Hukum Dagang Republik Indonesia 1847 buku II (2006 : 60) : “Kapal laut adalah semua kapal yang digunakan untuk pelayaran di laut atau diperuntukkan untuk itu”.
Menurut UU No. 21 tahun 1992 pasal 1 butir 2 tentang pelayaran (2006 : 2) : Kapal adalah semua perahu dengan apapun dan dari macam apapun, yang digerakkan dengan tenaga mekanik, tenaga angin atau tunda termasuk kendaraan yang di bawah permukaan air serta apung dan bangunan terapung yang tidak berpindah – pindah.
Menurut COLREG 1972 (Collision Regulation 1972) (2003 : 6) aturan 3a adalah : Kata “Kapal” mencakup setiap jenis kendaraan air, termasuk kapal tanpa benaman (Displacement) dan pesawat terbang laut, yang digunakan atau dapat digunakan sebagai sarana angkutan di air.
Menurut Sudjatmiko (1985 : 14) mendefinisikan kapal sebagai berikut : Yang dimaksud dengan kapal barang ini adalah kapal yang di bangun khusus untuk tujuan mengangkut barang – barang menurut jenis barang masing – masing.
Menurut Wikipedia, Ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia kapal adalah : Seperti sampan atau perahu, merupakan suatu kendaraan yang dibuat untuk lautan atau pengangkutan merintang air. (Wikimedia. Ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, http://id.wikipedia.org/wiki/kapal, 2007).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia : “Kapal adalah kendaraan pengangkut penumpang dan barang di laut (sungai dan sebagainya)”. (R.P.Suyono,2005 : 115)
Jenis – Jenis kapal niaga menurut Hananto Soewedo dan Engkos Kosasih (2007 : 14-18) adalah :
1. Kapal barang (Cargo Vessel), sering juga disebut kapal konvensional.
Beradasrakan jenis muatannya kapal barang dapat dibedakan menjadi tujuh jenis berikut :
a. General Cargo Carrier, untuk mengangkut muatan umum (general cargo) yaitu muatan yang terdiri dari bermacam – macam barang dalam bentuk potongan maupun yang dibungkus, dalam peti, keranjang, dan lain – lain.
b. Bulk Cargo Carrier, untuk mengangkut muatan curah dengan jumlah banyak dalam sekali jalan. Bentuk muatan biasanya berbutir – butir (grain cargo, seperti beras, gandum, biji besi, batu bara dan sebagainya.
c. Kapal Tanker, untuk mengangkut muatan cair.
d. Combination Carrier, kombinasi kapal tanker dan dry bulk.
e. Offshore Supply Ship, untuk mengangkut bahan atau peralatan, makanan, dan lain – lain untuk anjungan.
f. Special Designed Ship, kapal yang khusus dibangun untuk muatan tertentu, seperti daging, LNG, misalnya refrigerated cargo carrier, liquefied gas carrier dan lain sebagainya.
g. Kapal Container atau kapal cellular container, untuk mengangkut muatan general cargo yang dimasukkan kedalam container atau muatan – muatan yang perlu dibekukan dalam reefer container.
Jenis kapal container adalah sebagai berikut :
1) Kapal container biasa
2) Roll – on Roll – off
3) LASH (Lighter Aboard Ship)
4) FLASH ( Feeder Lighter Aboard Ship)
5) Sea Bee atau Sea Train
Menurut Amir M.S (1997 : 7) : Kapal petikemas (cellular ships) yaitu kapal – kapal khusus yang mempunyai rongga (cells) untuk menyimpan petikemas yang berukuran standar, yang dapat dimuat dan dibongkar dengan cepat, baik dengan menggunakan mesin-mesin Derek dermaga ataupun menggunakan mesin Derek kapal itu sendiri.
Menurut Wikipedia, Ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia : Kapal container adalah kapal barang yang khusus untuk mengangkut barang yang sudah dikemas dalam petikemas. (Wikimedia, Ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, http://id.wikipedia.org/wiki/kapal_kontainer,2007)
Menurut Sudjatmiko (1985 : 14) : Kapal petikemas (container vessel) adalah kapal yang dibangun untuk mengangkut muatan yang sudah dimasukkan kedalam container (petikemas).
2. Panamax Class, ukuran kapal terbesar yang dapat melalui Terusan Panama (60.000 DWT), dengan lebar maksimum 32 m.
3. Kapal Penelitian atau Perambuan, untuk fungsi pemetaan, hidrografi, oceangrafi, seismografi, dan melakukan penelitian di laut.
4. Kapal Penumpang (Passenger Vessel), kapal ini digunakan khusus untuk mengangkut penumpang.
5. Kapal Barang Penumpang (Cargo-Passenger Vessel), jenis kapal ini digunakan untuk mengangkut penumpang dan barang secara bersama – sama.
6. Kapal barang dengan akomodasi penumpang terbatas, ini merupakan kapal biasa (general cargo atau bulk carrier). Tetapi diizinkan membawa penumpang maksimum 12 orang.

F. Pengertian Kelaiklautan Kapal (Sea Worthiness), voyage (perjalanan), Deviasi (Skip) dan Liner Service.
Menurut UU No. 21 tahun 1992 pasal 1 butir 10 (2006 : 2) tentang pelayaran Kelaiklautan kapal adalah : keadaan kapal yang memenuhi persyaratan keselamatan kapal, pencegahan pencemaran perairan dari kapal, pengawakan, pemuatan, kesehatan dan kesejahteraan awak kapal, serta penumpang dan status hukum kapal untuk berlayar di perairan tertentu.
Menurut Hananto Soewedo dan Engkos Kosasih (2007 : 71) : Voyage adalah perjalanan kapal dari satu pelabuhan ke beberapa pelabuhan.lainnya atau dari satu pelabuhan ke beberapa pelabuhan.
Menurut Keputusan Menteri Perhubungan nomor : KM. 33 tahun 2001 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan Angkutan Laut : Devisi (skip) adalah penyimpangan trayek kepelabuhan lain diluar pelabuhan wajib singgah yang ditetapkan dalam jaringan trayeknya.
Menurut Sudjatmiko (1985 : 54) : Liner service (pelayaran tetap) yaitu pelayaran yang dijalankan secara tetap dan teratur, baik dalam hal keberangkatan maupun kedatangan kapal di pelabuhan, dalam hal trayek (wilayah operasi), dalam hal tarif angkutan serta dalam hal syarat – syarat dan perjanjian pengangkutan.

G. Pengertian Nakhoda, Perwira Kapal dan Anak Buah Kapal (ABK)
Menurut UU No. 21 tahun 1992 (2006 : 3) : pasal 1 butir 12 tentang pelayaran Nakhoda kapal : adalah salah seorang dari awak kapal yang menjadi pimpinan umum di atas dan mempunyai wewenang dan tanggung jawab tertentu sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku.
Menurut STCW 1995 Amandemen 1978 bab I peraturan 1.3 (2000 : 23) : “Master (Nakhoda) berarti orang yang memegang komando sebuah kapal”.
Menurut STCW 1995 Amandemen 1978 bab I peraturan 1.4 : Officer (perwira) berarti seorang awak kapal yang bukan nakhoda, yang ditentukan oleh hukum nasional atau oleh peraturan yang ada, atau jika tidak ada penentuan semacam tersebut ditentukan melalui kesepakatan bersama atau kebiasaan. (STCW 1995, 2000 : 23).
Menurut pasal 341 Kitab Undang – undang Hukum Dagang Republik Indonesia 1847 buku II (2006 : 68) : “Perwira kapal adalah anak buah kapal yang oleh daftar anak buah kapal diberi pangkat Perwira”.
Menurut UU No. 21 tahun 1992 pasal 1 butir 14 (2006 : 3) tentang pelayaran : “Anak buah kapal adalah awak kapal selain nakhoda atau pemimpin kapal”.
“Rating (bawahan) berarti seorang awak kapal yang bukan nakhoda dan juga bukan perwira”. (STCW 1995 , 2000 : 23).

sukirman stmt bp3ip

July 15, 2009

NAMA : SUKIRMAN
NIM : 244308051
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan prasyarat untuk mencapai tujuan pembangunan. Salah satu wahana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia tersebut adalah pendidikan, sehingga kualitas pendidikan harus senantiasa ditingkatkan. Sebagai faktor penentu keberhasilan pembangunan, pada tepatnyalah kualitas SDM ditingkatkan melalui berbagai program pelatihan yang dilaksanakan secara sistematis dan terarah berdasarkan kepentingan yang mengacu pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilandasi oleh keimanan dan ketakwaan.
Ilmu pengetahuan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan suatu bangsa, dan merupakan wahana dalam menerjemahkan pesan- pesan konstitusi serta sarana dalam membangun watak bangsa. Masyarakat yang cerdas akan memberi nuansa kehidupan yang cerdas pula, dan secara progresif akan membentuk kemandirian. Masyarakat bangsa yang demikian merupakan investasi besar untuk berjuang keluar dari krisis dan menghadapi dunia global.
Manajemen sumber daya manusia sebagai bagian integral dari manajemen, yang khusus mempelajari dan meneliti hubungan manusia sebagai pribadi anggota organisasi dengan organisasi itu sendiri, serta peranan manusia di dalam organisasi dalam upaya mewujudkan tujuan organisasi, sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerja dalam organisasi, agar memberikan kontribusi secara etis dan sosial. Keberhasilan manajemen sumber daya manusia akan dapat terlaksana dengan baik jika terdapat pemeliharaan hubungan yang kontinyu dan serasi antara pimpinan dan bawahan. Sehingga agar dapat tercipta hubungan kerja yang baik diperlukan tindakan motivasi kerja bagi karyawan tersebut.
PT Baruna Raya Logistic adalah salah satu perusahaan pelayaran nasional. Dimana perusahaan tersebut telah ikut meramaikan perusahaan pelayaran di Jakarta. Perusahaan PT Baruna Raya Logistic didirikan dengan modal perorangan. PT Baruna Raya Logistic bergerak dalam bidang : Armada atau kepemilikan kapal dan Agent kapal.
Disinilah perlunya pemberian motivasi bagi awak kapal untuk meningkatkan kinerja. Kinerja awak kapal pada dasarnya terletak pada semangat kerja yang dimiliki awak kapal tersebut. Baik dan buruknya semangat kerja sangat tergantung pada motivasi yang dimiliki oleh awak kapal itu sendiri. Motivasi inilah yang mendorong timbulnya semangat kerja yang maksimal. Motivasi dan kinerja awak kapal, dalam prakteknya sangat dipengaruhi oleh berbagai hal, antara lain kondisi kantor, fasilitas, suasana kerja, hubungan atasan bawahan dan kesejahteraan. Hal itu sangat menentukan keberhasilan kerja serta peningkatan gairah dan semangat kerja sebagai diisyaratkan oleh manajemen modern.
Motivasi kerja dalam memberi pelayanan kepada pelanggan, mendorong untuk bekerja penuh gairah dan semangat yang tinggi, sehingga memungkinkan terciptanya kinerja optimal. Pada akhirnya dapat memberi keuntungan pada semua pihak, baik pelanggan, masyarakat, perusahaan dan awak kapal sendiri.
Pimpinan juga harus peka terhadap motivasi tersebut, agar dapat mengambil suatu kebijaksanaan yang tepat dalam menunjang keberhasilan sebagai perusahaan pelayaran. Demikianlah pentingnya motivasi kerja terhadap kinerja awak kapal di PT. Baruna Raya Logistic. Oleh karena itu perlu diteliti dengan judul skripsi PENGARUH MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA AWAK KAPAL DI PT. BARUNA RAYA LOGISTIC PADA SV. PARKIT TAHUN 2008.

B. Perumusan Masalah
1. Identifikasi Permasalahan
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka dapat dibuat identifikasi permasalahan masalah penelitian sebagai berikut:
a. Bagaimana penerapan motivasi kerja dan kinerja awak kapal di PT Baruna Raya Logistic pada SV. Parkit tahun 2008 ?
b. Berapa besar motivasi kerja di PT Baruna Raya Logistic pada SV. Parkit tahun 2008 ?
c. Berapa besar kinerja awak kapal di PT Baruna Raya Logistic pada SV. Parkit tahun 2008 ?
d. Berapa besar pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja awak kapal di PT Baruna Raya Logistic pada SV. Parkit tahun 2008 ?
e. Apakah terdapat pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja awak kapal di PT Baruna Raya Logistic pada SV. Parkit tahun 2008 ?

2. Pembatasan Masalah
Sebagai dampak dari pelaksanaan motivasi kerja akan berdampak positif, diantaranya kenyamanan karyawan dalam bekerja dan rasa profesional yang tinggi, dengan demikian kinerja awak kapal akan tinggi dan tujuan perusahaan akan bisa tercapai secara maksimal. Merujuk uraian di atas maka peneliti membatasi penelitiannya pada “PENGARUH MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA AWAK KAPAL DI PT. BARUNA RAYA LOGISTIC PADA SV. PARKIT TAHUN 2008”.
3. Pokok Masalah
Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan pokok masalah sebagai berikut berikut
a. Bagaimana motivasi kerja awak kapal di PT Baruna Raya Logistic pada SV. Parkit tahun 2008 ?
b. Bagaimanar kinerja awak kapal di PT Baruna Raya Logistic pada SV. Parkit tahun 2008 ?
c. Apakah terdapat pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja awak kapal di PT Baruna Raya Logistic pada SV. Parkit tahun 2008 ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui motivasi kerja awak kapal di PT Baruna Raya Logistic pada SV. Parkit tahun 2008.
b. Untuk mengetahui kinerja awak kapal di PT Baruna Raya Logistic pada SV. Parkit tahun 2008.
c. Untuk menganalisis apakah terdapat pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja awak kapal di PT Baruna Raya Logistic pada SV. Parkit tahun 2008.
2. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini memberikan beberapa manfaat antara lain bagi:
a. Bagi penulis, penelitian ini berguna sebagai masukan dan menambah pengetahuan tentang motivasi kerja yang diterapkan pada perusahaan yang bersangkutan.
b. Bagi pihak akademis, penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah perpustakaan khususnya mengenai motivasi kerja.
c. Bagi perusahaan, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan / sumbang saran bagi perusahaan untuk meningkatkan kinerja awak kapal.
d. Bagi masyarakat, memberikan gambaran kepada masyarakat luas bahwa PT Baruna Raya Logistic telah melaksanakan motivasi kerja dan kinerja awak kapal

D. Hipotesis
Hipotesis merupakan kesimpulan sementara dari suatu penelitian. Adapun hipotesis dalam penelitian ini penulis berpendapat bahwa “terdapat pengaruh yang signifikan motivasi kerja terhadap kinerja awak kapal di PT Baruna Raya Logistic pada SV. Parkit tahun 2008”

E. Metodologi Penelitian
1. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan :
a. Riset Kepustakaan
Penelitian kepustakaan ini dilakukan dengan cara mengambil literarur berbagai buku yang berhubungan dengan masalah yang akan dibahas untuk mendapatkan teori dan definisi yang dapat dipergunakan dalam penelitian ini.
b. Riset Lapangan
Penelitian yang dilakukan langsung ke objeknya yaitu PT Baruna Raya Logistic guna memperoleh data yang dibutuhkan melalui dua cara :
1) Wawancara, yaitu bertanya jawab langsung dan lisan dengan pihak yang bersangkutan.
2) Observasi, yaitu memperoleh data atau bahan dengan melakukan pengamatan dan pencatatan secara teliti mengenai permasalahan yang akan diteliti.
c. Kuesioner
Kuesioner dilakukan terhadap 30 responden dengan mengharapkan jawaban atas 10 pertanyaan yang diajukan oleh penulis, dimana kisi-kisi instrumennya dapat dilihat pada table I.1 pada halaman 7.
2. Variabel, Dimensi dan Indikator Penelitian
Berikut variabel, dimensi dan indikator penelitian yang digunakan dalam kuesioner :
a. Motivasi Kerja
Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya dan potensi bawahan agar mau bekerja sama secara produktif berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan. Konsep ini diukur dengan sejumlah pernyataan yang berkaitan dengan motivasi kerja dengan 10 pernyataan.

b. Kinerja Karyawan
Adalah perbandingan antara hasil yang dicapai dengan peran serta tenaga kerja persatuan waktu. Konsep ini diukur dengan sejumlah pernyataan yang berkaitan dengan kinerja dengan 10 pernyataan
Tabel I.1
Kisi-kisi Instrumen (Hubungan variabel, dimensi dan indikator)

Variabel Definisi Indikator

X

Motivasi Kerja Bagaimana caranya mengarahkan daya dan potensi bawahan agar mau bekerja sama secara produktif berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan 1. Asas mengikutsertakan
2. Asas Komunikasi
3. Asas Pengakuan
4. Wewenang yang didelegasikan
5. Perhatian timbal balik

Y

Kinerja Perbandingan antara hasil yang dicapai dengan peran serta tenaga kerja persatuan waktu. 1. Kompensasi
2. Hubungan antar tenaga kerja dan pimpinan
3. Keahlian
4. Tingkat keterampilan
5. Sikap kerja

Penelitian ini akan diukur dengan menggunakan skala likert dalam bentuk check list () yaitu skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang. Dalam penelitian ini, untuk mengetahui dan menilai sikap responden tentang motivasi kerja dengan kinerja awak kapal. Jawaban dari pernyataan responden (kualitatif) diubah menjadi kuantitas berupa angka skor, seperti tabelberikut ini :

Tabel II.2
Ketentuan Pengukuran Instrumen Penelitian

Pernyataan
Skor
Sangat Setuju 5
Setuju 4
Ragu-ragu 3
Tidak Setuju 2
Sangat Tidak Setuju 1

3. Metode Analisis Data
a. Pengolahan data
Setelah mendapatkan data, maka langkah selanjutnya adalah mengolah data tersebut dan siap untuk disajikan atau dibuat, sedangkan disini peneliti menggunakan cara pengolahan data secara manual dan SPSS (Statistial package for the social sciences) Ver. 15.00 untuk menghitung nilai statistik berupa regresi linier sederhana, koefisien korelasi, koefisien determinasi dan uji hipotesis dengan menggunakan uji t.
b. Penyajian Data
Rencana penyajian data adalah dalam bentuk tabel untuk mempermudah perhitungan dan pemahaman dalam meneliti.
c. Analisis Statistik Data
Pengolahan data yang baik adalah menggunakan komputer yaitu dengan program SPSS Ver. 15.00. Dimana dengan harapan tidak terjadi tingkat kesalahan yang besar serta teknik manual yang digunakan mengingat tidak semuanya data dapat diolah dengan menggunakan komputer tetapi dengan perantara manual data baru bisa diinput dengan komputer. Setelah data diolah kemudian terjadi hasil atau output dari perkalian, penjumlahan, pembagian, pengakaran, pemangkatan, serta pengurangan. Hasil yang diolah disajikan dalam bentuk tabel dimaksudkan agar penyajian dapat dibaca dengan mudah dan mudah dipahami. Instrumen yang diadopsi dalam studi ini bertujuan untuk mendapatkan aktivitas responden, hal ini dilakukan dengan bantuan 5 titik skala Likert. Penggunaan skala ini dapat dipertahankan dalam bentuk validitas dan reliabilitas dengan skore Cronbach Alpha yang melebihi 0.60 menunjukkan diterimanya tingkat reliabilitas.
1) Uji Validitas
Pengujian dengan SPSS yang pertama dilakukan adalah uji validitas. Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Pengujian validitas dilakukan dengan teknik analisis faktor yaitu menguji apakah butir-butir pernyataan yang digunakan dapat mengkonfirmasi sebuah faktor atau variabel konstruk.
Instrumen penelitian yang telah dibuat disebarkan kepada 32 responden sebagai sampel penelitian. Instrumen penelitian dikatakan valid (akurat), dengan kata lain instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur untuk penelitian, jika memiliki nilai validitas besar atau sama dengan 0,30 dan sebaliknya jika nilai validitas lebih kecil dari 0,30 maka penelitian dikatakan tidak valid. Menurut Sugiyono dan Wibowo (2004) ketentuan validitas instrument sahih apabila r hitung lebih besar dari r kritis (0,30). Suyuthi (2005), item pernyataan atau pernyataan dinyatakan valid jika mempunyai nilai r hitung yang lebih besar dari r standar yaitu 0,3. Sugiyono (2004), bila korelasi tiap faktor positif dan besarnya 0,3 ke atas maka faktor tersebut merupakan construct yang kuat.
Uji validitas ini menunjukkan suatu tingkat kemampuan dari alat pengukuran agar dapat mengungkapkan yang menjadi sasaran pokok pengukuran dan semakin tinggi nilainya semakin baik. Pengujian validitas ditujukan kepada sampel yang berada dalam populasi tersebut, yaitu dengan menghitung nilai korelasi antara skor setiap item dengan total item. Teknik korelasi yang digunakan adalah skor korelasi Rank Spearman (Arief Prastito, 2005:241-257), yaitu:

Dalam hal ini: rs = Koefisien Korelasi Rank Spearman
d = Selisih dari pasangan rank ke-1
n = Banyaknya pasangan rank
Langkah dalam menguji validitas:
a. Menentukan hipotesis.
H0 = Skor butir berkorelasi positif dengan skor faktor.
H1 = Skor butir tidak berkorelasi positif dengan skor faktor.
b. Menentukan nilai 
Dengan tingkat signifikansi 5% maka yang digunakan untuk pembanding adalah 0,30
c. Mencari rhasil
Melalui program SPSS 15.00 for Windows rhasil untuk tiap item (variabel) bisa dilihat pada kolom Corrected Item Total Correlation.
d. Mengambil keputusan
Dasar pengambilan keputusan:
1) Jika rhasil positif, serta rhasil > 0,30 maka butir atau variabel tersebut valid.
2) Jika rhasil tidak positif, dan rhasil 0,60, maka butir atau variabel tersebut reliabel.
Jika ralpha tidak positif atau ralpha 0,20 s/d 0,40
> 0,40 s/d 0,60
> 0,60 s/d 0,80
> 0,80 s/d 1,00 Kurang reliable
Agak reliable
Cukup reliable
Reliabel
Sangat reliabel
Sumber : Triton (2006:248)
Oleh karena kuesioner telah dinyatakan valid dan reliabel maka kuesioner tersebut layak untuk dilanjutkan analisisnya.
3) Analisis Regresi Linear Sederhana
Digunakan untuk mengetahui perubahan pengaruh antara variabel bebas (X) terhadap variabel terikat Y, dimana variabel terikat adalah motivasi kerja sedangkan variabel bebas adalah kinerja awak kapal. Adapun analisis persamaan regresi adalah sebagai berikut :
Ŷ = a + bX
Keterangan :
Ŷ = Subyek dalam variabel dependen yang diprediksikan  Y (Variabel terikat)
a = Nilai intercept
b = Koefisien regresi
X = Variabel bebas
Dimana nilai a dan b diperoleh dengan rumus :
b = dan
Keterangan : n = Jumlah data
4) Analisis Koefisien Korelasi
Digunakan untuk mengetahui tingkat keeratan hubungan antara variabel terikat (motivasi kerja) dan variabel bebas (kinerja awak kapal). Analisis ini mempunyai bentuk persamaan sebagai berikut :
r =
Keterangan :
r = Multiple R
X = Nilai untuk variabel bebas
Y = Nilai untuk variabel terikat
= Jumlah nilai dalam sebaran X
= Jumlah nilai dalam sebaran Y
= Jumlah hasil perkalian X dan Y yang berpasangan
= Jumlah nilai yang dikuadratkan selama sebaran
= Jumlah nilai yang dikuadradkan dalam sebaran Y
n = Banyaknya data
Korelasi linear sederhana (r) dapat dianggap sebagai pengukuran yang berguna tentang hubungan antar variabel X dan variabel Y dengan ketentuan :
1) Bila r = 1 atau mendekati 1, maka hubungan antara variabel (X) dan variabel (Y) adalah kuat dan searah dalam arti bahwa kenaikan atau penurunan variabel (X) terjadi bersama-sama dengan kenaikan atau penurunan variabel (Y).
2) Bila r = 0 , maka hubungan antara variabel (X) dan variabel (Y) adalah tidak ada atau dapat dikatakan lemah, maka dengan demikian dapat dikatakan pula antara variabel (X) dan variabel (Y) tidak ada hubungan.
3) Bila r = -1 atau mendekati 1, maka hubungan antara variabel (X) dan variabel (Y) mempunyai bungan yang kuat tetapi positif, artinya jika variabel (X) naik, maka variabel (Y) akan turun dan sebaliknya jika variabel (X) turun, maka variabel (Y) akan naik
Tabel I.4
Pedoman untuk memberikan interpretasi
Koefisien korelasi

Interval koefisien Tingkat hubungan
0,00-0,19 Sangat lamah
0,20-0,39 Lemah
0,40-0,59 Sedang
0,60-079 Kuat
0,80-1,00 Sangat kuat
Sumber : Metode Penelitian Bisnis, Sugiyono

5) Analisis Koefisien Determinasi (KD)
Koefisien ini digunakan untuk mengetahui besarnya persentase kontribusi variabel bebas terhadap variabel terikat dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
KD = r2 X 100 %
Dengan perhitungan di atas kita dapat mengetahui berapa persen kontribusi variabel X (motivasi kerja) terhadap variabel Y (kinerja awak kapal).

6) Uji Hipotesis
Pengujian ini untuk mengetahui apakah ada pengaruh variabel (X) terhadap variabel (Y). Pengujian hipotesis ini meggunakan distribusi nilai t, dengan membandingkan t hitung dengan t tabel. Adapun langkah dalam menentukan analisa uji hipotesis adalah sebagai berikut :
a) Ho :  = 0 : tidak ada pengaruh positif yang signifikan
motivasi kerja terhadap kinerja awak kapal.
b) Ha : ≠ 0 : ada pengaruh positif yang signifikan
motivasi kerja terhadap kinerja awak kapal
c) Menentukan taraf nyata () dan tingkat keyakinan (1-) Taraf nyata () = 5 % dan tingkat keyakinan (1-) = 95%
d) Statistik Uji
thitung
Untuk mencari Sb digunakan rumus sebagai berikut :

Dimana :

e) Menentukan daerah kritis

Ho diterima, Ha ditolak jika -t (/2;n-2) < t hitung < t (/2;n-2)
Ho ditolak, Ha diterima jika t hitung t (/2;n-2)
f) Menarik kesimpulan

F. Sistematika Penulisan Skripsi
Oleh karena skripsi adalah suatu karya ilmiah, maka disusun secara sistematis (dikelompokan) secara sistematis dan kronologis (secara berurutan) sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Pembahasan pertama merupakan Pendahuluan, pembahasannya meliputi latar belakang masalah, perumusan masalah yang meliputi pembatasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, hipotesis, metode penelitian dan sistematika penulisan skripsi.
BAB II : LANDASAN TEORI
Pembahasan kedua meliputi landasan teori, karena dalam bab ini dikemukakan teori-teori dari berbagai ahli dibidangnya, yang akan dipakai sebagai alat analisis dan pemecahan masalah atas hasil penelitian yang telah diperoleh. Teori-teori yang dikemukakan harus sesuai dengan penelitian.
BAB III: GAMBARAN UMUM PT BARUNA RAYA LOGISTIC
Pembahasan ketiga disusun dalam, memuat rangkuman tentang penelitian yang merupakan hasil tinjauan umum objek penelitian
BAB IV : ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Pembahasan keempat disusun merupakan proses Analisis dan Pembahasan atas rumusan masalah yang telah ditentukan dalam bab I.
BAB V : PENUTUP
Pembahasan kelima ini disusun dalam bab yang terakhir yang merupakan Bab Penutup berisi kesimpulan dari seluruh analisis dan pembahasan, serta saran-saran penulis, yang disesuaikan dengan tujuan dan kegunaan penelitian yang telah ditentukan dalam bab I.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian, Fungsi dan Peranan Manajemen Sumber Daya Manusia
Manusia merupakan unsur terpenting dalam suatu organisasi, maka diperlukan suatu sistem yang dapat mengelola dan mengatur kegiatan serta aktivitasnya dalam organisasi yang disebut dengan manajemen sumber daya manusia. Bila manajemen pada suatu organisasi dapat dirancang dengan baik serta dilaksanakan dengan baik pula, maka hasil yang akan dicapai akan maksimal sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Sebelum membahas lebih jauh mengenai gaya kepemimpinan, motivasi dan Kinerja, penulis ingin sedikit memberikan gambaran mengenai pengertian, fungsi dan peranan manajemen sumber daya manusia.
1. Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia.
Anoraga (2004:154) mengatakan bahwa “Manajemen sumber daya manusia merupakan bagian yang berhubungan dengan keputusan organisasi yang berdampak pada angkatan kerja atau angkatan kerja potensial perusahaan”. Sedangkan menurut Hasibuan (2003:10) “MSDM adalah ilmu dan seni yang mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat”.
Menurut Atmodiwirio (2002:2) menjelaskan bahwa :
“Manajemen Sumber Daya Manusia meliputi semua aspek yang berhubungan dengan memperkerjakan manusia, yaitu tentang bagaimana mereka diperoleh, diorganisasikan, diperlukan, dinilai, digaji, dipelihara kesehatannya, keselamatannya, kesejahteraannya serta dikelola dokumen-dokumen kepegawaiannya”.

Panggabean (2002:15) :
“Manajemen sumber daya manusia adalah suatu proses yang terdiri atas perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan analisis pekerjaan, evaluasi pekerjaan, pengadaan, promosi dan pemutusan hubungan kerja guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan”.

Menurut Simamora (2001:3) :
“Manajemen Sumber Daya Manusia adalah pendayagunaan, pengembangan, penilaian pemberian balas jasa dan pengelolaan individu anggota organisasi atau kelompok kerja. Arti dan pentingnya sumber daya manusia adalah manajemen yang menitikberatkan perhatiannya kepada soal-soal pegawainya didalam suatu organisasi”.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fokus kajian MSDM adalah masalah tenaga kerja manusia yang diatur menurut urutan fungsi-fungsinya, agar efektif dan efisien dalam mewujudkan tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat. Karyawan adalah perencana, pelaku, dan selalu berperan aktif dalam setiap aktivitas perusahaan.
2. Fungsi-Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia.
Menurut Hasibuan (2003:21) fungsi MSDM dibagi menjadi 2 bentuk, yaitu :
a. Fungsi manajerial.
1) Perencanaan (planning)
Perencanaan berarti penentuan program personalia yang akan membantu tercapainya sasaran yang telah disusun untuk mencapai tujuan perusahaan itu. Dengan kata lain, proses penentuan sasaran akan melibatkan partisipasi aktif dan kesadaran penuh dari manajer personalia, dengan keahliannya dalam bidang sumber daya manusia.
2) Pengorganisasian (Organizing)
Organisasi adalah alat untuk mencapai tujuan. Jika telah ditentukan bahwa fungsi-fungsi personalia tertentu akan membantu kearah tercapainya tujuan perusahaan, maka manajer personalia harus menyusun suatu organisasi dengan merancang struktur hubungan antara pekerjaan, personalia, dan faktor-faktor fisik lainnya.
3) Pengarahan (Directing)
Untuk melakukan kegiatan yang telah direncanakan agar kegiatan tersebut dapat berjalan secara efektif diperlukan arahan dari manajer. Dalam suatu organisasi yang besar pengarahan ini tidak mungkin dilakukan oleh manajer itu sendiri, melainkan didelegasikan kepada orang lain yang diberi wewenang untuk melakukan tugas itu.
4) Pengendalian (Controlling)
Pengendalian adalah untuk mengukur kegiatan organisasi agar dapat berjalan sesuai dengan rencana, disamping itu pengendalian juga dimaksudkan untuk mencari jalan keluar atau pemecahan apabila terjadi hambatan dalam pelaksanaan kegiatan.
b. Fungsi operasional.
1) Pengadaan tenaga kerja (Procurement)
Fungsi ini bertujuan untuk memperoleh jenis-jenis tenaga kerja atau sumber daya manusia yang tepat, sesuai dengan kemampuan yang dibutuhkan oleh unit-unit kerja yang bersangkutan.
2) Pengembangan (Development)
Pengembangan merupakan peningkatan keterampilan melalui pelatihan yang perlu untuk meningkatkan prestasi kerja.
3) Kompensasi (Compensation)
Kompensasi merupakan fungsi manajemen yang sangat penting, melalui fungsi ini organisasi memberikan balas jasa yang memadai, adil, dan layak kepada karyawan.
4) Integrasi (Integration)
Integrasi merupakan kegiatan manajemen yang bertujuan untuk rekonsiliasi kepentingan karyawan dalam organisasi, karena sering terjadi benturan-benturan kepentingan diantara karyawan atau antara karyawan dengan manajer, untuk itu pentingnya fungsi integrasi ini diperoleh dari kesepakatan antara karyawan dengan manajer.
5) Pemeliharaan (Maintenance)
Kemampuan sumber daya manusia yang telah dimiliki perlu dipelihara, karena kemampuan tersebut merupakan aset yang penting bagi pelaksanaan tugas dan tercapainya tujuan organisasi. Fungsi pemeliharaan ini termasuk jaminan dan keselamatan kerja.
6) Pemisahan (Separation)
Organisasi bertanggung jawab dalam pemutusan hubungan kerja sesuai dengan ketentuan dan undang- undang yang berlaku.

3. Peranan Manajemen Sumber Daya Manusia.
MSDM mengatur dan menetapkan program kepegawaian yang mencakup masalah-masalah sebagai berikut Hasibuan (2003:14) :
a. Menetapkan jumlah, kualitas, dan penempatan tenaga kerja yang efektif sesuai dengan kebutuhan perusahaan berdasarkan job description, job specification, job requirement, dan job evaluation.
b. Menetapkan penarikan, seleksi, dan penempatan karyawan berdasarkan asas the right man in the right place and the right man in the right job.
c. Menetapkan program kesejahteraan, pengembangan, promosi, dan pemberhentian.
d. Meramalkan penawaran dan permintaan sumber daya manusia pada masa yang akan datang.
e. Memperkirakan keadaan perekonomian pada umumnya dan perkembangan perusahaan pada khususnya.
f. Memonitor dengan cermat undang-undang perburuhan dan kebijaksanaan pemberian balas jasa perusahaan-perusahaan sejenis.
g. Memonitor kemajuan teknik dan perkembangan serikat buruh.
h. Melaksanakan pendidikan, pelatihan, dan penilaian prestasi karyawan
i. Mengatur mutasi karyawan baik vertikal maupun horizontal.
j. Mengatur pensiun, pemberhentian, dan pesangonnya.
k. Tenaga kerja manusia selain mampu, cakap, dan terampil, juga tidak kalah pentingnya kemauan dan kesungguhan mereka untuk bekerja efektif dan efisien. Kemampuan dan kecakapan kurang berarti jika tidak diikuti moral kerja dan kedisiplinan karyawan dalam mewujudkan tujuan.

B. Motivasi Kerja (Variabel X)
1. Pengertian Motivasi
Menurut Hasibuan (2003:141)
”Motivasi berasal dari kata Latin movere yang berarti dorongan atau menggerakkan. Motivasi (motivation) dalam manajemen hanya ditujukan pada sumber daya manusia umumnya dan bawahan khususnya. Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya dan potensi bawahan agar mau bekerja sama secara produktif berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan”.

Pentingnya motivasi karena motivasi adalah hal yang menyebabkan, menyalurkan, dan mendukunag perilaku manusia supaya mau bekerja giat dan antusias mencapai hasil yang optimal. Motivasi semakin penting karena manajer membagikan pekerjaan pada bawahannya untuk dikerjakan dengan baik dan terintegrasi kepada tujuan yang diinginkan.
Perusahaan bukan hanya mengharapkan karayawan mampu, cakap, dan terampil tetapi yang terpenting mereka mau bekerja giat dan berkeinginan untuk mencapai hasil kerja yang maksimal. Kemampuan dan kecakapan karyawan tidak ada artinya bagi perusahaan jika mereka tidak mau bekerja giat.
Untuk memotivasi karyawan, manajer harus mengetahui motif dan motivasi yang diinginkan karyawan. Orang mau bekerja adalah untuk dapat memenuhi kebutuhan baik kebutuhan yang disadari (conscious needs) maupun kebutuhan yang tidak disadari (unconscious needs), berbentuk materi atau non materi, kebutuhan fisik atau rohani.
Menurut Peterson dan Plowman yang dikutip oleh Hasibuan, (2003:142) mengatakan bahwa orang mau bekerja karena faktor-faktor berikut.
a. The Desire To Live (keinginan untuk hidup)
Keinginan untuk hidup merupakan keinginan utama dari setiap orang, manusia bekerja untuk dapat makan dan makan untuk dapat melanjutkan hidupnya.
b. The Desire for Position (keinginan untuk suatu posisi)
Keinginan untuk suatu posisi dengan memiliki sesuatu merupakan keinginan manusia yang kedua dan ini masalah satu sebab mengapa manusia mau bekerja.
c. The Desire for Power (keinginan akan kekuasaan)
Keinginan akan kekuasaan merupakan keinginan selangkah di atas keinginan untuk memiliki yang mendorong orang mau bekerja.
d. The Desire for Recognition (keinginan akan pengakuan)
Keinginan akan pengakuan, penghormatan, dan status sosial, merupakan jenis terakhir dari kebutuhan yang mendorong orang untuk bekerja. Dengan demikian setiap pekerja mempunyai motif keinginan (want) dan kebutuhan (needs) tertentu dan mengharapkan kepuasan dari hasil kerjanya.

Kebutuhan-kebutuhan yang dipuaskan dengan bekerja menyangkut hal-hal berikut:
a. Kebutuhan Fisik dan Keamanan
Kebutuhan ini menyangkut kepuasan kebutuhan fisik/biologis seperti makan, minum, perumahan, dan semacamnya, di samping kebutuhan akan rasa aman dalam menikmatinya.
b. Kebutuhan Sosial
Kebutuhan ini adalah kebutuhan yang terpuaskan karena memperoleh pengakuan, status, dihormati, diterima, serta disegani dalam pergaulan masyarakat. Hal ini penting karena manusia tergantung satu sama lainnya.
c. Kebutuhan egoistic
Kebutuhan egoistic adalah kebutuhan kepuasan yang berhubungan dengan kepuasan orang untuk mengerjakan sendiri suatu pekerjaan sehingga puas karena berhasil menyelesaikannya.
Kepuasan-kepuasan di atas ada yang dinikmati di luar pekerjaan, di sekitar pekerjaan, dan lewat pekerjaan. Kepuasan fisik terpuaskan di luar pekerjaan, kebutuhan sosial terpuaskan melalui hubungan pribadi di sekitar pekerjaan, sedangkan kebutuhan egoistic terpuaskan melalui pekerjaan.
2. Kegairahan Kerja
Hasibuan (2003:143) mengatakan “Kegairahan kerja adalah kemauan dan keseganan yang mendalam terhadap pekerjaan yang dilakukan”. Dengan mengetahui perilaku manusia, apa sebabnya orang mau bekerja, dan kepuasan-kepuasan apa yang dinikmatinya maka seorang manajer akan lebih mudah memotivasi bawahannya.
Menurut Hasibuan (2003:143) “Motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerja sama, bekerja efektif, dan terintegrasi dengan segala daya upaya untuk mencapai kepuasan”.
Menurut As’ad (2002:45) ”Motivasi kerja didefinisikan sebagai sesuatu yang menimbulkan semangat atau dorongan kerja”. Oleh sebab itu motivasi biasa disebut sebagai pendorong atau semangat kerja. Sedangkan menurut Robbins (2002:166) :
”Motivasi didefinisikan sebagai kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan-tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu untuk memenuhi sesuatu kebutuhan individu”.

Sementara motivasi umum bersangkutan dengan upaya ke arah setiap tujuan yang fokusnya dipersempit terhadap tujuan organisasi. Ketiga unsur kunci dalam defenisi ini adalah upaya, tujuan dan kebutuhan. Kebutuhan berarti suatu keadaan internal yang menyebabkan hasil-hasil tertentu tampak menarik. Suatu kebutuhan yang tak terpuaskan menciptakan tegangan yang merangsang dorongan-dorongan di dalam individu. Jadi dapat dikatakan bahwa karyawan yang termotivasi berada dalam suatu keadaan tegang. Untuk mengendurkan ketegangan ini, mereka mengeluarkan upaya. Makin besar ketegangan, makin tinggi tingkat upaya itu. Jika upaya ini berhasil menghantar ke pemenuhan kebutuhan, tegangan itu akan dikurangi.
3. Asas-Asas Motivasi
a. Asas Mengikutsertakan
Asas mengikutsertakan maksudnya mengajak bawahan untuk ikut berpartisipasi dan memberikan kesempatan kepada mereka mengajukan ide-ide, rekomendasi dalam proses pengambilan keputusan. Dengan cara ini bawahan merasa ikut bertanggung jawab atas tercapainya tujuan perusahaan sehingga moral dan gairah kerjanya meningkat.
b. Asas Komunikasi
Asas komunikasi maksudnya menginformasikan secara jelas tentang tujuan yang ingin dicapai, cara mengerjakannya, dan kendala yang dihadapi. Dengan asas komunikasi, motivasi kerja bawahan akan meningkat. Sebab semakin banyak seseorang mengetahui suatu soal, semakin besar pula minat dan perhatiannya terhadap hal tersebut.
c. Asas Pengakuan
Memberikan penghargaan dan pengakuan yang tepat serta wajar kepada bawahan atas prestasi kerja yang dicapainya. Bawahan akan bekerja keras dan semakin rajin, jika merasa terus-menerus mendapat pengakuan dan kepuasan dari usaha-usahanya.
d. Asas Wewenang Yang Didelegasikan
Mendelegasikan sebagian wewenang serta kebebasan karyawan untuk mengambil keputusan dan berkreativitas dan melaksanakan tugas-tugas atasan atau manajer. Dalam pendelegasian ini manajer harus meyakinkan bawahan bahwa karyawan mampu dan dipercaya dapat menyelesaikan tugas-tugas itu dengan baik. Asas ini akan memotivasi moral atau gairah kerja bawahan sehingga semakin tinggi dan antusias.
e. Asas Perhatian Timbal Balik
Asas perhatian timbal balik adalah memotivasi bawahan dengan mengemukakan keinginan atau harapan perusahaan disamping berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang diharapkan bawahan dari perusahaan. Misalnya, manajer minta supaya karyawan meningkatkan prestasi kerjanya sehingga perusahaan memperoleh laba yang lebih banyak. Apabila laba semakin banyak balas jasa mereka akan dinaikkan. Jadi ada perhatian timbal balik untuk memenuhi keinginan semua pihak. Dengan asas motivasi ini diharapkan prestasi kerja karyawan akan meningkat.
4. Jenis-jenis Motivasi
a. Motivasi Positif (Insentif Positif)
Motivasi Positif maksudnya manajer memotivasi atau merangsang bawahan dengan memberikan hadiah kepada mereka yang berprestasi di atas prestasi standar. Dengan motivasi positif semangat kerja bawahan akan meningkat karena umumnya manusia dengan menerima yang baik-baik saja.
b. Motivasi Negatif (Insentif Negatif)
Motivasi Negatif maksudnya manajer memotivasi bawahan dengan standar mereka akan mendapat hukuman. Dengan motivasi negatif ini semangat kerja bawahan dalam jangka waktu pendek akan meningkat karena mereka takut dihukum, tetapi dalam waktu panjang dapat berakibat kurang baik.
5. Teori – Teori Motivasi
a. Teori Kepuasan
Teori kepuasan mendasarkan pendekatannya atas faktor-faktor kebutuhan dan kepuasan individu yang menyebabkan bertindak serta berprilaku dengan cara tertentu. Teori ini memusatkan perhatian pada faktor-fakor dalam diri orang yang menguatkan, mengarahkan, mendukung, dan menghentikan perilakunya. Teori ini mencoba menjawab pernyataan kebutuhan apa yang memuaskan seseorang dan apa yang mendorong semangat kerja seseorang.
Hal yang memotivasi semangat kerja seseorang adalah untuk memenuhi kebutuhan serta kepuasan baik materiil maupun non materil yang diperolehnya sebagai imbalan balas jasa dari jasa yang diberikannya kepada perusahaan. Apabila materil dan non materil yang diterimanya semakin memuaskan semangat kerja seseorang akan semakin meningkat. Jadi pada dasarnya teori ini mengemukakan bahwa seseorang akan bertindak atau semangat kerja untuk dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Semakin tinggi standar kebutuhan yang diinginkan semakin giat orang itu bekerja.

Teori Motivasi Kepuasan
a. Teori Motivasi Klasik.
Frederick Winslow Taylor mengemukakan teori motivasi klasik atau teori motivasi kebutuhan tunggal. Teori ini berpendapat bahwa manusia mau bekerja giat untuk dapat memenuhi kebutuhan fisik/biologisnya, berbentuk uang/barang dari hasil pekerjaannya. Konsep dari teori ini adalah orang akan bekerja giat bilamana ia akan mendapat imbalan materi yang mempunyai kaitan dengan tugas-tugasnya. Manajer menentukan bagaimana tugas dikerjakan dengan menggunakan sistem insentif untuk memotivasi para pekerja. Semakin banyak mereka berproduksi semakin besar penghasilan mereka.
b. Maslow’s Need Hierarchy Theory
Maslow (1943) mengemukakan teori motivasi yang dinamakan Maslow’s Need Hierarchy Theory / A Theory of Human Motivation atau Teori Hierarki Kebutuhan dari Maslow. Hierarki kebutuhan dari Maslow ini diilhami oleh Human Science Theory dari Elton Mayo.
Hierarki Kebutuhan mengikuti teori jamak yakni seseorang berprilaku/bekerja karena adanya dorongan untuk memenuhi bermacam-macam kebutuhan. Maslow berpendapat kebutuhan yang diinginkan seseorang itu berjenjang. Artinya, jika kebutuhan yang pertama telah terpenuhi, kebutuhan tingkat kedua akan menjadi yang utama. Selanjutnya jika kebutuhan tingkat kedua telah terpenuhi, muncul kebutuhan tingkat ketiga dan seterusnya sampai tingkat kebutuhan kelima.
Dasar Teori Hierarki Kebutuhan :
1) Manusia adalah makhluk sosial yang berkeinginan. Ia selalu menginginkan lebih banyak. Keinginan ini terus-menerus dan hanya akan berhenti bila akhir hayatnya tiba.
2) Suatu kebutuhan yang telah dipuaskan tidak menjadi alat motivator bagi pelakunya, hanya kebutuhan yang belum terpenuhi yang akan menjadi motivator.
3) Kebutuhan manusia tersusun dalam suatu jenjang/hierarki, yakni:
a) Physiological Needs (Kebutuhan fisik dan biologis)
Physiological needs yaitu kebutuhan untuk mempertahankan hidup. Yang termasuk kebutuhan ini adalah kebutuhan makan, minum, perumahan, udara, dan sebagainya. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan ini merangsang seseorang untuk berkerja giat.
b) Safety and Security Needs (Kebutuhan keselamatan dan keamanan)
Safety and security needs adalah kebutuhan akan kebebasan dari ancaman kecelakaan dan keselamatan dalam melaksanakan pekerjaan.
Bentuk lain dari pemuasan kebutuhan adalah dengan memberikan perlindungan asuransi kepada para karyawan.
c) Affiliation or Acceptance Needs or Belongingness (Kebutuhan sosial)
Affiliation or Acceptance Needs adalah kebutuhan sosial, teman, afiliasi, interksi, dicintai dan mencintai, serta diterima dalam pergaulan kelompok pekerja dan masyarakat lingkungannya. Pada dasarnya manusia normal tidak akan mau hidup menyendiri seorang diri di tempat terpencil. Ia selalu membutuhkan kehidupan berkelompok.
d) Esteem or Status Needs (Kebutuhan akan penghargaan atau prestise)
Esteem or Status Needs adalah kebutuhan akan penghargaan diri dan pengakuan serta penghargaan prestise dari karyawan dan masyarakat lingkungannya. Idealnya prestise timbul karena adanya prestasi, tetapi tidak selamanya demikian. Akan tetapi perlu juga di perhatikan oleh piminan bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang dalam masyarakat atau posisi seseorang dalam organisasi semakin tinggi pula prestisenya.
e) Self Actualization (Aktualisasi diri)
Self Actualization adalah kebutuhan akan aktulaisasi diri dengan menggunakan kemampuan, keterampilan, dan potensi optimal untuk mencapai prestasi kerja yang sangat memuaskan. Kebutuhan ini merupakan realisasi lengkap potensi seseorang secara penuh.
c. Herzberg’s Two Factors Motivation Theory
Frederick Herzberg (1950) seorang Profesor Ilmu Jiwa pada Universitas di Cleveland Ohio mengemukakan Teori Motivasi Dua Faktor atau Herzberg’s Two Factors Motivation Theory atau sering juga disebut Teori Motivasi Kesehatan (Faktor Higienis).
Menurut Herzberg orang menginginkan dua macam faktor kebutuhan yaitu:
1) Kebutuhan akan kesehatan atau kebutuhan akan pemeliharaan atau faktor pemeliharaan berhubungan dengan hakikat manusia yang ingin memperoleh ketentraman dan kesehatan badaniah.
Faktor-faktor pemeliharaan perlu mendapat perhatian yang wajar dari pimpinan agar kepuasan dan kegairahan bekerja bawahan dapat ditingkatkan.
2) Faktor pemeliharaan menyangkut kebutuhan psikologis seseorang. Kebutuhan ini meliputi serangkaian kondisi intrinsik, kepuasan pekerjaan yang apabila terdapat dalam pekerjaan akan menggerakkan tingkat motivasi yang kuat yang dapat menghasilkan motivasi yang kuat yang dapat menghasilkan prestasi pekerjaan yang baik.
Jika kondisi ini tidak ada tidak akan menimbulkan rasa ketidak puasan yang berlebihan. Serangkaian faktor ini dinamakan satisfiers atau motivators yang meliputi :
a). Prestasi atau achievement
b). Pengakuan atau recognition
c). Pekerjaan itu sendiri atau the work it self
d). Tanggung jawab atau responsibility
e). Kemajuan atau advancement
f). Pengembangan potensi individu atau the possibility of growth
d. Teori X dan Y Mc. Gragor
Douglas Mc. Gregor adalah seorang psikolog sosial Amerika yang memimpin suatu varietas proyek riset dalam hal motivasi dan tingkah laku umum dari para anggota organisasi. Mc Gregor adalah seorang awak kapal besar manajemen pada lembaga teknik Massachusetts (Massachusetts Institute of Technology). Mc. Gregor terkenal dengan teori X dan teori Y nya dalam bukunya The Human Side of Enterprise (segi manusiawi perusahaan). Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa manusia secara jelas dan tegas dapat dibedakan atas manusia penganut teori X (teori tradisional) dan manusia penganut teori Y (teori demokratik).
Teori X
1) Rata-rata karyawan malas dan tidak suka bekerja
2) Umumnya manusia tidak berambisi mencapai prestasi yang optimal dan selalu menghindarkan tanggung jawabnya dengan cara mengkambing hitamkan orang lain.
3) Karyawan lebih suka dibimbing, diperintah, diawasi dalam melaksanakan pekerjaannya.
4) Karyawan lebih mementingkan diri sendiri dan tidak mempedulikan tujuan organisasi.
Menurut teori X ini memotivasi karyawan harus dilakukan dengan cara pengawasan yang ketat, dipaksa dan diarahkan supaya mereka mau bekerja sungguh-sungguh. Jenis motivasi yang diterapkan adalah cendrung kepada motivasi negatif yakni dengan menerapkan hukuman yang tegas.
Tipe kepemimpinan teori X adalah otoriter sedangkan gaya kepemimpianannya berorientasi pada prestasi kerja.
Teori Y
1) Rata-rata karyawan menganggap bahwa bekerja sama wajarnya dengan bermain-main dan beristirahat. Pekerjaan tidak perlu dihindari dan dipaksakan bahkan banyak karyawan tidak betah dan merasa kesal jika tidak bekerja.
2) Lazimnya karyawan dapat memikul tanggung jawab dan berambisi untuk maju dengan mencapai prestasi kerja yang optimal. Mereka kreatif dan inovatif mengembangkan dirinya untuk memecahkan persoalan dalam menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan pada pundaknya. Jadi mereka selalu berusaha metode kerja yang terbaik.
3) Karyawan selalu berusaha mencapai sasaran itu. Organisasi seharusnya memungkinkan karyawan mewujudkan potensinya sendiri dengan memberikan sumbangan pada tercapinya sasaran perusahaan.
Menurut teori Y ini untuk memotivasi karyawan hendaknya dilakukan dengan cara peningkatan partisipasi karyawan, kerja sama, dan keterikatan pada keputusan. Tegasnya dedikasi dan partisipasi akan lebih menjamin tercapinya sasaran. Mc. Gregor memandang suatu organisasi efektif sebagai organisasi apabila apabila menggantikan pengawasan dan pengarahan dengan integrasi dan kerja sama serta karyawan ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan Motivasi kerja adalah merupakan dorongan yang ada di dalam diri seseorang agar individu tersebut dapat berperilaku sesuai dengan apa yang diinginkan oleh perusahaan. Apabila karyawan bermotivasi tinggi dalam melaksanakan pekerjaannya, maka dengan sendirinya Kinerja dari karyawan tersebut akan meningkat, dengan indikator-indikator antara lain. Asas mengikutsertakan, asas komunikasi, asas pengakuan, wewenang yang didelegasikan, perhatian timbal balik.

C. Kinerja (Variabel Y)
Maju mundurnya suatu perusahaan sangat tergantung dari faktor kualitas dan kuantitas manusia yang melaksanakannya. Manusia sebagai tenaga perencana, penggerak sekaligus pengendali merupakan sumber daya paling utama yang harus ada dalam setiap perusahaan dan keberhasilan suatu perusahaan tidak dapat lepas dari unsur karyawan. Hal ini sesuai dengan definisi bahwa karyawan adalah “Asset utama setiap perusahaan yang selalu ikut aktif berperan dan paling menentukan tercapai tidaknya tujuan perusahaan”.
Pengertian yang sama juga dikemukakan oleh Melayu S. P. Hasibuan (2001:76)
“Karyawan merupakan asset utama perusahaan yang menjadi perencana dan pelaku aktif dari setiap organisasi, maka mempunyai pemikiran, perasaan, status dan latar-belakang pendidikan, usia, jenis kelamin, bukan seperti mesin, uang dan material yang sifatnya pasif dan dapat dikuasai serta diatur sepenuhnya dalam mendukung tercapainya tujuan perusahaan”.

Dari pengertian tersebut sangatlah jelas bahwa karyawan merupakan sumber daya dan pelaku utama yang berperan dalam segala kegiatan perusahaan untuk mewujudkan tujuan perusahaan dan tidak terlepas dari kodratnya selaku manusia yang berpikir, mempunyai perasaan dan menginginkan perlakuan yang baik.
Karyawan adalah mereka yang secara langsung digerakan oleh pihak manajemen untuk bertindak sebagai pelaksana yang akan menyelenggarakan pekerjaan sehingga menghasilkan karya yang diharapkan dalam usaha pencapaian tujuan organisasi yang ditetapkan.
Dapat dikatakan juga bahwa karyawan adalah tenaga kerja manusia yang dalam menghasilkan suatu karya yang dilakukan secara sadar dengan memerlukan arahan dan instruksi dari manajemen dalam pencapaian tujuan organisasi.
Setiap karyawan bekerja memberi sumbangan pada kemajuan perusahaan tentunya mengharapkan imbalan yang pantas, sehingga ada ahli yang mengatakan bahwa karyawan adalah “orang yang bekerja dengan menjual tenaga (fisik dan pikiran) kepada suatu perusahaan dan mendapat balas jasa sesuai dengan peraturan atau perjanjian. Oleh karena itu mereka wajib dan terikat untuk mengerjakan yang diberikan dan berhak memperoleh konvensasi sesuai dengan perjanjian. Hal ini berarti antara karyawan dan perusahaan terjadi hubungan timbal balik.
Dengan demikian untuk mensukseskan tujuan bisnis perusahaan yakni dalam kegiatan produksi dan memperoleh pendapatan yang maksimal sangat dibutuhkan kinerja yang optimal dari para karyawan. Karena kinerja merupakan faktor yang paling penting untuk diperhatikan. Hal ini dikarenakan penilaian sebuah perusahaan baik atau tidaknya, maju atau mundurnya terlihat dari kinerjanya. Kinerja memiliki pengertian yang luas. Antara lain seperti yang dikemukakan oleh Sentoso (2001:6) sebagai berikut :
“Kinerja merupakan terjemahan dari performance yang berarti hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika”.

Sedangkan Witmore mendefinisikan “Kinerja sebagai upaya menetapkan standar-standar yang melampaui apa yang diminta atau diharapkan orang lain”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dimaksud dengan kinerja adalah “Suatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan/kemampuan kerja”. Dengan demikian untuk mengetahui kinerja karyawan dapat dilihat dari kemampuan karyawan tersebut dan hasil yang diperlihatkan. Bila hasil kerjanya baik berarti prestasi kerja karyawan itu juga baik. Prestasi yang baik menunjukan kinerja yang baik. Hasil akhir yang dicapai karyawan dapat diukur secara kualitatif tergantung dari sifat atau jenis pekerjaan yang dilakukan. Jika hasil akhir dari pekerjaan yang dilakukan karyawan dalam suatu organisasi perusahaan sesuai dengan tujuan perusahaan berarti kinerja karyawan tersebut memuaskan. Menurut Bernadin dan Russel (PB.Triton 2007:80) ”Kinerja dapat diartikan secara umum sebagai tingkat perbandingan antara hasil dan keluaran (output) dengan masukan (input)”. Menurut Soeprihanto John (PB.Triton 2007:80)
”Kinerja dapat diartikan sebagai perbandingan antara hasil-hasil yang dicapai dengan keseluruhan sumber daya yang dipergunakan atau perbandingan jumlah produksi (output) dengan sumber daya yang digunakan (input)”.

Kinerja menurut Dewan Kinerja Nasional (PB.Triton 2007:80)
”Sebagai sikap mental yang selalu berpandangan bahwa mutu kehidupan hari ini harus lebih baik dari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Memahami konsep dan teori Kinerja secara baik dapat dilakukan dengan cara membedakannya dari efektifitas dan efisiensi. Efektivitas dapat didefinisikan sebagai tingkat ketepatan dalam memilih atau menggunakan suatu metode untuk melakukan sesuatu. Efisiensi dapat didefinisikan sebagai tingkat ketepatan dan berbagai kemudahan dalam melakukan sesuatu”.

Menurut Umar (PB.Triton 2007:80)
”Kinerja memiliki dua dimensi, dimensi pertama adalah efektivitas yang mengarah kepada pencapaian unjuk kerja yang maksimal yaitu pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas, dan waktu dan yang kedua yaitu efisiensi yang berkaitan dengan upaya membandingkan input dengan realisasi penggunaannya atau bagaimana pekerjaan tersebut dilaksanakan”.

Perbedaan kinerja dengan efektivitas dan efisiensi adalah bahwa kinerja merupakan ukuran tingkat efisiensi dan efektivitas dari setiap sumber yang digunakan selama produksi berlangsung dengan membandingkan antara jumlah yang dihasilkan (ouput) dengan masukan dari setiap sumber yang dipergunakan atau seluruh sumber (input).
Bidang-bidang yang berkaitan dengan program-program peningkatan Kinerja antara lain adalah yang pertama mencakup dinamika struktur organisasi, kedua mencakup proses-proses dalam MSDM, dan ketiga mencakup mekanisme pelaksanaan MSDM.
Lingkup perbaikan Kinerja menurut (PB.Triton 2007:85) adalah :
1. Fleksibilitas dalam melakukan prosedur-prosedur pelayanan sipil
2. Sentralisasi manajemen yang mendukung pelayanan antara lain meliputi mengetik, daftar gaji, dan pembelian.
3. Mengumpulkan laporan-laporan keuangan untuk meningkatkan pendapatan
4. Desentralisasi yang terpilih atau reorganisasi kedalam unit-unit yang sama.
5. Pemakaian yang meningkat mengenai ukuran-ukuran kinerja dan standar-standar kerja untuk memonitor Kinerja.
6. Konsolidasi pelayanan-pelayanan
7. Pengunaan model-model keputusan ekonomi rasional untuk mewujudkan dan masalah konservasi energi lainnya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan menurut PB.Triton (2005:65) antara lain adalah:
1. Kompensasi
2. Pengetahuan
3. Keahlian
4. Kemampuan
5. Sikap kerja
6. Tingkat keterampilan
7. Hubungan antar tenaga kerja dan pimpinan
8. Manajemen Kinerja
9. Efisiensi tenaga kerja
10. Kewiraswstaan

Berdasarkan pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan Kinerja adalah perbandingan antara hasil yang dicapai dengan peran serta tenaga kerja per satuan waktu, dengan indikator-indikator antara lain, kompensasi, hubungan antar tenaga kerja dan pimpinan, keahlian, tingkat keterampilan, sikap kerja.

D. Kerangka Konseptual
Dalam suatu perusahaan haruslah terdapat kerjasama antar individu-individu yang ada dalam perusahaan sehingga tujuan yang diinginkan oleh perusahaan akan tercapai. Motivasi kerja merupakan dorongan yang ada di dalam diri seseorang agar individu tersebut dapat berperilaku sesuai dengan apa yang diinginkan oleh perusahaan. Apabila karyawan bermotivasi tinggi dalam melaksanakan pekerjaannya, maka dengan sendirinya Kinerja dari karyawan tersebut akan meningkat.
Di antara metode yang secara efektif dalam meningkatkan Kinerja salah satunya adalah melalui metode-metode personalia yaitu memotivasi yang artinya adalah setiap kegiatan yang mendorong, meningkatkan gairah, dan mengajak karyawannya untuk bekerja secara lebih efektif serta meninggalkan praktek-praktek yang tidak produktif dapat merupakan bagian pokok dari usaha meningkatkan pekerjaan secara efektif.
Menurut Larsen yang dikutip (PB. Triton, 2007:84) “Unjuk kerja (job performance) yang baik dapat dipengaruhi oleh kecakapan dan motivasi. Kecakapan tanpa motivasi atau motivasi tanpa kecakapan sulit untuk mendapatkan output yang tinggi. Untuk mencapai Kinerja karyawan yang maksimum, organisasi harus menjamin dipilihnya orang yang tepat dengan pekerjaan yang tepat serta kondisi yang memungkinkan mereka bekerja optimal”.
Kerangka pemikiran tersebut akan membantu penulis untuk mencari pengaruh variabel bebas X terhadap variabel terikat (Y). Gambar model analisis tersebut sebagai berikut :

Gambar II.1
Kerangka Berpikir

tugas seminar skripsi kelompok V

July 15, 2009

Tugas Kelompok V Seminar Trisakti BP3IP/11

Oleh:

Mery Apriani

Ibrahim

Heri Purwanto

Sukirman

Herman Lubis

 

“ ANALISIS PERBANDINGAN KAPASITAS YANG TERPAKAI MUATAN PETIKEMAS ANTARA MV.HUB KUCHING DAN MV.HUB BINTULU PERVOYAGE PADA ARMADA HUB SHIPPING SDN BHD MALAYSIA, PERIODE NOVEMBER 2007 – NOVEMBER 2008”

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dengan semakin berkembang pesatnya dunia pelayaran saat ini maka persaingan jasa transportasi laut pun semakin ketat, demikian juga terhadap dunia pelayaran di tanah air. Salah satunya adalah persaingan dalam jasa angkutan barang menggunakan petikemas. Untuk mengantisipasinya tingginya permintaan akan jasa angkutan barang yang menggunakan petikemas, perusahaan-perusahaan pelayaran semakin meningkatkan kualitas layanan dan kemudahan kepada para pengguna jasa angkutan ini. Dalam meningkatkan kualitas layanan tersebut diatas, perusahaan pelayaran harus memperhatikan beberapa hal, diantaranya : kapal-kapal yang dimilikinya harus dalam keadaan laik laut sesuai peraturan internasional dan peraturan pemerintah Indonesia, khususnya mengenai alat-alat keselamatan dan pencegahan pencemaran lingkungan, memiliki kapasitas ruang muat yang memadai sesuai dengan kebutuhan, kecepatan kapal yang cocok untuk daerah operasinya, konsumsi bahan baker, serta dilengkpi dengan anak buah kapal yang terampil dan berpengalaman dan nahkoda yang berkualitas. Selain itu kecepatan operasi bongkar muat mempengaruhi waktu tinggal kapal di pelabuhan, ketepatan waktu dalam memenuhi jadwal pelayaran juga menjadi suatu kewajiban bagi perusahaan dalam memberikan layanan kepada para pengguna jasa angkutan kapal.
Dilihat dari beragamnya kebutuhan masyarakat akan barang dan jasa maka beragam pula jenis dan tipe kapal yang digunakan sesuai dengan fungsi dan kebutuhannya. Untuk mengangkut manusia dari satu tempat ketempat lainnya digunakan kapal penumpang, baik yang bertipe ferry maupun Roro, atau kapal penumpang cepat. Untuk mengangut barang muatan cair menggunakan kapal tanker, muatan curah kering menggunakan kapal general cargo, untuk mengangkut muatan yang telah dimuati ke dalam petikemas menggunakan kapal container.
Perusahaan pelayaran di dunia yang tumbuh dan berkembang khususnya yang bergerak dalam jasa pengangkutan petikemas semakin meningkat, dengan peningkatan jumlah perusahaan pelayaran tersebut, maka pengguna jasa transportasi ini memiliki pemilihan untuk menggunakan jasa perusahaan mana yang mereka percaya dan memberikan layanan terbaik bagi pengangkutan barang mereka. Perusahaan- perusahaan pelayaran mengoperasikan beberapa beberapa kapalnya untuk rute tetap yang sama (liner service) dan rute tidak tetap (tramping) demi memenuhi layanan angkutan petikemas sesuai jadwal yang telah dibuat. Dengan pengoperasian beberapa kapal pada perusahaan-perusahaan pelayaran untuk rute yang sama ini akan mempengaruhi kapasitas terpakai muatan petikemas pada kapal-kapal mereka dan juga pendapatan perusahaan. Oleh karena itu, promosi, pelayanan, tarif yang bersaing, serta pengaturan jadwal kedatangan, operasi di pelabuhan dan keberangkatan kapal saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
Selain itu terdapat juga sisi lemah yang harus mendapat perhatian dari perusahaan pelayaran, khususnya, pada HUB Shipping Sdn bhd.yang menjadi tempat penelitian bagi penulis yaitu :
1. Kondisi kapal dalam menerima muatan.
2. Pengawasan oleh perusahaan terhadap kinerja perusahaan bongkar muat mulai dari saat pengemasan muatan kedalam petikemas di gudang atau lapangan milik pengirim barang, hingga dimuati keatas kapal.
3. Karakteristik pelabuhan.
4. Sarana dan peralatan penunjang kegiatan bongkar muat.
5. Pengaturan jadwal dan jarak kedua kapal untuk menghindari seringnya kapal melakukan deviasi (skip).
6. Klasifikasi muatan menurut jenis dan beratnya.
7. Koordinasi antar pihak kantor pusat atau cabang dengan pihak kapal serta kemampuan pihak kapal dalam memperhitungkan kapasitas berat muatan petikemas terhadap stabilitas kapal.
Agar kapasitas petikemas yang dapat dimuati diharapkan akan memenuhi atau mendekati harapan.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam lagi dengan mengemukakan dalam bentuk skripsi dengan judul:
“ ANALISIS PERBANDINGAN KAPASITAS YANG TERPAKAI MUATAN PETIKEMAS ANTARA MV.HUB KUCHING DAN MV.HUB BINTULU PERVOYAGE PADA ARMADA HUB SHIPPING SDN BHD MALAYSIA, PERIODE NOVEMBER 2007 – NOVEMBER 2008”

B. Perumusan Masalah

1. Identifikasi Masalah
Merupakan masalah yang terjadi sehubungan dengan kegiatan operasional kapal petikemas dalam memperoleh kapasitas terpakai muatan petikemas adalah :
A. Kerusakan pada bagian ruang muat yang bersifat incidental memengaruhi kapasitas muat petikemas.
B. Seringnya kapal melakukan deviasi (skip) untuk menjaga jarak keduanya.
C. Karakterristik muatan mempengaruhi stabilitas kapal, sehingga kapasitas ruang muat tidak optimal.
D. Banyaknya kapal petikemas dari perusahaan lain yang beroprasi pada rute pelabuhan yang sama.
E. Koordinasi antara pihak perusahaan dengan pihak kapal dalam memperhitungakan kapasitas berat tersisa untuk muatan petikemas terhadap stabilitas kapal, serta kemampuan pihak kapal dalam memperhitungkan kapasitas berat tersisa untuk muatan petikemas terhadap stbilitas kapal.
F. Rendahnya kinerja perusahaan bongkar muat pada beberapa pelabuhan.

2. Batasan masalah
Sehubungan dengan luasnya masalah yang timbul dan penulis juga menyadari adanya factor keterbatasan waktu dan data yang diperoleh serta kemampuan yang dimiliki penulis maka dalam skripsi ini penulis membatasi permasalahan pada perbandingan kapasitas terpakai muatan petikemas antara MV. Hub Kuching dan MV.Hub Bintulu milik HUB Shipping Sdn Bhd.

3. Pokok permasalahan
Berdasarkan identifikasi masalah diatas maka penulis membuat pokok masalah sebagai berikut :
a. berapa besar kapsitas yang terpakai muatan petikemas pada MV. Hub Kuching ?
b. berapa besar kapsitas yang terpakai muatan petikemas pada MV. Hub Bintulu?
c. apakah ada perbedaan kapasitas yang terpakai muatan petikemas Antara MV Hub Kuching dan MV Hub Bintulu Pervoyage dalam periode November 2007 sampai dengan November 2008 ?

C. Tujuan dan manfaat penelitian
1. Tujuan penelitian
Didalam penyusunan skripsi ini ada beberapa tujuan yang hendak penulis capai yaitu :
a. untuk mengetahui kapasitas yang terpakai muatan petikemas pada MV. Hub Kuching
b. untuk mengetahui kapasitas yang terpakai muatan petikemas pada MV. Hub Bintulu
c. untuk mengetahui sejauh mana perbedaan kapasitas yang terpakai muatan petikemas Antara MV Hub Kuching dan MV Hub Bintulu

2. manfaat penelitian
a. bagi penulis
1) untuk memenuhi sebagian syarat guna mencapai gelar Sarjana Ekonomi.
2) untuk mengetahiu perbandingan kapasitas yang terpakai muatan petikemas Antara MV Hub Kuching dan MV Hub Bintulu Pervoyage dalam periode November 2007 sampai dengan November 2008.
b. bagi pembaca
diharapkan dapat menabah wawasan dan pengetahuan mengenai perbandingan kapasitas yang terpakai muatan petikemas pada kapal container .
c. Bagi perusahaan
sebagai bahan masukan dan rekomendasi perbaikan bagi perusahaan tentang kapasitas terpakai muatan petikemas pada MV Hub Kuching dan MV Hub Bintulu serta permasalahan-permasalahan yang dihadapai serta kendala-kendalanya sehingga dapat meningkatkan kapasitas yang terpakai muatannya.

D. Metodologi penelitian
Dalam menyusun skripsi ini penulis menggunakan metode sebagai berikut :
1. metode pengumpulan data
a. penelitian lapangan
Adalah metode pengumpulan data primer yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan langsung di lokasi kegiatan tempat penelitian ini meliputi :
1) Wawancara (Interview)
Penulis mengadakan wawancara baik terhadap staf perusahaan yang berwenang, Nahkoda, Mualim I, Mualim lainnya di kapal tentang kegiatan dan pelaksanaan pemuatan, mencari data jumlah petikemas yang diangkut pada kedua kapal tersebut dan sejauh mana pengaruhnya terhadap kapasitas yang terpakai muatan petikemas di atas kapal.

2) Pengamatan (Observasi)
Yaitu penelitian yang dilakukan oleh penulis secara langsung terhadap kegiatan bongkar muat petikemas pada MV. Hub Kuching dan MV. Hub Bintulu di pelabuhan Port Kelang (West Malaysia) guna mendapatkan data yang diperlukan.
b. Penelitian Kepustakaan
Yaitu penelitian yang dilakukan oleh penulis untuk memperoleh data sekunder yang bersumber dari buku atau diktat yang penulis peroleh dari kapal, buku pelajaran, perpustakaan, situs-situs internet yang mana data tersebut relevan dengan penelitian yang penulis ambil.
2)Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang penulis lakukan adalah dengan menggunakan analisis parametrik kuantitatif komparatif dua sampel, yaitu independent sample t-test. Menurut (M. Hariwijaya; Triton P.B,2007), untuk menjawab hipotesis kuantitatif komparatif dua sampel, digunakan rumus :
X1 – X2
t =
(n1 – 1)S12 + (n2 – 1)S22
n1 + n2 – 2

Untuk menghitung S1 dan S2 berdasarkan table tertentu :

signifikasi ditentukan 5 % atau α = 0,05. Uji Independent Sample t – test merupakan uji dua sisi, oleh karena itu nilai α = 0,05 masih harus dibagi dua, maka α/2 = 0,025. Derajat kebebasan atau df = n1 + n2 – 2. Berdasarkan nilai α/2 dan df maka diperoleh batas nilai kritis t pada tabel.

Formulasi statistiknya sebagai berikut :
1. H0 : µ1 = m2
Ha : µ1 > m2
2. H0 : µ1 = m2
Ha : µ1 = m2
3. H0 : µ1 ≠ m2
H0 = hipotesis nol
Ha = Hipotesis alternatif
H0 : µ1 = µ2 (tidak beda)
Ha : µ1 ≠ µ2 ( beda )

E. Hipotesis
H0 = Tidak ada perbedaan kapasitas yang terpakai muatan petikemas antara
MV Hub Kuching dan MV Hub Bintulu.
Ha = Terdapat perbedaan kapasitas yang terpakai muatan petikemas antara
MV Hub Kuching dan MV Hub Bintulu.

F. Sistematika Penulisan
Di dalam penulisan skripsi ini penulis akan membagi kedalam 5 (lima) bab dan sub bab dengan maksud agar lebih memperjelas lagi pembahasan ini serta agar tidak terjadi kesimpangsiuran antara bab yang satu dengan bab yang lainnya. Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN
Bab ini penulis menguraikan latar belakang masalah, perumusan
masalah,tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian, hipotesis, dan sistematika penulisan skripsi.

BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini mengemukakan teori-teori yang berkaitan dengan objek penelitian, pengertian organisasi, pengertian manajemen, manajemen operasi, pengertian kapal, pengertian kapal petikemas, pengertian petikemas, jenis-jenis petikemas, pengertian Nahkoda dan anak buah kapal, pengertian stabilitas kapal dan pengertian kapasitas.

BAB III GAMBARAN UMUM HUB SHIPPING SDN BHD.MALAYSIA
Pada bab ini akan memberikan informasi tentang gambaran umum perusahaan, sejarah perusahaan, organisasi perusahaan, dan manajemen perusahaan.

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Didalam bab ini penulis akan mencoba menguraikan dan membahas mengenai analisis permasalahan yang ada dengan analisis permasalahan yang ada berdasarkan landasan teori pada bab II dalam kaitannya dengan kapasitas terpakai muatan petikemas MV Hub Kuching dan MV.Hub Bintulu berdasarkan analisisparametrik kuantitatif komparatif, yaitu dengan uji hipotesis komparatif dua sampel ( t-test dua sampel ) sesuai dengan rumus pada bab I.

BAB V PENUTUP
Merupakan bab terakhir dari penulisan skripsi yang terdiri dari kesimpulan dan saran-saran. Kesimpulan didapat dan di ambil dari rangkuman bab analisis dan pembahasan sedangkan untuk saran-saran di dapat dari hasil pembahasan pada bab 4.

BAB II
LANDASAN TEORI

Dalam melakukan analisis terhadap permasalahan di dalam skripsi ini di butuhkan teori – teori yang berhubungan dengan permasalahan yang ada, yang selanjutnya dijadikan sebagai landasan untuk menganalisis permasalahan sehingga di dapat suatu hasil pada pertimbangan – pertimbangan secara obyektif. Berikut penulis uraikan beberapa landasan teori yang terkait dalam penelitian.

A. Pengertian Manajemen
Manajemen sangatlah penting bagi suatu perusahaan, karena merupakan alat untuk mencapai tujuan yang diinginkan oleh perusahaan tersebut. Manajemen yang baik di suatu perusahaan akan memudahkan perusahaan tersebut untuk mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya oleh perusahaan, para pegawai dan masyarakat.
Dalam literature – literature banyak sekali pengertian atau batasan umum manajemen yang diberikan oleh para ahli sehingga dapat diperoleh pengertian dan pandangan yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, tergantung dari sudut mana para ahli tersebut memandangnya, meskipun pada hakekatnya pengertian tersebut mempunyai tujuan yang sama. Dalam kenyataannya tidak ada definisi yang telah diterima secara umum.
Manajemen banyak diartikan sebagai ilmu untuk mencapai suatu tujuan melalui kegiatan orang lain. Oleh karena itu makin bayak kita melibatkan orang dalam mencapai tujuan maka semakin besar pula peranan dari manajemen.
Menurut H. Malayu S.P Hasibuan (1995 : 1) : Manajemen berasal dari kata to manage yang berarti mengatur. Timbul pertanyaan tentang apa yang diatur, apa tujuannya diatur, mengapa harus diatur, siapa yang mengatur dan bagaimana mengaturnya.
1. Yang mengatur adalah semua unsur manajemen, yakni 6 M terdiri Man (manusia), Money (uang), Method (metode), Machine (mesin), Materials (perlengkapan) dan Market (pasar).
2. Tujuan diatur adalah agar ke-6 M tersebut lebih berdaya guna dan berhasil guna dalam mewujudkan tujuan perusahaan.
3. Harus diatur supaya 6 M tersebut brmanfaat optimal, terkoordinasi dan terintegrasi dengan baik dalam menunjang terwujudnya tujuan organisasi.
4. Yang mengatur adalah pimpinan, dengan kepemimpinannya yaitu pimpinan puncak, manajer madya dan supervise.
5. Mengaturnya adalah dengan melakukan kegiatan urut – urutan fungsi manajemen tersebut.
Menurut Hananto Soewedo dan Engkos Kosasih (2007:6-7) : sarana manajemen agar mencapai sasarannya, diperlukan alat manajemen yang dikenal dengan 7 M, yaitu :
1. Man, yaitu orang yang mengelola manajemen.
2. Money, yaitu uang atau dana yang diperlukan untuk membiayai operasi dan investasi.
3. Method, yaitu cara untuk mencapai tujuan.
4. Material, yaitu bahan – bahan yang diperlukan.
5. Machines, yaitu mesin atau perlatan untuk proses produksi serta alat kantor, computer, dan sebagainya.
6. Market, yaitu pasar untuk menyalurkan hasil produksi.
7. MIS (Management Information System), yaitu system informasi yang sangat diperlukan untuk pengambilan keputusan.
Fungsi – fungsi manajemen mencakup fungsi – fungsi : Planning (perencanaan), Oganizing (pengorganisasian), Actuating (penggerakan), Controlling (pengawasan dan pengendalian).
Menurut H. Malayu S.P Hasibuan (1995 : 53) : Manajemen adalah ilmu dan seni yang mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapau suatu tujuan tertentu.
Dari pendapat para ahli tersebut di atas, dapat di ambil kesimpulan bahwa manajemen itu mengandung pengertian sebagai berikut :
1. Manajemen adalah suatu keterampilan dalam menjalankan usaha untuk mencapai suatu tujuan.
Dalam usaha untuk mencapai suatu tujuan tentunya diperlukan suatu kemampuan untuk mencapainya, yakni keterampilan untuk menjalankan kegiatan itu.
Seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan teknis tentang kegiatannya, agar dengan pengetahuannya itu ia dapat memberikan bimbingan secara langsung pada setiap pelaksanaan kegiatannya, sehingga tujuan yang ingin dicapai dapat terlaksana secara efisien dan efektif.
2. Manajemen adalah suatu proses aktivitas dalam usaha melaksanakan kegiatan untuk mencapai suatu tujuan.
Manajemen dikatakan sebagai suatu proses, sebab pada kenyataannya kegiatan tersebut merupakan rangkaian dan tahapan kegiatan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan tindakan perencanaan yang matang, perlu diambil terlebih dahulu agar semua langkah yang akan dilaksanakan nantinya akan benar – benar terarah dan tepat.
3. Manajemen adalah suatu pengarahan tenaga kerja dan pikiran orang lain dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuannya.
Pada dasarnya kegiatan manajemen tidak melakukan semua kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah direncanakannya. Tenaga dan pikiran orang lain dikerahkan dan digerakkan dalam suatu kerjasama yang terpadu untuk melaksanakan pekerjannya.
Disini manajemen sebagai suatu koordinasi anggota dalam kelompok yang telah dibentuk untuk melakukan kegiatan teringterasi. Dalam pengertian tersebut juga mengandung maksud memberikan motivasi, pengarahan, pembimbingan dan dorongan kepada setiap para anggota.

B. Pengertian Manajemen Operasi
Kegiatan manajemen operasi dan produksi tidak hanya menyangkut pemprosesan berbagai barang. Tetapi manajemen operasi dan produksi juga melaksanakan kegiatan produksi dalam organisasi – organisasi yang menyediakan berbagai bentuk jasa, seperti pada bisnis asuransi, perhotelan, perbankan, transportasi dan lain sebagainya.
Manajemen produksi merupakan usaha – usaha pengelolaan sumber daya manusia, mesin – mesin, peralatan, bahan mentah dan sebagainya. Para pimpinan atau manajer operasi mengarahkan berbagai masukan (input) agar dapat memproduksi berbagai keluaran (output) dalam jumlah, kualitas, harga, waktu dan tempat tertentu sesuai dengan permintaan konsumen. Dengan memperhatikan factor – factor kekuatan – kekuatan dari luar, seperti peraturan pemerintah, tuntutan pekerja, kondisi ekonomi local, nasional, dan internasional; kemajuan teknologi; dan lain sebagainya.
Menurut Chase, RB., dan Aquilan (2000 : 8) bahwa : manajemen operasi didefinisikan sebagai pelaksanaan kegiatan – kegiatan manajerial yang dibawakan dalam pemilihan, perancangan, pengoperasian dan pengawasan system – system produktif.
Dimana kegiatan – kegiatan manajerial tersebut diuraikan sebagai berikut :
1. Pengawasan : Prosedur – prosedur yang menyangkut pengambilan tindakan korektif dalam operasi – operasi produksi barang atau penyediaan jasa.
2. Pembaharuan : Impelementasi perbaikan – perbaikan yang diperlukan dalam system produktif berdasarkan perubahan – perubahan permintaan, tujuan – tujuan organisasi, teknologi dan manajemen.
3. Pemilihan : keputusan strategik yang menyangkut pemilihan proses melalui mana berbagai barang atau jasa akan diproduksi atau disediakan.
4. Perancangan : Keputusan – keputusan taktikal yang menyangkut kreasi – kreasi metode pelaksanaan suatu operasi produktif.
5. Pengoperasian : Keputusan – keputusan perencanaan tingkat keluaran jangka panjang atau dasar forecast permintaan dan keputusan – keputusan scheduling pekerjaan dan pengalokasian karyawan jangka pendek.
Menurut T. Hani Handoko (2000 : 6) : Manajemen produksi dan operasi sebagai system – system transformasi yang mengubah masukan – masukan menjadi barang – barang dan jasa – jasa.
Sofyan Assauri (1980 : 7) : Manajemen produksi adalah kegiatan untuk mengatur agar dapat menciptakan dan menambah kegunaan (utility) sesuatu barang atau jasa.
Menurut Heizer, Jay dan Render, Bary (2005 : 4) : Manajemen operasi adalah kegiatan yang berhubungan dengan penciptaan barang dan jasa melalui adanya pengubahan input menjadi output.
Dimana produksi merupakan proses penciptaan barang dan jasa, dan organisasi untuk menghasilkan barang dan jasa terdiri atas :
1. Produksi dan operasi
2. Pemasaran
3. Keuangan dan akutansi
Dari pendapat para ahli tersebut di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa manajemen produksi dan operasi mengandung pengertian sebagai berikut :
1. Manajemen produksi dan operasi sebagai manajemen – system – system transformasi yang mengubah masukan – masukan menjadi barang – barang dan jasa – jasa.
Masukan – masukan tadi dirubah melalui usaha – usaha pengelolaan atau proses untuk menghasilkan suatu produk barang atau jasa sesuai permintaan konsumen.
2. Manajemen produksi adalah suatu pelaksanaan kegiatan – kegiatan manajerial yang dibawakan dalam pemilihan, perancangan, pembaharuan, pengoperasia dan pengawasan system – system produktif.
3. Manajemen operasi adalah kegiatan yang berhubungan dengan penciptaan barang dan jasa melalui adanya pengubahan input menjadi output.
Dalam menciptakan barang dan jasa tersebut dilakukan proses sumber daya manusia, mesin – mesin, peralatan, bahan mentah dan sebagainya. Serta diarahkan oleh manajer operasi sehingga input tadi dapat diproduksi menjadi output sesuai keinginan dan harapan manajemen dan masyarakat.

C. Pengertian Kapasitas, Kapasitas Terpakai, Stabilitas dan Muatan
Menurut Wikipedia, Ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia : Kapasitas dari bahasa Belanda, Capaciteit adalah daya tampung, daya serap, ruang atau fasilitas yang tersedia,kemampuan (maksimal). (Wikimedia, Ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, http://id.wikipedia.org/wiki/kapasitas, 2007).
Menurut diktat Penanganan dan Pengaturan Muatan, BP3IP (2003 : 42) : Kapasitas terpakai atau kapasitas terangkut (loaded cargo capacity), adalah jumlah muatan dalam satuan berat, unit atau volume yang dimuat di atas kapal baik dalam bentuk muatan umum (general cargo), kemasan, maupun curah (kering atau cair).
Menurut Istopo (2001 : 47) : “Stabilitas ialah kecenderungan kapal untuk kembali ke kedudukan semula setelah sengat (miring)yang disebabkan oleh gaya luar”.
Menurut Sudjatmiko (1985 : 65) : Muatan adalah segala macam barang dan dagangan (goods and merchandise) yang diserahkan kepada pengangkut untuk diangkut dengan kapal, guna diserahkan kepada orang atau badan hukum dipelabuhan tujuannya.

D. Pengertian Petikemas (Container)
Petikemas sebagai salah satu sarana pengangkutan barang, saat ini dirasakan sangat penting khususnya bagi kalangan pelayaran nasional maupun internasional. Hal ini tak lepas dari kemampuan muat bongkar yang tinggi dan cepat serta pengeluaran biaya tenaga kerja yang rendah sehingga frekuensi pelayaran menjadi meningkat, produktifitas angkutan menjadi lebih tinggi dan biaya operasional pelayaran dapat dikurangi.
“Container adalah system pengangkutan menggunakan petikemas”. (Abbas Salim, 1993 : 134).
Menurut Amir M.S (1997 : 6) : Petikemas adalah peti yang terbuat dari logam yang memuat barang – barang yang lazim disebut muatan umum (general cargo) yang akan dikirimkan melalui laut.
Menurut Sudjatmiko (1985 : 14) : “Container adalah peti besar yang terbuat dari kerangka baja dengan dinding aluminium atau lembaran baja ekstrusi”.
Menurut R.P.Suyono (2005 : 263) : Petikemas (container) adalah satu kemasan yang dirancang secara khusus dengan ukuran tertentu, dapat dipakai berulang kali, dipergunakan untuk menyimpan dan sekaligus mengangkut muatan yang ada di dalamnya.
Ukuran petikemas sesuai dengan badan International Standart Organization (ISO) adalah sebagai berikut :

Table II.1
Ukuran – ukuran Container

Type
Kode Tinggi
Bagian Lebar
Bagian Dalam Panjang
Luar Berat Kotor
Maksimum Kapasitas
M Ft.in M Ft.in M Ft.in Kg Lb M3 Ft3
1-A
1-AA
1-B
1-BB
1-C
1-CC
1-D
1-E
1-F 2,438
2,591
2,438
2,591
2,438
2,591
2,438
2,438
2,438 8-00
8-00
8-00
8-00
8-00
8-00
8-00
8-00
8-00 2,438
2,438
2,438
2,438
2,438
2,438
2,438
2,438
2,438 8-00
8-00
8-00
8-00
8-00
8-00
8-00
8-00
8-00 12
12
9
9
6
6
3
2
1,5 40-00
40-00
30-00
30-00
20-00
20-00
10-00
6-08
5-00 30480
30480
25400
25400
20320
20320
10160
7110
5080 67200
67200
56000
56000
44800
44800
22400
15700
11200 61,4
65,7
45,7
48,9
30,0
30,0
14,3
9,1
6,5 2167,5
2317,5
1613,5
1725,4
1060,1
1060,1
506,2
321,6
320,0

Sumber : Amir M.S, Petikemas; Masalah dan Aplikasinya, 1997 dan diolah oleh penulis.

Jenis – jenis Petikemas :
1) General cargo container, yaitu yang dipakai untuk pengangkutan muatan umum, terdiri atas :
a. General purpose container
b. Open – side container
c. Open – top container
d. Ventilated container
2) Thermal, yaitu petikemas yang dilengkapi dengan suhu untuk muatan tertentu, terdiri atas :
a. Insulated container
b. Reefer container
c. Heatde container
3) Tank, adalah tangki yang ditempatkan dalam kerangka petikemas yang dipergunakan untuk muatan cair (bulk liquid) maupun gas (bulk gas).
4) Dry bulk, adalah general purpose container yang dipergunakan khusus untuk mengangkut muatan curah (bulk cargo).
5) Platform, adalah petikemas yang terdiri dari lantai dasar. Petikemas yang termasuk jenis ini adalah :
a. Flat rack container, adalah petikemas yang terdiri dari lantai dasar dengan dinding pada ujungnya. Flat rack terbagi atas :
1) Fixed end type; dinding pada ujungnya tidak dapat di buka atau lipat.
2) Collapsible type; dinding pada ujungnya dapat dilipat, agar menghemat ruangan saat diangkut dalam keadaan kosong.
b. Platform based container, adalah petikemas yang hanya terdiri dari lantai dasar saja dan apabila diperlukan, dapat dipasang dinding.
6) Specials container, adalah petikemas yang khusus dibuat untuk muatan tertentu, seperti petikemas untuk muatan ternak (Cattle container) atau muatan kendaraan (car container).
Container (petikemas) yang dimuat bisa ukuran 20 feet (Teu = twenty equivalent unit) dengan kapasitas + 18 ton, 40 feet (Feu = fourty equivalent unit)dengan kapasitas + 27 ton muatan, bahkan sekarang sudah berkembang sampai ukuran 35, 45 dan 55 feet.

E. Pengertian Kapal
Menurut kitab Undang – undang Hukum Dagang Republik Indonesia 1847 buku II Pasal 309 (2006 ; 2) : Kapal adalah semua alat yang berlayar, bagaimanapun namanya dan apa pun sifatnya. Kecuali bila ditentukan lain, atau diadakan perjanjian lain, dianggap bahwa kapal itu meliputi perlengkapan kapalnya.
Menurut pasal 310 Kitab Undang – undang Hukum Dagang Republik Indonesia 1847 buku II (2006 : 60) : “Kapal laut adalah semua kapal yang digunakan untuk pelayaran di laut atau diperuntukkan untuk itu”.
Menurut UU No. 21 tahun 1992 pasal 1 butir 2 tentang pelayaran (2006 : 2) : Kapal adalah semua perahu dengan apapun dan dari macam apapun, yang digerakkan dengan tenaga mekanik, tenaga angin atau tunda termasuk kendaraan yang di bawah permukaan air serta apung dan bangunan terapung yang tidak berpindah – pindah.
Menurut COLREG 1972 (Collision Regulation 1972) (2003 : 6) aturan 3a adalah : Kata “Kapal” mencakup setiap jenis kendaraan air, termasuk kapal tanpa benaman (Displacement) dan pesawat terbang laut, yang digunakan atau dapat digunakan sebagai sarana angkutan di air.
Menurut Sudjatmiko (1985 : 14) mendefinisikan kapal sebagai berikut : Yang dimaksud dengan kapal barang ini adalah kapal yang di bangun khusus untuk tujuan mengangkut barang – barang menurut jenis barang masing – masing.
Menurut Wikipedia, Ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia kapal adalah : Seperti sampan atau perahu, merupakan suatu kendaraan yang dibuat untuk lautan atau pengangkutan merintang air. (Wikimedia. Ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, http://id.wikipedia.org/wiki/kapal, 2007).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia : “Kapal adalah kendaraan pengangkut penumpang dan barang di laut (sungai dan sebagainya)”. (R.P.Suyono,2005 : 115)
Jenis – Jenis kapal niaga menurut Hananto Soewedo dan Engkos Kosasih (2007 : 14-18) adalah :
1. Kapal barang (Cargo Vessel), sering juga disebut kapal konvensional.
Beradasrakan jenis muatannya kapal barang dapat dibedakan menjadi tujuh jenis berikut :
a. General Cargo Carrier, untuk mengangkut muatan umum (general cargo) yaitu muatan yang terdiri dari bermacam – macam barang dalam bentuk potongan maupun yang dibungkus, dalam peti, keranjang, dan lain – lain.
b. Bulk Cargo Carrier, untuk mengangkut muatan curah dengan jumlah banyak dalam sekali jalan. Bentuk muatan biasanya berbutir – butir (grain cargo, seperti beras, gandum, biji besi, batu bara dan sebagainya.
c. Kapal Tanker, untuk mengangkut muatan cair.
d. Combination Carrier, kombinasi kapal tanker dan dry bulk.
e. Offshore Supply Ship, untuk mengangkut bahan atau peralatan, makanan, dan lain – lain untuk anjungan.
f. Special Designed Ship, kapal yang khusus dibangun untuk muatan tertentu, seperti daging, LNG, misalnya refrigerated cargo carrier, liquefied gas carrier dan lain sebagainya.
g. Kapal Container atau kapal cellular container, untuk mengangkut muatan general cargo yang dimasukkan kedalam container atau muatan – muatan yang perlu dibekukan dalam reefer container.
Jenis kapal container adalah sebagai berikut :
1) Kapal container biasa
2) Roll – on Roll – off
3) LASH (Lighter Aboard Ship)
4) FLASH ( Feeder Lighter Aboard Ship)
5) Sea Bee atau Sea Train
Menurut Amir M.S (1997 : 7) : Kapal petikemas (cellular ships) yaitu kapal – kapal khusus yang mempunyai rongga (cells) untuk menyimpan petikemas yang berukuran standar, yang dapat dimuat dan dibongkar dengan cepat, baik dengan menggunakan mesin-mesin Derek dermaga ataupun menggunakan mesin Derek kapal itu sendiri.
Menurut Wikipedia, Ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia : Kapal container adalah kapal barang yang khusus untuk mengangkut barang yang sudah dikemas dalam petikemas. (Wikimedia, Ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, http://id.wikipedia.org/wiki/kapal_kontainer,2007)
Menurut Sudjatmiko (1985 : 14) : Kapal petikemas (container vessel) adalah kapal yang dibangun untuk mengangkut muatan yang sudah dimasukkan kedalam container (petikemas).
2. Panamax Class, ukuran kapal terbesar yang dapat melalui Terusan Panama (60.000 DWT), dengan lebar maksimum 32 m.
3. Kapal Penelitian atau Perambuan, untuk fungsi pemetaan, hidrografi, oceangrafi, seismografi, dan melakukan penelitian di laut.
4. Kapal Penumpang (Passenger Vessel), kapal ini digunakan khusus untuk mengangkut penumpang.
5. Kapal Barang Penumpang (Cargo-Passenger Vessel), jenis kapal ini digunakan untuk mengangkut penumpang dan barang secara bersama – sama.
6. Kapal barang dengan akomodasi penumpang terbatas, ini merupakan kapal biasa (general cargo atau bulk carrier). Tetapi diizinkan membawa penumpang maksimum 12 orang.

F. Pengertian Kelaiklautan Kapal (Sea Worthiness), voyage (perjalanan), Deviasi (Skip) dan Liner Service.
Menurut UU No. 21 tahun 1992 pasal 1 butir 10 (2006 : 2) tentang pelayaran Kelaiklautan kapal adalah : keadaan kapal yang memenuhi persyaratan keselamatan kapal, pencegahan pencemaran perairan dari kapal, pengawakan, pemuatan, kesehatan dan kesejahteraan awak kapal, serta penumpang dan status hukum kapal untuk berlayar di perairan tertentu.
Menurut Hananto Soewedo dan Engkos Kosasih (2007 : 71) : Voyage adalah perjalanan kapal dari satu pelabuhan ke beberapa pelabuhan.lainnya atau dari satu pelabuhan ke beberapa pelabuhan.
Menurut Keputusan Menteri Perhubungan nomor : KM. 33 tahun 2001 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan Angkutan Laut : Devisi (skip) adalah penyimpangan trayek kepelabuhan lain diluar pelabuhan wajib singgah yang ditetapkan dalam jaringan trayeknya.
Menurut Sudjatmiko (1985 : 54) : Liner service (pelayaran tetap) yaitu pelayaran yang dijalankan secara tetap dan teratur, baik dalam hal keberangkatan maupun kedatangan kapal di pelabuhan, dalam hal trayek (wilayah operasi), dalam hal tarif angkutan serta dalam hal syarat – syarat dan perjanjian pengangkutan.

G. Pengertian Nakhoda, Perwira Kapal dan Anak Buah Kapal (ABK)
Menurut UU No. 21 tahun 1992 (2006 : 3) : pasal 1 butir 12 tentang pelayaran Nakhoda kapal : adalah salah seorang dari awak kapal yang menjadi pimpinan umum di atas dan mempunyai wewenang dan tanggung jawab tertentu sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku.
Menurut STCW 1995 Amandemen 1978 bab I peraturan 1.3 (2000 : 23) : “Master (Nakhoda) berarti orang yang memegang komando sebuah kapal”.
Menurut STCW 1995 Amandemen 1978 bab I peraturan 1.4 : Officer (perwira) berarti seorang awak kapal yang bukan nakhoda, yang ditentukan oleh hukum nasional atau oleh peraturan yang ada, atau jika tidak ada penentuan semacam tersebut ditentukan melalui kesepakatan bersama atau kebiasaan. (STCW 1995, 2000 : 23).
Menurut pasal 341 Kitab Undang – undang Hukum Dagang Republik Indonesia 1847 buku II (2006 : 68) : “Perwira kapal adalah anak buah kapal yang oleh daftar anak buah kapal diberi pangkat Perwira”.
Menurut UU No. 21 tahun 1992 pasal 1 butir 14 (2006 : 3) tentang pelayaran : “Anak buah kapal adalah awak kapal selain nakhoda atau pemimpin kapal”.
“Rating (bawahan) berarti seorang awak kapal yang bukan nakhoda dan juga bukan perwira”. (STCW 1995 , 2000 : 23).

NOTULEN

1.Apakah  Kapasitas ruang kapal hub kucing dengan hub bintulu sama?

2.Pertannyaan kelompok III ”Mengapa anda menggunakan variabel x1.x2”Karena menuut kami bahwa S1 cuma menggunakan 2 variabel yaitu 1x dan 1y,berarti skiripsi anda untuk S2 karena ada x1 dan x2

3.Pertannyan kelompok IV”Mengapa anda mengambil judul “ ANALISIS PERBANDINGAN KAPASITAS YANG TERPAKAI MUATAN PETIKEMAS ANTARA MV.HUB KUCHING DAN MV.HUB BINTULU PERVOYAGE PADA ARMADA HUB SHIPPING SDN BHD MALAYSIA, PERIODE NOVEMBER 2007 – NOVEMBER 2008”

Perbaikan:

1.Tahun untuk judul diperbaiki dari 2007 sampai dengan november 2008 menjadi november 2007 sampai dengan november 2008

2.menggunakan analisis parametrik kuantitatif komparatif

tugas seminar kelompok 1

July 14, 2009

ANALISIS HUBUNGAN MUTU PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN PADA PELABUHAN PENUMPANG INTERNASIONAL TANJUNG BALAI KARIMUN
TAHUN 2009

Oleh :
HERY WIBOWO (NIM : 244308037)
KAMALUDDIN MAMBU

PURNAWAN ADJI CAHYADI
MADISAMU SAMIU (NIM: 244308064)
HASAN ALHABSYI
RISAL SYAM
ANSHAARI

SKRIPSI

DISAMPAIKAN KEPADA SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN TRANSPOR TRISAKTI, PROGRAM STUDI MANAJEMEN TRANSPOR LAUT SEBAGAI BAGIAN DARI PERSYARATAN UNTUK MEMPEROLEH GELAR SARJANA EKONOMI (S1)

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN TRANSPOR “TRISAKTI”
J A K A R T A
2 0 0 9

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam rangka pengembangan kegiatan ekonomi di Kepulauan Riau, khususnya di Tanjung Balai Karimun dan sekitarnya, Pemerintah bekerjasama dengan BUMN dalam hal ini PT. (Persero) Pelindo I Cabang Tanjung Balai Karimun membangun Pelabuhan Penumpang Internasional Tanjung Balai Karimun yang menghubungkan Kepulauan Karimun, Singapura dan Pulau Pulau di Kepulauan Riau. Pelabuhan Tanjung Balai Karimun melayani arus penumpang yang berkunjung ke Tanjung Balai Karimun.
Sejak dibangunnya Pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun laju pergerakan ekonomi daerah menjadi semakin tinggi, makin banyaknya kemudahan kemudahan yang dirasakan oleh seluruh warga Tanjung Balai Karimun dalam berbisnis yang ditunjang dengan adanya transportasi laut yang cukup memadai, hal ini juga berpengaruh positif terhadap Pendapatan Asli Daerah Provinsi Kabupaten Karimun. Hal tersebut juga berdampak pada perkembangan kebutuhan akan transportasi untuk memudahkan dan atau membantu pergerakan yang dilakukan oleh seluruh pengguna jasa.
Letak pulau Karimun yang berdekatan dengan Singapura menjadikan transportasi Laut menjadi primadona bagi penumpang yang akan berkunjung ke Pulau Karimun, sehingga membuat pihak terkait untuk membangun pelabuhan penyeberangan yang menghubungkan Pulau Karimun, Singapura dan Pulau Batam. Dengan dibangunnya pelabuhan tersebut minat penumpang yang akan berkunjung ke Pulau Karimun dengan menggunakan jasa penyeberangan sangat besar, selain harganya yang terjangkau, banyak juga fasilitas kemudahan yang disediakan oleh Pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun, sehingga menimbulkan daya tarik tersendiri bagi calon konsumennya dengan segmen pasar yang luas tidak hanya dibatasi oleh komunitas tertentu, tingkat penghasilan, tingkat pendidikan dan pekerjaan.
Proses keputusan penumpang dalam memakai jasa penyeberangan tidaklah terjadi dengan begitu saja. Dalam pengambilan keputusan, penumpang dipengaruhi oleh alternatif alternatif yang dihadapi serta daya tarik masing masing alternatif yang dihadapi. Dapat juga keyakinan seorang penumpang mengenai pelabuhan internasional Tanjung Balai Karimun tersebut yang didasarkan atas pengalaman dan informasi yang diperolehnya. Dari penilaian ini maka penumpang akan mempunyai pandangan kepuasan terhadap jasa pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun dalam arti positif diantara pelabuhan lainnya.
Mendirikan suatu perusahaan tujuan utamanya adalah untuk memperoleh laba sehingga perusahaan tersebut dapat lebih berkembang dan mempertahankan kelangsungan hidup operasional perusahaan.
Selain itu, PT. (Persero) Pelindo I Cabang Tanjung Balai Karimun harus dapat membuat kebijakan dan strategi pemasaran sehingga perusahaan dapat bersaing dengan perusahaan lain yang sejenis. Oleh sebab itu, keberhasilan suatu kegiatan pemasaran tergantung pada pemahaman perusahaan terhadap kepuasan penumpang.
Untuk dapat memenuhi kepuasan penumpang maka perusahaan yang bergerak dibidang jasa harus memberikan pelayanan atau service yang terbaik, dimana perusahaan harus mengetahui apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumennya yang akan atau selama menggunakan jasa yang dipasarkan.
Pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun merupakan merupakan pelabuhan yang memberikan fasilitas bagi para wisatawan yang akan berkunjung ke Pulau Karimun. Fungsi lainnya adalah memberikan kemudahan, keselamatan angkutan dalam operasi penyeberangan penumpang dan barang.
Berdasarkan uraian di atas maka, dalam penelitian ini penulis tertarik untuk memilih judul “ANALISIS HUBUNGAN MUTU PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN PADA PELABUHAN PENUMPANG INTERNASIONAL TANJUNG BALAI KARIMUN TAHUN 2009”

B. Perumusan Masalah
Pada latar belakang masalah telah disebutkan bahwa terdapat banyak faktor yang mempengaruhi kepuasan penumpang terhadap pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun. Di antara yang mempengaruhi kepuasan tersebut adalah pelayanan, ketersediaan tiket, pengoperasian, keamanan, kenyamanan, pengaruh lingkungan dan sebagainya.
Seorang calon penumpang akan mempunyai kepuasan yang positif ataupun negatif tergantung dari mutu pelayanan yang ditunjukkan oleh pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun kepada penumpang dan pengalaman pribadi maupun informasi yang didapat oleh penumpang.
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atasmaka, masalah masalah yang terkait dengan topik penelitian ini dapat penulis identifikasikan sebagai berikut :
a. Mutu pelayanan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun belum optimal.
b. Pengawasan terhadap mutu pelayanan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun belum sepenuhnya terprogram.
c. Minimnya sarana dan prasarana pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun yang dapat menunjang kepuasan pelanggan.
d. Fasilitas pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun yang masih kurang memenuhi standar internasional.
e. Rendahnya tingkat kepatuhan pengguna jasa transportasi laut dan penyedia jasa transportasi laut pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun.
f. Rendahnya tingkat kebersihan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun.

2. Pembatasan Masalah
Untuk membatasi permasalahan dengan maksud agar sasaran dalam pembatasan ini dapat tercapai, maka dalam penelitian penulis hanya membatasi ruang lingkup kajian pada hubungan antara mutu pelayanan terhadap kepuasan pelanggan pada pelabuhan penumpang Tanjung Balai Karimun.
3. Pokok Permasalahan
Berdasarkan uraian di atas, maka pokok permasalahan yang akan diteliti adalah sebagai berikut :
a. Bagaimana realisasi mutu pelayanan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun tahun 2009 ?
b. Bagaimana tingkat kepuasan pelanggan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun tahun 2009 ?
c. Bagaimana hubungan antara mutu pelayanan terhadap kepuasan pelanggan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun tahun 2009 ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan penelitian
a. Untuk mengetahui bagaimana realisasi mutu pelayanan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun tahun 2009.
b. Untuk mengetahui bagaimana tingkat kepuasan pelanggan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun tahun 2009.
c. Untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara mutu pelayanan terhadap kepuasan pelanggan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun tahun 2009.

2. Manfaat penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi penulis, objek yang diteliti dengan masyarakat akademik sebagai berikut:
a. Bagi Penulis
Penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan dan pengetahuan penulis akan masalah masalah yang terjadi dalam perusahaan khususnya mutu pelayanan dan kepuasan pelanggan. Disamping itu, penelitian ini merupakan kewajiban akademik yang harus dipenuhi penulis sebagai syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi pada Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti.
b. Bagi Perusahaan
Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan informasi yang bermanfaat sebagai bahan evaluasi terhadap efektifitas dan efisiensi dalam rangka perbaikan mutu pelayanan dan kepuasan pelanggan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun.
c. Bagi Lembaga STMT TRISAKTI dan masyarakat lainnya
Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan informasi yang bermanfaat bagi pembaca mengenai pandangan atau gambaran pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun. Dapat dijadikan sebagai bahan referensi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan tambahan perbendaharaan kepustakaan bagi STMT Trisakti.

D. Hipotesis
Merupakan jawaban sementara dari hasil penelitian yang perlu diuji
kebenarannya. Adapun hipotesis penelitian ini adalah : “Diduga terdapat hubungan
yang positif antara mutu pelayanan terhadap kepuasan pelanggan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun.

E. Metodologi Penelitian
1. Jenis dan Sumber Data
Jenis penelitian ini adalah diskriptif kualitatif yang digunakan untuk menguji hipotesis. Dalam memperoleh dan mengumpulkan data, peneliti melakukan penelitian pada beberapa lokasi diantaranya: a. PT. (Persero) Pelindo I Cabang Tanjung Balai Karimun; b. Pelabuhan Penumpang Internasional Tanjung Balai Karimun; c. Administrasi pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun.
2. Populasi dan Sampel
a. Populasi
Populasi merupakan kumpulan yang lengkap dari seluruh elemen yang sejenis dan dapat dibedakan menjadi objek penelitian. Dalam melaksanakan penelitian ini yang menjadi populasi adalah semua penumpang yang sudah menggunakan jasa pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun.
b. Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi untuk diselidiki. Menurut Marzuki (1989). Sampel adalah himpunan dari unsur unsur yang sejenis atau universal. Sesuai dengan buku panduan skripsi STMT Trisakti, jumlah sampel yang akan digunakan adalah 30 orang.
3. Metode Pengumpulan Data
a. Observasi
Adalah pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan secara langsung pada penumpang yang telah memakai jasa penyeberangan pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran atau tanggapan responden terhadap variabel pengoperasian, pelayanan dan kenyamanan pelabuhan.
b. Wawancara
Adalah pengumpulan data dengan Tanya jawab kepada pihak perusahaan dan penumpang yang dilaksanakan secara sistematis. Dalam wawancara, komunikasi dilakukan secara formal terhadap operator pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun dan penumpang.
c. Angket (Kuesioner)
Untuk mendapatkan data yang sesuai dengan tujuan penelitian, peneliti menyebarkan pertanyaan secara tertulis dan sistematik. Jumlah questioner yang disiapkan peneliti untuk 30 responden, ditujukan kepada penumpang yang telah menggunakan jasa pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun. Data yang diperoleh dari angket tersebut akan memberikan informasi mengenai kepuasan penumpang dalam mengambil keputusan dan menggunakan jasa pelabuhan.
Skala pengukuran kuesioner berdasarkan skala Likert, memberikan bobot setiap jawaban yang diberikan responden. (Istijanto 2005 : 81).

SS : Sangat Setuju Nilai Bobot = 5
S : Setuju Nilai Bobot = 4
RR : Ragu-ragu Nilai Bobot = 3
TS : Tidak Setuju Nilai Bobot = 2
STS : Sangat Tidak Setuju Nilai Bobot = 1

4. Teknik Analisis Data
Untuk menganalisis data hasil penelitian akan digunakan rumus-rumus statistik/matematik melalui langkah-langkah sebagai berikut :
a. Analisis Regresi Linear Sederhana
Analisa ini digunakan untuk mengetahui hubungan proporsional antara variabel mutu pelayanan terhadap kepuasan pelanggan menurut J. Supranto (2001 : 207),
persamaan garis regresi linear sederhana adalah sebagai berikut :

Y = a + bX

Dimana:
X = Variabel bebas (mutu pelayanan)
Y = Variabel terikat (kepuasan penumpang)
a = Konstanta
b = Koefisien Regresi
n = Jumlah Observasi / Pengukuran
untuk mengetahui nilai a dan b digunakan rumus:
a =
b =
b. Analisis Koefisien Korelasi
Suatu metode untuk mengetahui kuat atau lemahnya hubungan antara variabel X dan Y dengan rumus J. Supranto (2001 : 208) sebagai berikut :
Rumus :
r =
Dimana :
1) Jika r = +1 atau mendekati 1, berarti hubungan antara X dan Y adalah positif dan sangat kuat.
2) Jika r = -1 atau mendekati -1, berarti hubungan antara X dan Y sangat kuat, tetapi negatif.
3) Jika r = 0 atau mendekati 0, berarti tidak ada hubungan antara X dan Y, atau hubungan sangat lemah.
Tabel I.1
Koefisien Korelasi dan Taksiran
Interval Interprestasi
0,00 – 0,199
0,20 – 0,399
0,40 – 0,599
0,60 – 0,799
0,80 – 1,000 Sangat rendah
Rendah
Cukup sedang
Kuat
Sangat kuat
Sumber : Sugiyono, (2008 : 214)

c. Analisis Koefisien Penentu (Kp)
Langkah ini diambil guna melihat kontribusi atau pengaruh variabel X terhadap variabel Y. J. Supranto (2001 :212).
Rumus : Kp = r2 x 100%.
Dimana :
Kp = Koefisien penentu
r2 = Koefisien korelasi yang dikuadratkan

d. Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan dengan cara membandingkan nilai thitung dengan ttabel ; mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
1. Hipotesis Awal
H0 :  = 0 tidak ada hubungan antara variabel X dan variabel Y.
H1 :  > 0 ada hubungan yang siginifikan antara variabel X dan variabel Y.
2. Untuk mendapatkan nilai t-hitung digunakan rumus thitung menurut Sugiyono (2005 : 215)
thitung =
3. Untuk mendapatkan t-tabel digunakan tabel distribusi t pada (= 0.050 dan df = n-2)
4. Kesimpulan
Jika thit ttabel maka, H0 ditolak artinya ada hubungan yang signifikan antara variabel X dan variabel Y.

F. Sistematis Penulisan
Untuk mempermudah pembaca memahami materi yang akan dibahas maka skripsi ini disusun sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini merupakan bagian yang mengurai latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian, hipotesis penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini menyajikan Landasan Teori dari variabel-variabel yang terkait dengan penelitian, menguraikan tentang penilaian kepuasan pelanggan, mutu pelayanan dan hubungan antara kedua variabel dimaksud.
BAB III GAMBARAN UMUM PELABUHAN PENUMPANG INTERNASIONAL TANJUNG BALAI KARIMUN
Pada bab ini akan disampaikan gambaran mengenai profil pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun mencangkup visi dan misi perusahaan, tugas pokok perusahaan, lokasi perusahaan, serta organisasi dan ruang lingkup tugas manajemen pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun.
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dilaporkan hasil analisis mutu pelayanan, hasil analisis kepuasan pelanggan dan hasil analisis hubungan antara mutu pelayanan terhadap kepuasan pelanggan pada pelabuhan penumpang Tanjung Balai Karimun dengan menggunakan rumus-rumus statistik dan matematik yang telah di uraikan pada bab I.
BAB V PENUTUP
Bab ini merupakan bab terakhir dari penulisan yang menguraikan tentang kesimpulan dari hasil analisis dan saran saran.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian kepuasan Pelanggan
Peranan setiap individu dalam service encounter sangatlah penting dan sangat berpengaruh terhadap kepuasan yang dibentuk. Untuk mengetahui tingkat kepuasan konsumen secara lebih baik harus dapat dipahami sebab sebab kepuasan. Kepuasan atau ketidakpuasan konsumen adalah respon konsumen terhadap evaluasi ketidaksesuaian/diskonfirmasi yang dirasakan antara harapan sebelumnya dan kinerja actual produk yang dirasakan setelah pemakaianya. (Tse dan Wilton, 1988).
Umumnya harapan konsumen merupakan perkiraan atau keyakinan pelanggan tentang apa yang akan diterimanya bila ia membeli atau mengkonsumsi suatu produk (barang atau jasa). Sedangkan kinerja yang dirasakan adalah persepsi konsumen terhadap apa yang telah diterima konsumen setelah mengkonsumsi produk (barang atau jasa) yang telah dibelinya. Secara konseptual, kepuasan konsumen/pelanggan dapat digambarkan seperti gambar 2.1.

Gambar 2.1 Konsep Kepuasan Konsumen/Pelanggan

Sumber : Tjiptono, Fandy, 1995, Strategi Pemasaran
Metode yang dapat digunakan perusahaan untuk mengukur dan memantau kepuasan konsumen terdiri dari :
1. Sistem keluhan dan saran
Setiap perusahaan yang berorientasi pada konsumen/pelanggan perlu memberikan kesempatan yang seluas luasnya bagi para pelanggan untuk menyampaikan saran, pendapat dan keluhan.
2. Survey kepuasan pelanggan
Melalui survey perusahaan akan memperoleh tanggapan dan umpan balik secara langsung dari pelanggan dan sekaligus memberikan tanda positif perusahaan menaruh perhatian terhadap konsumen/pelanggan.

3. Pembeli Bayangan
Metode ini dilakukan dengan cara mempekerjakan seorang sebagai pembeli bayangan untuk berperan atau bersikap sebagai pelanggan potensial produk perusahaan dan pesaing. Ada baiknya seorang manajer berperan langsung sebagai pembeli bayangan untuk mengetahui langsung bagaimana karyawan berinteraksi dan memperlakukan konsumen.
4. Pelanggan yang hilang
Perusahaan menghubungi para pelanggan yang telah berhenti menggunakan produk, atau beralih pemasok. Yang diharapkan akan diperoleh informasi penyebab terjadinya hal tersebut.
B. Harapan dan Kepuasan Konsumen
Harapan pelanggan dibentuk dan didasarkan oleh beberapa faktor, diantaranya pengalaman berbelanja dimasa lampau, opini teman dan kerabat, serta informasi dan janji janji perusahaan dan para pesaing. (Kotler dan Amstrong, 1994). Ada beberapa penyebab utama tidak terpenuhinya harapan konsumen/pelanggan yaitu:
1. Konsumen/pelanggan keliru mengkomunikasikan jasa yang diinginkan.
2. Konsumen /pelanggan keliru menafsirkan signal (Harga, positioning, dan lain lain).
3. Kinerja karyawan perusahaan jasa buruk.
4. Miskomunikasi penyedia jasa oleh pesaing
Berdasarkan beberapa penyebab utama tidak terpenuhinya harapan konsumen tersebut, ada beberapa faktor penyebab yang dapat dikendalikan oleh penyedia jasa. Dengan demikian penyedia jasa bertanggung jawab untuk meminimumkan miskomunikasi dan misinterprestasi yang mungkin terjadi dan menghindarinya dengan cara merancang jasa yang mudah dipahami dengan jelas. Dalam hal ini penyedia jasa harus mengambil inisiatif agar perusahaan dapat memahami dengan jelas instruksi dari pelanggan dan konsumen/pelanggan mengerti benar apa yang akan diberikan.
Sebelim menggunakan suatu jasa, konsumen/pelanggan sering memliki empat skenario jasa yang berbeda mengenai apa yang bakal dialami pelanggan/konsumen yaitu:
1. Jasa Ideal
2. Jasa yang diantisipasi/diharapkan
3. Jasa yang selayaknya diterima
4. Jasa minimumyang dapat ditoleransi
Pelanggan dapat berharap dari keempat skenario tersebut, karena itu apabila “jasa minimum yang dapat ditoleransi” yang diharapkan, lalu yang terjadi sama dengan atau bahkan melampaui harapan tersebut, maka akan timbul kepuasan. Sebaliknya bila yang diharapkan “jasa ideal”, maka bila yang terjadi kurang dari harapan tersebut maka yang terjadi adalah ketidakpuasan.

C. Mutu Pelayanan
Salah satu yang dipertimbangkan oleh penumpang dalam menggunakan jasa pelabuhan yaitu pelayanannya yang memuaskan, disamping itu tingkat keselamatan juga terjamin. Karena dalam hal ini penumpang mendapatkan jaminan asuransi. Mengingat pentingnya keselamatan yang sangat menjadi perhitungan bagi penumpang, maka pihak pihak Pelabuhan Tanjung Balai Karimun harus benar benar memperhatikan hal keselamatan tersebut, agar penumpang benar-benar merasa puas dengan pelayanan yang diberikan.
Peningkatan mutu pelayanan pada Pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun dapat diartikan keseluruhan upaya dan kegiatan secara komprehensif dan integratif memantau dan menilai mutu pelayanan pada Pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun, memecahkan masalah-masalah yang ada dan mencari jalan keluarnya, sehingga mutu pelayanan pada Pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun diharapkan akan lebih baik. Tinggi rendahnya mutu sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor :
1. Sumber daya Pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun, termasuk antara lain tenaga kerja, pembiayaan, sarana prasarana dan teknologi yang digunakan.
2. Interaksi kegiatan yang digerakkan melalui proses dan prosedur tertentu dengan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menghasilkan jasa atau pelayanan.
Pelayanan penumpang dapat diartikan sebagai pemberian layanan (melayani) keperluan orang atau penumpang yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan.
Berhasil tidaknya peningkatan mutu pelayanan sangat tergantung dari monitoring faktor-faktor di atas dan juga umpan balik dari hasil-hasil pelayanan yang dihasilkan untuk perbaikan lebih lanjut terhadap faktor-faktor dalam butir 1 dan 2. Dengan demikian nampak bahwa peningkatan mutu merupakan proses yang kompleks yang pada akhirnya menyangkut managemen Pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun secara keseluruhan.
Dalam hal ini pelayanan dapat ditujukan kepada dua macam penumpang, yaitu internal Costumer (yang terlibat dalam proses jasa yang dihasilkan, seperti jajaran direksi, kepala divisi, kepala bagian atau karyawan lainnya) dan External Costumer (yang berada diluar organisasi perusahaan, seperti pelanggan atau penumpang).
Sedangkan dilihat dari sifatnya pelayanan dapat dibedakan atas pelayanan yang bersifat ekonomis (produk jasa tersebut sesuai dengan daya beli yang dimiliki pada konsumen) dan psikologis (produk jasa tersebut benar-benar dapat diterima oleh masyarakat)

D. Model Segi Tiga Jasa
Dalam merancang proses pelayanan jasa pelabuhan penyeberangan didasarkan kepada kerangka kerja yang merupakan segitiga jasa, dimana terdapat empat elemen yang harus dipertimbangkan dalam memproduksi jasa yaitu; pelanggan, manusia, strategi dan sistem. Seperti terdapat pada gambar 2.2.
Gambar 2.2 Model Segitiga Jasa

Sumber: Nasution, Manajemen Transportasi, Cetakan 1, 1996
Berdasarkan gambar diatas, pelanggan atau penumpang berada ditengah tengah segitiga karena pelayanan jasa harus selalu berpusat pada kebutuhan pelanggan. Manusia adalah tenaga kerja dari perusahaan jasa. Strategi adalah pandangan yang digunakan untuk menuntun segala aspek pelayanan jasa. Sedangkan system adalah adalah system fisik dan prosedur yang digunakan dalam memberikan pelayanan kepada penumpang. Garis dari pelanggan ke strategi harus menempatkan penumpang dengan memberikan pelayanan kebutuhan dan keinginan penumpang yang memuaskan. Perusahaan harus bisa menyelidiki apa yang terlintas dalam pikiran penumpang dan perusahaan juga harus mengkomunikasikan strategi jasa kepada penumpang. Apakah produk jasa yang disediakan sesuatu yang unik? Mengapa penumpang menggunakan jasa penyeberangan dari suatu pelabuhan penyeberangan?.
Garis dari pelanggan ke system menunjukan bahwa system (prosedur dan peralatan) harus dirancang sesuai dengan yang ada dalam pikiran penumpang terhadap pelayanan yang diingkan. Seperti kenyamanan tempat duduk diruang tunggu terminal pelabuhan dinilai kurang baik bagi penumpang akan menimbulkan kesan jeleknya system pelayanan. Sedangkan garis dari manusia ke system menunjukan bahwa karyawan dalam memberikan pelayanan berdasarkan pada system yang baik, yaitu system yang harus dirancang menjadi sederhana, cepat dan sangat mudah dioperasikan. Sebagian besar masalah pelayanan dihubungkan dengan menunjukan bahwa system harus mengikuti strategi logis, tetapi hal ini jarang sekali terjadi. Sering kali system yang telah berkembang berulang kali dan telah dirancang menurut cara yang tumbuh sedikit demi sedikit tidak mendukung sepenuhnya strategi yang dimaksud dan tidak terintegrasikan secara baik.
Garis dari strategi ke manusia menunjukan bahwa setiap orang dalam organisasi harus mengetahui startegi perusahaan. Penjelasan strategi perusahaan kepada petugas lapangan yang langsung berhadapan dengan penumpang dalam nemnberikan pelayanan sering dilupakan sehingga pelayanan yang diberikan jelek atau kurang memuaskan.
Upaya mewujudkan kepuasan penumpang total bukanlah hal yang mudah. Bahkan Mudie dan Cottam (1993) menyatakan bahwa kepuasan penumpang tidak mungkin tercapai, sekalipun hanya untuk sementara waktu. Namun upaya perbaikan atau penyempurnaan kepuasaan dapat dilakukan dengan berbagai strategi. Pada prinsipnya strategi kepuasan penumpang akan meyebabkan para pesaing harus bekerja keras dan memerlukan biaya tinggi dalam usahanya merebut penumpang suatu perusahaan. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah kepuasan penumpang merupakan strategi panjang yang membutuhkan komitmen, baik yang menyangkut dana maupun sumber daya manusia (Schnaars, 1991). Ada beberapa strategi yang dapat dipadukan untuk meraih dan meningkatkan kepuasan konsumen, diantaranya (Tjiptono,1995).
1. Relationship Marketing
Dalam strategi ini, hubungan transaksi antara penyedia jasa dan penumpang berkelanjutan, tidak berakhir setelah penjualan selesai. Dengan kata lain, dijalin suatu kemitraan jangka panjang dengan penumpang secara terus menerus sehingga diharapkan dapat terjadi bisnis ulangan (repeat kapaliness). Salah satu faktor yang dibutuhkan untuk mengembangkan relationship marketing adalah dibentuknya customer database, yaitu daftar nama penumpang yang perlu dibina hubungan jangka panjang. Database ini tidak sekedar berisi nama penumpang/pelanggan, tetapi juga mencakup hal hal yang penting lainnya misalnya frekwensidan jumlah pembelian, preferensi, an lain sebagainya.
2. Strategi Superior Customer Service
Perusahaan yang menerepkan strategi ini berusaha menawarkan pelayanan yang lebih unggul daripada pesaingnya. Untuk mewujudkannya dibutuhkan dana yang besar, kemampuan sumber daya manusia yang lebih unggul dan usaha yang gigih. Meskipun demikian, melalui pelayanan yang lebih unggul, perusahaan dapat membebankan harga yang lebih tinggi pada jasanya. Akan ada kelompok penumpang/pelanggan yang tidak berkeberatan dengan harga mahal tersebut. Selain itu perusahaan dengan pelayanan superior akan meraih laba dan tingkat pertumbuhan yang lebih besar daripada pesaingnya yang memberikan pelayanan inferior.
Untuk dapat menciptakan suatu pelayanan yang memuaskan bagi pelanggan dapat digunakan model jasa seperti gambar 2.3.
Gambar 2.3 Model Jasa

Sumber : Nasution, Manajemen Transportasi I, 1996
Dari gambar diatas dapat dijelaskan bahwa sebagai berikut:
1. Strategi jasa merupakan hal yang menentukan dibidang bisnis yang diterjuni. Strategi jasa memberikan pengarahan untuk mendesain produk, system pelayanan dan pengukuran. Dalam hal ini strategi jasa juga harus mempertimbangkan jasa yang ditawarkan dalam jangkauan internasional seperti transportasi laut yang memiliki standar internasional dan skala operasi yang bersifat global.
2. Desain jasa selalu terikat pada alat atau fasilitas yang akan digunakan seperti pelabuhan penumpang. Terdapat tiga unsur dalam mendesain produk jasa seperti; fasilitas yang digunakan, kenikmatan dan manfaat psikologis. Dalam merancang jasa harus secara seksama membaca harapan-harapan pelanggan selain jasa itu sendiri. Contoh; suasana dalam ruang tunggu pelabuhan. Ada beberapa factor yang harus dipertimbangkan dalam mendesain jasa yang dikaitkan dengan kualitas pelayanan adalah sebagai berikut:
a. Peralatan dalam ruangan terminal pelabuhan, tempat duduk ruang tunggu.
b. Ketepatan waktu dalam keberangkatan dan kedatangan (schedule kapal)
c. Hiburan selam menunggu keberangkatan dan kedatangan kapal.

3. Desain system pelayanan didasarkan pada jumlah kontak atau hubungan dengan pelanggan. Jika derajat atau jumlah kontak lebih rendah, proses pelayanan dapat diabakain dari pelanggan.
4. Pengukuran menentukan kepuasan penumpang terhadap jasa yang didapatkannya.
E. Hipotesis
“Hipotesis pada dasarnya merupakan suatu proposisi atau anggapan yang mungkin benar, dan sering digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan atau pemecahan persoalan atau untuk dasar penelitian lebih lanjut”. (J.Suprapto,1990, hal:167).
Maka untuk memberikan angka pada penelitian yang dilakukan dan memberikan jawaban sementara atas masalah yang dikemukakan diatas, maka peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut:
1. Diduga variabel pengoperasian pelabuhan berpengaruh positif & Signifikan terhadap kepuasan penumpang.
2. Diduga variabel pelayanan pelabuhan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan penumpang.
3. Diduga variabel kenyamanan pelabuhan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan penumpang.
4. Diduga pengoperasian, pelayanan dan kenyamanan secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan penumpang.

Kerangka Berpikir Teoritis

ANALISIS HUBUNGAN MUTU PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN PADA PELABUHAN PENUMPANG INTERNASIONAL TANJUNG BALAI KARIMUN
TAHUN 2009
Oleh :
HERY WIBOWO (NIM : 244308037)
KAMALUDDIN MAMBU
HERIANDI
HASAN ALHABSYI
RISAL SYAM
ANSHAARI

SKRIPSI

DISAMPAIKAN KEPADA SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN TRANSPOR TRISAKTI, PROGRAM STUDI MANAJEMEN TRANSPOR LAUT SEBAGAI BAGIAN DARI PERSYARATAN UNTUK MEMPEROLEH GELAR SARJANA EKONOMI (S1)

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN TRANSPOR “TRISAKTI”
J A K A R T A
2 0 0 9

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam rangka pengembangan kegiatan ekonomi di Kepulauan Riau, khususnya di Tanjung Balai Karimun dan sekitarnya, Pemerintah bekerjasama dengan BUMN dalam hal ini PT. (Persero) Pelindo I Cabang Tanjung Balai Karimun membangun Pelabuhan Penumpang Internasional Tanjung Balai Karimun yang menghubungkan Kepulauan Karimun, Singapura dan Pulau Pulau di Kepulauan Riau. Pelabuhan Tanjung Balai Karimun melayani arus penumpang yang berkunjung ke Tanjung Balai Karimun.
Sejak dibangunnya Pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun laju pergerakan ekonomi daerah menjadi semakin tinggi, makin banyaknya kemudahan kemudahan yang dirasakan oleh seluruh warga Tanjung Balai Karimun dalam berbisnis yang ditunjang dengan adanya transportasi laut yang cukup memadai, hal ini juga berpengaruh positif terhadap Pendapatan Asli Daerah Provinsi Kabupaten Karimun. Hal tersebut juga berdampak pada perkembangan kebutuhan akan transportasi untuk memudahkan dan atau membantu pergerakan yang dilakukan oleh seluruh pengguna jasa.
Letak pulau Karimun yang berdekatan dengan Singapura menjadikan transportasi Laut menjadi primadona bagi penumpang yang akan berkunjung ke Pulau Karimun, sehingga membuat pihak terkait untuk membangun pelabuhan penyeberangan yang menghubungkan Pulau Karimun, Singapura dan Pulau Batam. Dengan dibangunnya pelabuhan tersebut minat penumpang yang akan berkunjung ke Pulau Karimun dengan menggunakan jasa penyeberangan sangat besar, selain harganya yang terjangkau, banyak juga fasilitas kemudahan yang disediakan oleh Pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun, sehingga menimbulkan daya tarik tersendiri bagi calon konsumennya dengan segmen pasar yang luas tidak hanya dibatasi oleh komunitas tertentu, tingkat penghasilan, tingkat pendidikan dan pekerjaan.
Proses keputusan penumpang dalam memakai jasa penyeberangan tidaklah terjadi dengan begitu saja. Dalam pengambilan keputusan, penumpang dipengaruhi oleh alternatif alternatif yang dihadapi serta daya tarik masing masing alternatif yang dihadapi. Dapat juga keyakinan seorang penumpang mengenai pelabuhan internasional Tanjung Balai Karimun tersebut yang didasarkan atas pengalaman dan informasi yang diperolehnya. Dari penilaian ini maka penumpang akan mempunyai pandangan kepuasan terhadap jasa pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun dalam arti positif diantara pelabuhan lainnya.
Mendirikan suatu perusahaan tujuan utamanya adalah untuk memperoleh laba sehingga perusahaan tersebut dapat lebih berkembang dan mempertahankan kelangsungan hidup operasional perusahaan.
Selain itu, PT. (Persero) Pelindo I Cabang Tanjung Balai Karimun harus dapat membuat kebijakan dan strategi pemasaran sehingga perusahaan dapat bersaing dengan perusahaan lain yang sejenis. Oleh sebab itu, keberhasilan suatu kegiatan pemasaran tergantung pada pemahaman perusahaan terhadap kepuasan penumpang.
Untuk dapat memenuhi kepuasan penumpang maka perusahaan yang bergerak dibidang jasa harus memberikan pelayanan atau service yang terbaik, dimana perusahaan harus mengetahui apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumennya yang akan atau selama menggunakan jasa yang dipasarkan.
Pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun merupakan merupakan pelabuhan yang memberikan fasilitas bagi para wisatawan yang akan berkunjung ke Pulau Karimun. Fungsi lainnya adalah memberikan kemudahan, keselamatan angkutan dalam operasi penyeberangan penumpang dan barang.
Berdasarkan uraian di atas maka, dalam penelitian ini penulis tertarik untuk memilih judul “ANALISIS HUBUNGAN MUTU PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN PADA PELABUHAN PENUMPANG INTERNASIONAL TANJUNG BALAI KARIMUN TAHUN 2009”

B. Perumusan Masalah
Pada latar belakang masalah telah disebutkan bahwa terdapat banyak faktor yang mempengaruhi kepuasan penumpang terhadap pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun. Di antara yang mempengaruhi kepuasan tersebut adalah pelayanan, ketersediaan tiket, pengoperasian, keamanan, kenyamanan, pengaruh lingkungan dan sebagainya.
Seorang calon penumpang akan mempunyai kepuasan yang positif ataupun negatif tergantung dari mutu pelayanan yang ditunjukkan oleh pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun kepada penumpang dan pengalaman pribadi maupun informasi yang didapat oleh penumpang.
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atasmaka, masalah masalah yang terkait dengan topik penelitian ini dapat penulis identifikasikan sebagai berikut :
a. Mutu pelayanan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun belum optimal.
b. Pengawasan terhadap mutu pelayanan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun belum sepenuhnya terprogram.
c. Minimnya sarana dan prasarana pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun yang dapat menunjang kepuasan pelanggan.
d. Fasilitas pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun yang masih kurang memenuhi standar internasional.
e. Rendahnya tingkat kepatuhan pengguna jasa transportasi laut dan penyedia jasa transportasi laut pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun.
f. Rendahnya tingkat kebersihan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun.

2. Pembatasan Masalah
Untuk membatasi permasalahan dengan maksud agar sasaran dalam pembatasan ini dapat tercapai, maka dalam penelitian penulis hanya membatasi ruang lingkup kajian pada hubungan antara mutu pelayanan terhadap kepuasan pelanggan pada pelabuhan penumpang Tanjung Balai Karimun.
3. Pokok Permasalahan
Berdasarkan uraian di atas, maka pokok permasalahan yang akan diteliti adalah sebagai berikut :
a. Bagaimana realisasi mutu pelayanan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun tahun 2009 ?
b. Bagaimana tingkat kepuasan pelanggan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun tahun 2009 ?
c. Bagaimana hubungan antara mutu pelayanan terhadap kepuasan pelanggan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun tahun 2009 ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan penelitian
a. Untuk mengetahui bagaimana realisasi mutu pelayanan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun tahun 2009.
b. Untuk mengetahui bagaimana tingkat kepuasan pelanggan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun tahun 2009.
c. Untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara mutu pelayanan terhadap kepuasan pelanggan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun tahun 2009.

2. Manfaat penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi penulis, objek yang diteliti dengan masyarakat akademik sebagai berikut:
a. Bagi Penulis
Penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan dan pengetahuan penulis akan masalah masalah yang terjadi dalam perusahaan khususnya mutu pelayanan dan kepuasan pelanggan. Disamping itu, penelitian ini merupakan kewajiban akademik yang harus dipenuhi penulis sebagai syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi pada Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti.
b. Bagi Perusahaan
Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan informasi yang bermanfaat sebagai bahan evaluasi terhadap efektifitas dan efisiensi dalam rangka perbaikan mutu pelayanan dan kepuasan pelanggan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun.
c. Bagi Lembaga STMT TRISAKTI dan masyarakat lainnya
Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan informasi yang bermanfaat bagi pembaca mengenai pandangan atau gambaran pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun. Dapat dijadikan sebagai bahan referensi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan tambahan perbendaharaan kepustakaan bagi STMT Trisakti.

D. Hipotesis
Merupakan jawaban sementara dari hasil penelitian yang perlu diuji
kebenarannya. Adapun hipotesis penelitian ini adalah : “Diduga terdapat hubungan
yang positif antara mutu pelayanan terhadap kepuasan pelanggan pada pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun.

E. Metodologi Penelitian
1. Jenis dan Sumber Data
Jenis penelitian ini adalah diskriptif kualitatif yang digunakan untuk menguji hipotesis. Dalam memperoleh dan mengumpulkan data, peneliti melakukan penelitian pada beberapa lokasi diantaranya: a. PT. (Persero) Pelindo I Cabang Tanjung Balai Karimun; b. Pelabuhan Penumpang Internasional Tanjung Balai Karimun; c. Administrasi pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun.
2. Populasi dan Sampel
a. Populasi
Populasi merupakan kumpulan yang lengkap dari seluruh elemen yang sejenis dan dapat dibedakan menjadi objek penelitian. Dalam melaksanakan penelitian ini yang menjadi populasi adalah semua penumpang yang sudah menggunakan jasa pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun.
b. Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi untuk diselidiki. Menurut Marzuki (1989). Sampel adalah himpunan dari unsur unsur yang sejenis atau universal. Sesuai dengan buku panduan skripsi STMT Trisakti, jumlah sampel yang akan digunakan adalah 30 orang.
3. Metode Pengumpulan Data
a. Observasi
Adalah pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan secara langsung pada penumpang yang telah memakai jasa penyeberangan pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran atau tanggapan responden terhadap variabel pengoperasian, pelayanan dan kenyamanan pelabuhan.
b. Wawancara
Adalah pengumpulan data dengan Tanya jawab kepada pihak perusahaan dan penumpang yang dilaksanakan secara sistematis. Dalam wawancara, komunikasi dilakukan secara formal terhadap operator pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun dan penumpang.
c. Angket (Kuesioner)
Untuk mendapatkan data yang sesuai dengan tujuan penelitian, peneliti menyebarkan pertanyaan secara tertulis dan sistematik. Jumlah questioner yang disiapkan peneliti untuk 30 responden, ditujukan kepada penumpang yang telah menggunakan jasa pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun. Data yang diperoleh dari angket tersebut akan memberikan informasi mengenai kepuasan penumpang dalam mengambil keputusan dan menggunakan jasa pelabuhan.
Skala pengukuran kuesioner berdasarkan skala Likert, memberikan bobot setiap jawaban yang diberikan responden. (Istijanto 2005 : 81).

SS : Sangat Setuju Nilai Bobot = 5
S : Setuju Nilai Bobot = 4
RR : Ragu-ragu Nilai Bobot = 3
TS : Tidak Setuju Nilai Bobot = 2
STS : Sangat Tidak Setuju Nilai Bobot = 1

4. Teknik Analisis Data
Untuk menganalisis data hasil penelitian akan digunakan rumus-rumus statistik/matematik melalui langkah-langkah sebagai berikut :
a. Analisis Regresi Linear Sederhana
Analisa ini digunakan untuk mengetahui hubungan proporsional antara variabel mutu pelayanan terhadap kepuasan pelanggan menurut J. Supranto (2001 : 207),
persamaan garis regresi linear sederhana adalah sebagai berikut :

Y = a + bX

Dimana:
X = Variabel bebas (mutu pelayanan)
Y = Variabel terikat (kepuasan penumpang)
a = Konstanta
b = Koefisien Regresi
n = Jumlah Observasi / Pengukuran
untuk mengetahui nilai a dan b digunakan rumus:
a =
b =
b. Analisis Koefisien Korelasi
Suatu metode untuk mengetahui kuat atau lemahnya hubungan antara variabel X dan Y dengan rumus J. Supranto (2001 : 208) sebagai berikut :
Rumus :
r =
Dimana :
1) Jika r = +1 atau mendekati 1, berarti hubungan antara X dan Y adalah positif dan sangat kuat.
2) Jika r = -1 atau mendekati -1, berarti hubungan antara X dan Y sangat kuat, tetapi negatif.
3) Jika r = 0 atau mendekati 0, berarti tidak ada hubungan antara X dan Y, atau hubungan sangat lemah.
Tabel I.1
Koefisien Korelasi dan Taksiran
Interval Interprestasi
0,00 – 0,199
0,20 – 0,399
0,40 – 0,599
0,60 – 0,799
0,80 – 1,000 Sangat rendah
Rendah
Cukup sedang
Kuat
Sangat kuat
Sumber : Sugiyono, (2008 : 214)

c. Analisis Koefisien Penentu (Kp)
Langkah ini diambil guna melihat kontribusi atau pengaruh variabel X terhadap variabel Y. J. Supranto (2001 :212).
Rumus : Kp = r2 x 100%.
Dimana :
Kp = Koefisien penentu
r2 = Koefisien korelasi yang dikuadratkan

d. Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan dengan cara membandingkan nilai thitung dengan ttabel ; mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
1. Hipotesis Awal
H0 :  = 0 tidak ada hubungan antara variabel X dan variabel Y.
H1 :  > 0 ada hubungan yang siginifikan antara variabel X dan variabel Y.
2. Untuk mendapatkan nilai t-hitung digunakan rumus thitung menurut Sugiyono (2005 : 215)
thitung =
3. Untuk mendapatkan t-tabel digunakan tabel distribusi t pada (= 0.050 dan df = n-2)
4. Kesimpulan
Jika thit ttabel maka, H0 ditolak artinya ada hubungan yang signifikan antara variabel X dan variabel Y.

F. Sistematis Penulisan
Untuk mempermudah pembaca memahami materi yang akan dibahas maka skripsi ini disusun sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini merupakan bagian yang mengurai latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian, hipotesis penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini menyajikan Landasan Teori dari variabel-variabel yang terkait dengan penelitian, menguraikan tentang penilaian kepuasan pelanggan, mutu pelayanan dan hubungan antara kedua variabel dimaksud.
BAB III GAMBARAN UMUM PELABUHAN PENUMPANG INTERNASIONAL TANJUNG BALAI KARIMUN
Pada bab ini akan disampaikan gambaran mengenai profil pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun mencangkup visi dan misi perusahaan, tugas pokok perusahaan, lokasi perusahaan, serta organisasi dan ruang lingkup tugas manajemen pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun.
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dilaporkan hasil analisis mutu pelayanan, hasil analisis kepuasan pelanggan dan hasil analisis hubungan antara mutu pelayanan terhadap kepuasan pelanggan pada pelabuhan penumpang Tanjung Balai Karimun dengan menggunakan rumus-rumus statistik dan matematik yang telah di uraikan pada bab I.
BAB V PENUTUP
Bab ini merupakan bab terakhir dari penulisan yang menguraikan tentang kesimpulan dari hasil analisis dan saran saran.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian kepuasan Pelanggan
Peranan setiap individu dalam service encounter sangatlah penting dan sangat berpengaruh terhadap kepuasan yang dibentuk. Untuk mengetahui tingkat kepuasan konsumen secara lebih baik harus dapat dipahami sebab sebab kepuasan. Kepuasan atau ketidakpuasan konsumen adalah respon konsumen terhadap evaluasi ketidaksesuaian/diskonfirmasi yang dirasakan antara harapan sebelumnya dan kinerja actual produk yang dirasakan setelah pemakaianya. (Tse dan Wilton, 1988).
Umumnya harapan konsumen merupakan perkiraan atau keyakinan pelanggan tentang apa yang akan diterimanya bila ia membeli atau mengkonsumsi suatu produk (barang atau jasa). Sedangkan kinerja yang dirasakan adalah persepsi konsumen terhadap apa yang telah diterima konsumen setelah mengkonsumsi produk (barang atau jasa) yang telah dibelinya. Secara konseptual, kepuasan konsumen/pelanggan dapat digambarkan seperti gambar 2.1.

Gambar 2.1 Konsep Kepuasan Konsumen/Pelanggan

Sumber : Tjiptono, Fandy, 1995, Strategi Pemasaran
Metode yang dapat digunakan perusahaan untuk mengukur dan memantau kepuasan konsumen terdiri dari :
1. Sistem keluhan dan saran
Setiap perusahaan yang berorientasi pada konsumen/pelanggan perlu memberikan kesempatan yang seluas luasnya bagi para pelanggan untuk menyampaikan saran, pendapat dan keluhan.
2. Survey kepuasan pelanggan
Melalui survey perusahaan akan memperoleh tanggapan dan umpan balik secara langsung dari pelanggan dan sekaligus memberikan tanda positif perusahaan menaruh perhatian terhadap konsumen/pelanggan.

3. Pembeli Bayangan
Metode ini dilakukan dengan cara mempekerjakan seorang sebagai pembeli bayangan untuk berperan atau bersikap sebagai pelanggan potensial produk perusahaan dan pesaing. Ada baiknya seorang manajer berperan langsung sebagai pembeli bayangan untuk mengetahui langsung bagaimana karyawan berinteraksi dan memperlakukan konsumen.
4. Pelanggan yang hilang
Perusahaan menghubungi para pelanggan yang telah berhenti menggunakan produk, atau beralih pemasok. Yang diharapkan akan diperoleh informasi penyebab terjadinya hal tersebut.
B. Harapan dan Kepuasan Konsumen
Harapan pelanggan dibentuk dan didasarkan oleh beberapa faktor, diantaranya pengalaman berbelanja dimasa lampau, opini teman dan kerabat, serta informasi dan janji janji perusahaan dan para pesaing. (Kotler dan Amstrong, 1994). Ada beberapa penyebab utama tidak terpenuhinya harapan konsumen/pelanggan yaitu:
1. Konsumen/pelanggan keliru mengkomunikasikan jasa yang diinginkan.
2. Konsumen /pelanggan keliru menafsirkan signal (Harga, positioning, dan lain lain).
3. Kinerja karyawan perusahaan jasa buruk.
4. Miskomunikasi penyedia jasa oleh pesaing
Berdasarkan beberapa penyebab utama tidak terpenuhinya harapan konsumen tersebut, ada beberapa faktor penyebab yang dapat dikendalikan oleh penyedia jasa. Dengan demikian penyedia jasa bertanggung jawab untuk meminimumkan miskomunikasi dan misinterprestasi yang mungkin terjadi dan menghindarinya dengan cara merancang jasa yang mudah dipahami dengan jelas. Dalam hal ini penyedia jasa harus mengambil inisiatif agar perusahaan dapat memahami dengan jelas instruksi dari pelanggan dan konsumen/pelanggan mengerti benar apa yang akan diberikan.
Sebelim menggunakan suatu jasa, konsumen/pelanggan sering memliki empat skenario jasa yang berbeda mengenai apa yang bakal dialami pelanggan/konsumen yaitu:
1. Jasa Ideal
2. Jasa yang diantisipasi/diharapkan
3. Jasa yang selayaknya diterima
4. Jasa minimumyang dapat ditoleransi
Pelanggan dapat berharap dari keempat skenario tersebut, karena itu apabila “jasa minimum yang dapat ditoleransi” yang diharapkan, lalu yang terjadi sama dengan atau bahkan melampaui harapan tersebut, maka akan timbul kepuasan. Sebaliknya bila yang diharapkan “jasa ideal”, maka bila yang terjadi kurang dari harapan tersebut maka yang terjadi adalah ketidakpuasan.

C. Mutu Pelayanan
Salah satu yang dipertimbangkan oleh penumpang dalam menggunakan jasa pelabuhan yaitu pelayanannya yang memuaskan, disamping itu tingkat keselamatan juga terjamin. Karena dalam hal ini penumpang mendapatkan jaminan asuransi. Mengingat pentingnya keselamatan yang sangat menjadi perhitungan bagi penumpang, maka pihak pihak Pelabuhan Tanjung Balai Karimun harus benar benar memperhatikan hal keselamatan tersebut, agar penumpang benar-benar merasa puas dengan pelayanan yang diberikan.
Peningkatan mutu pelayanan pada Pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun dapat diartikan keseluruhan upaya dan kegiatan secara komprehensif dan integratif memantau dan menilai mutu pelayanan pada Pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun, memecahkan masalah-masalah yang ada dan mencari jalan keluarnya, sehingga mutu pelayanan pada Pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun diharapkan akan lebih baik. Tinggi rendahnya mutu sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor :
1. Sumber daya Pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun, termasuk antara lain tenaga kerja, pembiayaan, sarana prasarana dan teknologi yang digunakan.
2. Interaksi kegiatan yang digerakkan melalui proses dan prosedur tertentu dengan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menghasilkan jasa atau pelayanan.
Pelayanan penumpang dapat diartikan sebagai pemberian layanan (melayani) keperluan orang atau penumpang yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan.
Berhasil tidaknya peningkatan mutu pelayanan sangat tergantung dari monitoring faktor-faktor di atas dan juga umpan balik dari hasil-hasil pelayanan yang dihasilkan untuk perbaikan lebih lanjut terhadap faktor-faktor dalam butir 1 dan 2. Dengan demikian nampak bahwa peningkatan mutu merupakan proses yang kompleks yang pada akhirnya menyangkut managemen Pelabuhan penumpang internasional Tanjung Balai Karimun secara keseluruhan.
Dalam hal ini pelayanan dapat ditujukan kepada dua macam penumpang, yaitu internal Costumer (yang terlibat dalam proses jasa yang dihasilkan, seperti jajaran direksi, kepala divisi, kepala bagian atau karyawan lainnya) dan External Costumer (yang berada diluar organisasi perusahaan, seperti pelanggan atau penumpang).
Sedangkan dilihat dari sifatnya pelayanan dapat dibedakan atas pelayanan yang bersifat ekonomis (produk jasa tersebut sesuai dengan daya beli yang dimiliki pada konsumen) dan psikologis (produk jasa tersebut benar-benar dapat diterima oleh masyarakat)

D. Model Segi Tiga Jasa
Dalam merancang proses pelayanan jasa pelabuhan penyeberangan didasarkan kepada kerangka kerja yang merupakan segitiga jasa, dimana terdapat empat elemen yang harus dipertimbangkan dalam memproduksi jasa yaitu; pelanggan, manusia, strategi dan sistem. Seperti terdapat pada gambar 2.2.
Gambar 2.2 Model Segitiga Jasa

Sumber: Nasution, Manajemen Transportasi, Cetakan 1, 1996
Berdasarkan gambar diatas, pelanggan atau penumpang berada ditengah tengah segitiga karena pelayanan jasa harus selalu berpusat pada kebutuhan pelanggan. Manusia adalah tenaga kerja dari perusahaan jasa. Strategi adalah pandangan yang digunakan untuk menuntun segala aspek pelayanan jasa. Sedangkan system adalah adalah system fisik dan prosedur yang digunakan dalam memberikan pelayanan kepada penumpang. Garis dari pelanggan ke strategi harus menempatkan penumpang dengan memberikan pelayanan kebutuhan dan keinginan penumpang yang memuaskan. Perusahaan harus bisa menyelidiki apa yang terlintas dalam pikiran penumpang dan perusahaan juga harus mengkomunikasikan strategi jasa kepada penumpang. Apakah produk jasa yang disediakan sesuatu yang unik? Mengapa penumpang menggunakan jasa penyeberangan dari suatu pelabuhan penyeberangan?.
Garis dari pelanggan ke system menunjukan bahwa system (prosedur dan peralatan) harus dirancang sesuai dengan yang ada dalam pikiran penumpang terhadap pelayanan yang diingkan. Seperti kenyamanan tempat duduk diruang tunggu terminal pelabuhan dinilai kurang baik bagi penumpang akan menimbulkan kesan jeleknya system pelayanan. Sedangkan garis dari manusia ke system menunjukan bahwa karyawan dalam memberikan pelayanan berdasarkan pada system yang baik, yaitu system yang harus dirancang menjadi sederhana, cepat dan sangat mudah dioperasikan. Sebagian besar masalah pelayanan dihubungkan dengan menunjukan bahwa system harus mengikuti strategi logis, tetapi hal ini jarang sekali terjadi. Sering kali system yang telah berkembang berulang kali dan telah dirancang menurut cara yang tumbuh sedikit demi sedikit tidak mendukung sepenuhnya strategi yang dimaksud dan tidak terintegrasikan secara baik.
Garis dari strategi ke manusia menunjukan bahwa setiap orang dalam organisasi harus mengetahui startegi perusahaan. Penjelasan strategi perusahaan kepada petugas lapangan yang langsung berhadapan dengan penumpang dalam nemnberikan pelayanan sering dilupakan sehingga pelayanan yang diberikan jelek atau kurang memuaskan.
Upaya mewujudkan kepuasan penumpang total bukanlah hal yang mudah. Bahkan Mudie dan Cottam (1993) menyatakan bahwa kepuasan penumpang tidak mungkin tercapai, sekalipun hanya untuk sementara waktu. Namun upaya perbaikan atau penyempurnaan kepuasaan dapat dilakukan dengan berbagai strategi. Pada prinsipnya strategi kepuasan penumpang akan meyebabkan para pesaing harus bekerja keras dan memerlukan biaya tinggi dalam usahanya merebut penumpang suatu perusahaan. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah kepuasan penumpang merupakan strategi panjang yang membutuhkan komitmen, baik yang menyangkut dana maupun sumber daya manusia (Schnaars, 1991). Ada beberapa strategi yang dapat dipadukan untuk meraih dan meningkatkan kepuasan konsumen, diantaranya (Tjiptono,1995).
1. Relationship Marketing
Dalam strategi ini, hubungan transaksi antara penyedia jasa dan penumpang berkelanjutan, tidak berakhir setelah penjualan selesai. Dengan kata lain, dijalin suatu kemitraan jangka panjang dengan penumpang secara terus menerus sehingga diharapkan dapat terjadi bisnis ulangan (repeat kapaliness). Salah satu faktor yang dibutuhkan untuk mengembangkan relationship marketing adalah dibentuknya customer database, yaitu daftar nama penumpang yang perlu dibina hubungan jangka panjang. Database ini tidak sekedar berisi nama penumpang/pelanggan, tetapi juga mencakup hal hal yang penting lainnya misalnya frekwensidan jumlah pembelian, preferensi, an lain sebagainya.
2. Strategi Superior Customer Service
Perusahaan yang menerepkan strategi ini berusaha menawarkan pelayanan yang lebih unggul daripada pesaingnya. Untuk mewujudkannya dibutuhkan dana yang besar, kemampuan sumber daya manusia yang lebih unggul dan usaha yang gigih. Meskipun demikian, melalui pelayanan yang lebih unggul, perusahaan dapat membebankan harga yang lebih tinggi pada jasanya. Akan ada kelompok penumpang/pelanggan yang tidak berkeberatan dengan harga mahal tersebut. Selain itu perusahaan dengan pelayanan superior akan meraih laba dan tingkat pertumbuhan yang lebih besar daripada pesaingnya yang memberikan pelayanan inferior.
Untuk dapat menciptakan suatu pelayanan yang memuaskan bagi pelanggan dapat digunakan model jasa seperti gambar 2.3.
Gambar 2.3 Model Jasa

Sumber : Nasution, Manajemen Transportasi I, 1996
Dari gambar diatas dapat dijelaskan bahwa sebagai berikut:
1. Strategi jasa merupakan hal yang menentukan dibidang bisnis yang diterjuni. Strategi jasa memberikan pengarahan untuk mendesain produk, system pelayanan dan pengukuran. Dalam hal ini strategi jasa juga harus mempertimbangkan jasa yang ditawarkan dalam jangkauan internasional seperti transportasi laut yang memiliki standar internasional dan skala operasi yang bersifat global.
2. Desain jasa selalu terikat pada alat atau fasilitas yang akan digunakan seperti pelabuhan penumpang. Terdapat tiga unsur dalam mendesain produk jasa seperti; fasilitas yang digunakan, kenikmatan dan manfaat psikologis. Dalam merancang jasa harus secara seksama membaca harapan-harapan pelanggan selain jasa itu sendiri. Contoh; suasana dalam ruang tunggu pelabuhan. Ada beberapa factor yang harus dipertimbangkan dalam mendesain jasa yang dikaitkan dengan kualitas pelayanan adalah sebagai berikut:
a. Peralatan dalam ruangan terminal pelabuhan, tempat duduk ruang tunggu.
b. Ketepatan waktu dalam keberangkatan dan kedatangan (schedule kapal)
c. Hiburan selam menunggu keberangkatan dan kedatangan kapal.

3. Desain system pelayanan didasarkan pada jumlah kontak atau hubungan dengan pelanggan. Jika derajat atau jumlah kontak lebih rendah, proses pelayanan dapat diabakain dari pelanggan.
4. Pengukuran menentukan kepuasan penumpang terhadap jasa yang didapatkannya.
E. Hipotesis
“Hipotesis pada dasarnya merupakan suatu proposisi atau anggapan yang mungkin benar, dan sering digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan atau pemecahan persoalan atau untuk dasar penelitian lebih lanjut”. (J.Suprapto,1990, hal:167).
Maka untuk memberikan angka pada penelitian yang dilakukan dan memberikan jawaban sementara atas masalah yang dikemukakan diatas, maka peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut:
1. Diduga variabel pengoperasian pelabuhan berpengaruh positif & Signifikan terhadap kepuasan penumpang.
2. Diduga variabel pelayanan pelabuhan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan penumpang.
3. Diduga variabel kenyamanan pelabuhan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan penumpang.
4. Diduga pengoperasian, pelayanan dan kenyamanan secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan penumpang.

Kerangka Berpikir Teoritis

July 9, 2009

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sektor transportasi dalam fungsinya sebagai unsur penunjang dan perangsang memiliki peranan yang sangat besar dalam pembangunan, baik dibidang ekonomi, politik, sosial budaya maupun pertahanan dan keamanan. Selain itu peranan transportasi sangat penting dalam pembangunan wilayah, khususnya Indonesia yang menuntut penyediaan jasa transportasi kian meningkat baik darat, laut dan udara dalam jumlah maupun mutunya, kalau tidak transportasi laut misalnya akan kehilangan pangsa dan beralih ke jenis transportasi lain seperti transportasi udara dan transportasi darat, demikian juga sebaliknya.
Kapal merupakan sarana angkutan yang penting di negara kepulauan seperti negara Indonesia untuk hubungan antar pulau atau antar negara, karena kapal dianggap sebagai sarana transportasi yang sangat memegang peranan penting.
Oleh karena itu, pengoperasian alat angkutan laut memerlukan biaya yang tinggi, sehingga kecepatan dan ketepatan waktu berlabuh di pelabuhan untuk keperluan bongkar-muat mutlak diperlukan, karena apabila terjadi keterlambatan maka akan membawa dampak kepada biaya pelabuhan yang dikenal sebagai demorage yakni biaya yang dikenakan kepada kapal apabila terlambat dari waktu yang ditentukan untuk berlabuh disuatu pelabuhan. Kecepatan dan ketepatan bongkar di suatu pelabuhan tergantung dari kelancaran pengangkutan darat (delivery) ke pemilik, di mana apakah setelah dibongkar dari kapal langsung di muat di truk (trucking) dikirim kepada pemilik barang ataukah ketempat gudang pelabuhan. Apabila pengangkutan darat langsung ke pemilik barang, maka sudah tentu pembongkaran muatan menjadi lamban, sehingga dapat menyebabkan keterlambatan kapal untuk memenuhi waktu yang telah ditentukan di pelabuhan. Keterlambatan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain adalah umur kapal sudah tua, mesin kapal sering mengalami kerusakan dan sebagainya yang akan membawa konsekuensi biaya tinggi, maka perawatan dan perbaikan atas fasilitas-fasilitas transportasi dan fasilitas penunjangnya terus ditingkatkan agar kelancaran kegiatan operasi kapal tetap terjamin.
Untuk perusahaan pelayaran, kapal merupakan ujung tombak untuk mendapatkan penghasilan, karena salah satu tujuan perusahaan pelayaran adalah memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya sebagai hasil dari jasa angkutan, untuk kemajuan suatu perusahaan, maka perusahaan pelayaran harus untung artinya pemasukan harus lebih besar dari pengeluarannya, dengan demikian biaya operasi harus ditekan sekecil mungkin. Pendapatan maupun biaya operasi sangat dipengaruhi oleh perawatan kapal yang dilaksanakan dengan baik dan secara tidak langsung akan meningkatkan jumlah hari berlayar kapal.
Lancarnya operasi kapal, tentunya tidak lepas dari personil yang menangani motor induk, motor bantu, pesawat-pesawat bantu maupun alat-alat kelengkapan lainnya, karena merupakan satu sistem yang berfungsi menunjang kelancaran operasi kapal. Motor induk sebagai penggerak utama kapal harus mendapat perhatian atau perawatan secara terencana dan berkelanjutan, agar kapal selalu berada di lautan dan dapat mengangkut serta memindahkan orang dan barang dari satu pelabuhan ke pelabuhan yang lain dan mesin-mesin selalu berjalan lancar dan tahan lama meskipun dalam kondisi cuaca yang buruk.
Namun dalam skripsi ini penulis hanya menganalisa perawatan yang diperlukan ketelitian dan kemahiran para crew kapal dalam menganalisa berbagai faktor yang akan menjadi penyebab terjadinya kerusakan motor induk, dan upaya bagaimana pencegahannya agar motor induk selalu dalam keadaan prima.
Salah satu faktor penyebab terjadinya kerusakan motor induk antara lain masih terdapat kekurangan dalam penguasaan prinsip kerja mesin, serta kurang memahami buku petunjuk perawatan mesin yang kebanyakan masih berbahasa asing. Bila ditinjau dari pengoperasian motor induk agar mampu mencapai tenaga yang diinginkan, ada tiga faktor yang penting yaitu :
1. Pembakaran yang sempurna.
2. Pelumasan yang cukup dan baik.
3. Pendinginan yang baik.
Agar ketiga faktor diatas tersebut dapat tercapai perlu adanya perawatan yang terencana dan berkala yang pelaksanaannya diatur waktunya oleh masinis. Dengan jadwal pemeliharaan yang teratur disertai laporan perbaikan yang lengkap, hal ini akan merupakan suatu hambatan dalam melaksanakan perawatan mesin, itulah salah satu sebab mengapa penulis mengambil judul:
“PENGARUH PERAWATAN KAPAL TERHADAP KELANCARAN OPERASIONAL KM. SURYA SENTOSA PADA PT BARUNA SHIPPING LINE PADA TAHUN 2009“.
B. Perumusan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang masalah, bahwa perawatan kapal sangat penting terhadap kelancaran operasional dari perusahaan perkapalan.
Maka dapatlah diindentifikasi beberapa persoalan penelitian sebagai berikut:
1. Terlambatnya perawatan kapal.
2. Suku cadang yang sulit di dapati.
3. Sumber Daya Manusia (SDM) yang tidak terlatih.
4. Ketrampilan dan pengalaman SDM kurang.
2. Pembatasan Masalah
Karena keterbatasan waktu dan tenaga maka penulis hanya membatasi masalah yang akan dibahas yaitu pengaruh dari perawatan kapal terhadap kelancarna operasional KM. Surya Sentosa pada PT Baruna Shipping Line Jakarta pada periode Januari 2009 hingga Juni 2009.
3. Pokok Masalah
Berdasarkan identifikasi permasalahan dan pembatasan masalah, maka pokok permasalahan dalam penyusunan skripsi ini latar belakang yang penulis uraikan, maka penulis merumuskan pokok permasalahannya sebagai berikut :
1. Bagaimana kegiatan perawatan kapal terhadap kelancaran operasional KM. Surya Sentosa pada PT Baruna Shipping Line?
2. Bagaimana sistem perawatan dilaksanakan dan pengaruh perawatan kapal terhadap kelancaran operasional KM. Surya Sentosa pada PT. Baruna Shipping Line?
3. Apakah terdapat hubungan antara perawatan kapal terhadap kelancaran operasional KM. Surya Sentosa pada PT Baruna Shipping Line?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui gambaran tentang kegiatan perawatan pemeliharaan dan perbaikan kapal KM. Surya Sentosa.
b. Untuk mengetahui gambaran tentang kinerja operasional dari PT Baruna Shipping Line.
c. Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan dan pengaruh perawatan kapal terhadap operasional KM.Surya Sentosa pada PT Baruna Shipping Line.
2. Manfaat Penelitian
Adapun kegunaan atau manfaat yang hendak diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Bagi Penulis
Kiranya penelitian ini merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga dan memperluas wawasan karena dapat membandingkan antara teori-teori yang telah dipelajari di lapangan.
b. Bagi Perusahaan
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan yang bersifat ilmiah guna mengevaluasi tentang perawatan KM. Surya Sentosa dan hubungannya dengan kinerja perusahaan. Apabila kondisi ini telah baik, maka perusahaan perlu mempertahankan dan mengembangkan lebih lanjut, sedangkan apabila belum mencapai hasil yang maksimal maka perlu dilakukan perbaikan-perbaikan, sehingga dapat meningkatkan kinerja operasional perusahaan.
c. Bagi STMT Trisakti
Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam rangka penelitian sejenis khususnya di bidang perawatan kapal dan operasional kapal pada masa yang akan datang.
d. Bagi Masyarakat Umum
Kiranya penelitian ini dapat menjadi salah satu bacaan yang tidak saja bersifat ilmiah, akan tetapi dapat memberikan suatu khasanah berpikir khususnya tentang topic ini.

D. Metodologi Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini akan ditemukan tentang satuan analisis dengan pengamatan, jenis data tehnik penentuan data serta tehnik analisa sebagai berikut:
1. Jenis dan Sumber Data
Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode penelitian yang bersifat deskriptif. Data adalah informasi yang digunakan dalam penelitian agar dapat memberikan gambaran dari objek yang diteliti, sehingga masalah yang diteliti dapat dibahas atau ditelaah.
Dalam penelitian ini data yang diperoleh dan dianalisis biasanya ada dua jenis, yaitu :
a. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumbernya, diamati dan dicatat yang biasanya dilakukan melalui wawancara, pengamatan (observasi) dan questioner atau angket dan lain-lain.
b. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi, sudah dikumpulkan orang lain, baik secara perorangan maupun secara organisasi yang kemudian dikutip oleh penulis.
Disini penulis menggunakan data primer yang diperoleh langsung melelui wawancara dan observasi secara langsung, sedangkan data sekunder penulis peroleh dari laporan tahunan perusahaan dan studi literature lainnya.
2. Populasi dan Sampel
a. Populasi
Populasi adalah jumlah keseluruhan objek yang diteliti. Pada skripsi ini penulis akan mengambil data dari sumber sekunder laporan tentang perawatan kapal dan kinerja KM. Surya Sentosa.
b. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang betul-betul representative untuk diteliti sehinggah kesimpulannya akan dapat diberlakukan untuk populasi dengan jumlah perawatan mingguan pada kapal KM. Surya Sentosa periode bulan Januari sampai dengan bulan pebruari tahun 2009.
3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam usaha mengumpulkan data-data dan keterangan yang diperlukan dalam skripsi ini, penulis melakukan kegiatan penelitian. Untuk melakukan penelitian ini penulis melakukan metode pengumpulan data sebagai berikut :
a. Penelitian Kepustakaan (library research)
Riset kepustakaan dilakukan dengan mengumpulkan bahan-bahan dari literatur yang ada dengan hubungan masalah yang diteliti. Bahan-bahan tersebut merupakan sumber sekunder laporan jumlah jam perawatan kapal dan operasional kapal.
b. Penelitian lapangan (field research)
Penelitian ini diperlukan untuk memperoleh data primer yang diperlukan melalui cara-cara sebagai berikut:

1) Interview (wawancara)
Teknik pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab guna meretifikasi secara langsung kepada pihak – pihak yang berhubungan dengan materi yang akan dibahas.
2) Observasi (pengamatan)
Teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan terhadap perusahaan yang menjadi objek penelitian..
4. Teknik Analisis Data
Teknik analisis Asosiatif yang akan digunakan penulis dalam rangka penelitian ini akan dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut :
a. Analisis Regresi Linier Sederhana
Analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan proporsional antara variabel X (perawatan kapal) terhadap variabel Y (operasional kapal) menurut (M. Iqbal Hasan, 2002 : 250) adalah sebagai berikut :
Y = a + Bx
Dimana :
X = Nilai tertentu dari variable bebas (Variable Independent), dalam hal ini adalah Perawatan Kapal
Y = Nilai yang diukur atau dihitung pada variable tidak bebas (Variable Dependent), dalam hal ini adalah Operasional Kapal
n = Banyaknya data
a = Konstanta
b = Koefisien regresi

Untuk menghitung nilai a dan b digunakan rumus sebagai berikut:

b. Analisis Koefisien Korelasi
Koefisien korelasi merupakan alat untuk mengetahui kuat tidaknya hubungan antara variable X dan variable Y. Adapun nilai koefisien korelasi (r) dapat dicari dengan rumus Anton Dajan (1986 : 376) sebagai berikut :

Dimana :
r = Koefisien korelasi
n = jumlah responden
X = independent variable (Perawatan kapal)
Y = dependen variable (Operasional kapal)
Dalam hal ini :
1) Jika r = 0 atau mendekati 0, maka hubungan antara kedua variabel sangat lemah atau tidak terdapat hubungan sama sekali.
2) Jika r = +1 atau mendekati 1, maka hubungan antara kedua variabel dikatakan positif dan sangat kuat.
3) Jika r = -1 atau mendekati –1, maka hubungan kedua variabel tersebut dikatakan sangat kuat namun negatif.
Besaran nilai r berada diantara -1 s/d +1 atau dapat ditulis :
r = -1< r 0, berarti ada hubungan antara X dan Y
2) Untuk mengetahui nilai digunakan rumus:

3) Untuk mengetahui nilai digunakan tabel distribusi t pada
a = 0,050 ; df = n-2
4) Kesimpulan uji hipotesis
a) Jika , maka Ho ditolak dan Hi diterima, berarti terdapat hubungan antar X dan Y .
E. Hipotesis
Dalam penelitian ini penulis menggunakan hipotesis yang menduga adanya hubungan positif antara perawatan kapal terhadap kelancaran operasional KM. Surya Sentosa pada PT Baruna Shipping Line. Artinya semakin rutin perawatan dilakukan, maka operasional kapal akan semakin lancar.
F. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pembaca memahami isi skripsi ini maka sistematika penulisan skripsi ini dibagi menjadi 5 bab, masing- masing sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini memberikan penjelasan tentang latar belakang menapa penulis terjuan dan manfaat penelitian, hipotesis penelitian, dalam bab ini juga diuraikan mengenai metode penelitian dan sistematika penulisan skripsi.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini memuat pengertian tentang teori yang berkaitan dengan judul secara deduktif dari teori yang berlingkup luas hinggah ke teori yang akan digunakan untuk menganalisa permasalahan. Judul skripsi ini menggambarkan variable penelitian yang memiliki teori, sehinggah memudahkan untuk menganalisis. Setiap rujukan, terutama kutipan-kutipan akan disebutkan sumbernya.
BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
Pada bab ini diuraikan tentang sejarah singkat perusahaan, visi dan misi perusahaan, bidang usaha perusahaan, serta struktur organisasi perusahaan.
BAB IV ANALISIS DAN BAHASAN
Dalam bab ini diuraikan tentang gambaran kegiatan Perawatan dan faktor yang mempengaruhi kelancaran operasional kapal KM. Surya Sentosa, sistem perawatan kapal terhadap kinerja operasional perusahaan, serta hasil perhitungan tentang hubungan dan pengaruh antara perawatan dan faktor yang mempengaruhi kegiatan kelancaran kinerja operasional kapal KM. Surya Sentosa serta pengujian hipotesis.
BAB V PENUTUP
Dalam bab ini di uraikan tentang kesimpulan dan saran
yang diangkat berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah

TRISAKTI angkatan 11 BP3IP blog tandingan

July 2, 2009

untuk semua mahasiswa / i bp3ip-trisakti 11, inilah tempat kita
utk curhat ttg makalah, skripsi, bahan seminar yg diminta oleh
Bp. Osman Arafat. ayo lah cepetan isi di blog ini

Hello world!

July 1, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.