IBRAHIM BP3IP / STMT 11

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dengan semakin berkembang pesatnya dunia pelayaran saat ini maka persaingan jasa transportasi laut pun semakin ketat, demikian juga terhadap dunia pelayaran di tanah air. Salah satunya adalah persaingan dalam jasa angkutan barang menggunakan petikemas. Untuk mengantisipasinya tingginya permintaan akan jasa angkutan barang yang menggunakan petikemas, perusahaan-perusahaan pelayaran semakin meningkatkan kualitas layanan dan kemudahan kepada para pengguna jasa angkutan ini. Dalam meningkatkan kualitas layanan tersebut diatas, perusahaan pelayaran harus memperhatikan beberapa hal, diantaranya : kapal-kapal yang dimilikinya harus dalam keadaan laik laut sesuai peraturan internasional dan peraturan pemerintah Indonesia, khususnya mengenai alat-alat keselamatan dan pencegahan pencemaran lingkungan, memiliki kapasitas ruang muat yang memadai sesuai dengan kebutuhan, kecepatan kapal yang cocok untuk daerah operasinya, konsumsi bahan baker, serta dilengkpi dengan anak buah kapal yang terampil dan berpengalaman dan nahkoda yang berkualitas. Selain itu kecepatan operasi bongkar muat mempengaruhi waktu tinggal kapal di pelabuhan, ketepatan waktu dalam memenuhi jadwal pelayaran juga menjadi suatu kewajiban bagi perusahaan dalam memberikan layanan kepada para pengguna jasa angkutan kapal.
Dilihat dari beragamnya kebutuhan masyarakat akan barang dan jasa maka beragam pula jenis dan tipe kapal yang digunakan sesuai dengan fungsi dan kebutuhannya. Untuk mengangkut manusia dari satu tempat ketempat lainnya digunakan kapal penumpang, baik yang bertipe ferry maupun Roro, atau kapal penumpang cepat. Untuk mengangut barang muatan cair menggunakan kapal tanker, muatan curah kering menggunakan kapal general cargo, untuk mengangkut muatan yang telah dimuati ke dalam petikemas menggunakan kapal container.
Perusahaan pelayaran di dunia yang tumbuh dan berkembang khususnya yang bergerak dalam jasa pengangkutan petikemas semakin meningkat, dengan peningkatan jumlah perusahaan pelayaran tersebut, maka pengguna jasa transportasi ini memiliki pemilihan untuk menggunakan jasa perusahaan mana yang mereka percaya dan memberikan layanan terbaik bagi pengangkutan barang mereka. Perusahaan- perusahaan pelayaran mengoperasikan beberapa beberapa kapalnya untuk rute tetap yang sama (liner service) dan rute tidak tetap (tramping) demi memenuhi layanan angkutan petikemas sesuai jadwal yang telah dibuat. Dengan pengoperasian beberapa kapal pada perusahaan-perusahaan pelayaran untuk rute yang sama ini akan mempengaruhi kapasitas terpakai muatan petikemas pada kapal-kapal mereka dan juga pendapatan perusahaan. Oleh karena itu, promosi, pelayanan, tarif yang bersaing, serta pengaturan jadwal kedatangan, operasi di pelabuhan dan keberangkatan kapal saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
Selain itu terdapat juga sisi lemah yang harus mendapat perhatian dari perusahaan pelayaran, khususnya, pada HUB Shipping Sdn bhd.yang menjadi tempat penelitian bagi penulis yaitu :
1. Kondisi kapal dalam menerima muatan.
2. Pengawasan oleh perusahaan terhadap kinerja perusahaan bongkar muat mulai dari saat pengemasan muatan kedalam petikemas di gudang atau lapangan milik pengirim barang, hingga dimuati keatas kapal.
3. Karakteristik pelabuhan.
4. Sarana dan peralatan penunjang kegiatan bongkar muat.
5. Pengaturan jadwal dan jarak kedua kapal untuk menghindari seringnya kapal melakukan deviasi (skip).
6. Klasifikasi muatan menurut jenis dan beratnya.
7. Koordinasi antar pihak kantor pusat atau cabang dengan pihak kapal serta kemampuan pihak kapal dalam memperhitungkan kapasitas berat muatan petikemas terhadap stabilitas kapal.
Agar kapasitas petikemas yang dapat dimuati diharapkan akan memenuhi atau mendekati harapan.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam lagi dengan mengemukakan dalam bentuk skripsi dengan judul:
“ ANALISIS PERBANDINGAN KAPASITAS YANG TERPAKAI MUATAN PETIKEMAS ANTARA MV.HUB KUCHING DAN MV.HUB BINTULU PERVOYAGE PADA ARMADA HUB SHIPPING SDN BHD MALAYSIA, PERIODE NOVEMBER 2007 – NOVEMBER 2008”
B. Perumusan Masalah

1. Identifikasi Masalah
Merupakan masalah yang terjadi sehubungan dengan kegiatan operasional kapal petikemas dalam memperoleh kapasitas terpakai muatan petikemas adalah :
A. Kerusakan pada bagian ruang muat yang bersifat incidental memengaruhi kapasitas muat petikemas.
B. Seringnya kapal melakukan deviasi (skip) untuk menjaga jarak keduanya.
C. Karakterristik muatan mempengaruhi stabilitas kapal, sehingga kapasitas ruang muat tidak optimal.
D. Banyaknya kapal petikemas dari perusahaan lain yang beroprasi pada rute pelabuhan yang sama.
E. Koordinasi antara pihak perusahaan dengan pihak kapal dalam memperhitungakan kapasitas berat tersisa untuk muatan petikemas terhadap stabilitas kapal, serta kemampuan pihak kapal dalam memperhitungkan kapasitas berat tersisa untuk muatan petikemas terhadap stbilitas kapal.
F. Rendahnya kinerja perusahaan bongkar muat pada beberapa pelabuhan.

2. Batasan masalah
Sehubungan dengan luasnya masalah yang timbul dan penulis juga menyadari adanya factor keterbatasan waktu dan data yang diperoleh serta kemampuan yang dimiliki penulis maka dalam skripsi ini penulis membatasi permasalahan pada perbandingan kapasitas terpakai muatan petikemas antara MV. Hub Kuching dan MV.Hub Bintulu milik HUB Shipping Sdn Bhd.

3. Pokok permasalahan
Berdasarkan identifikasi masalah diatas maka penulis membuat pokok masalah sebagai berikut :
a. berapa besar kapsitas yang terpakai muatan petikemas pada MV. Hub Kuching ?
b. berapa besar kapsitas yang terpakai muatan petikemas pada MV. Hub Bintulu?
c. apakah ada perbedaan kapasitas yang terpakai muatan petikemas Antara MV Hub Kuching dan MV Hub Bintulu Pervoyage dalam periode November 2007 sampai dengan November 2008 ?

C. Tujuan dan manfaat penelitian
1. Tujuan penelitian
Didalam penyusunan skripsi ini ada beberapa tujuan yang hendak penulis capai yaitu :
a. untuk mengetahui kapasitas yang terpakai muatan petikemas pada MV. Hub Kuching
b. untuk mengetahui kapasitas yang terpakai muatan petikemas pada MV. Hub Bintulu
c. untuk mengetahui sejauh mana perbedaan kapasitas yang terpakai muatan petikemas Antara MV Hub Kuching dan MV Hub Bintulu

2. manfaat penelitian
a. bagi penulis
1) untuk memenuhi sebagian syarat guna mencapai gelar Sarjana Ekonomi.
2) untuk mengetahiu perbandingan kapasitas yang terpakai muatan petikemas Antara MV Hub Kuching dan MV Hub Bintulu Pervoyage dalam periode November 2007 sampai dengan November 2008.
b. bagi pembaca
diharapkan dapat menabah wawasan dan pengetahuan mengenai perbandingan kapasitas yang terpakai muatan petikemas pada kapal container .
c. Bagi perusahaan
sebagai bahan masukan dan rekomendasi perbaikan bagi perusahaan tentang kapasitas terpakai muatan petikemas pada MV Hub Kuching dan MV Hub Bintulu serta permasalahan-permasalahan yang dihadapai serta kendala-kendalanya sehingga dapat meningkatkan kapasitas yang terpakai muatannya.

D. Metodologi penelitian
Dalam menyusun skripsi ini penulis menggunakan metode sebagai berikut :
1. metode pengumpulan data
a. penelitian lapangan
Adalah metode pengumpulan data primer yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan langsung di lokasi kegiatan tempat penelitian ini meliputi :
1) Wawancara (Interview)
Penulis mengadakan wawancara baik terhadap staf perusahaan yang berwenang, Nahkoda, Mualim I, Mualim lainnya di kapal tentang kegiatan dan pelaksanaan pemuatan, mencari data jumlah petikemas yang diangkut pada kedua kapal tersebut dan sejauh mana pengaruhnya terhadap kapasitas yang terpakai muatan petikemas di atas kapal.

2) Pengamatan (Observasi)
Yaitu penelitian yang dilakukan oleh penulis secara langsung terhadap kegiatan bongkar muat petikemas pada MV. Hub Kuching dan MV. Hub Bintulu di pelabuhan Port Kelang (West Malaysia) guna mendapatkan data yang diperlukan.
b. Penelitian Kepustakaan
Yaitu penelitian yang dilakukan oleh penulis untuk memperoleh data sekunder yang bersumber dari buku atau diktat yang penulis peroleh dari kapal, buku pelajaran, perpustakaan, situs-situs internet yang mana data tersebut relevan dengan penelitian yang penulis ambil.
2)Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang penulis lakukan adalah dengan menggunakan analisis parametrik kuantitatif komparatif dua sampel, yaitu independent sample t-test. Menurut (M. Hariwijaya; Triton P.B,2007), untuk menjawab hipotesis kuantitatif komparatif dua sampel, digunakan rumus :
X1 – X2
t =
(n1 – 1)S12 + (n2 – 1)S22
n1 + n2 – 2

Untuk menghitung S1 dan S2 berdasarkan table tertentu :

signifikasi ditentukan 5 % atau α = 0,05. Uji Independent Sample t – test merupakan uji dua sisi, oleh karena itu nilai α = 0,05 masih harus dibagi dua, maka α/2 = 0,025. Derajat kebebasan atau df = n1 + n2 – 2. Berdasarkan nilai α/2 dan df maka diperoleh batas nilai kritis t pada tabel.

Formulasi statistiknya sebagai berikut :
1. H0 : µ1 = m2
Ha : µ1 > m2
2. H0 : µ1 = m2
Ha : µ1 = m2
3. H0 : µ1 ≠ m2
H0 = hipotesis nol
Ha = Hipotesis alternatif
H0 : µ1 = µ2 (tidak beda)
Ha : µ1 ≠ µ2 ( beda )

E. Hipotesis
H0 = Tidak ada perbedaan kapasitas yang terpakai muatan petikemas antara
MV Hub Kuching dan MV Hub Bintulu.
Ha = Terdapat perbedaan kapasitas yang terpakai muatan petikemas antara
MV Hub Kuching dan MV Hub Bintulu.

F. Sistematika Penulisan
Di dalam penulisan skripsi ini penulis akan membagi kedalam 5 (lima) bab dan sub bab dengan maksud agar lebih memperjelas lagi pembahasan ini serta agar tidak terjadi kesimpangsiuran antara bab yang satu dengan bab yang lainnya. Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN
Bab ini penulis menguraikan latar belakang masalah, perumusan
masalah,tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian, hipotesis, dan sistematika penulisan skripsi.

BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini mengemukakan teori-teori yang berkaitan dengan objek penelitian, pengertian organisasi, pengertian manajemen, manajemen operasi, pengertian kapal, pengertian kapal petikemas, pengertian petikemas, jenis-jenis petikemas, pengertian Nahkoda dan anak buah kapal, pengertian stabilitas kapal dan pengertian kapasitas.

BAB III GAMBARAN UMUM HUB SHIPPING SDN BHD.MALAYSIA
Pada bab ini akan memberikan informasi tentang gambaran umum perusahaan, sejarah perusahaan, organisasi perusahaan, dan manajemen perusahaan.

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Didalam bab ini penulis akan mencoba menguraikan dan membahas mengenai analisis permasalahan yang ada dengan analisis permasalahan yang ada berdasarkan landasan teori pada bab II dalam kaitannya dengan kapasitas terpakai muatan petikemas MV Hub Kuching dan MV.Hub Bintulu berdasarkan analisisparametrik kuantitatif komparatif, yaitu dengan uji hipotesis komparatif dua sampel ( t-test dua sampel ) sesuai dengan rumus pada bab I.

BAB V PENUTUP
Merupakan bab terakhir dari penulisan skripsi yang terdiri dari kesimpulan dan saran-saran. Kesimpulan didapat dan di ambil dari rangkuman bab analisis dan pembahasan sedangkan untuk saran-saran di dapat dari hasil pembahasan pada bab 4.

BAB II
LANDASAN TEORI

Dalam melakukan analisis terhadap permasalahan di dalam skripsi ini di butuhkan teori – teori yang berhubungan dengan permasalahan yang ada, yang selanjutnya dijadikan sebagai landasan untuk menganalisis permasalahan sehingga di dapat suatu hasil pada pertimbangan – pertimbangan secara obyektif. Berikut penulis uraikan beberapa landasan teori yang terkait dalam penelitian.

A. Pengertian Manajemen
Manajemen sangatlah penting bagi suatu perusahaan, karena merupakan alat untuk mencapai tujuan yang diinginkan oleh perusahaan tersebut. Manajemen yang baik di suatu perusahaan akan memudahkan perusahaan tersebut untuk mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya oleh perusahaan, para pegawai dan masyarakat.
Dalam literature – literature banyak sekali pengertian atau batasan umum manajemen yang diberikan oleh para ahli sehingga dapat diperoleh pengertian dan pandangan yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, tergantung dari sudut mana para ahli tersebut memandangnya, meskipun pada hakekatnya pengertian tersebut mempunyai tujuan yang sama. Dalam kenyataannya tidak ada definisi yang telah diterima secara umum.
Manajemen banyak diartikan sebagai ilmu untuk mencapai suatu tujuan melalui kegiatan orang lain. Oleh karena itu makin bayak kita melibatkan orang dalam mencapai tujuan maka semakin besar pula peranan dari manajemen.
Menurut H. Malayu S.P Hasibuan (1995 : 1) : Manajemen berasal dari kata to manage yang berarti mengatur. Timbul pertanyaan tentang apa yang diatur, apa tujuannya diatur, mengapa harus diatur, siapa yang mengatur dan bagaimana mengaturnya.
1. Yang mengatur adalah semua unsur manajemen, yakni 6 M terdiri Man (manusia), Money (uang), Method (metode), Machine (mesin), Materials (perlengkapan) dan Market (pasar).
2. Tujuan diatur adalah agar ke-6 M tersebut lebih berdaya guna dan berhasil guna dalam mewujudkan tujuan perusahaan.
3. Harus diatur supaya 6 M tersebut brmanfaat optimal, terkoordinasi dan terintegrasi dengan baik dalam menunjang terwujudnya tujuan organisasi.
4. Yang mengatur adalah pimpinan, dengan kepemimpinannya yaitu pimpinan puncak, manajer madya dan supervise.
5. Mengaturnya adalah dengan melakukan kegiatan urut – urutan fungsi manajemen tersebut.
Menurut Hananto Soewedo dan Engkos Kosasih (2007:6-7) : sarana manajemen agar mencapai sasarannya, diperlukan alat manajemen yang dikenal dengan 7 M, yaitu :
1. Man, yaitu orang yang mengelola manajemen.
2. Money, yaitu uang atau dana yang diperlukan untuk membiayai operasi dan investasi.
3. Method, yaitu cara untuk mencapai tujuan.
4. Material, yaitu bahan – bahan yang diperlukan.
5. Machines, yaitu mesin atau perlatan untuk proses produksi serta alat kantor, computer, dan sebagainya.
6. Market, yaitu pasar untuk menyalurkan hasil produksi.
7. MIS (Management Information System), yaitu system informasi yang sangat diperlukan untuk pengambilan keputusan.
Fungsi – fungsi manajemen mencakup fungsi – fungsi : Planning (perencanaan), Oganizing (pengorganisasian), Actuating (penggerakan), Controlling (pengawasan dan pengendalian).
Menurut H. Malayu S.P Hasibuan (1995 : 53) : Manajemen adalah ilmu dan seni yang mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapau suatu tujuan tertentu.
Dari pendapat para ahli tersebut di atas, dapat di ambil kesimpulan bahwa manajemen itu mengandung pengertian sebagai berikut :
1. Manajemen adalah suatu keterampilan dalam menjalankan usaha untuk mencapai suatu tujuan.
Dalam usaha untuk mencapai suatu tujuan tentunya diperlukan suatu kemampuan untuk mencapainya, yakni keterampilan untuk menjalankan kegiatan itu.
Seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan teknis tentang kegiatannya, agar dengan pengetahuannya itu ia dapat memberikan bimbingan secara langsung pada setiap pelaksanaan kegiatannya, sehingga tujuan yang ingin dicapai dapat terlaksana secara efisien dan efektif.
2. Manajemen adalah suatu proses aktivitas dalam usaha melaksanakan kegiatan untuk mencapai suatu tujuan.
Manajemen dikatakan sebagai suatu proses, sebab pada kenyataannya kegiatan tersebut merupakan rangkaian dan tahapan kegiatan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan tindakan perencanaan yang matang, perlu diambil terlebih dahulu agar semua langkah yang akan dilaksanakan nantinya akan benar – benar terarah dan tepat.
3. Manajemen adalah suatu pengarahan tenaga kerja dan pikiran orang lain dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuannya.
Pada dasarnya kegiatan manajemen tidak melakukan semua kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah direncanakannya. Tenaga dan pikiran orang lain dikerahkan dan digerakkan dalam suatu kerjasama yang terpadu untuk melaksanakan pekerjannya.
Disini manajemen sebagai suatu koordinasi anggota dalam kelompok yang telah dibentuk untuk melakukan kegiatan teringterasi. Dalam pengertian tersebut juga mengandung maksud memberikan motivasi, pengarahan, pembimbingan dan dorongan kepada setiap para anggota.

B. Pengertian Manajemen Operasi
Kegiatan manajemen operasi dan produksi tidak hanya menyangkut pemprosesan berbagai barang. Tetapi manajemen operasi dan produksi juga melaksanakan kegiatan produksi dalam organisasi – organisasi yang menyediakan berbagai bentuk jasa, seperti pada bisnis asuransi, perhotelan, perbankan, transportasi dan lain sebagainya.
Manajemen produksi merupakan usaha – usaha pengelolaan sumber daya manusia, mesin – mesin, peralatan, bahan mentah dan sebagainya. Para pimpinan atau manajer operasi mengarahkan berbagai masukan (input) agar dapat memproduksi berbagai keluaran (output) dalam jumlah, kualitas, harga, waktu dan tempat tertentu sesuai dengan permintaan konsumen. Dengan memperhatikan factor – factor kekuatan – kekuatan dari luar, seperti peraturan pemerintah, tuntutan pekerja, kondisi ekonomi local, nasional, dan internasional; kemajuan teknologi; dan lain sebagainya.
Menurut Chase, RB., dan Aquilan (2000 : 8) bahwa : manajemen operasi didefinisikan sebagai pelaksanaan kegiatan – kegiatan manajerial yang dibawakan dalam pemilihan, perancangan, pengoperasian dan pengawasan system – system produktif.
Dimana kegiatan – kegiatan manajerial tersebut diuraikan sebagai berikut :
1. Pengawasan : Prosedur – prosedur yang menyangkut pengambilan tindakan korektif dalam operasi – operasi produksi barang atau penyediaan jasa.
2. Pembaharuan : Impelementasi perbaikan – perbaikan yang diperlukan dalam system produktif berdasarkan perubahan – perubahan permintaan, tujuan – tujuan organisasi, teknologi dan manajemen.
3. Pemilihan : keputusan strategik yang menyangkut pemilihan proses melalui mana berbagai barang atau jasa akan diproduksi atau disediakan.
4. Perancangan : Keputusan – keputusan taktikal yang menyangkut kreasi – kreasi metode pelaksanaan suatu operasi produktif.
5. Pengoperasian : Keputusan – keputusan perencanaan tingkat keluaran jangka panjang atau dasar forecast permintaan dan keputusan – keputusan scheduling pekerjaan dan pengalokasian karyawan jangka pendek.
Menurut T. Hani Handoko (2000 : 6) : Manajemen produksi dan operasi sebagai system – system transformasi yang mengubah masukan – masukan menjadi barang – barang dan jasa – jasa.
Sofyan Assauri (1980 : 7) : Manajemen produksi adalah kegiatan untuk mengatur agar dapat menciptakan dan menambah kegunaan (utility) sesuatu barang atau jasa.
Menurut Heizer, Jay dan Render, Bary (2005 : 4) : Manajemen operasi adalah kegiatan yang berhubungan dengan penciptaan barang dan jasa melalui adanya pengubahan input menjadi output.
Dimana produksi merupakan proses penciptaan barang dan jasa, dan organisasi untuk menghasilkan barang dan jasa terdiri atas :
1. Produksi dan operasi
2. Pemasaran
3. Keuangan dan akutansi
Dari pendapat para ahli tersebut di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa manajemen produksi dan operasi mengandung pengertian sebagai berikut :
1. Manajemen produksi dan operasi sebagai manajemen – system – system transformasi yang mengubah masukan – masukan menjadi barang – barang dan jasa – jasa.
Masukan – masukan tadi dirubah melalui usaha – usaha pengelolaan atau proses untuk menghasilkan suatu produk barang atau jasa sesuai permintaan konsumen.
2. Manajemen produksi adalah suatu pelaksanaan kegiatan – kegiatan manajerial yang dibawakan dalam pemilihan, perancangan, pembaharuan, pengoperasia dan pengawasan system – system produktif.
3. Manajemen operasi adalah kegiatan yang berhubungan dengan penciptaan barang dan jasa melalui adanya pengubahan input menjadi output.
Dalam menciptakan barang dan jasa tersebut dilakukan proses sumber daya manusia, mesin – mesin, peralatan, bahan mentah dan sebagainya. Serta diarahkan oleh manajer operasi sehingga input tadi dapat diproduksi menjadi output sesuai keinginan dan harapan manajemen dan masyarakat.

C. Pengertian Kapasitas, Kapasitas Terpakai, Stabilitas dan Muatan
Menurut Wikipedia, Ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia : Kapasitas dari bahasa Belanda, Capaciteit adalah daya tampung, daya serap, ruang atau fasilitas yang tersedia,kemampuan (maksimal). (Wikimedia, Ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, http://id.wikipedia.org/wiki/kapasitas, 2007).
Menurut diktat Penanganan dan Pengaturan Muatan, BP3IP (2003 : 42) : Kapasitas terpakai atau kapasitas terangkut (loaded cargo capacity), adalah jumlah muatan dalam satuan berat, unit atau volume yang dimuat di atas kapal baik dalam bentuk muatan umum (general cargo), kemasan, maupun curah (kering atau cair).
Menurut Istopo (2001 : 47) : “Stabilitas ialah kecenderungan kapal untuk kembali ke kedudukan semula setelah sengat (miring)yang disebabkan oleh gaya luar”.
Menurut Sudjatmiko (1985 : 65) : Muatan adalah segala macam barang dan dagangan (goods and merchandise) yang diserahkan kepada pengangkut untuk diangkut dengan kapal, guna diserahkan kepada orang atau badan hukum dipelabuhan tujuannya.

D. Pengertian Petikemas (Container)
Petikemas sebagai salah satu sarana pengangkutan barang, saat ini dirasakan sangat penting khususnya bagi kalangan pelayaran nasional maupun internasional. Hal ini tak lepas dari kemampuan muat bongkar yang tinggi dan cepat serta pengeluaran biaya tenaga kerja yang rendah sehingga frekuensi pelayaran menjadi meningkat, produktifitas angkutan menjadi lebih tinggi dan biaya operasional pelayaran dapat dikurangi.
“Container adalah system pengangkutan menggunakan petikemas”. (Abbas Salim, 1993 : 134).
Menurut Amir M.S (1997 : 6) : Petikemas adalah peti yang terbuat dari logam yang memuat barang – barang yang lazim disebut muatan umum (general cargo) yang akan dikirimkan melalui laut.
Menurut Sudjatmiko (1985 : 14) : “Container adalah peti besar yang terbuat dari kerangka baja dengan dinding aluminium atau lembaran baja ekstrusi”.
Menurut R.P.Suyono (2005 : 263) : Petikemas (container) adalah satu kemasan yang dirancang secara khusus dengan ukuran tertentu, dapat dipakai berulang kali, dipergunakan untuk menyimpan dan sekaligus mengangkut muatan yang ada di dalamnya.
Ukuran petikemas sesuai dengan badan International Standart Organization (ISO) adalah sebagai berikut :

Table II.1
Ukuran – ukuran Container

Type
Kode Tinggi
Bagian Lebar
Bagian Dalam Panjang
Luar Berat Kotor
Maksimum Kapasitas
M Ft.in M Ft.in M Ft.in Kg Lb M3 Ft3
1-A
1-AA
1-B
1-BB
1-C
1-CC
1-D
1-E
1-F 2,438
2,591
2,438
2,591
2,438
2,591
2,438
2,438
2,438 8-00
8-00
8-00
8-00
8-00
8-00
8-00
8-00
8-00 2,438
2,438
2,438
2,438
2,438
2,438
2,438
2,438
2,438 8-00
8-00
8-00
8-00
8-00
8-00
8-00
8-00
8-00 12
12
9
9
6
6
3
2
1,5 40-00
40-00
30-00
30-00
20-00
20-00
10-00
6-08
5-00 30480
30480
25400
25400
20320
20320
10160
7110
5080 67200
67200
56000
56000
44800
44800
22400
15700
11200 61,4
65,7
45,7
48,9
30,0
30,0
14,3
9,1
6,5 2167,5
2317,5
1613,5
1725,4
1060,1
1060,1
506,2
321,6
320,0

Sumber : Amir M.S, Petikemas; Masalah dan Aplikasinya, 1997 dan diolah oleh penulis.

Jenis – jenis Petikemas :
1) General cargo container, yaitu yang dipakai untuk pengangkutan muatan umum, terdiri atas :
a. General purpose container
b. Open – side container
c. Open – top container
d. Ventilated container
2) Thermal, yaitu petikemas yang dilengkapi dengan suhu untuk muatan tertentu, terdiri atas :
a. Insulated container
b. Reefer container
c. Heatde container
3) Tank, adalah tangki yang ditempatkan dalam kerangka petikemas yang dipergunakan untuk muatan cair (bulk liquid) maupun gas (bulk gas).
4) Dry bulk, adalah general purpose container yang dipergunakan khusus untuk mengangkut muatan curah (bulk cargo).
5) Platform, adalah petikemas yang terdiri dari lantai dasar. Petikemas yang termasuk jenis ini adalah :
a. Flat rack container, adalah petikemas yang terdiri dari lantai dasar dengan dinding pada ujungnya. Flat rack terbagi atas :
1) Fixed end type; dinding pada ujungnya tidak dapat di buka atau lipat.
2) Collapsible type; dinding pada ujungnya dapat dilipat, agar menghemat ruangan saat diangkut dalam keadaan kosong.
b. Platform based container, adalah petikemas yang hanya terdiri dari lantai dasar saja dan apabila diperlukan, dapat dipasang dinding.
6) Specials container, adalah petikemas yang khusus dibuat untuk muatan tertentu, seperti petikemas untuk muatan ternak (Cattle container) atau muatan kendaraan (car container).
Container (petikemas) yang dimuat bisa ukuran 20 feet (Teu = twenty equivalent unit) dengan kapasitas + 18 ton, 40 feet (Feu = fourty equivalent unit)dengan kapasitas + 27 ton muatan, bahkan sekarang sudah berkembang sampai ukuran 35, 45 dan 55 feet.

E. Pengertian Kapal
Menurut kitab Undang – undang Hukum Dagang Republik Indonesia 1847 buku II Pasal 309 (2006 ; 2) : Kapal adalah semua alat yang berlayar, bagaimanapun namanya dan apa pun sifatnya. Kecuali bila ditentukan lain, atau diadakan perjanjian lain, dianggap bahwa kapal itu meliputi perlengkapan kapalnya.
Menurut pasal 310 Kitab Undang – undang Hukum Dagang Republik Indonesia 1847 buku II (2006 : 60) : “Kapal laut adalah semua kapal yang digunakan untuk pelayaran di laut atau diperuntukkan untuk itu”.
Menurut UU No. 21 tahun 1992 pasal 1 butir 2 tentang pelayaran (2006 : 2) : Kapal adalah semua perahu dengan apapun dan dari macam apapun, yang digerakkan dengan tenaga mekanik, tenaga angin atau tunda termasuk kendaraan yang di bawah permukaan air serta apung dan bangunan terapung yang tidak berpindah – pindah.
Menurut COLREG 1972 (Collision Regulation 1972) (2003 : 6) aturan 3a adalah : Kata “Kapal” mencakup setiap jenis kendaraan air, termasuk kapal tanpa benaman (Displacement) dan pesawat terbang laut, yang digunakan atau dapat digunakan sebagai sarana angkutan di air.
Menurut Sudjatmiko (1985 : 14) mendefinisikan kapal sebagai berikut : Yang dimaksud dengan kapal barang ini adalah kapal yang di bangun khusus untuk tujuan mengangkut barang – barang menurut jenis barang masing – masing.
Menurut Wikipedia, Ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia kapal adalah : Seperti sampan atau perahu, merupakan suatu kendaraan yang dibuat untuk lautan atau pengangkutan merintang air. (Wikimedia. Ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, http://id.wikipedia.org/wiki/kapal, 2007).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia : “Kapal adalah kendaraan pengangkut penumpang dan barang di laut (sungai dan sebagainya)”. (R.P.Suyono,2005 : 115)
Jenis – Jenis kapal niaga menurut Hananto Soewedo dan Engkos Kosasih (2007 : 14-18) adalah :
1. Kapal barang (Cargo Vessel), sering juga disebut kapal konvensional.
Beradasrakan jenis muatannya kapal barang dapat dibedakan menjadi tujuh jenis berikut :
a. General Cargo Carrier, untuk mengangkut muatan umum (general cargo) yaitu muatan yang terdiri dari bermacam – macam barang dalam bentuk potongan maupun yang dibungkus, dalam peti, keranjang, dan lain – lain.
b. Bulk Cargo Carrier, untuk mengangkut muatan curah dengan jumlah banyak dalam sekali jalan. Bentuk muatan biasanya berbutir – butir (grain cargo, seperti beras, gandum, biji besi, batu bara dan sebagainya.
c. Kapal Tanker, untuk mengangkut muatan cair.
d. Combination Carrier, kombinasi kapal tanker dan dry bulk.
e. Offshore Supply Ship, untuk mengangkut bahan atau peralatan, makanan, dan lain – lain untuk anjungan.
f. Special Designed Ship, kapal yang khusus dibangun untuk muatan tertentu, seperti daging, LNG, misalnya refrigerated cargo carrier, liquefied gas carrier dan lain sebagainya.
g. Kapal Container atau kapal cellular container, untuk mengangkut muatan general cargo yang dimasukkan kedalam container atau muatan – muatan yang perlu dibekukan dalam reefer container.
Jenis kapal container adalah sebagai berikut :
1) Kapal container biasa
2) Roll – on Roll – off
3) LASH (Lighter Aboard Ship)
4) FLASH ( Feeder Lighter Aboard Ship)
5) Sea Bee atau Sea Train
Menurut Amir M.S (1997 : 7) : Kapal petikemas (cellular ships) yaitu kapal – kapal khusus yang mempunyai rongga (cells) untuk menyimpan petikemas yang berukuran standar, yang dapat dimuat dan dibongkar dengan cepat, baik dengan menggunakan mesin-mesin Derek dermaga ataupun menggunakan mesin Derek kapal itu sendiri.
Menurut Wikipedia, Ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia : Kapal container adalah kapal barang yang khusus untuk mengangkut barang yang sudah dikemas dalam petikemas. (Wikimedia, Ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, http://id.wikipedia.org/wiki/kapal_kontainer,2007)
Menurut Sudjatmiko (1985 : 14) : Kapal petikemas (container vessel) adalah kapal yang dibangun untuk mengangkut muatan yang sudah dimasukkan kedalam container (petikemas).
2. Panamax Class, ukuran kapal terbesar yang dapat melalui Terusan Panama (60.000 DWT), dengan lebar maksimum 32 m.
3. Kapal Penelitian atau Perambuan, untuk fungsi pemetaan, hidrografi, oceangrafi, seismografi, dan melakukan penelitian di laut.
4. Kapal Penumpang (Passenger Vessel), kapal ini digunakan khusus untuk mengangkut penumpang.
5. Kapal Barang Penumpang (Cargo-Passenger Vessel), jenis kapal ini digunakan untuk mengangkut penumpang dan barang secara bersama – sama.
6. Kapal barang dengan akomodasi penumpang terbatas, ini merupakan kapal biasa (general cargo atau bulk carrier). Tetapi diizinkan membawa penumpang maksimum 12 orang.

F. Pengertian Kelaiklautan Kapal (Sea Worthiness), voyage (perjalanan), Deviasi (Skip) dan Liner Service.
Menurut UU No. 21 tahun 1992 pasal 1 butir 10 (2006 : 2) tentang pelayaran Kelaiklautan kapal adalah : keadaan kapal yang memenuhi persyaratan keselamatan kapal, pencegahan pencemaran perairan dari kapal, pengawakan, pemuatan, kesehatan dan kesejahteraan awak kapal, serta penumpang dan status hukum kapal untuk berlayar di perairan tertentu.
Menurut Hananto Soewedo dan Engkos Kosasih (2007 : 71) : Voyage adalah perjalanan kapal dari satu pelabuhan ke beberapa pelabuhan.lainnya atau dari satu pelabuhan ke beberapa pelabuhan.
Menurut Keputusan Menteri Perhubungan nomor : KM. 33 tahun 2001 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan Angkutan Laut : Devisi (skip) adalah penyimpangan trayek kepelabuhan lain diluar pelabuhan wajib singgah yang ditetapkan dalam jaringan trayeknya.
Menurut Sudjatmiko (1985 : 54) : Liner service (pelayaran tetap) yaitu pelayaran yang dijalankan secara tetap dan teratur, baik dalam hal keberangkatan maupun kedatangan kapal di pelabuhan, dalam hal trayek (wilayah operasi), dalam hal tarif angkutan serta dalam hal syarat – syarat dan perjanjian pengangkutan.

G. Pengertian Nakhoda, Perwira Kapal dan Anak Buah Kapal (ABK)
Menurut UU No. 21 tahun 1992 (2006 : 3) : pasal 1 butir 12 tentang pelayaran Nakhoda kapal : adalah salah seorang dari awak kapal yang menjadi pimpinan umum di atas dan mempunyai wewenang dan tanggung jawab tertentu sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku.
Menurut STCW 1995 Amandemen 1978 bab I peraturan 1.3 (2000 : 23) : “Master (Nakhoda) berarti orang yang memegang komando sebuah kapal”.
Menurut STCW 1995 Amandemen 1978 bab I peraturan 1.4 : Officer (perwira) berarti seorang awak kapal yang bukan nakhoda, yang ditentukan oleh hukum nasional atau oleh peraturan yang ada, atau jika tidak ada penentuan semacam tersebut ditentukan melalui kesepakatan bersama atau kebiasaan. (STCW 1995, 2000 : 23).
Menurut pasal 341 Kitab Undang – undang Hukum Dagang Republik Indonesia 1847 buku II (2006 : 68) : “Perwira kapal adalah anak buah kapal yang oleh daftar anak buah kapal diberi pangkat Perwira”.
Menurut UU No. 21 tahun 1992 pasal 1 butir 14 (2006 : 3) tentang pelayaran : “Anak buah kapal adalah awak kapal selain nakhoda atau pemimpin kapal”.
“Rating (bawahan) berarti seorang awak kapal yang bukan nakhoda dan juga bukan perwira”. (STCW 1995 , 2000 : 23).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: