Tugas Transportasi Laut(Kecelakaan KM. Rimba III dengan TB. Harapan Indah 7 di Perairan Kepulauan Seribu )oleh Jefri Wachyudi/244308048

Tugas Mandiri Perumusan Masalah tentang Transportasi Laut

Nama       : Jefri Wachyudi

NIM         : 244308048

Terbaru dari KM. Rimba III – 10 Orang masih hilang

March 6th, 2009 Leave a comment Go to comments

Berita terbaru dari KM. RImba Tiga..

Blog.Pelaut.Biz – Tiga jenazah ditemukan, 13 orang selamat. Kecelakaan transportasi laut kembali terjadi. Sebuah kapal kargo pengangkut semen KM Rimba 3 bertabrakan dengan kapal tunda (tug boat) Harapan Indah di sekitar barat daya Perairan Pulau Damar, Kabupaten Kepulauan Seribu, atau sekitar 12 mil dari Jakarta, Kamis (5/3) sekitar pukul 00.30 WIB.

Meski rusak parah, KM Harapan Indah masih berhasil kembali ke Pelabuhan Tanjung Priok.
Tabrakan maut tersebut mengakibatkan 13 orang penumpang kapal KM Rimba 3 dinyatakan hilang. Hingga pukul 21.00 WIB tadi malam, baru tiga jenasah yang ditemukan. Salah seorang yang dipastikan identitasnya adalah Samuel yang ditemukan pukul 16.30, sementara dua jenasah yang ditemukan belum diketahui identitasnya karena ditemukan nelayan tadi malam dan pihak kepolisian sedang mengambil di pulau.

Ketiga belas korban yang hilang adalah 12 ABK yakni Waston (nakhoda), Dedi Supriyadi, Haurol, Beny R, Rais, Bambang, Akbar, Erson, Hairul, Mario, Nasim, Bowo, dan Samuel (3), anak salah satu ABK.

Penumpang yang selamat 13 orang, yaitu Dedi Mulyadi (Markonis), Subur (Bosun) Saefudin (Pelayanan), Arman, Nova Effendi, La Ode, M Hardiyansyah, Alam Rifai, Ateng, Tulus S, Sandi R, Maria Trisna dan Suci Widiastuti. Kedua nama terakhir istri ABK.

Dirpolair Polda Metro Jaya AKBP Edion kepada wartawan mengatakan, jenasah korban kini berada di rumah sakit untuk dilakukan visum mengenai penyebab meninggalnya apakah akibat kecelakaan atau sebab lainnya. “Korban yang lain sampai saat ini belum ditemukan kemungkinan masih di dalam kapal. Setelah 48 jam jenasah akan terapung,” ungkapnya.

Kecelakaan berawal saat KM Rimba Tiga bermuatan semen berangkat dari dermaga OO3 Pelabuhan Tanjung Priok tujuan Medan pukul 23.00 WIB. “Di tengah perjalanan tepatnya di tiga mil barat laut Pulau Damar Kepulauan Seribu, diduga KM Rimba 3 menabrak tongkang WHS 1801 yang ditarik oleh TB Harapan Indah 7 bermuatan pasir yang berlayar dari Lampung menuju Pelabuhan Merunda hingga menyebabkan kapal Rimba miring dan tenggelam,” ungkap Edion.

Bangkai kapal KM Rimba 3 sudah ditemukan oleh Tim SAR Polair Polda Metro Jaya Kamis (5/2) malam.

Posisi bangkai kapal ditemukan sekitar 5 mil dari Pulau Damar pada kedalaman sekitar 30 meter. Kejadian tabrakan berada di posisi 106,56,90 bujur timur -05.55.750 lintang selatan. Mengingat buruknya cuaca sejak tadi malam, upaya pencarian korban maupun evakuasi jenasah dengan cara menyelam dihentikan dan rencananya dilanjutkan Jumat (6/2) pagi ini.

Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas) dan Tim SAR Polda Metro Jaya telah berada di lokasi kecelakaan. Mereka mencari awak yang hilang tersebut. Diperkirakan, seluruh awak kapal yang hilang masih berada di dalam kapal yang diketahui langsung karam di lokasi kejadian. “Kemungkinan demikian,” jelas Kepala Administrator Pelabuhan Tanjung Priok Bobby R. Mamahit di Jakarta, kemarin.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih melakukan verifikasi informasi dan mengedepankan tahapan penyelamatan korban kecelakaan oleh SAR. “Kami belum menentukan investigator yang akan dikirim. Nanti kalau hasil verifikasi sudah jelas, kita dapat mempunyai gambaran investigator mana yang sesuai untuk menyelidiki kecelakaan in,” jelas Juru Bicara KNKT JA Barata.

Bunyi peluit
Berikut ini pengakuan korban Kapal KM Rimba, Maria seperti dituturkan kembali kepada Rusdi, seorang security RS Port Medical Center, Jakarta. Maria Trisna tidak pernah akan melupakan peristiwa yang nyaris merenggut jiwanya. Salah seorang korban yang selamat dalam tenggelamnya KM Rimba 3 menceritakan sebelum kejadian dirinya sedang berada di ruang kabin kapal.

Awalnya kapal berjalan dengan pelan-pelan tiba-tiba terdengar bunyi keras seperti tabrakan. “Tiba-tiba terdengar bunyi peluit yang cukup panjang dan orang yang berada di kapal diminta untuk memakai pelampung,” ungkap Maria kepada Rusdi, salah seorang pegawai di RS Port Medical Tanjung Priok, Jakarta.

Di saat dirinya tengah memakai pelampung inilah kapal mulai bergerak miring. Tidak beberapa lama, Maria melompat ke laut untuk menyelamatkan diri. Dari yang awalnya hanya miring, tidak beberapa lama air masuk ke kapal dan tenggelam. “Sebelum kapal tenggelam saya melompat dan setelah sadar saya telah berada di sini,” ungkap Maria seperti dikutip Rusdi kepada persda network.

Pasangan suami istri Raymond dan Suci Widiati bisa jadi tidak akan melupakan peristiwa tenggelamnya KM Rimba. Keduanya masih nampak syok apalagi mengetahui anak balitanya, Samuel ikut menjadi korban dan jenasahnya ditemukan 15 jam setelah kejadian.

“Keduanya minta tidak mau ditemui wartawan karena memang masih syok. Saat mendatangi kamarnya saja ataupun melihat orang asing, Ny Suci sudah berteriak-teriak histeris dan susah diajak berkomukasi. Dia masih teringat anaknya yang hilang dalam musibah itu,” ungkap Hj Tien Astari Pribadi, wakil kepala Medik RS Port Medical Center, Kamis (5/2).
“Ny Suci mengalami luka bakar sebanyak enam persen dan saat dibawa ke rumah sakit, dia dalam kondisi sadar,” ungkap Tien. RS Port Medika Center sendiri menangani tiga orang pasien, mereka adalah Ateng, Maria dan Suci. Ateng dan Maria diperbolehkan pulang sekitar pukul 07.00 WIB karena tidak mengalami luka parah

Kecelakaan KM. Rimba III dengan TB. Harapan Indah 7

Di Peraian Kepulauan Seribu

  1. I. Perumusan Masalah
    1. 1. Identifikasi Masalah

Kecelakaan transportasi laut kembali terjadi dan selalu meninggalkan korban yang akhir-akhir ini sering terjadi di perairan Indonesia dan kapal berbendera Indonesia.Dari sumber wacana tersebut kecelakaan yang terjadi KM. Rimba III dengan tongkan WHS 1801 yang ditarik oleh TB. Harapan Indah 7 pada tanggal 05 Maret 2009 jam 00.30 WIB di perairan pulau Damar,Kabupaten Kepulauan Seribu.Hasil dari wacana tersebut penulis mengidentifikasikan masalah antara lain :

  1. Kurangnya SDM (Sumber Daya Manusia) bagi Navigator atau perwira tugas jaga yang memiliki sertifikat kopetensi sesuai kecakapannya yang telah diatur dalam STCW (Standard Training and Certification of Wacthkeeping for Seafarer) tahun 1978 amendement 1995.
  2. Kurang seleksi yang memenuhi standart mengenai sistem peneriamaan Crew di Perusahaan Pelayaran yang memiliki kapal tersebut.
  3. Kurangnya kotrol yang ketat di Administrator Pelabuhan sebagai pemberi ijin belayar yang memperbolehkan istri crew untuk belayar.
  1. 2. Batasan Masalah

Dari sumber data dan hasil indentifikasi tersebut diatas,penulis membatasii masalah tentang peningkatan SDM bagi Navigator,Pegawai rekrutmen di Kantor Pelayaran dan Pegawai kesyahbandaran sebagai pihak yang memberi ijin Belayar kepada KM. Rimba III,sehingga dari batasan masalah tersebut penulis dapat memberikan saran juga perumusan masalah yang penulis teliti.

  1. Perumusan Masalah

Setelah penulis mengidentifikasi masalah dan membatasi masalah mengenai Kecelakaan KM. Rimba III dengan TB. Harapan Indah 7,maka penulis merumuskan bahwa ada beberapa factor yang perlu diperbaiki untuk meningkatkan SDM bagi Navigator sebagai crew kapal,pegawai recrutmen Perusahaan Pelayaran dan pegawai Administrator Pelabuhan sebagi pemberi ijin berlayar sehingga dapat memperkecil kecelakaan yang sering terjadi belakangan ini di Perairan Indonesia.Perumusan masalah tersebut antara lain :

  1. Nakhoda sebagai pemegang Komando harus memberikan  contoh kedisiplinan baik dan sesering mungkin mengadakan latihan-latihan dalam keadaan darurat sehingga dapat menimbulkan kesadaran terhadap semua crew tentang keselamatan jiwa di laut.
  2. b. Pegawai rekrutmen di Perusahaan Pelayaran harus benar-benar melaksanakan tugasnya untuk menyeleksi calon crew kapal terutama bagi perwira kapal yang bertujuan untuk mendapatkan crew yang handal dalam melaksanakan tugasnya nanti.Bukan karena hubungan keluarga,temen atau uang calon crew kapal dapat bekerja tetapi karena kwalitas kerjanya sendiri yang dapat mempengaruhi operasional ketika kapal sedang beroperasi.Selain sistem rekrutmen yang perlu ditingkatkan,perusahaan sebaiknya memberikan rangsangan kepada crew kapal seperti pemberian bonus setiap tahunnya (Annual Safety Awward) apabila dalam kurun waktu satu tahun kapal tidak pernah mengalami Accident (kecelakaan dari luar) dan Incident (kecelakaan dari dalam) maka crew kapal akan mendapatkan bonus tersebut.
  3. c. Peningkatan kontrol yang begitu ketat yang dilakukan oleh Pihak Kesyahbandaran terutama pihak PSC (Port State Control) dimana mereka mempunyai peran langsung dalam mengecek kopentensi crew kapal terutama perwira kapal yang memenuhi standat juga kelaik lautan kapal,apakah kapal yang diperiksa memenuhi standat untuk berlayar yang telah diatur oleh IMO (International Maritime Organization).Sehingga apabila pemeriksaan ini sering dilaksanakan maka pihak awak kapal dan pihak perusahaan pelayaran akan menyiapkan diri untuk crew dan kapalnya memenuhi kriteria sesuai standat yang telah ditentukan oleh badan kepelabuhanan setempat dan standart dari IMO tersebut.

Disusun oleh :

Jefri Wachyudi

244308048

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: