TUGAS MANDIRI III.TRANSPORTASI LAUT.PASTI SOZANOLO CORIEL HAREFA

Nama : Pasti Sozanolo Coriel Harefa

NIM : 2443 08 062

Tugas III : SEMINAR Transportasi Laut

 

HUBUNGAN KEMAMPUAN PARA PELAUT INDONESIA DALAM MENGURANGI KECELAKAAN DI LAUT

 

               Jasa transportasi laut sangat penting di negara kepulauan seperti negara kita ini karna sarana transportasi laut lah yang bisa menghubungkan daerah – daerah dan pulau – pulau yang tersebar di seluruh nusantara ini.Hanya saja yang menjadi masalah yang sampai saat ini masih sering terjadi adalah masalah kecelakaan di laut khususnya tubrukan kapal yang mengakibatkan korban jiwa, harta, dan lain – lain yang sangat merugikan banyak pihak.Dari berbagai kasus kecelakaan kapal dan hasil penyelidikan yang telah di lakukan faktor yang sering mengakibatkan hal tersebut terjadi karena human error ( Kelalaian Manusia )

B.Perumusan Masalah

1. Identifikasi Masalah

               Seperti telah di uraikan di atas kalau faktor yang banyak mengakibatkan kecelakaan di laut adalah karna Human Error ( kelalaian Manusia ) yang bekerja dan bertugas di kapal padahal tidak seratus persen kalau kecelakaan di laut khususnya tubrukan kapal di laut di sebabkan oleh kelalaian manusia tetapi juga bisa di sebabkan oleh peralatan – peralatan yang tidak bisa bekerja sebagaimana mestinya.Hanya saja dari sekian banyak penyelidikan yang telah di lakukan faktor yang sering menyebabkan kecelakaan di laut adalah faktor kelalaian manusia.

2. Pembatasan Masalah

             Batasan masalah dari kajian ini yang di angkat oleh penulis adalah mengenai kemampuan para pelaut Indonesia yang bekerja di kapal – kapal baik dalam dan luar negeri.

3. Pokok Permasalahan

1. Bagaimana kemampuan para pelaut – pelaut Indonesia?

2. Bagaimana cara meningkatkan kwalitas para pelaut – pelaut Indonesia yang bekerja di dalam dan luar negeri.

3. Persyaratan – persyaratan apa saja yang harus di penuhi oleh para pelaut – pelaut sebelum melaksanakan tugas dinas jaga di pelayaran.

 

                                                   Dikutip dari  KOMPAS.com selasa 16 Desember 2008

 

 

 

Keamanan Pelayaran

90 Persen Kecelakaan Laut Disebabkan Manusia

 

KOMPAS/SIWI YUNITA

Kapal Motor Tanker Pendopo milik Pertamina yang terbakar sejak 10 hari lalu, mulai bisa dikendalikan. Asap dan api masih sempat muncul pada Rabu (6/2) sekitar pukul 11.00, namun sekitar pukul 13.00, asap dan api menghilang lagi. Kapal ini membawa muatan naphtha sebanyak 15.000 kilo liter.

/

Artikel Terkait:

 

Selasa, 16 Desember 2008 | 21:32 WIB

 

SURABAYA, KOMPAS – Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT menilai, selama ini 90 persen kecelakaan laut yang terjadi di Indonesia disebabkan faktor manusia. Karena itu, profesionalit as dan kompetensi dari operator pelayaran sangat dibutuhkan di samping kelengkapan fasilitas keamanan pelayaran.

Ketua KNKT Sub Komite Penelitian Kecelakaan Transportasi Laut Hermanu Karmoyono mengungkapkan, penyebab kecelakaan transportasi laut kadang disederhanakan dengan istilah human error atau kesalahan manusia. Namun, menurutnya justru faktor inilah yang harus menjadi bahan evaluasi bersama bahwa profesionalitas pelaku pelayaran harus dibenahi.

Kami tak mengenal istilah human error. Yang jelas, kecelakaan yang terjadi sebagian besar diakibatkan oleh manusia, tuturnya Selasa (16/12) di sela acara Pelatihan Dasar-Dasar Teknik Investigasi Kecelakaan di atas Kapal Mustika Kencana milik PT Darma lautan di Surabaya.

Menurut Hermanu, beberapa contoh faktor manusia yang mengakibatkan kecelakaan laut, antara lain kelelahan, kejenuhan, dan kecerobohan. Selain itu, screening atau penyaringan muatan kapal juga kurang teliti.

Barang apapun begitu mudah masuk ke dalam kapal. Padahal kapal-kapal di Indonesia belum dilengkapi dengan fasilitas x-ray detector atau sinar inframerah untuk mendeteksi barang. Kasus terbakarnya KM Levina I tahun 2007 lalu terjadi karena lolosnya barang-barang yang tak layak angkut namun tetap dinaikkan, kata Hermanu.

KNKT mencatat, selama tahun 2007 terjadi enam kasus kecelakaan laut dan tahun 2008 lima kasus kecelakaan laut. Kecelakaan tersebut berskala besar dengan timbulnya korban jiwa, polusi, serta tingkat kerugian yang besar.

Minim investigator

Di tengah mendesaknya peningkat an keselamatan transportasi laut, hingga saat ini jumlah investigator transportasi laut KNKT hanya enam petugas. Padahal, untuk kebutuhan investigasi kecelakaan di seluruh Indonesia minimal dibutuhkan 30 petugas investigasi.

“Kami sangat membutuhkan investigator di tingkat daerah, minimal satu provinsi satu petugas. Dengan demikian kecelakaan-kecelakaan yang terjadi di seluruh daerah dapat segera ditangani,” kata Hermanu.

Ketua Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) Jawa Timur Bambang Harjo S mengakui, investigator KNKT di tingkat provinsi masih minim. Indonesia sangat luas, karena itu dibutuhkan investigator di masing-masing daerah. “Kriteria investigator yang dibutuhkan harus memiliki latar belakang pendidikan atau kerja sebagai nakhoda kapal, sarjana tekni k perkapalan, dan kapten kapal, ” tuturnya.

Tindak tegas

Dirjen Perhubungan Laut Sunaryo menambahkan, setiap kapal yang hendak berlayar wajib mendapatkan izin berlayar dari administratur setempat. Jika kesiapan teknis dan cuaca tak memungkinkan, maka kapal tak akan diberangkatkan.

Jangan sampai operator kapal hanya mengejar target muatan dan mengabaikan keselamatan penumpang. Kami akan menindak tegas kapal manapun yang tak jalan tapi nekat berlayar, ujarnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: