Archive for August, 2009

Tugas Seminar, Transportasi laut. Sopian. Bp3ip STMT11

August 2, 2009

Nama: Sopian

Tugas Seminar: Masalah Transportasi laut

Bp3ip STMT: Trisakti11

 

KONSEP USULAN

PENYELESAIAN MASALAH DAN

PENGEMBANGAN ANGKUTAN LAUT NASIONAL

A. LATAR BELAKANG

Perkembangan perdagangan internasional pada dekade delapan puluhan

(1983), mengakibatkan pasokan minyak dunia yang berlebih, selanjutnya

berdampak pada menurunnya harga minyak dunia. Hal demikian yang

mengakibatkan perubahan struktur ekonomi nasional, dimana pada awalnya

bertumpu pada minyak dan gas (Migas), telah berubah dengan orientasi pada

ekspor non migas. Kebijakan tersebut bertujuan untuk meningkatkan

perolehan devisa, dengan meningkatnya surplus perdagangan dan surplus

neraca jasa sehingga secara keseluruhan terjadi surplus transaksi berjalan.

Untuk mendukung perubahan orientasi perdagangan Internasional tersebut

telah dikeluarkan serangkaian kebijakan deregulasi termasuk di sub sektor

transportasi laut. Karena pada saat itu sub sektor transportasi laut dianggap

termasuk dalam faktor penyebab ekonomi biaya tinggi (high cost economic),

oleh karena itu telah ditetapkan kebijakan deregulasi angkutan laut yang

terkenal dengan PAKNOV 21 (Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1988,

yang sebelumnya telah dikondisikan dengan penetapan INPRES 4 Tahun 1985).

Kebijakan deregulasi tersebut intinya menyederhanakan seluruh prosedur

kepelabuhahanan dan pelayaran serta me mberikan kemudahan kepada semua

pihak untuk ikut serta dalam penyelenggaraan angkutan laut di Indonesia

termasuk ikut sertanya perusahaan pelayaran asing secara terbuka bagi

penyelenggaraan angkutan laut ekspor-impor. Untuk itu telah dibuka secara

luas pelabuhan perdagangan Internasional dari semula 4 pelabuhan utama

(Gateway Port) Tanjung Priok, Tanjung Perak, Belawan, Makassar menjadi 133

pelabuhan. Berarti kapal asing diperkenankan mengangkut muatan dari asal

dan ke pelabuhan tujuan melalui 133 pelabuhan tersebut dengan demikian

sama halnya tercabutnya azas cabotage (catatan azas cabotage adalah

angkutan laut antar pulau dalam negeri dilayani sepenuhnya oleh perusahaan

pelayaran nasional).

Dampak yang terjadi adalah pangsa muatan perusahaan pelayaran nasional

makin menurun hingga mencapai angka yang sangat marginal bahkan kritis (

2.93 % untuk angkutan Internasional dan 39.6% untuk angkutan dalam negeri

dari semula sebelum kebijakan Paknov sebesar 14.2 % untuk angkutan

Internasional dan 75.2 % untuk angkutan dalam negeri ) yang pada gilirannya

telah mengakibatkan secara signifikan defisit terhadap neraca pembayaran

luar negeri (Balance Of Payment) yakni makin besarnya defisit transaksi

berjalan (Current Account Deficit).

Ternyata surplus perdagangan yang telah dicapai sebagai akibat dari

kebijakan ekspor non migas telah ditelan habis oleh defisit transaksi jasa yang

sebagian besar diakibatkan oleh devisa jasa pengapalan yang diterima

perusahaan pelayaran asing. Dalam wacana kebijakan publik berarti telah

terjadi konflik kepentingan antara peningkatan ekspor non migas yang

tujuannya untuk memperoleh surplus perdagangan Internasional dengan

2

hilangnya kesempatan bagi perusahaan pelayaran nasioanl untuk merebut

pangsa muatan.

Upaya yang harus dilakukan adalah menetapkan kebijakan publik yang

memberikan peluang kepada perusahaan pelayaran nasional untuk mampu

merebut pangsa muatan.

B. PERMASALAHAN

1. Telah terjadi distorsi dalam implementasi kebijakan deregulasi angkutan

laut terhadap kebijakan peningkatan ekspor (perdagangan

Internasional), yang bertujuan meningkatkan perolehan devisa (surplus

transaksi berjalan), namun yang terjadi adalah deregulasi angkutan laut

mengakibatkan defisit transaksi jasa ( jauh lebih besar dari surplus

perdagangan) dan akibat selanjutn ya adalah terjadi defisit transaksi

berjalan.

2. Distorsi dari implementasi kebijakan deregulasi angkutan laut nasional telah

berpengaruh terhadap pencapaian kinerja peningkatan ekspor non

migas, hal demikian disebabkan karena :

  • · Dengan adanya kebijakan deregulasi angkutan laut telah memberi

peluang yang luas bagi perusahaan pelayaran asing untuk merebut

pangsa pasar yang lebih besar;

  • · Akibatnya terjadi defisit pada neraca jasa yang jauh lebih besar

dibandingkan dengan surplus neraca perdagangan;

  • · Tujuan untuk mencapai perolehan devisa yang lebih besar tidak

dapat dicapai justru sebaliknya (kontraproduktif) malah terjadi

defisit transaksi berjalan.

3. Secara spesifik, maka permasalahan yang sampai saat sekarang masih

menjadikan isu baik nasional maupun sektoral adalah sebagai berikut :

  • · Jumlah armada tidak signifikan terhadap jumlah perusahaan, karena

kemudahan dalam pendirian perusahaan tidak diharuskan memilki

kapal, sehingga potensi daya asing armada secara global lemah;

  • · Perusahaan pelayaran nasional sampai detik ini belum mampu

bersaing dengan pelayaran asing dengan kebebasan bersaing asing

didasari Paknov 21 tahun 1988;

  • · Pola trayek yang ditentukan sendiri oleh perusahaan pelayaran

terbukti telah memperlancar, namun terjadi persaingan tidak sehat

antar perusahaan pelayaran baik asing maupun sesama nasional,

sehingga mengakibatkan terdapat daerah yang tidak terlayani;

  • · Kebebasan asing berdampak kurang berfungsi conference dan

penurunan share;

  • · Modal pelayaran nasional lemah dan ketertarikan dunia usaha

lainnya terhadap usaha angkutan laut masih terbatas, hal ini

mengakibatkan peremajaan armada nasional tertunda, sehingga

daya saingnya menjadi rendah terhadap pelayaran asing;

3

  • · Kecenderungan importir menggunakan term CIF untuk impor dan FOB

untuk ekspor, mengakibatkan baik eksportir maupun importir banyak

menggunakan pelayaran asing daripada nasional.

Advertisements

Tugas Seminar, Transportasi laut. Adiaksa. Bp3ip STMT11

August 2, 2009

Nama : Adiaksa

Tugas Seminar: Masalah Transportasi laut

Bp3ip STMT: Trisakti 11

PERBEDAAN PERENCANAAN PEMUATAN DENGAN REALISASI PEMUATAN MINYAK DI MT. KATOMAS PADA PT. PERTAMINA ( Persero ) DIREKTORAT PEMASARAN DAN NIAGA PERKAPALAN

A. Latar Belakang Masalah.
Sistem transportasi dan pengelolaannya memiliki sifat operasi jasa angkutan yang dapat di kelompokan ntara lain : tarnsportasi laut, darat dan udara. Bedasarkan penelolan yang tepat akan berbagai jenis taransportasi ini serta kemajuan industri dan teknologi maka transportasi telah menjadi suatu bidang yang dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan suatu produk.
Pengelolaan jasa transportasi yang teratur dapat menjembatani pemindahan barang, orang antara suatu wilayah maupun atar negara, sehingga dapat menutupi kesenjangan produk anatara suatu wilayah ataupun atar Negara. Pada prinsipnya jasa transportasi dapat menciptakan nilai yang tinggi dari suatu produk dan sekaligus dapat menciptakan kegunaan tempat ( Place Utility ) dan kegunaan waktu. ( time Utility )
PT. PERTAMINA PERSERO PERKAPALAN adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang perkapalan , khusunya transportasi laut. Sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidang transportasi laut PT. pertamina persero perkapalan sebagai badan usaha milik Negara ( BUMN ) yang di percaya oleh pemerintah untuk mengelola dan mendistribusikan minyak dari suatu wilayah ke wilayah lain di indonesia hinggan ke beberapa Negara menggunakan kapal- kapal milik Pt.pertamina perkapalan, pendistibusian minyak menggunakan kapal milik pt.prtamina untuk sekarang ini cukup baik, dan dalam pendistribusian harus didukung dangan suatu perecanaan yang baik

karena dengan perencanaan yang baik tidak akan terjadinya delay suatu kapal atau kapal tidak terlalu lama menunggu muatan, dermaga dalam melakukan kegiatan bongar muat.

Latar belakang masalah yang penulis kemukakan dalam penulisan ini ialah untuk mengetahui seberapa besar hubungan pemuatan minyak ( premium , kero , solar ) terhadap realisasi jumlah besarnya DWT kapal, oleh karena itu maka penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam dan mengemukakan dalam bentuk karya tulis ilmiah dengan judul : ‘ PERBEDAAN PERENCANAAN PEMUATAN DENGAN REALISASI PEMUATAN MINYAK DI MT. KATOMAS PADA PT. PERTAMINA ( Persero ) DIREKTORAT PEMASARAN DAN NIAGA PERKAPALAN JAKARTA TAHUN 2006 – 2008.

B. Perumusan Masalah
1. Identifikasi masalah
Adapun identifikasi masalah pada penelitian ini adalah :
a. Perencanaan pemuatan minyak dari shore ( kilang ) kadang berubah – ubah.
b. Masih kurangnya tenaga kerja ( SDM ) yang terampil dan berkualitas.
c. belum tepatnya waktu penyandaran dan wakru kegiatan bongkar muat.
d. Jumlah kapal milik PT. pertamina perkapalan yang masih kurang / di bandingkan dengan banyaknya kapal – kapal charter.